Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 33


__ADS_3

Perut yang besar, berjalan pun susah membuat Laura mudah letih dan lelah.


"Mas, udah. Duduk capek."rasa sesak di dada.


Mengedipkan mata,"Iya, Ay."pegang tangan berjalan ke arah Angga dan Bu Ani.


Tibalah Laura berhenti sebentar, rasa nyeri di bawah pusar membuatnya merasa sakit. Kemudian hilang. Fikiran Laura mungkin untun lagi main, makanya nyeri.


Renggra yang melihat reaksi Laura, merasa was-was.


"Napa, Ay?"


Senyum Laura"Untun main, bikin ngilu ples nyeri Mas."jelasnya yang merasa yakin, belum waktu melahirkan padahal tinggal menghitung hari.


Hembus nafas legah, di kira Renggra Laura mengalami kontraksi.


Melihat terkekehnya Angga dan Bu Ani, membuat kedua pasutri yang mendekat merasa aneh.


"Ada, apa Bu?"tanya Renggra yang membantu Laura duduk di dekatnya.


Senyum Bu Ani"Itu, Amel. Tingkahnya bikin lucu."


Kerut kening"Lucu, emang ngapain dia?"melihat ke arah lain, Amel tak tampak"Amelnya juga mana?"rasa bingung Renggra letak lucunya dimana?


Hembuskan nafas panjang mulai serius,"Reng, tuh sebelahmu"menujuki Angga"Mencoba ngelamar, adikmu. Eh yang di omongi nggak fokus, di jelasi main kabur aja."tahan lagi tawa Bu Ani.


Toleh ke Angga"Kamu, udah yakin, Ga?"serius Renggra bertanya ingin memastikan perasaan Angga sekali lagi.


Angguk, Angga dengan rasa malu"Eemmm, udah Reng."


"Yakin?"terus di pojokkan.


Hembus nafas panjang, merasa sahabatnya tak mempercayai keseriusan dalam hubungan"Yakin Renggra, kalau nggak ngapain aku ngomong."merasa geram, memekarkan lubang hidung.


Terkekeh Renggra, Laura dan Bu Ani"Ini yang namanya lucu,"gurau Renggra.


Toleh ke arah lain"Hah menyebalkan,"sahut Angga.


Menutup mulut, menahan tawa"Oke, oke. Maaf. Maaf. Ekhem, Jadi kapan elu berencana nikahi adikku?"serius bertanya kembali.


Iiriknya ke semua orang"Yah, nunggu ke putusan dari Amel dulu, Reng. Gimana maunya? Lagian juga, kan kita semua lagi nunggu proses lahirnya Laura dulu."


"Iya benar, ucapanmu. Tapi, hal baik jangan lama-lama di tunda, melihat kondisi kalian sekarang berbeda dari yang dulu."ucap Renggra, yang tak mau terjadi sesuatu pada Amel dan Angga. Namanya sahwat manusia, jika sudah melewati batas apapun akan terjadi.


Memegang lengan Angga"Nanti, Ibu tanyakan sama Amel. Gimana inginnya, masih mempunyai perasaan sama kamu apa enggak? Ibu pastiin lagi dulu."bantu Bu Ani yang tak mau melihat mereka setiap hari seperti magnet tapi bertolak belakang.

__ADS_1


Angguk, Angga"Eemmm, iya Bu."pasrah dengan keadaan, telah banyak mengulur waktu. Mungkin membuat perasaan Amel berubah.


Laura hanya diam memperhatikan apa yang di bicarakan mereka bertiga. Mengelus-elus perut yang nyeri kembali, rasanya makin meningkat dan menjalar ke pinggang.


Tahannya mungkin kontraksi palsu,


Bu Ani menoleh ke Laura yang dari tadi mengelus perutnya"Ra, kenapa?"Renyit kening merasa penasaran.


Renggra dan Angga menoleh ke Laura.


Cengir Laura"Itu, Bu. Perutku dari tadi nyeri, campur mules sekarang menjalar ke pinggang."


Spontan berdiri Bu Ani, mendekati Laura"Ga, cepet kamu temui Pak Tono siapkan mobil, Laura mau lahiran."


Angguk, Angga.


Pegang tangan Bu Ani"Mungkin belum Bu, masih kontraksi biasa."


Renggra langsung memegang perut Laura,"Ay, siapa tau bener. Ayo kerumah sakit."membantu Laura berdiri.


Laura hanya bisa diam kali ini mengikuti pendapat mereka, tak punya pengalaman dalam melahirkan hanya bermodal ilmu pengetahuan dari dokter dan sering baca di internet membuat Laura hanya bisa pasrah.


Mungkin ini sudah waktunya, karena perut yang di rasa semakin nyeri.


Walaupun mereka telah di sumpah dan memang kewajiban dalam pekerjaan, Laura tetap ingin melahirkan normal dengan dokter atau bidan wanita yang profesional.


"Pak, Nyonya sudah pembukaan empat dari jarak lahir, yang artinya sebentar lagi jalan proses kelahiran akan berjalan."


Bu Ani yang ikut ke dalam ruangan dekat dengan Renggra merasa terkejut, ketika jalan santai berarti sudah pembukaan"Ra, kamu yang kuat ya Nak?"peluk dan cium Laura.


Angguk, Laura yang menahan nyeri sana sini.


Menunggu proses persalinan, Laura dan Renggra kembali berjalan mengelilingi rumah sakit agar pembukaannya semakin naik.


Kembali di cek ternyata masih pembukaan lima naik hanya satu, tubuh yang bulet itu berasa sekali letihnya.


Renggra mengelus-elus punggung, yang kali ini duduk di bola besar dengan bergerak pelan.


Rasa cemas dan khawatir Renggra menemani istri melewati proses persalinan, membuatnya ingin menangis. Begitu besar pengorbanan seorang Ibu menahan sakit yang tak bisa di bayangkan.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, belum juga melahirkan.


Padahal pembukaan sudah delapan, Renggra mengelus-elus perut Laura yang meringis kesakitan sambilnya bersalawatan agar Laura yang menahan sakit menjadi rileks.


"Tun, keluar yuk Nak, kasian Ibumu?"Renggra tak tega melihat Laura yang dari pagi merasakan sakit yang luar biasa itu.

__ADS_1


Jika bisa di gantikan, dirinya saja yang merasakan sakit itu. Sebab dirinyalah Laura harus berjuang mempertaruhkan nyawa.


Ingin menangis melihat Laura, namun di tahan. Jika ia menangis otomatis Laura akan ikut menangis dan stress.


Tibalah bunyi letupan menyembur keluar, tangisan menjerit suara bayi yang menyaring membuat Renggra berdiri.


Lihatnya Laura melahirkan mandiri tanpa bantuan tenaga medis.


Lari ke luar memanggil dokter,


Semua terheran-heran baru pembukaan delapan bayi itu sudah keluar sendiri, mungkin ia tak tega melihat Ibunya menahan sakit dari pagi.


Darah yang begitu banyak mengalir, keringat menetes sana sini, Laura menarik nafas panjang merasa legah.


Tangis Renggra pecah melihat perjuangan istri, yang di tahannya dari tadi.


Azan berkumandang di telinga bayi mungil berjenis laki-laki, dengan gemetar dan tetesan air mata membuat suasana ruangan ikut berduka.


Laura merasa senang dalam hatinya, ia telah sah menjadi seorang Ibu dan istri bagi keluarga kecilnya.


Setelah selesai pindah ruangan inap, Bu Ani, Amel, Bu Aminah, dan Angga. Telah hadir duluan menunggu lama di ruangan.


Berdoa agar proses persalinan lancar.


Bukanya pintu Laura yang sudah duduk di kursi roda, di pindahkan ke atas tempat tidur di angkat oleh Renggra.


Bayi yang lucu yang sedang tidur di dalam tempatnya, membuat mereka semua ingin mengendongnya secara bergiliran.


"Iihh cucukku,"gemas Bu Ani menggendong bayi yang akhirnya hadir ke dunia"Reng, siapa namanya?"tanya Bu Ani.


Renggra yang masih duduk di dekat Laura, sambilnya memijit lengan sang istri yang mengingatkan perjuangan melahirkan anak mereka.


Senyum terukir jelas di wajah Renggra"Namanya, Yusuf Wijayah Bu."


Senyum semua yang hadir"Waah, Yusuf namanya."ucap Amel yang kegirangan"Hai, Yusuf ini aunty"sapanya memegang pipi mungil itu.


Senggol lengan Bu Ani ke lengan Amel"Aunty, beri kepastian sama Oom Angga?"sindirnya.


lirik Amel,"Apaan sih Bu, bahas sekarang?"merasa malu di sindir depan banyak orang, apalagi di sampingnya ada Angga.


Sipit mata Bu Ani"Nanti Ibu mau ngomong empat mata sama kalian berdua."geram Bu Ani yang langsung sekak mat ke arah Amel dan Angga.


Mereka berdua hanya meneguk Saliva, jantung yang rasanya ingin copot mendengar perkataan Bu Ani.


Selanjutnya~>Chapter 34

__ADS_1


__ADS_2