Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 27


__ADS_3

Setelah menjalani pemeriksaan, dokter memberikan penjelasan.


Duduk di depan meja, berhadapan dengan Renggra, Angga, dan Nova.


"Pak, anda terkena obat berbahaya. Efek samping, bisa merusak sistem saraf di bagian kepala anda. Bapak tak perlu khawatir ini bisa kita atasi, karena bapak sudah meminum obat pencahar sebelum datang ke sini. Walau tak bereaksi secara garis besar, tapi obat itu bisa menunda reaksinya. Sekarang hanya perlu perawatan khusus lebih lanjut untuk beberapa hari kedepan."


Angguk Renggra"Eeemm, Iya dok."hanya bisa mengikuti anjuran dari dokter.


Renggra tak habis fikir, kebucinan seseorang bisa membutakan mata hati. Termasuk bisa mencelakakan atau membunuh orang yang menghalanginya.


Jika cinta tak di dampingi dengan perbuatan baik, sadar apa yang dilakukan, jauh dari sang maha pencipta, mencintai bukan karena ibadah, maka itulah pertanda golongan orang yang tersesat.


Perawat datang menghampiri mereka bertiga, membawah keruangan yang telah di sediakan.


Gantinya pakaian rawat inap dan infus terpasang di tangan Renggra. Duduk di atas tempat tidur berselimut kain tebal.


Nova dan Angga duduk di kursi sofa dekat Renggra.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Dia telah membuatmu begini, Reng."Nova merasa kesal dan khawatir dengan sahabatnya itu.


Meneguk Saliva, berusaha tenang"Aku ingin mengikuti rencana lelaki itu."Renggra penasaran dengan apa yang di lakukan lelaki itu. Jika tak di turuti, entah apa yang akan di lakukan selanjutnya.


Renyit kening Angga"Maksudmu, Reng?"belum paham dengan jalan fikiran Renggra.


Senyum tipis, merasa susah untuk di ikuti. Namun, tak di ikuti resikonya lumayan besar. Mempertaruhkan rumah tangga yang baru di jalani"Yah, kita lakukan apa maunya orang itu, untuk sementara lupa dengan Laura. Jika tak di lakukan, kedepannya banyak tindakan lain yang akan di perbuat."memainkan jari-jari tangan.


Naiknya alis Angga, merasa ini terlalu berat untuk di lalui"Apa kau sanggup, sering berjauhan dengan Laura?"pastikanya lagi.


Tunduk Renggra"Iya berat, tapi ini demi kita semua."korbankan apa yang ada.


Renggra merasa ada orang lain di sekitar mereka, mau tak mau ia harus mencari dulu siapa orang yang berada di dekatnya, mencoba menjadi musuh dalam selimut.


Nova memegangi kepala"Jika aku jadi kau, sulit untukku lalui. Apalagi mempertaruhkan rumah tangga."hembusnya nafas.


Tarik nafas panjang"Semua mungkin berat, tapi kita tak tahu apa yang sudah di rencanakan jika kita tak ikuti. Aku percaya Allah maha mengetahui, pasti ada jalan."pasrah dengan keadaan.


Angguk Angga,"Baiklah, Reng. Jika itu sudah bulat, kita lalui bersama. Kami ada di sampingmu."memberi dukungan pada keputusan Renggra.


Toleh ke arah Angga dan Nova"Tolong cari siapa di sekitar kita, yang menjadi mata-mata orang lain. Entah itu di rumah maupun di perusahaan. Aku tak mau di antara kita dalam bahaya."jelasnya meminta bantuan sahabatnya mencari siapa antek-antek yang di jalankan oleh lelaki itu.


Angguk serentak Angga dan Nova,"Eemmm,"


Angga segerah menelepon Bu Ani, menceritakan apa yang terjadi barusan. Bu Ani menceritakan pada Amel, setelah dapat telepon dari Angga.


Sulit di percaya, mereka berdua harus mengikuti drama yang di buat Renggra sedemikian rupa. Mungkin, banyak hal yang akan terjadi. Apalagi berurusan dengan rumah tangganya, jika tak di perbuat rumah tangganya akan makin hancur. Mau tak mau demi Renggra dan Laura mereka lakoni.

__ADS_1


Renggra mulai di rawat di sana beberapa hari, sekalian melakukan drama jika Laura telah tiba.


***


Azan subuh berkumandang, bukanya mata melihat sisi kanan Renggra masih tak kunjung pulang.


"Mungkin, Mas Renggra masih banyak pekerjaan di kantor."batin Laura yang semaki hari, merasa ke sepian. Suami yang sibuk dengan pekerjaan. Adakah waktu sebentar untuk bercengkerama bersama seperti pertama kali mereka menikah.


Ambilnya wudhu, membentangkan sejadah. Lepasnya membaca Alquran. Tak terasa mentari telah terbit, menyinari jendela.


Tutupnya kitab suci, melepit alat shalat. Tiba suara ketukan pintu menghampiri.


Tok.Tok.Tok.


Letaknya alat sholat di atas tempat tidur, menghampiri suara ketukan pintu.


Senyum Bu Ani, yang pagi-pagi menghampirinya duluan"Ada apa, Bu?"kerut alis penasaran dengan kedatangan Bu Ani.


Bingung ingin mulai dari mana, ia bercerita? Raihnya dulu tangan Laura"Itu, Ra."ragu ingin berkata.


Kedip mata sesekali dengan tersenyum"Eemmm, apa bu?"rasa penasaran semakin dalam.


Renyitnya alis, rasa ragu ingin berbicara. Merasa kasihan dengan Laura.


Hembus nafas panjang,"Ra, Ibu ingin sekali cerita. Tapi, Ibu takut kamu sedih."pejamnya mata sekali dengan kerutan alis.


DEG!


Fikiran Laura langsung ke arah suaminya itu, sudah beberapa hari tak pulang dan memberi kabar.


Laura hanya diam, entah rasa apa yang mengikat hatinya. khawatir, cemas, takut menjadi satu.


Hembusan nafas panjang, semoga yang di fikirkan salah"Katakanlah, Bu?"ingin mendengar penjelasan Bu Ani.


Raih kembali tangan Laura,"Ra, suamimu masuk rumah sakit."


"Apa?"terkejut Laura, kenapa semua orang dirumah baru memberitahunya.


Berlinang air mata Bu Ani"Sudah seminggu, Renggra di rawat."tak tega melihat reaksi Laura.


Hembusan nafas, merasa sesak di dada"Kenapa, Ibu baru kasih tau aku?"air mata menetes"Bagaimana, keadaannya sekarang?"merasa semua menyembunyikan sesuatu.


Kedua tangan Bu Ani menyapu air mata Laura, yang terus-menerus mengalir"Keadaan Renggra baik-baik aja sekarang. Ibu takut kamu tahu, bisa membuatmu sedih."menjelaskan dengan hati yang tak mampu melihat menantu kesayangan menangis.


Sesak di dada makin meluap"Pasti, pasti Laura akan sedih."camnya"Lebih sedih lagi kalau kalian merahasiakan hal ini semua. Aku istri sah Mas Renggra Bu, Mas Renggra pasti butuh aku di sampingnya."geram melihat semua hanya diam-diam tak melibatkan dirinya.

__ADS_1


Pegang tangan Laura"Tapi, Ra. Renggra lupa ingatan."sabar Bu Ani menghadapi perilaku Laura yang merasa khawatir berlebihan.


Mata Laura membulat,"Lupa, lupa gimana Bu?"tercengang mendengar tibanya lupa ingatan.


Tarik nafas yang tak beraturan,"Renggra di beri obat oleh seseorang, yang tak di kenal."pejam mata tak sanggup melihat Laura menderita.


Mengalir deras air mata, menahan sesak di dada. Tega sekali orang itu melakukan hal tak baik pada suaminya.


Hapus air mata dengan cepat"Kapan, kita bisa bertemu dengan Mas Renggra, Bu?"ingin sekali bertemu. Siapa tahu selepas bertemu, ia akan ingat kembali.


Mengedipkan mata,"Siap-siaplah, sebentar lagi kita akan berangkat."memegang pundak Laura"Ibu tunggu di bawah."berdiri meninggalkan Laura.


Angguk Laura"Eemmm, Iya Bu."


Lepasnya mendengar kabar, Laura segerah mandi membersihkan tubuh. Memakai pakaian gamis dan hijab, tak lupa membawah tas kecil berisi handphone dan lainnya.


Turun ke lantai bawah, tak lama hentinya jalan sebentar merasa kepala itu pusing. Tarik nafas mungkin kurang tidur beberapa hari kebelakang menunggu kepulangan Renggra. Pusing itu hilang, ia kembali menghampiri Bu Ani dan Amel duduk di kursi.


"Ayo, Bu."berdiri di dekat Bu Ani.


Tepuk pelan kursi sofa"Duduk dulu, Ra. Mobil masih di panasi Pak Tono."serupnya air teh"Oh ya, kamu sarapan dulu Ra."meletakkan gelas di atas meja.


Geleng kepala Laura"Laura nggak nafsu makan, Bu."fikiran yang terus mengarah ke Renggra.


Tepuk pelan pundak Laura"Makan dulu sedikit aja,"pintanya"Kalau kamu nggak sarapan, perut kosong. Gimana otak berkerja dengan baik. Apalagi kamu harus sehat, biar bisa mendampingi Renggra dengan baik."bujuk kembali Bu Ani.


Senyum Amel"Iya, kak. Betul apa kata Bu Ani. Kita juga harus sehat, pintar menjaga diri, sebelum menemui pasien. Nanti kita lagi yang jadi pasien."sedikit bergurau, agar Laura tak terlalu kefikiran.


Laura merasa kurang nafsu makan, rasa fikiran ada di Renggra.


Angguk Laura, merasa mendengar pendapat dari mereka ada benar juga. Paksa jalan ke meja makan, pilih yang nyaman di mulut, walau sedikit harus di makan.


Usai sarapan Laura berdiri, kembali menghapiri Bu Ani dan Amel.


Toleh Bu Ani"Udah, Ra?"


Angguk Laura,"Eemmm udah Bu,"


Berdiri Bu Ani dan Amel, membawah tas di tangan.


"Yuk, kita berangkat."ajak Bu Ani.


Angguk Laura dan Amel serentak.


Selanjutnya~>Chapter 28

__ADS_1


__ADS_2