
Sampailah di depan pintu kantor, mata Merisa membulat, jantungnya bedebar"Ini tak mungkin, aku akan ketemu oppa. Suami sahabatku."ucap batin.
Pejaga membuka pintu, jalannya mereka berdua masuk ke dalam ruangan bertemu dengan Renggra, Nova, dan Angga yang sudah lama menunggu mereka.
Merisa berhenti di samping Laura, matanya kesana kemari. Melihat tiga lelaki tampan yang berdiri di hadapannya. Apalagi melihat Renggra secara langsung, tak bisa di pungkiri lebih tampan saat melihatnya secara langsung dari pada di sosial media mau pun televisi.
Nova yang melihat ke arah Merisa pun tak berkedip melihat cantiknya teman Laura.
Merisa mendekat di telinga Laura,"Ra, cubit aku."mencuil lengan.
Toleh Laura"Buat apa, Mer?"ucapnya pelan.
"Aku hanya memastikan, apa aku sedang tidur dan bermimpi."menutupi mulutnya berbisik ke arah Laura.
Cubit Laura pelan"Aaww sakit, Ra."usap lengannya yang di cubit Laura.
Renggra, Nova, dan Angga tersenyum-senyum melihat reaksi Merisa dan Laura yang berperilaku lucu saat bertemu dengannya.
Senyum Laura,"Mer ini suamiku, yang kau sebut oppa."ucap pelan.
Tak berfikir panjang, Merisa langsung menanyakannya"Oppa, apa benar kamu sudah menikah dengan Laura?"selidiknya yang ingin dengar langsung suara Renggra.
Renggra tersenyum-senyum dirinya di panggil oppa-oppa, bertemu langsung dengan fans fanatiknya"Iya ini istriku Laura."mendekati Laura, dan merangkul pinggangnya. Takut sang istri cemburu, saat ada wanita lain yang tergila-gila padanya.
Padahal Laura merasa biasa-biasa saja, sudah tahu dengan sifat sahabatnya dari kecil, yang tak bisa melihat wajah laki-laki tampan.
Walaupun demikian Merisa tipekal yang tak suka mendekati laki-laki ataupun berpacaran, hanya mengidolakan saja lewat sosial media atau dari jarak jauh.
Toleh Laura,"Sekarang kamu, sudah percayakan padaku Mer?"bisik di telinga Merisa.
Angguk Merisa, menahan malu telah tak percaya pada sahabatnya sendiri.
Angga dan Nova hanya mengerutkan alis, melihat Renggra telah berubah menjadi lebih agresif. Memegang Laura tanpa malu-malu di hadapan mereka.
"Mari duduk."ajak Renggra.
Angguk Laura dan Merisa,
Lirik Nova yang ke arah Merisa terus-terusan, hatinya merasa terpana melihat wanita yang berparas cantik dan anggun di mata Nova.
Toleh Renggra ke Nova"Nov, ini istriku Laura?"senyum bangganya memperkenalkan kalau Ia sudah tak lajang lagi.
Angguk Nova dengan tersenyum"Iya Reng, semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah, Mawardah, dan Warahmah. Kalian juga di berikan keturunan yang shaleh dan shalihah. Aamiin."liriknya sebentar ke arah Merisa.
Senyum Renggra"Aamiin, ya rabbal alamin."dapat doa dari orang terdekat membuat Renggra merasa senang.
Angga memperhatikan kegelisahan Nova yang melirik ke arah Merisa terus-menerus.
Senggol lengan Nova, menyuruhnya berkenalan dengan wanita di hadapannya.
__ADS_1
Dengan rasa malu, Nova mencoba menanyakan"Ini siapa, Reng?"tunjuknya menggunakan jempol ke arah Merisa.
Langsung di jawab Laura"Ini Merisa, sahabatku. Kebetulan kami sedang bertemu, jadi sekalian ke sini."pegang pundak Merisa.
Merisa hanya bisa senyum-senyum, melihat Nova yang tak kalah tampannya dengan Renggra.
"Oh ya, Mer. Ini juga Angga sekertaris ku."perkenalkan Renggra, siapa tahu di antara dua sahabatnya ada yang menyusul.
Senyum Merisa ke Angga,"Kenapa di sini, hanya aku yang jelek."ucap batin.
Sadarnya hari sudah semakin sore,"Ra... Aku duluan, ya. Bentar lagi mau masuk kerja. Sip malam."kerjanya di sebuah kafe tempat tongkrongan keluarga.
Laura menoleh,"Iya udah, aku anter ya?"mengedipkan mata.
Nova langsung menyambung"Aku, juga mau pulang. Sekalian aja. Tenang di mobil ada sopir juga,"merasa ragu takut Merisa menolak.
Renggra menarik lengan Laura memberikan kedipan mata, memberikan kode.
Dari sana Renggra tahu, Novalah yang tertarik pada Merisa.
Ragu-ragu"A.aku, tak mau menyusahkan bapak."malunya di antar dengan laki-laki tampan terlihat mapan dan kaya.
Senyum Nova,"Anggap aja, kamu irit uang bulanan."bujuknya.
Fikiran Merisa merasa malu, tapi mengingat ada benarnya juga, Ia pun langsung menganggukkan kepala.
"Eekhem, jaga anak gadis orang ya, Nov. Antar sampai tujuan."gurau Angga.
Laura hanya diam dan mengedipkan mata, bingung tapi juga senang.
***
"Akhirnya sampai rumah juga,"rebahan Laura di atas tempat tidur sehabis mandi"Mataku ngantuk banget, jam berapa sih."lihatnya pukul sembilan malam"Akukan habis mandi, belum juga pakek baju."matanya terlelap tak tahan menahan kantuk seharian tak istirahat.
Pergi pagi dari villa tak lama pergi dengan Merisa, lalu ke perusahaan kemudian jalan menemani Bu Ani berbelanja. Itulah kenapa Laura merasa letih.
Bukanya pintu kamar, Renggra baru selesai merevisi pekerjaan. Lihat Laura yang masih menggunakan handuk tidur terlelap.
Seperti sedang menarik singa untuk menerkamnya.
Lihatlah wajah letih sang istri, membuat Renggra merasa kasian jika malam ini meminta jatah.
Ambilnya pakaian Laura, belum juga memasangkan. Jantungnya berdegup lebih cepat, ingin melahap sekarang juga, Renggra menutupi Laura dengan selimut putih tebal.
"Ay..."bisik Renggra, membangunkan Laura. Pacuan adrenalin tak bisa di tahan.
Mengernyitkan kening, membuka mata secara perlahan melihat Renggra berada di sampingnya"Mas, udah selesai?"
Angguk Renggra,
__ADS_1
"Mas, kenapa?"lihatnya Renggra menggigit bibir bawah.
"Lihat kondisimu?"menaiki alis.
Laura, sadar belum memakai pakaian sehabis mandi. Namun, tubuhnya hanya di lapisi kain tebal"Mas, yang buka ya."tolehnya merasa suami meminta jatah.
Peluknya"Kamu sengaja, ya Ay?"bisik di telinga Laura.
Tarik nafas panjang"Tadi, aku habis mandi Mas. Ketiduran letih banget."merasa tubuhnya pegal-pegal.
Peluk erat"Shalat dulu, yuk Ay. Kamu mancing singa barusan."kode Renggra.
Kedip mata"Kamu, nggak capek, Mas?"
"Kalau soal di ranjang, nggak, Ay."bisiknya"Selain olahraga, Mas banyak energi, Ay. Besok, Mas keluar kota selama satu minggu butuh energi full sayang."manjanya.
Melepaskan pelukan Renggra,"Ngapain, Mas?"terkejutnya pertama kali harus LDRan dengan suami.
Kembali memeluk Laura,"Mas, mau lihat langsung proyek yang di sana. Kita boleh percaya dengan pegawai, tapi kitakan perlu bukti."jelasnya.
Hembus nafas,"Iya, Mas. Kamu hati-hati di sana. Paling utama jaga mata jaga hati."takut suaminya jajan di luar.
Bangun Renggra,"Iya sayang, ayo ambil wudhu."ajaknya.
Angguk Laura, memakai kembali handuk yang di gunakan.
Selesai shalat Sunnah, Renggra berdoa seperti biasa"Ya Allah, semoga istriku selalu ridho atas apa yang aku perbuat, Aamiin."ucap batin, meniupi ubun-ubun Laura dan mencium dahi dan kedua matanya.
Kali ini Laura di gendong Renggra ke atas tempat tidur, rindunya akan semakin menggebu-gebu saat istri tak berada di sampingnya.
Rajutan perasaan telah menyatukan mereka, buih-buih di lautan telah sempurna menerpa pinggiran pantai. Cinta yang abadi akan terus ada sampai maut memisahkan.
Belainya serumpun, menjadi gojolak kedua insan. Detik demi detik terurai bersama hasrat yang terpendam.
Sakit tak di rasa hanya kenikmatan dan kebahagiaan yang mempengaruhi diri Laura. Cintanya semakin tumbuh akibat perlakuan Renggra padanya.
Nafas tak beraturan, mengarah pada posisi yang tepat. Memacu adrenalin semakin tinggi sampailah pada puncaknya.
Sekarang tunaian itu telah di laksanakan.
Nafas legah Renggra, melihat istri ikhlas menerima perlakuannya. Kecupnya kening Laura"Terimakasih, Ay."peluknya kembali dengan keringat yang membasahi.
Guling di samping Laura"Ay, masih sakit nggak?"memastikan Laura tak merasa sakit lagi, agar saat di tinggal dirinya merasa aman.
Geleng kepala,"Nggak lagi, Mas. Dari kemaren di terkam singa seharian."guraunya agar Renggra tak perlu khawatir dengan kondisi yang baik-baik saja.
"Alhamdulillah. Sekarang mandi dulu, Ay."bangun mengajak istri mandi bersama. Agar esok subuh bisa langsung melaksanakan shalat tahajud dan mengaji bersama.
Malam ini Renggra ingin banyak beristirahat, besok waktunya harus fokus pada perkerjaan yang menumpuk di ruang kerja.
__ADS_1
Angguk Laura, merasa tak malu lagi mandi bersama suami. Pahala yang besar di dapat seorang istri, bisa membuat suami bahagia karena dirinya yang bisa memuaskan hasrat dalam ibadah rumah tangga.
Selanjutnya~>Chapter 22