Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 47


__ADS_3

Tepuk pundak Angga, inginnya berkata sesuatu yang barang kali membuat Renggra terkejut dan tak akan menyangka"Malam nanti ikut aku bertemu klien,"ajaknya yang ingin memperlihatkan sesuatu.


Renyit kening Renggra"Bukannya kau bilang jadwalku kosong?"tanyanya sebelum pulang kerja kemarin.


Melirik Angga ke Amel yang menyipitkan mata merasa suaminya sudah berani main keluar malam-malam.


Senyum Angga melihat ke Renggra"Tadi pas kita jalan-jalan klien menghubungiku."alasnya.


Melirik kembali ke Amel, wajahnya sudah mulai membaik"Alhamdulillah."ucap batin. Takut istrinya akan ceremah berjam-jam saat tau sang suami keluar malam-malam tanpa Anak dan Istri.


Senyum Angga kembali ke Renggra,


"Baiklah,"percayanya.


Bu Ani dan Renggra dari tadi menahan tawa, melihat reaksi Angga yang seperti suami takut istri.


***


Duduknya di club malam, dengan kursi besi dan dentuman musik yang menggelegar melihat wanita yang berpakaian tapi telanjang. Renggra menutupi wajah dengan masker dan juga topi hitam, matanya melihat ke arah dinding. Posisi mereka duduk diujung ruangan.


"Ga, kamu mengajakku menemui klien, atau hal lain?"curiga Renggra.


"Reng, coba kamu lihat sebentar wanita baju merah yang membawah botol minum di sebelah saja."tunjuk Angga tanpa rasa malu. Biasanya melihat yang beginian saat bertemu klien.


Melirik pelan, melihat banyak wanita membuka aurat. Membuat Renggra tak henti-hentinya mengucap istighfar. Kembali lagi ke arah dinding tak sanggupnya melihat wanita yang tak punya rasa malu.


"Kamu sajalah yang menjelaskan siapa di sana?"kesal Renggra pada Angga yang mengajarkan hal tak baik.


"Lihatlah sebentar saja."rayunya kembali.


Merasa kesal Angga seperti sedang mempermainkan dirinya. Toleh ke meja yang ramai laki-laki melihat wanita seksi, berpakaian merah, dada yang kelihatan garis tengah, sedang menuangkan botol Alkohol ke dalam gelas.


Perhatikan Renggra secara seksama, tak sangkanya itu Sella"Ayo kita pergi."berdiri, mengajak Angga keluar club.


Datang Sella berjalan lenggak-lenggok membawah cangkir dan sebotol minuman keras menggunakan nampan.


"Mau minum?"tawarnya melihat Renggra dan Angga, tanpa mengenal siapa mereka.


Geleng kepala Angga, Renggrapun sama, puranya melihat lukisan dinding.


Senyum Sella"Kalau nggak minum, nggak asyik donk Mas."ucapnya merayu menyodorkan tonjolan dada ke arah mereka berdua.

__ADS_1


Renggra mengalihkan pandangan tak menghiraukan Sella berjalan ke arah luar bersama Angga yang mengikutinya dari belakang.


Masuk ke dalam mobil melepaskan masker dan topi.


Terkekeh melihat Renggra, mengusap-usap tubuhnya yang merinding.


"Kamu tak memberi tau, dari dulu."tanyanya melirik Angga.


Menahan tawa"Gimana mau ngasih tau Reng, kamunya aja nggak nanya. Main sikat aja."lihat ke arah jendela luar.


Menunduk memijiti kepala, untung dirinya tak sampai menikahi Sella yang mungkin telah menjadi kubekan laki-laki mata keranjang.


Geleng kepala Renggra tak habis fikir, menilai bagian luar ternyata dalamnya sungguh di luar dugaan.


Kembali lintasan senyuman Laura"Ay, kamu masih hidup."ucap batin dengan tersenyum melihat arah luar.


"Kamu masih mengingat Sella Reng, senyum-senyum sendiri."penasaran dengan berubah tingkah Renggra.


Kerut alis Renggra yang tak mau membahas Sella apalagi membayanginya membuat bulu kuduk itu berdiri"Aku sedang membayangkan istriku yang masih hidup. Jangan lagi kau membahas Sella."tak sukanya Renggra dan mempercayai Angga.


Terkekeh Angga,


"Kenapa kau tertawa?"curiganya.


Hembuskan nafas panjang, merasa malu"Terimakasih berkatmu lagi, hari ini banyak sekali kejutan."mata Renggra memerah, terharu dengan perjuangan sahabat yang selalu sabar dalam membantu.


Senyum Angga menepuk pundak Renggra"Bukan aku, tapi doa yang selalu di ucapkan. Doa itu tuhan kabulkan melalui orang-orang terdekatmu."menasehati Renggra.


Angguk Renggra"Eemmm, mungkin kamu benar."kerutnya kening"Gimana kamu tau Sella seperti itu?"penasaran Renggra, kenapa Angga bisa tahu? sedangkan dirinya melihat Sella itu wanita yang sempurna.


Senyum Angga"Dia itu wanita licik Renggra, dialah kaki tangan Pak Septo, mematai perusahaan. Semenjak dia tau Pak Septo meninggal, Ia melarikan diri menjadikan kita sebagai tuan barunya. Mungkin dia tertarik padamu, mangkanya mencari cara agar kamu bisa terpikat. Hati-hati saja kedepannya, jangan sampai kamu terjerumus."jelas Angga.


Naik alis Renggra"Kenapa banyak sekali kamu tau? Kenapa tak menceritakan padaku?"ingin penjelasan dari Angga.


Hembuskan nafas"Pak berhenti di depan."Lihatnya taman pinggir kota.


Angguk Pak Tono memarkirkan mobil.


"Kamu tak menjawabku, malahan ke sini?"Lihatnya taman.


Senyum Angga mengajaknya agar Renggra lebih rileks"Mari turun dulu, kita berbicara nyambil cerita."liriknya ke Pak Tono, memberi kode tak enak di dengarnya.

__ADS_1


Senyum Renggra,"Baiklah."membuka pintu turun keluar mobil.


Udara yang dingin menyambut mereka berdua, berjalan santai melihat muda mudi bercengkrama.


Senyum Angga"Aku ingin bercerita padamu Reng, tapi ku fikir Ia tak akan mengganggumu. Mendengarmu ingin melamar kebetulan melihat Laura, rasa ubun-ubun kepalaku meluap. Aku tak mau dirimu memilih jalan yang salah dan menyesal kemudian."


Senyum Renggra"Maaf, aku melakukan kesalahan. Jangan ambil hati."merasa bersalah.


Angga tersenyum,


Lirik wanita yang melihat ketampanan Renggra dan Angga, nyaris mereka hanya bisa menatap tanpa berkedip.


"Kenapa kamu tersenyum?"belum sadar Renggra yang di lihati para wanita.


"Kamu tak sadar di perhatikan orang di sekitar sini?"lirik Angga.


Renggra berhenti, melihat sekitar berkerumunan dengan kaum wanita. Mata mereka tampak mengeluarkan ke kaguman.


Tepuk pelan Angga"Sudah jangan di hiraukan, beginilah jika tak mengajak Istri dan Anak."senyum Angga merasa kegirangan di lihat banyak orang dengan mata yang berbinar-binar.


Menyenggol bahu Renggra ke dada Angga"Senanglah tuh."guraunya nyambil berjalan kembali, tak menghiraukan lingkungan sekitar.


Berhenti langkah kaki kembali melihat Laura berjalan dengan laki-laki lain berdampingan. Menetes air mata Renggra, nyata Laura benar-benar masih hidup.


Melihat ke Renggra berhenti Angga mengikuti"Ada apa Reng?"melihat mata Renggra mengalir air mata. Angga menoleh apa yang Renggra lihat.


"Laura."batin Angga.


Ingin Renggra melangkah menghampiri Laura dan membawahnya pulang, perasaan yang rindu begitu tak tertahan"Ay, kamu masih hidup."ucap batin. Langkah kaki tertahan, sadar Angga memegangi pundak Renggra.


Menggelengkan kepala"Jangan sekarang!"perintahnya.


Menetes air mata melihat Angga"Tapi, Ga?"lirihnya, menahan gejolak di dada.


"Reng, Laura sepertinya lupa ingatan."Lihat ke laki-laki di sebelah Laura melihat dengan tersenyum ternyata Aditya"Musuhmu tak mudah, jangan gegabah."


Mata Renggra kembali melihat Laura yang semakin menjauh.


Senyum Angga, Akhirnya Renggra melihat Laura"Reng, tahan. Jangan gegabah, ingat sabar."nasehatnya"Kita cari cara mendapatkan Laura secara aman. Jika sekarang kamu bertemu dan memaksa dia yang tak ingat sama kamu. Sama saja kamu menjauhi dirimu darinya."


Renggra menunduk,"Eemmm, kamu benar."tahannya mengerti maksud perkataan Angga.

__ADS_1


Selanjutnya~>Chapter 48


__ADS_2