
Lancarnya makan malam membuat Renggra tak habis fikir, wanita di sebelahnya itu bisa di andalkan.
Bersalaman dengan Pak Joko menandakan perpisahan mereka yang telah usai. Melihat di luar hari semakin larut malam, Renggra berhenti berjalan, ingatnya Sella pulang menaiki kendaraan apa? Lihatnya kembali dari bilik jendela telah sepi kendaraan. Saat berangkat ke restoran, mereka pergi bersama Sella pun tak menaiki kendaraan lain.
Berhenti sebentar dan menoleh ke arah Sella.
Sella sontak ikut berhenti melihat langkahan kaki Renggra berhenti.
"Kamu naik apa pulang?"tanyanya.
Lirik ke arah lain"Naik taksi Pak."jawabnya lantang.
Lihat Renggra jam menunjukkan pukul sepuluh"Jam segini rawan bagi wanita naik taksi, mari saya antar."mengajak Sella pulang bersama.
Merasa gelisa tapi senang, hembusnya nafas panjang"Tak masalah Pak, saya sudah biasa."tolak Sella tak ingin membebani atasan.
Menaikkan alis, fikirnya seberapa hebat wanita ini berkeluyuran malam-malam tanpa rasa takut. Hanya keluar mencari rezeki, sungguh miris melihatnya berjuang mempertaruhkan segala hal.
"Aku mengantarmu pulang, bukan apa-apa. Anggap saja berterima kasih telah melancarkan bisnis kita hari ini."tawarannya kembali, agar Sella aman saat pulang larut malam.
Sella terdiam, entah apa yang difikirkannya.
Renyit kening Renggra, melihat Sella hanya diam melirik ke arah lain"Aku tak masalah jika kamu tak mau, setidaknya aku telah menawarkan jasa."tegasnya lagi, berarti jika terjadi sesuatu, bukan salahnya.
Senyum Sella"Jika bapak tak keberatan, saya mintak tolong antarkan saya pulang."setujunya.
Renggra hanya mengangguk, berarti Sella setuju ikut dengannya.
Sella duduk di kursi depan dengan Pak Tono, sedangkan Renggra seperti biasa duduk di belakang.
Sella membuka handphone memberikan alamat"Bapak turuti ini saja,"meletakkan handphonenya di tripod di hadapan Pak Tono.
__ADS_1
Menganggukkan kepala,"Baik Non."yang mengemudi mobil pergi meninggalkan restoran.
Berbalik arah dengan perusahaan memakan waktu yang cukup jauh sekitar setengah jam baru sampai, membuat Renggra berfikir jika Sella berangkat kerja menggunakan bus atau taksi setidaknya menungu kurang lebih satu atau dua jam sebelum jam masuk kantor.
Renyitnya kening, kenapa dia tak mencari kosan yang lebih dekat dari tempat kerja?
"Terimakasih Pak, sudah mengatar saya pulang. Kalau begitu saya duluan."senyum Sella.
Angguk Renggra dengan wajah yang datar, menyatakan iya.
Keluar dari dalam mobil, berdiri di depan pagar. Melihat mobil Renggra melaju dengan cepat meninggalkan dirinya.
Sesampai di rumah hari sudah larut malam, melihat pintu Bu Ani sudah tertutup rapat. Inginnya melihat Yusuf, Namun tak nyaman membangunkan Bu Ani yang mungkin sudah tidur terlelap.
Masuk ke dalam kamar, melonggarkan dasi menarik nafas panjang. Hari-hari yang begitu berat akhirnya terlewatkan.
Lihatnya foto kecil di atas lemari, duduk nyambil meraih bingkai foto tersenyum manis melihat tawa Laura yang membuat rindu itu semakin berat.
"Ay, sudah satu bulan dirimu meninggalkanku dengan Yusuf."hembusnya nafas"Rindu, Ay. Coba datanglah ke mimpiku."bergurau menghibur diri.
Rasa sepi dan kesendirian saat malam yang sunyi baru Ia jalani, merasa beban itu memuncak tak sanggup kehilangan orang-orang yang di sayangi. Apalagi cinta pertamanya hilang.
Mengingat kejadian yang baru saja di alami dengan Laura, termasuk mengantarkannya dalam detik-detik kematian. Membuat luka itu semakin dalam, andai dan andai terus Renggra ucapkan. Mungkin saja Laura masih hidup.
Hilangnya kesadaran Renggra tentang hukum alam yang benar nyata ini, manusia tak ada yang kekal. Manusia hanya bisa menjalani, namun Renggra yang merasakan, pundak itu semakin berat membuatnya kehilangan kendali.
Hentikan dengan cepat agar tak hanyut dalam ke sedihan, meletakkan foto Laura. Menyapu air mata di pipi, tarik nafas dalam-dalam menghembuskan secara perlahan, membuatnya merasa legah. Ucap istighfar beberapa kali, dan kembali berjalan ke kamar mandi membersihkan diri sebelum membaca yasin untuk Laura dan melanjutkan dengan beristirahat.
Tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, maka dari itu tetap positif dalam segala hal. Itu yang difikirkan Renggra, ucapnya bismillah semoga hari-hari esok berlalu tanpa kesedihan lagi. Pasrah dengan keadaan, semoga ada jalan yang baik akan berdatangan.
***
__ADS_1
Tak terasa enam tahun telah berlalu, usia yang memasuki kepala tiga itu membuat Renggra kelihatan semakin menawan.
Menjadi Ayah dari satu anak, membuat dirinya semakin gagah fokus dalam membesarkan Yusuf dan menjalani hidup seadanya.
"Reng!"pekik Bu Ani melihat Renggra berpakaian rapi turun dari anak tangga inginnya pergi ke luar rumah.
"Eemmm, apa Bu?"mendekati Bu Ani.
Tepuk pelan kursi sofa berwana coklat tua"Sini duduk dulu,"perintahnya yang ingin berbicara pada Renggra.
Duduk di hadapan Bu Ani,
"Kamu mau kemana?"selidikinya dulu, merasa penasaran perubahan Renggra akhir-akhir ini.
Menuangkan air teh ke dalam gelas kecil, senyum manis Renggra terurai dari wajahnya"Jalan-jalan sama Angga Bu, sudah lama kami nggak keluar."
Sipit mata Bu Ani"Yakin, hanya jalan saja."terus menyelidiki.
Angga datang, duduk di samping Renggra"Iya Bu, hanya jalan-jalan sekalian nyuci mata."jawabnya mewakili Renggra.
Hembuskan nafas"Renggra. Renggra, usiamu tuh udah tua. Sebelum makin tua, cobalah nikah lagi sana."memberikan arahan jangan hanya menyendiri.
Senyum Renggra"Renggra tanya sama Ibu. Kenapa Ibu sampai tua tak menikah lagi?"menyindir kembali Bu Ani.
Bu Ani terdiam, mungkin apa yang di rasakan oleh Renggra benar nyata adanya. Orang yang di sayang, benar-benar sulit untuk di ganti ataupun di lupakan.
Seruput teh di minum Renggra, menunggu jawaban Bu Ani.
Letak kembali gelas itu, tak juga Bu Ani berbicara"Nah, apa yang di rasakan oleh Ibu, itulah yang di rasakanku."langsung sekak"Mungkin ada,"kode Renggra memberi secercah harapan bahwa dirinya menyukai gadis lain, tapi masih dalam pertimbangan.
Senyum Bu Ani, merasa senang mendengar ucapan Renggra"Siapa Reng?"ingin taunya.
__ADS_1
Angga menyimak, dirinya pun tak tahu siapa yang di sukai Renggra secara diam-diam. Biasanya Renggra akan terbuka dan bercerita. Namun kali ini, Ia merahasiakan siapa yang akan menjadi pengganti Laura dan menjadi Ibu bagi Yusuf.
Selanjutnya~>Chapter 43