
Renggra memang belum mengumumkan, bahwa dirinya telah menikah. Untuk apa di umbar-umbar soal rumah tangga ke media sosial, karena baginya yang menjalin rumah tangga hanyalah dirinya dan istri. Jika gosip itu bermunculan silahkan, memang itu yang terjadi.
Sekarang yang lebih di fikirkan cara meluluhkan hati istrinya, supaya menerima dan bisa menjalin bahtera rumah tangga dengan harmonis.
"Ay. Nih."sesampai di rumah langsung menghampiri Laura, memberikan plastik hitam besar.
Mengambil"Mas, banyak banget. Ini mah buat jualan."
"Nggak papa, Ay. Dari pada nggak tau merek apa yang kamu pakek?"
Tariknya nafas panjang"Mas, merek apa aja aku pakek."ambilnya satu bungkus, sisanya di letakkan di lemari"Lain kali, tanya dulu."perginya ke kamar mandi.
Renggra hanya diam saja, mungkin benar terlalu banyak dalam fikirannya.
Tak lama keluar,"Yuk, Mas. Kita joging."
"Perutmu, nggak papa, Ay?"duduk di ujung tempat tidur menunggu Laura.
Jalannya mendekati Renggra"Hanya mules-mules aja, biasanya nggak pernah ngerasain apa-apa,"sadarnya yang benar-benar telah terbuka dan tak malu lagi dengan suaminya. Liriknya kembali merasa malu.
Renggra hanya tersenyum-senyum, Laura mulai menerimanya"Mungkin, kamu stres, Ay. Apa kamu masih ke fikiran tentang pernikahan kita?"tanyanya yang ingin tahu, apa pernikahan ini termasuk membuatnya ke fikiran.
Menganggukkan kepala, yang berdiri tak jauh dari Renggra,"Eemmm,"Jalannya ingin pergi ke luar ruangan"Yuk, kita lanjut joging."
DEG!
Renggra merasa mengganjal di hatinya, berarti selama pernikahan yang di jalaninya beberapa hari kebelakang, membuat wanita yang di cintainya mengalami depresi berat.
Meraih tangan Laura"Ay..."panggilnya dengan nada lembut.
Dengan pelan Laura melihat Renggra, yang merasa bersalah terlalu jujur padanya.
"Ay! Apa ini semua salahku?"merasa bersalah dan ingin tahu.
Laura hanya diam, bingung ingin berkata apa?
Renggra merasa Laura benar-benar, tak menerimanya inilah sebab dirinya banyak fikiran dan menggangu kesehatan"Eemmm, baiklah Ay. Ku antar kamu pulang ke panti asuhan."melepaskan pegangan tangan, mungkin ini sudah jalannya,
__ADS_1
Laura merasa benar-benar terkejut, mendengar keputusan Renggra"Ma.maksudnya, apa Mas? A.apa kamu juga, merasa terpaksa dengan pernikahan ini?"rasa ingin tahu, apa benar yang di bicarakan Bu Ani.
Renggra memejamkan bola matanya, mungkin dengan mengikhlaskan Laura pergi meninggalkannya. Membuatnya bisa bahagia"Iya, anggap saja begitu. Bersiap-siaplah."pergi meninggalkan ruangan.
Hatinya merasa hancur, telah menerima pernikahan ini. Mungkin benar Laura bukanlah jodohnya. Menahan perihnya luka, trauma kembali menghampiri.
Laura hanya diam berdiri"Bu Ani salah, Mas Renggra sama sepertiku menikah dengan terpaksa."ucap batin yang merasa ini semua memang bukan jalannya.
Sesaknya dada membuat Laura kembali menyadarkan diri"Dia bukan jodohku,"air mata yang seketika mengalir secara tiba-tiba membasahi wajahnya.
Duduk di lantai, memeluk kedua kaki"Kenapa, tuhan memberikan cobaan terberat untukku?"batin kembali berucap.
Renggra yang duduk, di dalam mobil menunggu Laura. Dirinya merasa sakit di hati, Ia kira Laura sudah menerimanya, ternyata hanya paksaan yang di lakukan.
Cobaan bahtera rumah tangga membuat Renggra kembali berfikir, berpisah dengan jalan yang buruk membuat Allah tak menyukainya.
Menunggu lama, Laura yang tak kunjung datang.
Ia pun berjalan kembali ke bilik rumah untuk menghampirinya. Ingin bertanya sekali lagi untuk mengetahui jawaban yang jelas dari mulut istrinya itu.
Melihat Laura meringkuk di ujung tempat tidur dekat kamar mandi, dengan Isak tangis yang tersedu-sedu.
"Ay..."mendekati Laura dan langsung memeluknya.
Tangis Laura semakin pecah, Renggra hanya menahan gejolak hati yang di rasa.
"Ay, menangislah. Mas ada di sini."peluknya erat mencoba menenangkan Laura, usap-usap kepalanya menunggu dirinya selesai menangis.
Setelah setengah jam Laura menangis, Ia melepaskan pelukan Renggra dan melihat pakaiannya basah akibat air mata yang mengalir terlalu deras.
"Mas, pakaianmu."tersedu-sedu masih sempat memikirkan hal lain.
Tatap Renggra"Udah nggak papa, Ay. Gimana udah legah?"usapnya wajah yang basah akibat air mata.
Menganggukkan kepala,
"Ay, Maafkan Mas."meraih tangan Laura, duduk di lantai berhadapan dengannya"Ay, maaf telah membuatmu jadi begini. Sekarang, Mas tanya. Apa kamu masih belum menerima pernikahan ini? Atau kamu mau pisah dari Mas?"tanyanya yang ingin memperjelas hubungan mereka.
__ADS_1
Rengutnya, menahan perasaan yang gunda"Mas, juga terpaksakan."jawab seseguk habis menangis.
Senyum Renggra,"Ay, kalau Mas benar-benar terpaksa, tak mungkin sedekat ini denganmu."tariknya nafas"Mas. Mas benar-benar cinta sama kamu."yakinnya mencoba meluapkan isi hati.
Laura merasa sedih kembali, telah melakukan hal yang bodoh, dan tak berfikir panjang atas apa yang di ucapkan oleh Bu Ani.
Tangisnya pecah kembali, mendengar pernyataan cinta dari Renggra"Mas, bohongkan."memastikannya kembali.
Kembali memeluk"Nggak, Ay. Buat apa coba, Mas bohong? Pernikahan bukan untuk di permainkan, Ay."usap kembali kepala Laura agar berhenti menangis.
Hati Renggra yang tadinya sesak menahan kecurigaan terhadap Laura bukan jodohnya, ternyata itu salah.
Kembali memastikan, dengan melepaskan pelukannya"Ay, coba jawab Mas. Sekali lagi."tariknya nafas panjang"Ay, cinta nggak sama Mas? Ay, mau nggak ngejalani bahtera rumah tangga sama Mas?"menunggu jawaban Laura, pasrah dengan jalan yang sudah di tentukan. Ikhlas menerima sebuah kenyataan.
Menganggukkan kepala, rasa hati yang telah di rebut oleh suaminya itu.
Renggra merasa terkejut"Ay, coba jawab jangan mengangguk."pastikannya kembali.
"Iya, Mas."menahan malu.
"Iya, apa?"sempatnya bergurau.
Usapnya air mata"Laura, malu Mas?"jujurnya.
Renggra terkekeh"Ay, kok malu?"merasa greget"Coba tarik nafas, jawab yang ingin di ungkapkan, Mas ingin kamu berkata jujur jangan ada lagi paksaan, beban, semuanya."seriusnya.
Tarik nafas panjang, kemudian di hembuskan, merasa sedikit tenang"Mas, awal memang ini terasa berat, siapa coba yang nggak ngerasa gitu. Tiba-tiba hidup yang di jalani berubah drastis."tahanya yang ingin menangis lagi"Mas, bikin hati aku meleleh setiap hari."mengusap air mata yang ingin menetes"Mas juga bikin aku dekat dengan tuhan, semuanya bikin aku merasa tertampar, kurang apalagi coba. Saat Mas bilang ingin mengantarku pulang, sakit banget Mas."pejamnya mata dan air mata kembali menetes.
"Jadi kita pacaran, nih."guraunya agar Laura tak merasa larut dalam ke sedihan.
Hapusnya air mata"Mas, kok pacaran, kan udah nikah."
Pegangnya tangan Laura,"Pacaran setelah menikah, Ay."senyum Renggra.
Dirinya merasa senang, ternyata Allah menguji pernikahan di awal untuk memastikan ikatan cinta dalam bahtera rumah tangga.
"Benar Laura jodohku,"ucap batin,nmerasa tenang dan legah semuanya telah terjawab.
__ADS_1
Selanjutnya~>Chapter 16