
"Mau makam, denganku?"ajak Laura merasa laki-laki itu orang yang baik, lagian berkatnya rumah baru telah usai di bereskan dengan cepat"Tapi, masak dulu. Mau?"
Renggra tersenyum dengan menganggukkan kepala, tuhan memberikan jalan yang terbaik untuknya.
Langkah kaki Laura berjalan pelan ke arah supermarket, Renggra mengikuti"Terimakasih, Ay. Kamu mau memaafkanku."senyumnya"Sebagai terimakasih, aku aja yang memasak."mendekati Laura secara perlahan.
Melihat Renggra"Eemmm, ya. Maaf juga tadi aku main marah, harap maklum ke bawah suasana. Memang, aku tak tau kamu laki-laki seperti apa? Melihat gambar tadi membuatku emosi, segitunya kamu merekayasa demi mendapatkanku."cobanya jujur, melihat apa lagi yang akan di respon laki-laki itu."Kalau kamu bisa memasak, silahkan."ingin tau, kelebihan apa saja yang bisa di lakukan laki-laki itu?
Menghebuskan nafas legah,"Eemmm, akan ku masak dengan enak untukmu."melangkahkan kaki pelan"Ay!"melirik sesekali ke arah Laura"Jika foto itu menurutmu hanyalah rekayasa, silahkan. Tapi, Ay. Kamulah istriku satu-satunya."mengungkapkan sekali lagi, terserah istrinya akan berfikir seperti apa? Tapi yang jelas, itu nyata adanya.
DEG!
Mengedipkan mata, senyumnya tipis. Entah kenapa hati itu merasa senang, mendengar kata-kata kamulah istriku satu-satunya?
"Jujur! Aku tak bisa main percaya pada seseorang."mengungkapkan isi hati"Sulit bagiku, mempercayaimu."melirik Renggra.
Senyumnya, melihat depan"Nggak papa, Ay. Aku yakin suatu saat kamu akan mengingatku lagi dan semuanya."sabar mendekati Laura demi keluarga kecil yang bahagia.
Laura hanya diam, rasa bingung. Apa yang maksud lelaki di sampingnya? Melihat supermarket alihnya pembicaraan"Mari kita belanja, perutku sudah berbunyi."
Menganggukkan kepala, berjalan masuk ke dalam supermarket mengambil troli, memilih bahan makanan yang di butuhkan.
"Eemmm! Masak daging sapi atau ayam?"melihat daging yang beku di dalam mesin pendingin.
Mengambil daging sapi yang teriris melebar"Ini aja, Ay. Aku ingin memasak sesuatu untukmu."senyumnya.
Menganggukkan kepala, terserah lelaki itu yang penting enak, jangan aja gosong.
Merapatkan bibir, menahan senyumnya. Bahagia sekali diri ini bisa bersama sang istri berbelanja kembali. Rasanya seperti pengantin baru lagi.
Berjalan ke arah bumbu dapur, Laura bingung dengan banyak sekali bumbu yang terpajang. Mengeryitkan kening melihat Renggra dengan senyuman"Aku nggak tau kamu mau masak apa? Pilih aja, nanti aku yang bayar."merasa malu, dirinya yang tak bisa memasak berbagai macam makanan. Semenjak lupa ingatan, dirinya melupakan segalanya.
Mulai menjalani hidup dari Nol, mencoba belajar memasak dari pelayan rumah, itu pun ala kadarnya saja. Jangan dirinya buta akan bumbu-bumbu dan alat dapur.
Renggra hanya tersenyum-senyum, melihat Laura mulai lebih rileks ke arahnya.
Mengambil beberapa bumbu dan memilih buah meletakkan di keranjang.
Laura hanya bisa diam, sungguh luar biasa laki-laki ini memilih bahan-bahan yang di butuhkan secara teliti dengan raut wajah yang santai dan fokus. Membuat Laura hanya bisa tercengang, dirinya itu benar Tuan besar atau hanya koki rumahan saja.
__ADS_1
Apa yang di website benar-benar fotonya, atau dirinya mempunyai kembaran?
Menggelengkan kepala, terasa pusing. Benar-benar laki-laki penuh dengan tanda tanya. Nantilah cari lagi informasi yang lebih akurat, agar rasa penasaran yang terus berdatangan itu hilang.
"Udah, Ay. Mari kita ke kasir."berjalan pelan melihat kasir yang sedikit mengantri.
"Tunggu bentar."mengambil beberapa Snack dan minuman Jus meletakkan di troli"Buatku nyemil,"cengirnya merasa malu.
Menggelengkan kepala, ternyata istrinya sekarang suka makan-makan yang tak sehat.
Melanjutkan langkah kaki, mendorong troli. Tibanya mereka membayar.
"Ada diskon untuk kakak dan ayuk baju piayama wanita, alat kontrasepsi, dan perlengkapan suami istri lainnya."ucap wanita cantik yang memegang kasir, melihat Renggra dan Laura bagaikan pengantin baru.
Renyit kening Laura,"Maksud mbak?"
Renggra tersenyum-senyum"Kami belum membutuhkan, yang ini saja dulu."sahutnya langsung agar Laura tak mengeluarkan aura gelapnya.
"Iya kak."menghitung belanjaan.
Menghembuskan nafas, Laura merasa tak nyaman di kira suami istri. Melihat nominalnya langsung mengeluarkan dompet kecil dalam saku celana.
"Biar aku, aja."menyenggol lengan.
Memegang dompet"Udah nanti di rumah aja, Ay."menyerahkan uang.
"Eemmm,"memasukan kembali dompetnya.
Mengambil kembalian, meletakkan di saku celana. Renggra membawah belanja.
Berjalan keluar, para wanita melirik-lirik ke arah Renggra. Mengeluarkan suara tapi kurang terdengar.
Laura yang melihat mereka seperti mengeluarkan rasa kagum dan terpesona dengan penampilan serta gaya Renggra. Membuat rasa yang aneh di dalam batin, kenapa keluar rasa cemburu dalam benaknya? Menggelengkan kepala, mungkin dirinya hanya sedang letih kurang berkonsentrasi.
"Kamu lumayan, terkenal sampai di lirik para wanita."melihat Renggra.
"Kamu cemburu, Ay?"senyumnya.
Menggelengkan kepala"Nggaklah, mana ada."wajah yang memerah, ketahuan.
__ADS_1
"Jujur, aja, Ay?"menyuduti.
Jalannya cepat"Udah ah, aku lapar. Cepat sedikit langkah kakimu."
Senyum Renggra, melihat Laura mulai salah tingkah.
Menekan tombol, membuka pintu rumah"Alhamdulillah sampai."melepaskan sendal.
Renggra masuk, melepaskan sepatu.
Jalannya ke arah dapur, melepaskan dasi"Dimana clemek, kamu letakkan, Ay?"mencari-cari.
"Eemmm, aku lupa membelinya."cengirnya mendekati Renggra"Eetttssss! Kamu jangan membelinya, besok aku mau membeli sendiri dengan seleraku."memegang meja keramik.
Senyumnya"Baiklah,"mengeluarkan bahan makanan. Lihatnya lampu yang di pesan telah di panjang"Kapan datangnya, Ay. Lampu itu?"tunjuknya.
Melihat lampu, kemudian kembali melihat Renggra"Nggak lama kamu keluar tadi. Berapa semuanya, aku kembalikan uangmu?"
Menyiapkan berbagai alat masak"Bayar saja dengan cara ubah panggilanku dengan sebutan Mas dan mulai sekarang kita berpacaran jangan di ganggu gugat lagi."
Laura melihat Renggra dari tadi sibuk dengan urusan dapur, seperti rumah ini miliknya saja"Enggak mau?"
Menghebuskan nafas, cobanya berjalan ke arah pintu"Ya sudah, aku pulang, Ay. Besok berhadapanlah dengan pengacaraku serta urus sendiri berbagai masalah di media sosial yang bermunculan."
Mata Laura membulat, meraih tangan Renggra"Iya! Iya! Aku mau, jangan gitulah."takut mencoreng nama baik semuanya.
Renggra tersenyum masuk perangkap, akhirnya. Kembali berwajah datar"Yakin, Ay?"melihat Laura.
Menganggukkan kepala, sadar memegang tangan Renggra"Astaghfirullah."melepaskan"Maaf,"
Menganggukkan kepala"Eemmm, nggak papa, Ay. Makharam juga. Kamu mau melakukan apa pun padaku halal."Jelasnya.
Meneguk Saliva, bingung harus berkata apa lagi? Lelaki ini terus saja berkata bahwa semua yang di ucapkan selalu benar.
"Aku mau pacaran dan memanggilmu, Mas. Tapi, ingat pacaran yang sehat. Jangan sampai siapa pun tau dulu hubungan kita."mengalihkan pandangan"Aku masih mau tau dulu siapa kamu? Dan semuanya."
Senyum Renggra, akhirnya ada kesempatan"Aku nggak janji."berjalan kembali ke ruang dapur.
Selanjutnya~>Chapter 50
__ADS_1