
Pemakaman telah usai di laksanakan, Renggra yang di temani Angga, Nova, dan Merisa. Masih di depan makam melihat barisan makam, Ayah, Ibu dan Laura.
Tak menyangka, ke dua kali kemakam itu bersama Laura, mengantarkannya ke sisi sang Khaliq.
"Kau sudah tenang di sana, Ay."mengalir air mata Renggra yang tak terpungkiri kesedihan masih tersisih di sana"Kau pasti sudah bertemu dengan Ayah dan Ibuku."usap pelan papan nama Laura"Semoga kalian semua berbahagia di surga."sapuhnya air mata.
Angga dan Nova mengusap pelan pundak Renggra.
"Iya, Laura sudah tenang. Sudah bahagia bersama kedua orang tuamu, Mari kita pulang, kasian Yusuf menunggumu."sahut Angga.
Angguk Renggra,
***
Sehari sebelum pernikahan, Angga dan Amel melihat Renggra yang sedang duduk di taman, berpanas pagi dengan Yusuf"Setiap hari, kakak terus saja di sana. Masih memikirkan kakak ipar."menyender di tengah-tengah pintu.
Menghembus napas"Semua butuh waktu Mel, untuk melupakan semuanya."
Sedangkan Renggra kembali mengingat saat terakhir Laura bertanya, melihat dua Angsa yang berenang di kolam buatan.
"Mas, andai sepasang Angsa itu berpisah, apa yang kamu fikirkan?"
"Kenapa, tiba-tiba berbicara seperti itu, Ay?"
"Aku ingin tau aja Mas, apa yang kau fikirkan?"
"Baiklah, menurutku jika Angsa itu berpisah maka Angsa jantan akan sangat sedih dan berusaha mencari Angsa betina sampai dapat. Seperti aku terus mencarimu, sampai sekarang aku mendapatkamu."
Air mata Renggra mengalir, jawabannya saat itu ternyata salah. Saat berpisah Angsa jantan itu hanya bisa sendiri dan tak bisa mencari Angsa betina, karena Angsa betina telah tiada.
Angga dan Amel mendekati Renggra,"Kakak, sampai kapan kamu terus bersedih? Kamu masih punya kami dan Yusuf anakmu. Kak Renggra seharusnya kamu memperhatikanku saat ini,"liriknya ke Angga"karena sebentar lagi adikmu akan di ambil oleh laki-laki lain."
Senyum Angga mendengar perkataan Amel, seakan dirinya di rebut laki-laki lain.
Renggra yang mendengar suara Amel, langsung menyapu air mata yang kembali menetes.
Tolehnya ke arah Amel"Laki-laki itu Angga pilihan mu sendiri, Kenapa harus memperhatikanmu lagi? Tiap hari juga kita bersama."terang Renggra merasa aman adiknya berada pada orang yang tepat.
Amel duduk di samping Renggra"Iya, tapikan besok aku mau menikah, perhatian sedikit napa?"lihat ke Yusuf"Eemmm bobok enak ya di gendong Ayah?"senyum Amel memegang pipi gembul itu.
Renyitnya kening"Terus maumu apa?"toleh ke Yusuf"Baru tidur Mel, malam main terus."melihat wajah yang tenang sedang tertidur pulas.
Senyum Amel,"Nggak kak, aku cuman bercanda."elus pelan kepala Yusuf.
Angga duduk di sebelah Renggra"Lagi fasenya Reng, kalau kau capek suruh baby sister atau pelayan."
__ADS_1
Toleh Renggra ke Angga"Bu Ani ada, yang ngurusin Yusuf. Lelah letihku terbayarkan kalau bersama dia."liriknya ke Amel"Gimana acara kalian sudah beres di siapkan?"
Menganggukkan kepala sekali"Eemmm, sudah kak, pokoknya aman."
Toleh ke Angga"Besok kamu dan adikku akan menikah, tolong kamu jagai dia jangan sampai terjadi apa-apa. Awas jika kamu berani membuatnya menangis akan ku gantung di atap rumah."guraunya nyambil menitipkan Amel pada Angga yang sebentar lagi mereka akan menikah.
Ancungnya jari"Aku janji padamu Reng, akan selalu membuatnya bahagia."mengedipi mata ke Amel.
Lirik Renggra ke Amel dan Angga"Romatisnya jangan di depan saya, boleh?"merasa terbebani,
Menutupi mulut, sebentar"Uupss lupa ada jomblo sejati."guraunya"Menikahlah lagi Reng."sindirnya siapa tahu Renggra ingin membuka lembaran baru.
Menyipitkan mata"Jangan bahas itu, cukup Laura sekarang dan nanti."camnya.
Hembuskan nafas"Nggak enak tidur sendiri."sindir terus.
Renyitnya kening membalas sindiran"Udah mulai bisa berkata begitu ya,"lirik ke Amel"Awas Mel, besok malam."gurau Renggra.
Tepuk pundak Renggra pelan"Apaan sih kak, bahas yang kayak gituan."wajah Amel memerah, akibat malu di kode kakak sendiri. Berdiri meninggalkan Renggra dan Angga ke dalam rumah, malasnya membahas hal-hal mesum yang belum juga terjadi.
Senyum-senyum Renggra dan Angga.
Menyipitkan mata, merasa Renggra terlalu terbuka"Kau membuat permaisuriku takut."
Terkekeh Renggra, ingatannya pertama kali bersama Laura. Kenangan manis tak bisa terlupakan.
Tariknya nafas"Hah kau ini."berdiri masuk ke dalam rumah.
Renggra tersenyum-senyum, menahan air mata yang membentangi kelopak mata itu"Ay, andai kamu di sini. Betapa lucunya bercanda bersama."sapunya air mata yang ingin keluar secara perlahan.
***
Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba, Amel dan Angga telah sah menjadi sepasang suami-istri.
Para undangan yang hadir, mengucapkan selamat pada kedua mempelai yang sedang berbahagia.
Renggra yang sedang menggendong Yusuf, hanya bisa tersenyum-senyum dan menyapa tamu yang hadir.
Nova dan Merisa menghampiri Renggra"Apa kabarmu Reng?"tanya Nova, yang berdiri di belakang Renggra. Sudah dua pekan mereka berdua tak bertemu.
Mereka tahu Renggra masih berduka, belum bisa masuk kerja seperti biasanya.
Renggra mendengar suara Nova, langsung menoleh"Baik Nov, gimana ke adaanmu, dan Merisa yang sedang hamil?"melihat ke dua pasutri yang sedang bahagia.
Bibir yang tersenyum"Kabar kami sangat baik. Gimana denganmu? Masa kamu mau ngurus Yusuf sendirian."pegangnya pipi Yusuf.
__ADS_1
Renggra tersenyum pula"Syukurlah kalau kalian semua baik-baik saja, kamu tak perlu khawatir denganku. Ada Bu Ani yang membantu."
"Kamu yakin akan hidup sendirian sampai tua?"mencoba meyakinkan lagi.
Senyum Renggra"Aku yakin Nov."
Hembus nafas panjang"Baiklah kalau itu sudah kamu fikirkan matang-matang, apa pun yang membuatmu bahagia lakukanlah. Kami akan selalu mendukungmu."tepuk pelan pundak Renggra.
Angguk Renggra,
Merisa mengangkat kedua tangan"Semangat Oppa."serunya agar Renggra kembali semangat menjalani hidup barunya.
Toleh Nova ke Merisa, yang merasa aneh melihat sang istri"Kau masih saja memanggilnya dengan sebutan Oppa?"
Renggra hanya tersenyum-senyum, nyambilnya mengangguk.
Merisa tersenyum melihat wajah Nova yang cemberut"Semua fens setia akan berkata begitu, jangan terlalu cemburu Bi. Hanya kau yang selalu di hati."memegang pipi Nova, agar tak larut dalam kecemburuan.
Senyum Nova"Iya sayang,"mengelus kepala Merisa"Jika itu yang membuatmu senang, tapi ingat jaga pandanganmu mulai sekarang terhadapnya,"lirik ke Renggra"Aku takut kamu menyukainya secara diam-diam. Kamukan tau sekarang dia jomblo sejati."sindir Nova ke Renggra.
Tepuk pelan pundak Nova"Apaan sih, Bi. Kasian tau."
Senyum Renggra,
"Aku hanya bercanda, sayang."senyum Nova.
Wanita cantik membawah minum, matanya milirik sana sini. Berjalan mundur pelan, tak melihat di belakang ada Renggra.
Bruukkk!
Menabrak pelan pundak belakang Renggra, mereka berdua saling bertatapan.
"Maaf, Pak."wajah yang merasa panik dan bersalah menabrak orang lain.
Merisa dan Nova, melihat ke arah mereka berdua.
Senyum Renggra, melihat wanita berhijab, berkulit putih, memakai kebaya berwarna pick, membawah gelas minum, sedang melihat ke arahnya"Nggak papa mbak,"
Wanita itu merasa terpana melihat senyuman Renggra,"Maaf, Pak Renggra sekali lagi. Saya mencari teman, tak melihat bapak di belakang saya."ucap Sella yang tersenyum-senyum, sadar kalau itu direktur utama perusahaan.
Renyit kening Renggra, wanita itu tau namanya. Fikir Renggra mungkin karyawan di perusahaan yang hadir.
Senyum Renggra kembali"Tak apa-apa, lain kali hati-hati."berbalik arah ke Nova dan Merisa, tak menghiraukannya lagi.
Sella hanya tersenyum, kemudian berjalan kembali mencari temannya.
__ADS_1
Selanjutnya~>Chapter 40