
Renggra mengambil pakaian dan memasangkan celana pendeknya, dengan wajah yang tersenyum-senyum. Berhasil berbuat alasan agar Laura percaya"Mau mandi bareng, Ay?"setelah usai memakai celana boxer keluar dari dalam kain.
Mata Laura membulat"Enak aja, nggaklah aku duluan."menutupi tubuhnya dengan selimut tebal, inginnya berdiri.
Berheti Laura ingatnya pada artikel yang tertulis, pada saat melakukan hubungan intim pertama kali. Dirinya akan merasakan sakit di bagian area sensitif dan mengeluarkan bercakan darah. Namun, sebagai bercakan darah tak bisa di ungkapkan bahwa setiap wanita akan mengeluarkan hal itu di karenakan selaput dara bisa saja robek akibat jatuh, kecelakaan atau olahraga.
Keperawanan wanita tak bisa di anggap fakta dengan mengeluarkan darah, semua hanyalah mitos belaka bagi setiap pendapat manusia.
Laura mengerutkan kening sedikit menggerakkan pangkal paha, dirinya yang tak merasakan apapun.
Liriknya langsung ke arah seprei tak juga mengeluarkan apa-apa.
Renggra hanya bisa menahan senyuman, dengan memberadukan kedua bibir. Pahamnya dengan tingkah Laura yang melihat ke arah seprei takut keluar darah lagi, hal itu tak akan mungkin terjadi, karena sudah di robek oleh dirinya dulu. Malahan mencuci seprei akibat perlakuannya.
Laura semakin penasaran apa semalam mereka berdua benar-benar melakukan hubungan intim? Cobanya melihat televisi, inginnya melihat secara langsung.
Toleh ke Renggra"Kamu mandi duluan, aku masih mau duduk."alasannya.
Menganggukkan kepala"Eeemmm!"mengikuti ke inginan Laura, tahunya Laura masih bertanya-tanya dan melihat ke arah televisi apa dirinya benar-benar melakukannya.
Berjalan Renggra ke dalam kamar mandi, Laura melihat pintu sudah tertutup rapat. Langsungnya menghampiri lemari dekat Renggra tadi dan menghidupkan televisi.
Melihat semua ke jadian yang terekam, membuat Laura lemas. Semakin memuncak pertanyaan yang ingin Laura tau, apa dirinya dulu pernah berzina dengan laki-laki lain sebelum lupa ingatan? Ingatnya ke Aditya, apa mungkin Aditya dan dirinya pernah melakukan hal itu?
Mematikan televisi, terus mengotak-atik isi kepala yang sedikitpun tak muncul ingatan berbentuk bayangan.
Renggra telah usai mandi menggunakan setengah handuk di pinggang. Lihatnya Laura melamun di atas ranjang.
"Ay, kenapa?"mendekati Laura.
Sadar terdengar suara, melihat penampakan Renggra yang habis mandi membuat jantungnya berdebar, sungguh tampan wajah lelaki itu, tetesan dari rambut yang mengalir, tubuh yang perfect, pandangan pertama membuat dirinya merasa kagum.
Bayangan muncul silih berganti, secara perlahan-lahan, namun tak begitu jelas.
"Ay!"panggil kembali, melihat Laura hanya diam melirik ke arahnya.
"Ay!"melambaikan tangan ke mata Laura.
Sadar Laura, mengedipkan mata"Eeemmm, maaf aku masih bawaan mengantuk."berdiri membawah selimut yang meliliti tubuhnya.
Sedikit sulit, membawah kain yang tebal akibat tubuh yang pendek.
"Mau ku bantu, Ay?"melihat Laura sulit menutupi tubuhnya.
Gelengkan kepala"nggak usah, aku bisa sendiri.
Berjalan sebentar kakinya, tersandung akibat kain yang melilit ke lantai.
__ADS_1
Tangkap tubuh Laura yang ingin terjatuh, peluk Renggra dari belakang.
"Hati-hati, Ay."suara pela di telinga Laura.
Jantung Laura semakin berdegup kencang aliran darahnya berdesir begitu cepat, teguknya Saliva"Terimakasih,"membantu Laura berdiri tegak.
"Sama-sama, Ay."melepaskan pelukan, perginya ke arah kamar mandi"Bentar, aku ambilkan handuk agar lebih luas bergerak."senyumnya.
Mata Laura terbelalak, melihat senyum laki-laki itu pagi-pagi, lesu pipi yang tertera di kedua pipinya membuat sesempurna dirinya.
Renggra keluar dari bilik kamar mandi membawah handuk di tangannya"Pakailah."menyerahkan handuk putih.
Mengedipkan mata"Di depanmu?"
Senyum Renggra"Iya."
Mengerutkan alis"Kamu gila ya?"
Renggra terkekeh"Apa aku salah?"memunggungi Laura"Baik-baiklah, aku tak akan lihat."mengancungkan jari kelingking"Janji."
DEG!
Entah kenapa laki-laki di hadapannya seperti orang yang baik hati, paham dengan perasaan dirinya.
Dengan cepat memasangkan handuk, berlarian ke arah kamar mandi.
Renggra melihat tingkah Laura yang dulu dan sekarang sama saja, bedanya lupa ingatan.
Laura yang berdiri di belakang pintu kamar mandi, masih termenung. Dirinya bak pengantin baru, bersama laki-laki yang tak tahu identitasnya itu.
Tariknya nafas panjang, bayangan apa yang barusan Ia lihat? Kenapa penuh dengan laki-laki yang sekarang bersamanya.
Menggelengkan kepala, itu urasan nanti. Sekarang Ia harus, menyelesaikan hubungan antara laki-laki di kamar itu. Gimana pendapatnya nanti? Jangan sampai dirinya di jebloskan ke penjara atau mengeluarkan berita lain. Takutnya mencoreng nama perusahaan dan Aditya.
Ia harus berdiskusi dengan baik, agar semua berjalan sesuai rencana.
Angguk kepala"Semangat Ey!"menyemangati dirinya"Sekarang, aku harus cepat mandi."melepaskan handuk dan mandi.
Setelah usai melilitkan kembali handuk putih itu, berhenti di depan pintu. Ingatnya pada Renggra, melirik ke arah ruangan tak ada handuk lain, lupanya membawah pakaian.
Bingung keluar ambil pakaian takut laki-laki yang bukan mahram itu melihatnya.
Bertambah dosa lagi yang Ia lakukan.
Cobanya memanggil, meminta bantuan. Namun malu, masa pakai dalam di bawah olehnya juga.
Berhenti sejenak, perasaan Laura begitu aneh. Keadaannya saat ini seperti pernah terjadi, menggigiti kuku jari. Nah tingkah yang ini juga. Gelengkan kepala, tepis Laura. Sudahlah memikirkan hal yang mungkin telah lama, nanti saja.
__ADS_1
Sekarang itu, memikirkan cara keluar kamar mandi mengambil pakaian.
Lampu kuning hidup di atas kepala Laura, Ia menemukan ide.
Membuka pintu," Hey, kamu?"pekiknya dari belakang pintu.
"Eeemmm,"sahutnya mendengar suara Laura.
"Bisa bantu nggak sekali ini aja?"pintanya.
"Eemmm, boleh. Namun harus ada timbal balik."pintanya pula.
Menghebuskan nafas panjang, membulat mata"Masa memintanya sebentar harus ada balasan, laki-laki yang penuh perhitungan. Ihhh, kutarik fikiranku yang menyatakan kau baik."ucap batin yang kesal.
Tarik nafas mengalah saja, mungkin balasannya tak berat di lakukan"Okey,"menyetujui pinta Renggra.
Wajah yang tersenyum-senyum, masuk lagi perangkapnya. Semoga dengan ini Laura dengan cepat pulang ke rumah dan kembali menata rumah tangganya.
"Eeemmm, sekarang kamu mau minta bantu apa?"tanyanya.
"Tolong, kamu kayak tadi, Memunggungiku. Aku mau ambil pakaian."perintahnya.
"Iya!"jawab singkat, mengikuti arahan Laura.
Mengintip pelan ke luar, laki-laki itu ternyata telah memunggunginya.
Suara pintu terdengar"Ay, kamu ambil pakaian baru aja di lemari. Sudah ada kok."
Berhenti melangkahkan, mengerutkan kening. fikirnya kenapa bisa ada pakaian di dalam lemari?
"Kau! Kau! Laki-laki yang sering tidur dengan wanita ya?"tunjuk ke arah Renggra.
Ingin melihat Laura, memberikan alasan.
"Eetttssss! Kau mau ingkar janji melihatku."ancamnya.
Tubuh Renggra tak jadi menoleh ke arah Laura. Hembusnya nafas panjang.
"Ay, jangan basing tuduh. Pakaian itu memang sudah di siapkan di sana."melihat ke arah dinding.
Kerut alis Laura, masa hotel menyiapkan pakaian di lemari. Ingatnya pada pembicaraan Amel.
"Eyrin, Kamu mau menginap di sini, cobalah."menyerahkan kartu kamar VVIP"Gratis, dengan pelayanan yang cukup baik."
Wajah Laura tersenyum-senyum, ini di maksud Amel dengan pelayanan baik.
Lihat ke arah laki-laki itu, merasa bersalah"Maaf, telah menuduhmu."
__ADS_1
Menganggukkan kepala"Eemmm,"dengan tersenyum.
Selanjutnya~>Chapter 52