Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 9


__ADS_3

Laura merasa perutnya mules, Ia pun segera ke kamar mandi. Sedangkan Renggra fokus pada leptopnya, pekerjaan kemarin sangat menumpuk.


Apalagi, Ia harus membagi waktu dengan Laura yang saat ini butuh pendekatan ekstra. Jika tidak, rumah tangga yang baru di bina, akan menjadi berantakan.


Pernikahan satu kali seumur hidup baginya, itu adalah moment yang tak terlupakan.


Dosa dan pahala menjadi satu, dalam perjalanan bahtera rumah tangga. Semua ada masa, untuk di pertanggung jawabkan.


Dirinya hendak mengambil cuti setelah pekerjaan selesai, bisa di bilang menikmati masa bulan madu di villa.


Selepas Renggra kecil pergi meninggalkan panti asuhan, kurang lebih sebulan Bu Ani mendirikan rumah panti asuhan baru layak huni, dan menjadi donatur paten di sana. Bisa di bilang, keluarga besar Renggralah yang memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.


Tempat yang dulu tak layak huni, di jadikan Renggra rumah villa untuk liburan keluarga. Karena tempat tersebut masih asli, udara yang sejuk, danau yang jernih, pemandangan yang membuat fikiran menjadi tenang.


Rasanya tak tahan ingin cepat libur ke villa, rindu dengan suasana. Apalagi otak yang merasa jenuh, akibat pekerjaan.


Laura keluar dari kamar mandi, duduk di ujung tempat tidur. Melihat Renggra fokus ke layar leptop yang berada di atas pangkal paha.


Berdiam diri, bingung harus melakukan apa?


Renggra melirik sesekali ke Laura"Ada apa, Ay?"tegurnya.


Menggelengkan kepala, malu bertanya.


Senyum Renggra, fokusnya terurai melihat layar leptop"Bicaralah Ay, atau sini peluk Mas."mengancam sekalian merayu.


Mengeruti alis, takutnya berdatangan. Meneguk Saliva kembali, mengalihkan sesuatu yang membuatnya gemetar.


"Mas, lagi ngapai sih?"melirik sesekali ke Renggra.


Renggra tersenyum, istrinya mulai ingin tahu"Nyelesaiin pekerjaan, Ay."tatap mata yang fokus ke layar.


Mengambil bantal dan memeluk"Mas, kerja apa, sampai sibuk gitu?"tanyanya kembali.


"Menurutmu, apa?"putar kembali pertanyaan.


Merengguti wajah"Iya udah, Mas kalau nggak mau kasih tau, nggak papa."kesal yang selalu tanya, balik nanya"Emang paranormal apa, yang bisa lihat gituan?"Ocehan pelan.


Renggra mendengar ucapan Laura, Ia merasa tak fokus dengan pekerjaan"Lanjut di kantor aja."ucap batin dengan menutup leptop.


"Kalau kamu mau tau, kapan-kapan Mas ajak kamu ke tempat kerja."letaknya leptop di atas meja, kemudian menoleh ke Laura.


"Emang boleh, kesana?"lirik sesekali ke arah Renggra.


"Boleh, Ay."senyumnya.


"Enggak ah Mas, nanti kamu di pecat gara-gara aku, gimana? Cukup aku yang pengangguran Mas, kamu jangan. Nanti kita makan apa?"fikiran yang tanpa sadar mulai terbuka untuk rumah tangga.

__ADS_1


Tahan Renggra, yang ingin tertawa mendengar ucapan istri yang polos itu.


Rasa senang yang membuat kemajuan, dikit demi sedikit.


"Nggak, akan di pecat, Ay."mulai berkata santai. Padahal ingin sekali tertawa lepas.


"Eemmm,"jawaban yang merasa kurang yakin.


Berdirinya Renggra, yang melihat jam sudah menuju pukul enam"Mas mandi dulu ya, Ay. Mau ikut nggak?"


"Apaan sih, Mas. Mesum banget jadi orang."tak sukanya.


"Aku serius, Ay."senyumnya.


"Ih, udah masuk sana, entar telat lagi. Kalau telat, di pecat. Nanti jadi pengangguran, kayak aku, sedih."melirik ke arah lain.


"Jangan sedih, Ay. Akukan ada."


"Jangan gombal."


"Siapa yang gombal, Ay? Kenyataannya gitu."hentinya depan pintu kamar mandi.


Wajah yang kembali merengut"Iya.Iya."


Renggra tersenyum-senyum dengan menutup pintu dan mandi. Dada Laura terus berdetak begitu kencang, ketakutan itu terus hadir.


Mengusap-usap wajah, ingatnya pada tas, dompet dan handphonenya yang tak tahu berada di mana? Ia pun mencari ke sana-kemari.


"Eemmm, handphone dan tas berisi alat keperluanku, di mana ya Mas?"tolehnya ke Renggra yang masih menggunakan haduk setengah pinggang"Aaaaaa...."pekik nyambil menutupi wajah menggunakan tangan.


"Kenapa, Ay?"jalan mendekati.


Mundur selangkah"Jangan mendekat, mesum tau nggak, Mas."


Berhenti langkah kaki, dan terkekeh"Mas kira ada apa, Ay? Kenapa malu sih? suami sendiri."jalannya kembali ke arah ruang pakaian"Mas, kan habis mandi,"menutup pintu.


Bukan mata pelan dengan debaran jantung yang memompa begitu kuat"Ya Allah, kagetnya. Masa jadi orang nggak malu,"ucap batin.


Melihat sekilas tubuh Renggra, merasa sesempurna itu. Bisa di bilang perfek, tak ada kurangnya. Tepuknya sekali kepala"Ihh, mikir apa sih, otakku. Ikut mesum."


Renggra keluar, menggunakan pakaian kerja. Berjas biru tua dalaman putih, berdasi dan celana dasar. Rumbut yang berponi di tata belah pinggir.


Laura yang melihat terdiam, merasa kagum secara tiba-tiba. Pagi-pagi matanya sudah di suguhkan lelaki tampan.


Mengernyitkan kening, melihat Laura dengan wajah serius ke arahnya"Ada apa, Ay? Apa pakaianku, kurang menarik?"tanya penasaran.


Mengedipkan mata, mendengar suara Renggra"Mas, berbeda."jujurnya.

__ADS_1


Dengan wajah yang tersenyum"Beda apanya, Ay. Setiap hari beginilah."jalan ke arah Laura.


"Stop, di situ. Aku belum mandi."rasa malu saat dirinya belum mandi, di dekati lelaki tampan yang mempesona.


"Nggak, papa Ay. Kamukan istriku, biar..."terputusnya ucapan. Karena Laura tiba-tiba berlari melewatinya yang bergegas ke kamar mandi.


Pejamnya mata, dan tarikan nafas panjang dengan wajah yang tersenyum-senyum"Kok, istriku makin gereget."ucap batin.


Duduk di sofa, dengan meraih handphone di meja kecil. Menghubungi Angga, untuk melanjutkan rapat kemarin yang tertunda melalui via SMS.


Setelah selesai mandi, Laura lupa membawah pakaian baru. Pakaiannya yang tadi telah basah di guyur air saat mandi.


Serba salah mau keluar takut Renggra masih di kamar, nggak keluar gimana mau mengambil pakaian.


Intipnya dari belakang pintu"Mas..."berusaha memanggil, siapa tahu Renggra sudah keluar duluan.


Renggra tak menyahut, masih fokus pada handphone.


Laura tak mendengar suara lelaki itu. fikirnya telah keluar kamar. Segera keluar menggunakan handuk, sebatas dada, dengan panjang sebatas paha atas, rambut yang basah terurai panjang di tubuhnya sedang berlarian ke ruang pakaian.


Renggra yang spontan melihat Laura, hanya bisa diam dan menegguk saliva sebagai laki-laki normal.


Pejamkan mata, senyuman tipis memegangi kening, harus tahan dari godaan demi godaan.


Renggra membaca istighfar dalam batin. Mengatasi nafsu yang pertama kali muncul, saat mimpi basah.


Laura keluar, dan berhenti merasa terkejutnya melihat Renggra masih duduk"Mas!"suara pekikan.


Menoleh langsung, mendengar suara Laura"Iya, Ay."jawab santai.


Alis mengkerut"Kamu lihat ya?"tanya penasaran.


"Lihat apa, Ay?"


"Jujur Mas?"paksa dengan wajah memerah saat terpergok hanya menggunakan handuk.


Senyum Renggra,"Iya, Ay. Lihat. Emang ada apa, Ay?"penasaran dengan reaksi Laura.


Mengalihkan pandangan langsungnya menunduk, memainkan hijab"Mas, sengaja ya? Pasti fikirannya mesum."main tuduh.


Berdiri"Nggak papa, Ay. Lagian itu ladang pahala bagimu, bukan dosa besar. Ingat ya, Ay! Mas suamimu, jangan berprasangka buruk pada imammu. Malah menjadi dosa besar, jika kau tak memberi. Malaikat pun ikut mengutukmu, sampai kamu ikhlas memberi. Berhubung aku ridho, insyaallah semuanya baik-baik aja, Ay."jalannya ke arah pintu"Yuk, sarapan bersama."ajaknya supaya fikiran Laura teralihkan.


Laura hanya bisa diam, mendengar perkataan Renggra, yang terus-menerus menceramahinya. Salah itu pasti di rasakan olehnya, tapi batinnya terus menolak untuk menerima pernikahan, yang telah berjalan setengah hari itu.


"Kok, ngelamun, Ay?"rasa penasaran.


Laura hanya diam tak menjawab, malunya di lihat suami sendiri.

__ADS_1


Jalan pelan-pelan mengikuti Renggra keluar kamar.


Selanjutnya ~> Chapter 10


__ADS_2