Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 36


__ADS_3

Pagi dengan sinar mentari yang tak begitu panas, Renggra dan Laura mengajak yusuf duduk di taman belakang nyambilnya berjemur menikmati udara yang segar itu.


"Mas, gimana kamu bisa membuat taman seindah ini?"melihat semua tanaman hias yang bermekaran, air terjun kecil di dekat danau buatan. Dua Angsa yang berenang santai sedang mendinginkan tubuhnya.


Senyum Renggra menoleh ke Laura"Mas membuatnya ketika teringat dengan suasana di panti asuhan dulu, Ay."menunjuk ke arah danau buatan"lihat dua Angsa di sana, itu aku anggap sebagai sepasang kekasih yang sedang berbahagia menikmati hidupnya."


Senyum Laura"Mas, andai sepasang Angsa itu berpisah, apa yang kamu fikirkan?"


Mengernyitkan kening, melihat ke Laura dan mengelus-elus kepala Yusuf"Kenapa, tiba-tiba berbicara seperti itu, Ay?"pirasat Renggra yang tak nyaman mengganggu pikirannya.


Senyum Laura kembali"Aku ingin tau aja Mas, apa yang kau fikirkan?"jelasnya.


Tarik nafas legah"Baiklah, menurutku jika Angsa itu berpisah maka Angsa jantan akan sangat sedih dan berusaha mencari Angsa betina sampai dapat. Seperti aku terus mencarimu, sampai sekarang aku mendapatkamu."gombalnya.


Cubit pipit Renggra,"Iihh gemesin."geramnya.


"Duh, sakit Ay."rasa sedikit nyeri, Renggra membalas langsung dengan mencium kepala Laura yang tertutup hijab itu"Mas, telen nih."guraunya.


Toleh ke Renggra"Kan udah tadi, Mas."bisik Laura agar tak di dengar tukang pembersih taman.


Mendekati telinga Laura"Kurang, Ay."menjahilinya.


"Kamu tuh, nggak pernah nggak kurang, Mas."sipit mata Laura.


Senyum Renggra yang merasa benar apa yang di katakan istrinya itu.


Hembusnya nafas panjang, mengalihkan pembicaraan takut yang lain dengar"Ay, malam nanti, ikut Mas ke pesta undangan mau?"


"Eemmm siapa yang nikah, Mas?"melihat ke arah Renggra.


Senyum Renggra"Bukan nikah, Ay. Tapi acara ulang tahun. Itu paman tiriku."


Renyitnya kening"Paman tiri yang pernah kamu ceritain dulu, yang sering ngajak berantem itu."


Angguk Renggra.


"Kamu masih mau datang, Mas?"mengedipkan mata, ingin tau penjelasan Renggra.


"Eemmm, Iya Ay. Itu sebenarnya acara kumpul-kumpul orang-orang sosialita aja. Dengan alasan acara ulang tahun."jelas Renggra dengan sabar.


Angguk Laura,"Eeemmm gitu ya, Mas. Yusuf di ajak juga?"


Geleng kepala"Enggak, Ay. Titip sama Bu Ani, kita cuman sebentar. Kasian yusuf masih kecil di ajak pergi malam-malam. Mas, udah ngomong sama Bu Ani boleh katanya."


Angguk Laura"Iya udah, aku nurut aja, Mas."dengan tersenyum.


***


Selepas mereka bersiap-siap, Laura tampak cantik menggunakan pakaian dres dan hijab panjang menutupi tubuhnya berwarna moccha.


Renggra pun memakai warna yang sama dengan Laura, berpakaian baju kemeja coklat tua di lapisi jas berwarna moccha, sepan dasar yang press di tubuhnya.


Menyerahkan Yusuf ke Bu Ani,"Titip Yusuf ya Bu,"


Angguk Bu Ani"Iya Ra, kalian hati-hati ya."


Senyum Laura"Iya Bu,"mencium pipi Yusuf"Anak Ibu jangan nakal, baik-baik ya sayang."tak tega Laura berpisah dengan Yusuf, ciumannya sekali lagi"Dada Yusuf."

__ADS_1


"Dada Ibu,"sahut Bu Ani dengan tersenyum.


Renggra mendekati Bu Ani dan menyalaminya"Kami berangkat dulu, Bu assalamualaikum."


Senyum Bu Ani"Waalaikumussalam."


Tiba di depan rumah yang mewah, Renggra, Angga, Nova, Merisa dan Laura. Turun dari mobilnya masing-masing. Wartawan yang melihat, langsung berbaris mengambil foto serta video mereka.


Suasana di rumah itu sangatlah ramai, banyak toko-toko yang terkenal menghadiri pesta yang di selenggarakan Pak Septo.


Laura memegang tangan Renggra"Mas banyak sekali kalangan yang datang, biasanya aku melihat mereka dari TV aja."lihatnya pabrik figur yang berdiri memegang gelas berisi Wine merah sedang bercakap-cakap"Mas di sana ada artis juga, ternyata mereka di lihat dari aslinya memang tampan-tampan ya."liriknya sana-sini, merasa senang bisa melihat pabrik figur itu secara langsung.


Tutup mata Laura dengan telapak tangan"Ay, apa yang kau lihat? Jangan coba-coba melirik yang lain, Ay."cemburunya.


Laura tersenyum menepihkan tangan Renggra, dan melihat ke arahnya dengan wajah yang cemberut.


Klien dari perusahaan lain menghampiri Renggra dan Laura, berbincang nyambilnya memperkenalkan Laura pada mereka membuat Laura hanya bisa tersenyum-senyum.


Liriknya ke arah Merisa yang sedang berbicara padanya.


"Ra kita makan di sana yuk banyak sekali kue?"bisiknya dari ke jauhan dengan memberi isyarat menggunakan tangan.


Angguk Laura,


Sentuh tangan Renggra"Mas, aku sama Merisa ke meja makan sebelah sana,"tunjuknya ke arah sudut ruangan yang sepih dari keramaian"Biasa ibu hamil mau makan kue."bisik di telinga Renggra.


Senyum Renggra"Iya Ay, hati-hati."


Angguk Laura,


Senyum Laura"Iya Mer sama aku juga, rasanya masih tak percaya."melihat semua ruangan.


Selang beberapa waktu Aditya datang membawah tiga gelas cangkir kopi menggunakan nampan.


"Hay Ra, kamu datang ke sini juga ya?"mendekati Laura.


Laura mendengar sapaan Aditiya langsung menoleh ke arahnya"Eh Adit, kamu juga di sini?"


Senyum manis Aditya"Semua kopiku di sajikan Ra di acara ini, lumayan nambahi pemasukkan."


Aditya demi mendekati Laura, dengan cara apapun ia rela melakukan apa saja. Terutama menjadi pegawai satu restoran dengan Laura. Serta beralasan menjadi barista kopi, di tempat lain.


Senyum Laura"Alhamdulillah, rezeki nggak kemana-mana."


"Iya Ra,"lirik ke arah Merisa"Oh ya, siapa di sampingmu?"


Laura memegang pundak Merisa"Ini Merisa Dit, yang sering menjemputku saat pulang kerja kalau sip malam. Masa kamu lupa Dit?"


Senyum Aditya"Eemmm, maaf ya Mer, sudah lama kita nggak ketemu."


Senyum Merisa"Iya Dit,"


Aditya melirik ke arah bawaannya"Oh ya, aku bawah kopi, pas buat kita bertiga. Mari kita minum, mumpung lagi nggak ada yang pesen."memberi kopi ke arah Laura dan Merisa.


Renyit kening Merisa, melambaikan tangan"Aku tak minum kopi Dit, karena lagi hamil."tolaknya.


Aditia tersenyum-senyum"Jangan takut Mer, kopi ini nggak akan mempengaruhi kandunganmu. Bisa di bilang aman."bujuknya.

__ADS_1


Senyum Laura menoleh ke arah Merisa"Aditya berpengalaman Mer dalam masalah kopi, kamu tenang aja aman."meyakini Merisa.


Berfikir sebentar, mungkin benar apa yang di kata Laura sedikit tak akan masalah"Eemmm, aku satu kalau gitu."mengambil kopi di Aditya langsung meminumnya.


Laura dan Aditya pun sama meminum kopi.


"Wah enak banget Dit, kopi buatanmu?"ucap Merisa yang merasa kopi itu enak di lidahnya.


Senyum Laura"Kopi buatan Aditya memang enak Mer, dia sering buati aku kopi berbagai macam rasa yang unik, sampai yang meminumnya tak sadar kalau kopi itu habis."


Angguk Merisa"Iya Ra, ini aja udah mau habis."seruput kopi yang di pegang, ingin meminum sedikit, malah tak terasa habis karena ketagihan.


Nyambil duduk di kursi sofa ujung koridor, mereka bertiga berbicara dengan serunya. Tak lama Merisa merasa mengantuk"Ra, aku ngantuk nih."menyender di sofa.


Senyum Laura"Tidur aja dulu, nggak papa."fikir Laura, Merisa yang sedang hamil memang bawaan mudah lelah itu membuatnya mengantuk.


"Nggak papa, Mer tidur aja. Lagian di sini aman."sahut Aditya.


Angguk Merisa, yang tak tahan menahan kantuk yang begitu berat. Bersender sebentar dirinya telah kehilangan kesadaran.


Hari yang semakin malam Renggra, Angga, dan Nova mencari Laura dan Merisa untuk mengajaknya pulang.


Mereka bertiga hanya menemukan Merisa, yang setengah sadar sedang duduk di kursi sofa memegangi kepala.


Nova yang melihat langsung duduk di samping Merisa, memegangi pundaknya"Sayang, kenapa wajahmu pucat kayak gini?"


Mata yang masih terpejam"Kepalaku, pusing, Bi."memijati kepalanya.


Renyitnya alis Nova merasa khawatir dengan keadaan Merisa yang tengah hamil.


Renggra melirik sana sini, mencari keberadaan Laura"Mer, di mana Laura?"


Membuka mata yang sayup, melihat di sampingnya tak ada siapa-siapa kecuali sang suami, Renggra dan Angga"A.aku tak tau kak, tadi aku tidur ngantuk sekali. Laura masih berbicara pada temannya."


Mata Renggra membulat"Siapa, Mer? Bukanya kalian tak kenal siapa-siapa di sini?"merasa khawatir.


Pejamnya mata mengingat kembali"Eemmm, itu namanya dit, dit. Gitu."lupa dengan nama laki-laki yang bertemu dengannya.


"Aditya,"memastikan nama seseorang yang pernah mengancamnya di club malam, dan membuat Renggra harus di rawat inap selama beberapa hari.


Ingat kembali Merisa, kemudian mengangguk"Eeemmm, bener kak."


Renyit kening Angga dan Nova,


"Siapa Reng?"tanya Angga.


Hembusnya nafas panjang"Lelaki itu yang kutemui di club malam, dan membuatku harus menjalani perawatan di rumah sakit, Ga."liriknya ke semua ruangan"Aku harus mencari Laura,"inginnya pergi.


Angga meraih tangan Renggra"Reng, jangan tergesa-gesa. Kita cari sama-sama."


Hembusnya kembali nafas panjang, angguk Renggra"Eemmm,"menoleh ke arah Nova yang membantu Merisa berdiri"Nov kau bawah Merisa segerah kerumah sakit, takut terjadi apa-apa. Urusan Laura biar aku dan Angga yang mencarinya."


Angguk Nova"Eemmm, Baik Reng."


Angga segera menelepon pengawal, membantu mencari Laura tanpa menggangu acara yang sedang berjalan begitu ramai.


Selanjutnya~>Chapter 37

__ADS_1


__ADS_2