Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 3


__ADS_3

Selepas shalat magrib berjamaah, di ruang tengah yang luas. Renggra mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Pak Torik, selaku penghulu di wilayah setempat. Di atas meja persegi empat dengan saling berhadapan.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Renggra Wijayah bin Anggara Wijayah dengan saudari yang bernama Laura Anindia dengan maskawin tersebut, Tunai.”


"Saya terima nikahnya yang tersebut, tunai.”


"Apakah sah para saksi?"toleh penghulu ke pada saksi yang hadir, berada di sisi kanan dan kirinya.


Dengan kompak mereka menjawab"SAH."


"Alhamdulillah hirobil'alamin."


***


Malam yang biasa tenang dan damai, Renggra berusia tiga belas tahun terbangun dari tidur lelapnya.


Suara pekikan antara laki-laki dan wanita dewasa di luar kamar, sontak membuatnya turun dari tempat tidur. Berjalan keluar dari bilik kamar, mendekati batas anak tangga, dan melihat Ibu kandungnya.


Prakkk!


Menampar pipih Ayahnya, sontak Ibu Renggra merasa bersalah dan hendak membawah koper pergi keluar rumah. Lelaki yang di tampar tadi, mengejar memegang tangan istrinya, harap-harap tak pergi meninggalkan rumah.


Pertengkaran kedua orangtuanya begitu hebat bagi Renggra, membuat dirinya merasakan sesak di dada, tangan yang gemetar, tungkai kaki lemas, perlahan mundur kembali ke dalam bilik kamar. Menaiki tempat tidur, dan menutup telinga berusaha melawan rasa takutnya itu.


Berbeda pendapat hingga menimbulkan pertengkaran adalah hal yang biasa terjadi dalam hubungan suami-istri. Namun, bertengkar di depan anak bukanlah pilihan yang bijak, karena bisa menimbulkan bahaya bagi kesehatan mentalnya.


Bentakan, cacian, makian, dan tindakan kekerasan yang kerap Bunda dan Ayah pertontonkan saat bertengkar di depan Si Kecil, bisa membekas kuat di ingatannya. Ingatan buruk ini sering kali memengaruhi perkembangan mental Si Kecil nantinya.


Selang beberapa waktu, pintu itu terbuka"Nak!"terdengar suara Bu Ani datang menghampiri, dengan suara lirih menyedihkan. Pelukan hangat menyentuh tubuhnya, perlahan Renggra membuka telinga yang di tutup oleh kedua tangan.


Tetesan air mata yang membasahi kepala Renggra, membuat tanda tanyanya dalam hati. Ada apa gerangan Ibu asuh menangis?


"Nak, A.ayah dan Bunda me.meninggal"nada suara terdengar gugup dengan bibir yang gemetar, ketakutan dan kesedihan menjadi satu.


Rasa bingung menghampiri, peristiwa yang akan membuat Anak itu menjadi stres dan mengalami gangguan mental dan depresi.


Anak kecil yang di peluk itu, sontak terdiam tak tahu lagi harus berbuat apa? Air mata yang di tahan, mengalir bagaikan kucuran air keran yang terbuka dari penutupnya.


***

__ADS_1


Serangan jantung dan kecelakaan lalulintas, membuat kedua pasutri ini meninggal secara bersamaan dengan waktu yang berbeda. Namun, tak jauh jaraknya.


Pemakaman serta doa yang di panjatkan, telah usai di lakukan. Para peziara satu persatu pergi meninggalkan lokasi, tinggalah Renggra, Bu Ani, pengawal dan pelayan.


"Apa di sini ada toilet? Aku ingin ke sana sebentar, tanpa kalian."ucap pelan dengan wajah yang datar, berdiri di depan kedua makam.


"Iya Nak!"menunjuk ke gedung dekat pemakaman"Di gedung sebelah sana."sahut Bu Ani.


Ibu Ani paham dengan sikap dan tingkah laku Renggra yang ingin ke toilet tanpa kawalan. Bisa jadi, Renggra ingin menangis, tapi tak bisa di hadapan mereka semua.


Renggra berjalan ke toilet, tapi enggan masuk ke dalam. Terlintas di benak pikirannya, melihat anak tangga yang menjulang tinggi ke atas untuk di pergunakan melewati pagar beton pemakaman"Aku ingin pergi, dari kenyataan ini semua."ucap batin.


Setelah turun melewati pagar, dirinya berlarian begitu cepat, dengan tetesan air mata yang begitu deras membuatnya ingin terus-menerus berlari.


Hutan yang rimbun, suara jangkrik berderik begitu kuat, seakan menyorak kawasan yang sepi. Kaki kecil itu tersandung pada akar pohon yang besar.


Brrukkk!


"Aawww, sakit."lirihnya menahan sakit di tubuh yang terhempas. Terbangun perlahan, melihat sekeliling yang sudah di tutupin hutan lebat.


Merasa bingung dan ketakutan jelas terukir di wajahnya, tak tahu harus jalan ke arah mana mulai melangkah. Dahan dan ranting tak sedikit pun memberikan arahan.


***


Bu Ani yang menunggu lama di makam merasa gelisa dan khawatir, perasaan yang datang silih berganti membuat wanita itu beranjak dari tempatnya menemui Renggra.


Beliau ingin sekali memeluk dan menenangkan fikiran sang buah hati, agar tak larut dari kesedihan yang mendalam.


Pelayan dan pengawal mengikuti jalan Bu Ani yang tergesa-gesa.


Satu persatu pintu toilet di buka, Renggra tak berada di sana, rasa panik, gelisa, dan khawatir menjadi satu. Ia pun berlarian ke sana kemari mengelilingi gedung. Renggra masih belum di temukan"Ya tuhan, kemana anakku?"ucap batin.


Bu Ani melihat kembali ke arah makam, siapa tahu Renggra kembali ke sana. Al hasil anak kecil itu benar-benar hilang tanpa jejak sedikit pun.


"Pergi kalian semua! Cari, dimana keberadaan tuan kecil Renggra!"perintahnya yang menoleh kearah pengawal.


Dengan tubuh yang tegap sedikit menunduk"Siap nyonya!"jawab serentak para pengawal, dengan sigap meninggalkan tempat itu.


***

__ADS_1


Mata sayup, membuka tutup kelopak mata yang masih mengantuk. Memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur yang berisi kapuk lusuh di sebuah kamar tidur kecil.


Mengucek-ngucek mata yang sedikit gatal, melihat sekeliling yang terbilang kurang bersih baginya. Mata Renggra membulat, perasaan takut menghantui sekujur tubuh.


Ruangan yang terbuat dari rakitan bambu yang rapuh, seakan tempat itu akan roboh menimpah dirinya.


Pertanyaan mengenai dirinya berada di mana? Tempat apa yang di tumpangin? Membuat bulu guduk merinding. Apa dirinya sedang di culik, oleh orang yang berniat jahat? Merasa ketakutan, matanya ke sana kemari melihat lingkungan sekitar.


Kain tipis yang menutupi pintu kamar terbuka, anak kecil tersenyum melihat Renggra telah sadar melihat ke arahnya.


"Pergi kamu, aku benci melihat wanita sepertimu."spontan kata yang keluar dari mulut Renggra, saat anak kecil itu datang mendekatinya yang telah duduk di atas tempat tidur terbuat dari bambu.


"Apa aku mengganggumu, yang masih ingin tidur?"duduknya di kursi kayu di samping Renggra.


Renggra semakin gelisa dan mengeryitkan keningnya.


"Apa aku bau dan kotor?"tanyanya kembali sembari mendengus-dengus tubuhnya"Eemmm, sepertinya benar. Aku mandi dulu, nanti kita ketemu lagi."berdiri dan melangkah ingin pergi keluar.


Renggra melihat anak itu ingin pergi meninggalkannya sendirian di tempat yang sunyi dan menakutkan, Ia pun langsung terpekik"Bu.bukan itu maksudku? Tapi aku tak suka dengan Wanita sepertimu."trauma yang timbul, membekas di fikiran Renggra. Saat teringat dengan kejadian semalam yang memperlihatkan pertekaran kedua orangtuanya.


Wanita memang harus di perlakukan lemah lembut dengan semestinya sebagai kaudrat perempuan. Tapi bagi Renggra, hal itu sulit untuk di lakukan. Saat tahu wanita akan semena-mena memperdaya laki-laki tanpa berfikir dahulu, hingga kekerasan jalan keluarnya.


Mendengar perkataan yang aneh menurut anak perempuan itu, Ia kembali duduk di tempat tadi"Aku tak marah kamu membenciku, tanpa tau apa salahku? Tapi, kamu harus tau, membeciku bukanlah suatu jalan yang baik."jawaban yang membuat hati Renggra ragu, apa benar fikirannya itu salah?


Bayangan yang terbentuk kembali saat musibah berdatangan di fikiran Renggra, membuatnya bingung apa yang harus di lakukan? Namun, di posisi yang sekarang tak bisa di pungkiri, siapa yang menolongnya keluar dari gubuk tua itu? Selain anak perempuan di hadapannya.


Merasa bingung kemana akan pergi, saat kondisinya sudah sebebas ini? Ingin rasanya pulang, tapi berat.


Tak ada kenangan indah lagi di sana.


"Maaf, kata-kata ku, tadi membuatmu kurang enak di dengar."rasa bersalah sudah mengatakan hal yang membuat orang lain salah paham,"Kamu siapa? Apa ini rumahmu?"tanyanya agar perasaan menjadi tenang, berada di tempat yang tak berbahaya.


Senyuman terukir di wajah gadis kecil itu,"Namaku Laura kak! Ini memang tempat tinggalku."mengangkat tangan ke arah Renggra, mengajaknya bersalaman.


Renggra ingin membalas, namun ragu-ragu. Apa anak gadis ini berbeda dengan yang lain, atau sama saja seperti almarhuma Ibu kandungnya? Hal itu di tepis, mungkin gadis ini orang yang berbeda"Namaku Renggra!"membalas salam Laura"Ini tidaklah buruk,"ucap batin.


DEG!


Perasaan yang timbul di fikirannya"Aneh, kenapa rasa dadaku kurang nyaman?"batin kembali berucap.

__ADS_1


Selanjutnya~>Chapter 4


__ADS_2