Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 60


__ADS_3

Mendekati batas ruang dapur, dengan meja keramik"Kenapa nggak janji?"rasa penasaran serta takut Renggra akan berbuat jahat.


Menghebuskan nafas panjang"Ay, kalau kamu berbicara terus, kapan Mas bisa berkonsentrasi masak? Katanya lapar."mengiris cabai.


"Iya, ya."ucap batin.


Melihat Renggra mengiris bumbu"Ya, aku, kan ingin tau. Eemmm, pekerjaan yang bisa bantu kamu apa?"


"Panggil, Mas, Ay."lanjutnya mengiris bawang.


Menghembuskan nafas panjang, lupanya"Iya maaf! Mas namanya siapa? Sekalian di panggil lengkap."guraunya.


Berwajah datar melihat Laura"Ingat ya, Ay. Mas Renggra,"


Cengirnya merasa takut di tatap bak singa yang ingin menerkam"I.Iya, Mas."merasa aneh dirinya mempunyai pacar suami orang.


"Awas saja ku cari kelemahan dirinya, jika macam-macam, ku laporkan ke pihak berwajib"ucap batin.


Mendekati Renggra"Mana yang bisa ku bantu?"tak nyaman hanya melihat-lihat saja.


Memasak nyambil memotong"Duduk aja di kursi, tunggu Mas selasai masak. Tadi, kan sudah bilang Mas yang masak untukmu."


Menganggukkan kepala"Eemmm, baiklah,"walau hati tak nyaman, dirinya juga ingin tahu seberapa hebat lelaki itu memasak.


Berjalan ke ruang tengah duduknya nyambil menghidupkan televisi menggunakan remote.


Lirik sesekali ke arah Renggra yang fokus memasak, entah rasa kagum melihat dirinya yang lihai sekali mengunakan alat dapur. Dirinya bak Chef ternama.


Entah perasaan aneh yang timbul, kondisi mereka saat ini pernah terjadi. Mengedipkan mata sesekali, mungkin hanya ilusi dirinya saja.


Tak begitu lama, Renggra menyiapkan masakannya ke dalam piring, sedikit di hiasi daun seledri dan buah tomat.


Merapikan tempat dan meletakkan piring kotor di wastafel, biar usai makan baru di cuci.


Membawah dua piring beling, ke arah Laura menggunakan nampan lihatnya yang sedang fokus menonton televisi.


Renggra tersenyum-senyum, semoga istrinya suka"Mas ambil dulu, minum air putihnya."meletakkan di meja, kemudian mengambil gelas mengisi air minum.


Menoleh Renggra, mencium hidangan masakan yang begitu wangi. Ternyata dirinya memasak steak daging.

__ADS_1


Mata Laura membulat, lihatnya masakan Renggra yang begitu cantik dan nikmat"Nggak di masukkan apa-apa, kan dalam makananku?"takutnya Renggra memberikan obat atau racun.


Berjalan membawah dua gelas"Kalau kamu takut, biar Mas aja yang makan."meletakkan di meja dan duduk di lantai.


Laura ikut duduk di lantai"Eemmm, aku tetap makan."tak mau bagiannya di makan Renggra, apalagi masakan itu sangat menggoda"Seandainya terjadi apa-apa, lihat saja."ancamnya.


Senyumnya"Aku akan bertanggung jawab, jika dirimu ada apa-apa, Ay."memotong steak, memberikan ke Laura"Coba di rasa dulu, pas nggak rasanya."


Laura merasa lelaki ini romantis sekali, memegang sendok mengambil sedikit bumbu yang telah halus. Rasa yang gurih dan lezat tak tahu harus berkata apa? Wajah Laura tersenyum"Eemmm, lumayan."tak mau nanti lelaki itu merasa kegirangan, di akui masakannya enak.


Memotong daging, dengan wajah tersenyum"Alhamdulillah, istriku suka."ucap batin, merasa senang.


Tak terasa makanan habis, meminum beberapa teguk air. Perut yang berbunyi dan menari-nari itu hilang. Rasa ke tagihan, ingin menambah tapi malu.


Melihat jam dinding, menunjukkan pukul sepuluh malam. Mata Laura membulat melihat Renggra yang masih santai memakan steak"Mas, lihat jam."inginnya Renggra segera menghabiskan makanannya lalu pulang.


Menoleh"Kenapa, Ay. Sama jamnya?"mengerti maksud Laura, namun puranya tak tahu.


Mengeruti kening"Nggak baik malam-malam berdua. Apa di kira tetangga?"


Senyum Renggra"Kenapa nggak baik, Ay? Kitakan suami istri. Ngapain, Ay. Mikirin omongan orang lain. Kita juga udah sering tidur berdua."bantahnya.


Menghebuskan nafas dengan meletakkan steak yang sedikit lagi habis"Iya udah, Ay. Mas pulang."berdiri.


"Eehh, habisi dulu makanannya mubazir kalau di tinggal gitu aja."mengambil piring Renggra, ingin menyuapi"Makan cepet."


Renggra tersenyum-senyum, dirinya bak anak kecil yang di marahin oleh seorang Ibu. Karena susah makan.


"Makan kamu boleh, Ay?"celotehnya.


Tiba suara Renggra yang berucap itu, terbayang penampakan mereka berdua sedang makan.


Kepala terasa pusing, nafas yang terengah-engah dengan debaran jantung yang memompa begitu cepat, semua ingatannya pulih seketika.


Tampa sadar pula piring terlepas dari tangannya, dan kesadaran mulai hilang.


Mengeryitkan kening, melihat Laura menutup mata dengan keringat yang mengalir tibanya tangan yang memegang piring dan dirinya ingin terjatuh ke lantai.


Dengan sigapnya Renggra, menangkap Laura dan mengambil piring di tangannya.

__ADS_1


"Ay!"menggoyangkan tubuh Laura yang di peluknya, meletakkan piring di meja"Ay, bangun."rasa khawatir ada apa dengan Laura? Tibanya tak sadarkan diri.


Renggra membawah Laura ke bilik kamar, melepaskan hijab yang terpasang dan menyelimutinya.


Mengambil kursi kecil yang di letakkan di depan meja rias, memegangi tangan Laura"Ay, kamu kenapa? Apa kamu sering tak sadarkan diri kayak gini?"ucap batin. Dirinya terus bertanya-tanya dan menelepon dokter pribadi.


Setiba dokter di apartemen, langsung memeriksa ke adaan Laura"Bapak tak perlu khawatir, dirinya baik-baik saja. Mungkin letih dan butuh istirahat, insyaallah sebentar lagi atau besok beliau akan pulih."ucap dokter wanita paruh baya yang pernah memeriksa Laura dahulu.


Menganggukkan kepala, Renggra mengantarkan dokter keluar.


Tak lama Renggra datang membawah kompresan air dingin biasa, mengelap keringat yang keluar.


"Ay, kamu terlalu memaksakan diri."ucap batin, usai mengelap keringat.


Memegang kembali tangan Laura"Aku bersyukur sekali kamu masih hidup, Ay. Allah memberikan jalan pada kita, semoga kamu cepat pulih sayang."ucap kembali batinnya, mencium punggung tangan.


Waktu bergulir semakin larut malam dan subuh akhirnya berkumandang.


Laura yang bangun merasa kepalanya masih sedikit berat, membuka mata menoleh ke kiri. Renggra tertidur nyambil duduk memegangi tangannya.


Pakaian yang di gunakan Renggra, juga tak di ganti. Tanda bahwa Renggra tak memperhatikan dirinya sendiri.


Air mata Laura seketika menetes,"Maafkanku, Mas. Aku melupakanmu selama ini. Tapi aku masih ingin lebih tau, apa yang telah terjadi? Apa selama ini juga kamu masih setia padaku? Maafkan aku."ucap batin, menyapu air mata dengan tangan kanan"Kamu pasti letih, mengurusku semalaman."lirihnya.


Mata yang terbuka lebar, bangun dari tidurnya yang menyender di tepi ranjang. Menggelengkan kepala rasa leher yang pegal liriknya Laura telah bangun melihat dirinya"Ay, sudah sadar?"rasa senang melihat Laura.


"Kamu ngapain di sini?"inginnya duduk.


Ingin membantu, takut Laura marah"Mas, nggak bisa ninggalin kamu, Ay. Tak sadarkan tiba-tiba kayak gitu. Mas khawatir, Ay. Sama kamu."mengerutkan kening.


Senyumnya tipis"Eemmm, terimakasih."jawabnya ketus.


Rasa senang Renggra begitu khawatir dan penuh perhatian.


Dirinya juga ingin memastikan dulu, apakah Renggra telah berubah atau ingin berjumpa dengannya karena kasihan.


Dirinya akan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi secara diam-diam. Apalagi Aditya yang sudah berbohong. Ingin rasanya marah, namun yang dilakukan selama ini sangatlah baik tak sedikitpun dirinya melakukan kekerasan, jangankan hal itu, menyentuhnya saja tak pernah.


Selanjutnya~> Chapter 61

__ADS_1


__ADS_2