Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 5


__ADS_3

"Kak Renggra ngapain di sana? Ayo pulang. Kenapa tak mandi juga?"pekik Laura yang berjalan mendekati Renggra dan Angga.


Renggra dan Angga sontak menoleh bersama, mendengar suara pekikan anak perempuan yang menghapiri mereka.


"Kak Renggra, kenal dengan kak Angga?"tanyanya lagi.


"Aku mandi di rumah aja, setelah di jemput oleh keluargaku. Mungkin tak lama lagi mereka akan datang."jawabnya.


Renggra tahu, pasti orang rumah sedang mencarinya saat ini"Aku barusan berkenalan dengannya, dan sekarang kami akan menjadi teman."tolehnya ke Angga"Dia tadi, yang menemukanku di hutan."


Menganggukkan kepala"Eemmm, terimakasihlah pada Laura, syukur kau baik-baik saja."


"Sudah tadi."jawab lantang.


"Ayo kak pulang, bentar lagi malam."ajaknya kembali.


Toleh ke Angga"Ga, kamu ikutkan?"


Senyumnya"Iya... Tuan Renggra. Aku cuci tangan dulu, sekalian letak ikan di rumah."mengambil ember dan pancing pulang ke rumah.


Melihat Renggra"Kak, kalau pulang, mainlah ke panti. Kita bisa main bersama."


"Insyaallah."jawabnya dengan wajah datar tanpa menoleh ke Laura.


Laura merasa Renggra masih marah padanya, tapi tak tahu apa yang membuatnya marah.


***


Ibu Ani datang membawah pelayan dan pengawal untuk membantunya menurunkan pokok makanan ke rumah panti asuhan.


Anak panti yang duduk di depan rumah langsung menemui Bu Aminah"Bu ada yang datang."pekiknya.


Bu Aminah yang sedang membereskan makan malam mereka, langsung keluar. Semua anak-anak di panti asuhan pun ikut berkumpul termasuk Renggra."Pasti Bu Ani dan lainnya menjeputku."ucap batin.


Melihat siapa yang datang, benar adanya Ibu dan lainnya.


"Assalamualaikum."sapa Bu Ani.


Semuanya menjawab"Waalaikumusalam,"

__ADS_1


Senyumnya saat datang, dan langsung menghampiri Renggra,"Kamu tak apa-apakan, Nak?"memeluk erat dengan air mata yang membasahi pipinya.


Tangan Renggra menghapus Air mata Ibu asuhnya itu"Aku tak papa Bu, sudahlah jangan menangis lagi, dan maafkanlah aku yang main pergi saja."perasaan bersalah telah membuat orang lain kesusahan akibat prilaku buruknya.


Sayup mata melihat Renggra merasa bersalah"Iya Ibu maafin, lain kali jangan seperti ini lagi. Janji ya?"mengancungkan jari kelingking.


Mengaitnya"Eemmm, janji."


"Ayo, sekarang kita pulang kerumah."ajaknya.


Menganggukkan kepala"Eemmm. Tapi, aku mengajak satu teman laki-laki bersamaku, bolehkan Bu?"kedipan mata yang ingin sekali mengajaknya.


"Siapa?"ingin tahu.


Rangkul ke pundak Angga"Nih orangnya,"


Bu Ani tersenyum beliau paham sekali, jika tak di turuti kehendak putra kesayangannya. Bisa-bisa tak mau pulang. Lagian melihat kondisi Angga, Bu Ani mengerti, Ia tak mempunyai kedua orang tua lagi.


Mungkin Renggra ingin, mempunyai teman laki-laki sebaya di rumah, yang bisa menghibur dirinya. Apalagi saat ini adalah masa sulit bagi dirinya lepas kedua orang tua telah meninggal.


Angguk Bu Ani yang menyatakan beliau setuju.


Melihat Angga dengan tersenyum"Salam kenal ya, Nak?"


Angga melihat persetujuan Bu Ani, dirinya merasa senang"I.iya Bu, salam kenal."rasa gugup yang membuatnya bingung, apa Ibu Ani akan benar-benar menerimanya dengan baik atau sebaliknya. Terpenting Ia mempunyai teman dekat dan bisa saling menghibur satu sama lain.


Menoleh ke Bu Aminah"Terimaksih ya Bu, telah menjaga Renggra, serta memberikannya tempat tinggal."


Senyum Bu Aminah"Iya Bu, sama-sama."


Ibu Ani mengeluarkan selembar uang cek di simpan di dalam amplop berwarna coklat"Ini ada sedikit uang untuk Ibu dan anak-anak panti,"memberikannya.


Bu Aminah tersenyum manis"Bukan kami mau menolak rezeki, tapi kami semua ikhlas menolong Renggra."


"Nggak apa-apa, agap saja ini tanda berterima kasih kami pada Ibu dan anak-anak semua yang telah menolong Renggra."paksa Bu Ani.


"Nggak Bu, saya tak bisa menerimanya,"tolaknya, karena beliau merasa benar-benar ikhlas menolong sesama manusia.


Rasa sedih yang menggangu fikiran Bu Ani, tapi juga merasa legah mereka semua orang yang baik, menolong tanpa imbalan.

__ADS_1


"Jika Ibu tak mau menerimanya, saya membawahkan sedikit pokok makanan. Tolong kali ini bisa di terima."tolehnya sebentar ke arah bawaan yang sudah di turunkan keluar oleh pelayan.


Ibu Aminah terdiam sebentar, melihat bawaanya begitu banyak dan tak mungkin pemberian orang yang ingin sekali memberi tak di terima, Ia pun mengangguk"Iya Bu, terimakasih banyak."


Menganggukkan kepala dengan tersenyum manis di bibirnya, merasa legah Bu Aminah akhirnya mau menerima pemberiannya.


Toleh Renggra ke Laura dengan perasaan campur aduk, ingin mengucapkan terimakasih lagi, tapi sudah di lakukan. Ingin berkata pamit, rasa malu muncul. Ragu mengatakan sesuatu, akhirnya diam.


Setelah usai bercengkrama dengan menunggu Angga berpamitan dengan penduduk di sana, mereka berpamitan pula dengan orang-orang yang berada di panti asuhan. Tak lama pergi meninggalkan tempat itu.


Waktu demi waktu berjalan Bu Ani sering mendatangi panti asuhan dengan memberikan donasi pada panti asuhan untuk memperbaiki suasana di sana agar layak huni.


Sedangkan Angga dan Renggra menyelesaikan studinya di sekolah sampai kuliah.


Sampai detik, di mana mereka lulus dengan prestasi cumlaude di universitas ternama di Indonesia.


Hari-hari berlanjut dengan meneruskan posisi CEO di perusahaan ayahnya, selama ini posisi itu di urus oleh Bu Ani.


Bu Ani adalah adik kandung ayahnya yang menjanda dan tak punya anak saat suami meninggal akibat penyakit bawaan.


Mungkin depresi sementara atas meninggalnya sang suami, tak tahu harus berbuat apa? Ayah Renggra memberikan pekerjaan untuk mengasuh putra dan putri kandungnya itu.


"Reng, mau kemana?"tanya Bu Ani melihat Renggra memakai pakaian biasa-biasa saja saat hendak keluar rumah, dengan duduk di kursi sofa ruang tengah.


Angga yang duduk dekat Bu Ani mendengar pertanyaan ke arah Renggra langsung tersenyum"Biasalah Bu, mencoba mendekati anak gadis. Tapi malu."ucapnya dengan melihat ke selembaran koran di tangannya.


Renggra berhenti sejenak, memejamkan mata dan menarik nafas. Tak bisa membantah.


Saat meninggalkan panti asuhan dirinya masih bersalah dan berhutang budi pada Laura, setiap ada luang waktu Ia mampir untuk melihat Laura dari jarak jauh.


Ingin sekali hatinya berkata sesuatu, tapi malunya kuat sekali untuk menyampaikannya.


Mungkin dengan menjaganya dari kejauhan, dapat membalas budi dahulu yang telah membantunya.


Terkadang menyuruh orang lain untuk melihat, terkadang dirinya menyamar jadi orang biasa-biasa saja untuk memperhatikannya.


Namun lambat laun ada rasa yang aneh di miliki hatinya, mencoba cari apa itu? Tapi setiap ingin tahu selalu di tepis dengan fikiran mungkin rasa balas budi padanya.


Selanjutnya~>Chapter 6

__ADS_1


__ADS_2