Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 29


__ADS_3

Malam yang sepi, satu atap beda ruangan. Biasa tidur memeluk istri ini hanya bersabar memeluk bantal guling. Rindu dengan senyuman sang istri, tariknya nafas panjang. Semoga orang terdekat cepat tertangkap, agar bisa kembali berdampingan dengan istri.


Satu bulan berlalu, duduk di ruang kerja. Angga datang menemui Renggra.


"Gimana, ada kemajuan?"ketiknya keyboard, masih fokus kelayar komputer.


Angguk, Angga"Ada, Reng. Tinggal kita eksekusi malam nanti."duduk di kursi depan meja.


Hembus nafas, berhenti mengetik"Alhamdulillah, akhirnya ada jalan."kode yang rindu pada istri.


Setiap hari Laura tak henti menganggu Renggra, upayanya mendekati. Namun, sayang semua harus di lakoni dengan baik. Beberapa cara Laura mendekat, beberapa cara pula Renggra menjauh.


Agar antek-antek terlihat, di awali dari rumah dahulu.


Senyum Angga,"Kenapa, udah kangen tidur sama istri?"menjahili Renggra.


Senyum manis"Tuh tau,"kodenya"Kau tuh, sampai kapan tak memberi keputusan. Suka enggak, tolak juga enggak."menyuduti Angga.


Tarik nafas,"Menurutmu, gimana Reng?"balik bertanya.


Renggra merasa geli di hati"Lah yang ngenjali hidupkan elu, Ga. Emang kita satu badan?"guraunya merasa aneh melihat Angga.


Menyipitkan mata, mengerutkan alis"Bingung, Reng."memainkan ujung pakaian.


Senyum Renggra,"Gini aja, coba aku tanya lagi ke kamu Ga. Kamu suka nggak sama Amel, adikku itu?"merapatkan bibir bawah kembali selesai bertanya, menunggu jawaban Angga.


Menyender di sisi kursi, menatap langit-langit rumah"Coba kau jelaskan dulu, suka dan cinta itu bedanya dimana?"masih berfikir apakah ada rasa itu dalam dirinya.


Kerut alis,"Aku tak begitu yakin di mana bedanya."susah menjelaskan"Kiranya, kamu ada nggak. Melihat Amel itu wanita yang paling menyolok. Paling sedikit melihatnya, jantungmu berdebar sangat cepat. Hah, ada nggak?"toleh ke arah Angga yang masih melihat atap rumah.


Terlitas bayangan, waktu di rumah sakit dan di tempat lainnya. Memang rasa itu akhir-akhir ini berdatangan, bertemu saja malu.


Senyum, Angga menoleh ke Renggra"Reng, jika aku menikah dengan adikmu, apa kau akan merestui?"tanyanya yang sadar mungkin ada cinta di sana.


Naiknya alis,"Yah jelas aku merestui kalian. Ingat, jika elu sampai menyakitinya, Ku gantung di atap rumah."gertak Renggra.


Akhirnya ada solusi untuk mereka berdua, yang selama ini seperti maling takut ketawan.


Angguk, Angga"Iya, Reng. Tapi nanti aku perjelas dulu."tunjuknya ke dada"Nih hati."guraunya lagi.

__ADS_1


Seyum tipis Renggra, merasa masih di ambang-ambang.


***


Sarapan pagi bersama, Renggra tak melihat Laura di meja makan"Mana, Laura Bu?"duduk di kursi.


Tunjuknya ke belakang,"Tuh jemuri pakaian, dari subuh nyuci."kembali mengunyah makanan.


"Apa?"terkejut Renggra"Itukan, tugas Bik Siska."nyonya dirumah jadi pembantu, kemana saja pelayan di rumah itu. Marah Renggra istrinya melakukan pekerjaan rumah. Lain kalau di villa memang ingin menjalankan ke wajiban.


Menyedok Nasi"Semenjak menikah, memang begitulah Laura di rumah. Nyapu, ngepel, nyuci pakaian kamu ama dia, belajar masak kue dengan Bik Siska. Jenuh katanya yang hanya duduk aja tiap hari."jelas Bu Ani.


Geleng kepala,"Mending nggak usah, ada pembantu."gerutu pelan.


Laura datang, melewati mereka yang sarapan.


Toleh Amel yang melihat,"Kak sarapan yuk,"memegang sendok.


Berhenti Laura,"Bentar lagi, Mel. Aku mau istirahat dulu, lagian perutku masih berasa kenyang."melanjutkan kembali langkah kakinya, pergi ke dalam kamar.


Lirik mereka, ke arah Renggra yang mengunyah makanan, dengan pelan.


Minum segelas, air putih"Ekhem, Bu. Nanti malam ajaklah menantu ke sayangan pergi keluar. Aku dan Angga ada pekerjaan."mengedipkan mata memberi kode, bahwa mata-mata di rumah sudah di temukan.


Naiknya alis, dengan tersenyum"Sip, deh Bu."mengencungkan jempol tandanya setujuh.


***


Setelah ba'da Isya, Bu Ani dan Amel menghampiri kamar Laura, mengetuk pintu.


Tak butuh waktu lama, Laura membukanya"Ibu, Amel. Ada apa?"penasaran mereka yang tiba menghampiri.


Senyum mereka"Kak, jalan keluar yuk. Kakak, kan selama nikah sama kak Renggra, belum jalan-jalan sama kita malam-malam gini."ajak Amel"Lagian sudah lama kita nggak jalan."membujuk Laura.


Liriknya ke lantai atas, terlihat pintu kamar Renggra"Tuh, Mas Renggra ngizini nggak Bu?"takut Renggra tak memberi izin.


Raih tangan Laura,"Udah, tadi Ibu mintak izin, boleh katanya."senyum merayu Laura.


Laura tersenyum-senyum, akhirnya bisa keluar jalan-jalan."Bentar ya Bu, Laura ambil tas dulu."segerah mengambil tas, dengan tersenyum-senyum.

__ADS_1


Pegang tangan Bu Ani dan Amel sambil berjalan ke arah luar"Nanti makan di luar, ya Bu."rayunya.


Toleh Bu Ani"Loh, kamu belum makan?"kerutnya kening.


Geleng kepala"Belum, Bu. Dari pagi hanya makan sedikit."senyum terpaksa, takut Bu Ani marah.


Hembus nafas"Laura, Laura. Iya udah kita makan yang banyak."hanya bisa mengikuti kehendak menatunya itu.


Setelah Angga melihat Bu Ani, Amel dan Laura pergi. Panggilnya Bik Siska kepala pelayan dirumah, untuk mengumpulkan semua pelayan dan pengawal di sana.


Barisan yang rapi, Renggra berdiri menatap satu persatu pelayan dan pengawal di sana.


Rasa takut yang membuat bulu kuduk berdiri, dengan tatapan Renggra bak singa yang akan menelan daging mentah di hadapannya.


"Pak aArsyim, Bik Ima, dan Bik Tuti, maju ke depan."suruh Renggra yang merasa geram melihat mereka bertiga, seperti tak mempunyai kesalahan.


Maju mereka secara perlahan, dengan menunduk"I.iya tuan, ada apa?"tanya Bik Ima.


Wajah Renggra begitu datar, mengatur emosi yang meluap"Sadarkah, dengan ke salahan kalian?"menanyakan dengan pelan, Siapa tahu mereka akan mengaku.


Mereka serentak menggelengkan kepala, tak mau mengaku apa yang telah mereka perbuat.


Genggam erat tangan Renggra,"Kalian, tak tau?"geram rasa ingin menampar mereka satu persatu agar mau mengaku"Mengakulah?"pancing Renggra kembali.


Mereka bertiga masih tetap diam,


Toleh ke arah Angga,"Beberkan semua kesalahan mereka."sadarnya kekerasan bukan jalan yang baik, biar pihak berwajib yang mengurus mereka.


Angga membuka Map dan video, yang berisi ke busukan mereka. Mulai memberitahu ke pihak lain, mencuri barang berharga, menerima sodoran dari pihak lain dan masih banyak lagi yang mereka lakukan.


Mereka bertiga langsung terduduk tersipu, meminta ampunan dari Renggra. Bahwa apa yang mereka lakukan atas ancaman dari pihak luar, dana yang mereka terima pun di pergunakan untuk keluarga.


Renggra tak ambil pusing, panggilnya pihak berwajib yang menunggu di luar. Menangkap mereka dengan Pasal 378 KUHP berbunyi :“Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, baik dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu, baik dengan akal atau tipu muslihat, maupun dengan karangan perkataan-perkataan bohong, membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang, membuat utang atau menghapuskan piutang, dihukum karena penipuan, dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun."dan terkena pasal berlapis lainnya. Terancam hukuman seumur hidup di bekam jeruji besi.


Tangis mereka pecah, kembali meminta maaf dan pertimbangan dari Renggra.


Jika dari awal mereka mengaku, mungkin Renggra hanya memecat mereka saja. Namun, kekeh mereka dan setia pada majikannya, jeruji besilah tempat mereka singgahi.


Toleh Renggra ke pelayan dan pengawal lainnya"Ini pelajaran, buat kalian semua yang berada di sini. Jika kalian tak mau seperti mereka, berhentilah bekerja sebelum kalian di antarkan ke pihak berwajib."ancam Renggra.

__ADS_1


Angguk, semua pelayan dan pengawal. Mulai merasa takut dengan acaman Renggra, lebih baik di pecat dari pada seperti mereka yang berambisi besar. Akhirnya bukan bahagia malah menderita.


Selanjutnya~>Chapter 30


__ADS_2