Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 62


__ADS_3

Melihat jam masih lama, dirinya yang habis mandi menggunakan pakaian handuk dan melilit rambutnya dengan handuk kecil. Duduk di depan meja hias serta kaca kecil, melihat dirinya mulailah terpikir sesuatu.


Ambilnya handphone di atas ranjang, mencari website tentang tanda-tanda wanita yang telah melahirkan.


Laura ingin tahu apa benar, dirinya pernah melahirkan dan mempunyai anak dengan lelaki itu.


Walaupun bergulirnya waktu tubuh manusia bisa saja berubah, pasti ada sedikit bekas yang tertinggal.


Mencari situs yang menurutnya masuk di akal, tibalah Laura membaca bahwa di bagian perut sedikit mengendur dan menimbulkan stretch mark di bagian perut bawah. Entah itu banyak atau sedikit, bahwa perut yang pernah hamil akan mengeluarkan hal itu.


Di karenakan perut yang melar, di akibatkan adanya baby yang tumbuh di sana. Stretch Mark juga bisa tambah makin parah, jika bunda yang sedang hamil merasa gatal dan berusaha menghilangkannya dengan menggaruk hal ini tak di perbolehkan. Bisa saja merusak perut dan juga penampilan.


Membulatkan mata, mungkin tanda ini bisa di yakini. Berdiri di depan kaca lemari, membuka handuk mencari adakah tanda tersebut di sana.


Meraba sana sini, bagian atas masih terlihat mulus. Ternyata benar di bagian bawah perutnya terdapat Stretch Mark di sana, sekitar delapan baris.


Semakin tercengang, garis itu nyata adanya. Selama ini dirinya juga tak menggaruk atau pun melakukan hal lain. Dirinya yang memperlihatkan tubuh dan perawatan apa pun, juga tak bisa di pungkiri hal itu terjadi.


Siapa tahu dengan perawatan tubuhnya tergores atau kendur, bisa di bilang aneh.


Menggelengkan kepala, tutupnya kembali handuk itu. Duduk di atas ranjang yang elastis dan lembut. Entah apa yang di rasakan saat ini? Semakin bingung, dirinya harus bahagia mendapatkan lelaki yang sempurna dan mempunyai anak atau ini bisa saja ke keliruhan semata.


Semua harus jelas, dan bukti yang cukup.


Beranjak dari ranjang, dirinya harus bersiap-siap berangkat kerja.


***


Dentingan handphone Aditya menandakan pesan berupa SMS masuk.


Tersenyum-senyum menahan semuanya, ternyata Bagas memberitahu bahwa Renggra semalaman berada di apartemen Laura.


Entah apa yang terjadi pada mereka berdua? Aditya tahu selama hidup bersama Laura, dirinya sangat menjaga diri. Namun, kenapa giliran bersama Renggra semuanya berubah.


Apa benar Laura telah mengingat semua dan sedang menjalani perannya, sebelum bertindak selanjutnya.


Menghebuskan nafas panjang, mungkin dirinya mulai menjalani hidup dengan semestinya.

__ADS_1


Menerima apapun resiko yang bermuncul suatu saat nanti, tapi dengan kondisi Laura yang bahagia.


Bagi Aditya kebahagiaan dirinya, hanya bisa di rasa, jikalau saat melihat orang yang di cintai bahagia.


Sudah cukup baginya, hanya itu saja.


Sesampai di depan perusahaan, menarik nafas panjang. Berusaha santai dan tak memikirkan hal apa pun saat di depan Aditya. Agar dirinya tak menanyakan sesuatu, karena Aditya sangat peka terhadap apa pun.


Berjalan masuk ke perusahaan seperti biasa, sapaan karyawan satu persatu bermunculan.


Masuk ke dalam ruangan Aditya, karena mereka berdua satu ruangan namun berjarak tak terlalu jauh. Agar pekerjaan yang dilakukan bisa muda tanpa akses apa pun lagi.


"Assalamualaikum."sapanya setelah masuk ke dalam ruangan.


"Waalaikumussalam."sahut Aditya, letaknya kembali handphone.


Laura meletakkan tas di atas meja, kemudian duduk di kursi.


"Gimana, udah beberesnya, Ey? Maaf kemarin banyak kerjaan. Rencana hari ini baru bisa bantu."basa basi agar Laura tak marah. Lagian Renggra berada di sana, mana mungkin dirinya menganggu.


"Eemmm! Siapa, Ey?"puranya tak tahu.


Melirik ke Aditya"Jangan pura-pura tak tahu, Bang. Kamu! Hanya kamu orang yang tau apartemenku. Siapa lagi, kalau bukan kamu yang memberi tahu?"pancingnya agar Aditya mau mengaku.


Merapatkan bibir, dirinya merasa bersalah. Memang berawal dari dirinya yang memberikan informasi atas alamat apartemen.


Ucapan yang di sebut dirinya saat itu, ternyata membuat Renggra tak gentar bahwa persaingan di antara mereka benar-benar terjadi. Padahal hanya ingin mengetahui ke seriusannya saja.


"Eemmm, habis dia ingin sekali bertemu denganmu, Ey. Secara kita, kan berkerja sama dengannya. Pendapatan kita jauh lebih pesat akibat bantuan dari mereka. Eemmm, mau tak mau aku memberikannya, Ey."melirik sesekali ke Laura"Tapi, kamu nggak kenapa-kenapa, kan, Ey. Olehnya?"menyelidiki.


Senyumnya dengan menggelengkan kepala"Nggak, dia hanya ingin bertemu saja."tak ingin menjelaskan lebih teliti, takut Aditya marah atau cemburu.


Tak dapat di pungkiri hatinya masih menyukai Aditya, namun selalu terhalangi dengan semua musibah yang berdatangan baginya.


Melihat layar komputer"Syukurlah, Ey?"dirinya masih bingung, sebenarnya Laura telah mengingat masa lalunya atau belum.


Kenapa dari gelagatnya Laura masih bersikap seperti biasa saja? Namun, jika dirinya berbohong, pasti ketahuan walaupun hanya sedikit, fikir Aditya.

__ADS_1


***


Dua hari berlalu, berjalan inginnya ke supermarket lagi, karena bahan makanan yang habis hanya tersisa satu Jus. Kali ini dirinya akan belajar membuat masakan sendiri dari media sosial.


Tak terasa hari ini libur, dengan terik sinar mentari pagi dirinya di sambut dengan suasana damai tampa di ganggu Aditya dan lelaki yang mengaku suaminya itu.


Menghebuskan nafas panjang, nyaman untuk saat ini tanpa memikirkan apapun.


"Laura..."pekik wanita tak jauh darinya.


Menoleh ke sumber suara, tibanya wanita cantik nan muda dengan hijab panjang menghampiri.


"Kamu, masih hidup?"ucap Merisa dengan perasaan bahagia, melihat sahabat kecilnya terpapang jelas di hadapannya.


"Laura."ucap batin"Masa dia memanggilku dengan nama yang perna ku ingat."


Dalam ingatan, ini adalah sahabatnya yang bernama Merisa. Namun, belum pasti apa benar bernama Merisa, dirinya harus menyelidiki dahulu.


"Maaf, mbak!"berusaha santai"Saya Eyrin, bukan Laura."


Menggelengkan kepala"Enggak, aku yakin kamu Laura. Temanku,"menunjuk"Aku sangat kenal dengan bestieku."Laura hanya diam menyimak, sedangkan Merisa mengeluarkan handphonenya di dalam tas, mengotak-atik layar"Lihat ini,"menunjukkan ke Laura"Ini semua foto kita, coba kamu lihat sendiri."menyerahkan ke Laura.


Jelas di wajah Laura dirinya sangat penasaran, mengambil handphone di tangan Merisa. Scroll layar banyak foto mereka berdua.


"Benar, apa yang di katakan wanita ini? Aku harus apa? Aha, lebih baik aku dekati dia dan banyak bertanya, siapa tau aku banyak informasi."ucap batin.


Menyerahkan handphone"Boleh bicara, di rumahku sebentar."ajaknya.


Menganggukkan kepala dengan wajah yang tersenyum-senyum, menandai Ia setuju.


Meletakkan handphone kembali ke dalam tas, dirinya yang berjalan pagi ingin ke supermarket juga ternyata tak sampai ke sana.


Rumah Merisa tempati ternyata di ujung gang tak jauh dari apartemen Laura. Biasa pelayan yang membantu membeli makanan, dirinya yang kali ini ingin membeli. Karena anak dan suaminya sedang dirumah main bersama.


Giliran Ibunya yang bersantai nyambil, berbelanja.


Selanjutnya~> Chapter 63

__ADS_1


__ADS_2