
Setelah tubuhnya dingin, Renggra langsung mandi.
Tak lamanya, keluar langsung ke ruang pakaian, melihat Laura bingung memperhatikan pakain mana yang harus di bawah"Ay, belum selesai?"jalan mendekat.
Memilih-milih"Belum, Mas! Oh ya, berapa lama kita pergi?"tolehnya ke Renggra.
"Insyaallah, satu minggu, Ay."netesnya air dari rambut Renggra mengalir ke tubuhnya.
Laura melihat, seperti pajangan yang luar biasa menarik"Mas, keringin dulu rambutnya. Terus pakai bajumu."rasa malu menyuruh suami memakain pakaian di hadapannya, namun Laura harus berusaha terbiasa.
"Kamu, nggak marah, Ay?"terkejutnya.
"Eemmm, asal jangan semuanya di buka."fokus melipat pakaian ke dalam koper.
Senyum Renggra, benar es itu telah cair.
Renggra tak malu memakainya di depan Laura, karena semua telah menjadi hak istrinya juga.
Perut Laura merasa mules, mempercepat lepitannya. Setelah selesai, meninggalkan Renggra yang masih menggunakan pakaian.
Renggra merasa Laura segerah mandi dan bersiap-siap, Ia pun langsung membawah koper dan tinggal menunggu sang istri.
Setelah semuanya selesai, Renggra dan Laura langsung turun membawah koper.
Mereka berdua pamit bersalaman.
"Semoga berhasil."bisik Bu Ani"Paksa kalau nggak mau, Reng?"nyidir Laura.
Laura pura-pura tak mendengar.
Senyum Renggra"Iya udah, kami pergi dulu Bu, assalamualaikum."
Mereka semua menjawab"Waalaikumussalam."
Koper di letakkan supir di bagasi.
Laura dan Renggra pergi meninggalkan rumah.
Renggra meraih tangan Laura, dan memegang dengan lembut"Nggak papa, kan Ay?"
Pak supir pura-pura tak tahu.
Lihat ke supir,"Malu, Mas!"memberi kode dengan mata ke arah Renggra kemudian ke supir.
"Pak, kami nggak ganggukan, pegangan tangan?"pekiknya.
Angguk pak tono"Iya tuan,"
Laura langsung mencubit, pinggang Renggra"Awww, sakit Ay."padahal tak kuat Renggra pura-pura merasa sakit.
Pak tono menahan tawa.
Tangan Laura tak di lepas Renggra, malah Laura merasa senang, seperti merasa jatuh cinta pada laki-laki di sampingnya.
__ADS_1
Renggra semakin yakin, tuhan telah mendengar doanya.
Sesampai di depan makam Renggra turun, bersama Laura"Mau kemana, Mas?"
Dengan bergandengan tangan, mengajaknya masuk menemui tempat kedua orang tua yang di kebumikan di makam tersebut"Memperkenalkan kamu, pada orang tuaku, Ay."rasa sedih terlihat di wajah Renggra saat masuk ke dalam makam.
Laura hanya diam dan merasa ikut sedih, hanya bisa menurut dengan tarikan Renggra.
Duduk di depan makam membaca doa, dengan sangat menyentuh. Membuat hatinya semakin sakit, tak mampu melihat Renggra bersedih.
"Ay..."panggilnya selepas baca doa.
Toleh Laura melihat Renggra.
"Inilah kedua orang tuaku, Ay."menahan air mata.
Menganggukkan kepala"Eemmm, iya Mas."
Memegang tangan Laura kembali"Yuk, Ay. Kita lanjut ke panti."ajaknya.
Laura hanya diam, dengan tersenyum.
Sesampai di panti asuhan Laura langsung turun dari mobil, bersama Renggra masuk ke panti asuhan.
"Kakak, Laura datang."pekik anak-anak disana. Semuanya langsung berkumpul dan bersalaman.
"Assalamualaikum, Ra."suara Bu Aminah yang menghampiri.
"Waalaikumussalam, Bu."langsung memeluk Bu Aminah.
Senyum Laura"Jangan merasa bersalah, Bu. Malah Laura berterimakasih telah menikahkan ku dengan Mas Renggra."tolehnya ke arah Renggra, yang tersenyum padanya.
Bu Aminah, merasa legah mendengar ucapan Laura.
Renggra langsung menyalami Bu Aminah"Apa kabar, Bu?"senangnya melihat Bu Aminah.
"Alhamdulillah, baik Reng! Kalau kalian bagaimana?"tanyanya.
Laura tersenyum, Renggra yang menjawab"Alhamdulillah, kami berdua baik juga, Bu."
Seharian penuh mereka berdua berada di sana. Renggra ingin, Laura menumpahkan kerinduannya di panti asuhan. Melihat Laura tampak riang dan gembira saat berkumpul dengan anak panti asuhan.
Melihat hari sudah sore, Laura langsung menghampiri Renggra di ruang tamu"Mas..."lihat Renggra sedang asyik mengobrol dengan penanggung jawab di sana, selain Bu Aminah melainkan Pak Salim.
Toleh Renggra"Ada apa, Ay?"
Duduk dekat Renggra"Hari udah sore, kita mau nginap atau pulang?"
Melihat jam tangan telah menunjukkan pukul lima sore"Eemmm, kitakan tidur di villa, Ay."pegangnya kepala Laura"Emang, kamu mau nginap di sini?"
Menggelengkan kepala"Enggak, Mas. Aku ikut kamu aja."
"Iya udah kita berangkat."tolehnya ke Pak Salim"Kami pamit dulu Pak, kalau ada waktu nanti saya ke sini. Insyaallah sama Laura."
__ADS_1
Senyum Pak Salim"Iya Pak Renggra."salaman mereka berdua.
Lanjut mereka pamit dengan anak panti dan Bu Aminah"Ra, ingat! Kewajiban istri."nasehat Bu Aminah.
Renggra tersenyum-senyum, setelah pamit dengan Bu Aminah. Banyak yang menegur Laura.
Laura hanya bisa menganggukkan kepala.
"Dada semua, Assalamu'alaikum."ucap Laura
"Dada kakak, waalaikumussalam."jawab anak panti asuhan.
Masuknya Renggra dan Laura ke dalam mobil. Pegangannya kembali tangan Laura, perjalanan memakan waktu 15 menit, mereka pun sampai di depan villa.
Rumah yang sederhana, dan sangat nyaman berisi dua kamar, ruang tengah, dan dapur menjadi satu tanpa sekat.
Renggra membawah koper"Mas, Pak Tono tidur dimana?"lihatnya Pak Tono ke arah belakang.
"Pak Tono, nginepnya di rumah belakang, Ay. Dengan pengurus di villa ini. Masuk yuk, Ay bentar lagi mau magrib."bukanya pintu villa.
Laura mengikuti Renggra, masuk ke bilik kamar. Mereka berdua tercengang, melihat kamar pengantin yang di hiasi lilin berjejer di atas lemari pinggir dinding, tempat tidur yang di taburi bunga mawar, serta kain tipis menjutai dari langit-langit rumah ke lantai di atas tempat tidur. Harum kamar yang membuat fikiran rilex.
"Ay, bukan Mas yang melakukannya."takut Laura merasa kurang nyaman.
Laura hanya memegangi, kening. Merasa bingung, ini ulah siapa?
"Mas, jangan di fikirin, sekarang kamu mandi dulu gih, aku mau masuki baju ke lemari."bukanya koper.
Angguk Renggra yang ingin berjalan ke kamar mandi.
Laura membuka lemari langsung terkejut"Astaghfirullah hal azim."tutupnya kembali.
Renggra merasa panik, langsung mendekati Laura kembali"Kenapa, Ay?"
Laura langsung meneguk Saliva, memunggungi lemari takut Renggra melihatnya"Nggak papa, Mas."mata yang menunjukkan kegelisahan.
Renggra semakin penasaran"Ada apa, Ay. Di dalam lemari?"ingin membuka, namun Laura tak menjauh dari depan lemari"Ay, kalau kamu nggak izinin, lama-lama aku nggak mandi loh,"melihat dengan wajah datar.
Meneguk Saliva kembali, mendengar ucapan Renggra. Akhirnya pasrah dengan keadaan.
Renggra segerah membuka lemari, melihat pakaian dinas istri di depan suami saat tidur.
Mata Renggra terpejam, menarik nafas. Rasa ubun-ubun di kepalanya merasa panas"Ini pasti ulah Bu Ani,"ucap batin.
Ambilnya pakaian itu"Ay, ini kita buang aja."meletakkannya di kotak sampah yang masih kosong"Kamu jangan takut. Mas, mau mandi dulu, Ay. Bentar lagi azan."
Wajah Laura yang tadinya merona merasa malu, berubah seketika"Respon Mas Renggra kenapa, biasa-biasa aja? Apa jangan-jangan?"ucap batin.
Laura berfikir Renggra tak lagi mempunyai hasrat untuknya, mungkin sering di tolak. Hati Laura merasa mulai was-was, jangan-jangan suaminya ingin mencari wanita lain.
Renggra mengguyur kepalanya dengar air shower, agar ubun-ubunnya dingin. Ia tak mau kedekatannya yang mulai erat, rusak dengan hawa nafsu.
Renggra ingin Laura benar-benar menerima dulu, pacaran sesudah menikah itulah hal yang harus di nikmati.
__ADS_1
Selanjutnya~>Chapter 14