
Datanglah Bu Aminah menghampiri Renggra dan Laura"Ternyata sudah sadar, siapa namamu Nak?"tanyanya ramah sembari duduk berdekatan dengan Laura.
Terdiam melihat, ada yang datang menemuinya"Apa Ibunya anak ini?"ucap batin,"Sa.saya Renggra."geroginya saat di tanya.
Bibir wanita itu memberikan senyuman manis, melihat Renggra yang berbicara dengan nada gugup dan merasa takut melihatnya.
"Nak, kamu tak perlu takut tinggal di sini, ini adalah panti asuhan. Banyak anak-anak seusiamu di sini, mereka keluar mandi di tepi danau makanya sepi. Kamu, di temukan Laura."tangan wanita itu memegang pundak anak gadis di sampingnya.
"Dialah yang menolongmu, yang tergeletak di hutan saat kami mencari tanaman."senyuman dan kata yang lembut membuat hati Renggra merasa aman"Oh ya, kamu kenapa bisa disana? Apa kamu di kejar atau di culik oleh orang jahat?"tanyanya kembali.
Rasa sungkan dan malu ingin cerita terpaksa dirinya berbohong, agar mereka tak perlu tahu apa yang di alaminya.
"Saya tadi habis main, ternyata, salah jalan. Tak tau harus pergi kemana? Saya berhenti di pohon untuk tidur karena capek."tolehnya ke arah Laura"Terimakasih telah menolongku. Aku, berhutang budi padamu."wajah yang merasa bersalah, telah memperlakukan orang yang telah menolongnya.
Menganggukkan kepala"Eemmm!"senyuman manis yang di lontarkan.
Lirik kembali ke Bu Aminah"Nama Ibu siapa?"lirik ke Laura sebentar"Apa anak ini, anakmu?"tanya dengan perasaan ke ingintahuan, apa Laura salah satu dari anak kandungnya?
"Laura anak asuhku. Tapi, semua anak di sini, sudah ku anggap anakku sendiri, termasuk dirimu."yakinnya ucapan itu terlihat jelas di wajah sang Ibu.
Perasaan sedih menghampiri. Kenapa orang lain sebaik ini pada dirinya? Sedangkan orang tua yang meninggal tak memberikan pesan terakhir. Malah pergi untuk selama-lamanya.
"Nak Renggra, jangan lagi main di hutan, berbahaya jika tak bersama orang dewasa. Banyak binatang buas di sana."nasehatnya.
Menganggukkan kepala"Eemmm! Iya Bu. Renggra tak akan lagi."senyumnya.
"Ayo, sekarang kita mandi. Urusan keluargamu pasti mencari ke sini, untuk sementara Nak Renggra, boleh tinggal di sini. Sampai mereka menjemputmu."ajaknya sembari memberi ketenangan pada Renggra, agar tak perlu memikirkan keluarganya.
Kembali menjawab dengan mengangggukkan kepala.
***
Hari mulai malam, Bu Ani merasa sangat khawatir dan kegelisah. Kadang duduk kadang berdiri memegang kedua tangan melihat ke arah pintu dan ruangan lainnya, menunggu kabar sang buah hati yang di cari oleh pengawal yang tak kunjung ada kabar.
__ADS_1
"Dimana kamu Nak, belum juga ada kabar tentangmu? Pergi kemana kamu?"kepalanya terasa pusing memikirkan keberadaan sang buah hati, entah apa yang terjadi padanya saat ini?
Selang beberapa waktu pengawal pribadi datang menghampiri Bu Ani dan berdiri di hadapannya,"Lapor Nyonya, kami sudah menemukan tuan kecil Renggra. Dia berada di rumah panti asuhan. Kami menemukannya lewat sinyal yang terpasang di sepatu tuan kecil Renggra."
Senang mendengar sang buah hati di temukan, Bu Ani mengucap syukur atas di temukannnya Renggra"Alhamdulillah ya Allah."wajah yang tersenyum-senyum, tarikkan nafas panjang menunjukkan kelengahan hati seseorang Ibu, yang mengasuh dari kecil.
Pengawal tak langsung menjemput Renggra atau langsung membawanya pulang, karena posisi Renggra berada di rumah panti asuhan, alangkah baik mereka menghubungi Bu Ani terlebih dahulu dan menjemput bersama-sama.
Bu Ani menyiapkan berbagai pokok makanan dan sejumlah uang untuk di berikan ke panti asuhan, atas rasa terima kasih pada mereka yang telah menjaga Renggra. Tak butuh lama bersiap-siap, Bu Ani pergi meninggalkan rumah.
***
Renggra ikut pergi ke danau yang tak jauh dari panti asuhan. Namun, hanya melihat danau saja. Rasa tak nyaman mandi di alam terbuka tanpa sekat dan penutup.
Hatinya merasa malu saat tubuh terlihat terbuka, di pertontonkan oleh banyak orang. Seperti anak laki-laki yang sedang mandi di tepi danau.
Sekeliling melihat, ada anak laki-laki yang sedang memancing ikan di tepi danau yang tak jauh darinya, anak laki-laki itu mendapatkan ikan besar.
Tolehnya anak laki-laki itu ke arah Renggra saat mendengar suara pekikan orang yang pertama kali melihatnya memancing, kecuali anak panti asuhan sudah biasa baginya. Namun dari kelagatnya sedikit berbeda"Iyalah ini sudah menjadi pekerjaan kami, selama hidup di alam bebas. Oh iya, kamu orang baru dari panti asuhan?"kembali fokus mengeluarkan mata pancing di dalam mulut ikan.
Terdiam bingung harus berkata apa? Jujur atau kebohongan kali ini yang harus di ucapkan.
Fikirannya terlihat tak mungkin mengatakan yang sebenarnya tantang kejadian yang menyedihkan baru saja di alaminya"Namaku Renggra! Aku main dan lupa jalan, makanya tersesat. Bingung dengan jalan pulang, jadi tertidur di bawah pohon, tiba-tiba bangun sudah berada di panti asuhan. Kamu sendiri siapa namamu? Di mana tinggal?"
"Oh begitu ceritanya. Gunawan namaku."tunjuknya rumah kayu yang tak jauh dari danau"Tuh, rumahku."
Melihat sebuah bangunan pondok yang terbuat dari kayu bersusun rapi di dekat danau, kemudian melihat ke Angga kembali"Oh, di situ semua keluargamu?"
Mata pancing telah lepas, ikan pun di masukkan ke dalam wadah yang berisi air.
Meletakkan pancing di sampingnya dengan duduk berasal sandal plastik"Iya mereka keluargaku sekarang."wajah sedih campur senang terlukis di sana.
Merasa ada yang salah"Kok, sekarang sih?"tanyanya dengan penasaran, duduk di sebelah Angga.
__ADS_1
Memperlihatkan senyuman tipis"Kedua orang tuaku sudah meninggal, akibat longsor di bawah bukit ini. Selamat hanya aku. Keluargaku yang lain tak mau mengajakku dengan alasan, mereka masih banyak yang di urus. Mungkin mereka takut aku menyusahkan mereka. Sehingga, aku di titipkan sama orang di sini, membantu dan bekerja dengan mereka."tekuknya lutut memeluk kedua kaki.
Mendengar cerita kehidupan Angga, membuatnya merasa sedih. Apa yang sudah di perbuat? Kesalahan apa yang membuatnya tak berfikir panjang sebelum kabur? Seharusnya bisa sabar, seperti anak di sampingnya. Anak seusianya memang tak bisa memilih atau di pilih jalan yang sesuai dengan kehidupanya, karena semua sudah tertulis jelas takdir hidup manusia oleh sang pencipta alam semesta"Kamu mau ikut ke rumahku?"ajaknya ingin sekali mengubah hidup yang baru, bersama orang-orang yang senasip.
Terkekeh mendengar ajakkan Renggra"Nggak ah, aku tak mau merepotkanmu dan keluargamu, Reng."
Mengeruti alis"Aku sama sepertimu tak mempunyai kedua orang tua. Keluarga besarku saja hanya Ibu asuh dan adik perempuanku, sisanya aku tak tau yang mana keluargaku? Malam tadi kedua orang tuaku meninggal, lalu tadi pagi baru saja di makamkan. Sehingga aku tak mau pulang dan berlari sejauh mungkin. Tapi, aku tersesat di hutan. Tolong rahasiakan sama Ibu panti asuhan dan anak-anak lainnya."terbongkar sudah rahasia yang di pendam dalam lubuk hati.
Renggra memiliki satu adik perempuan, yang saat ini tinggal di pesantren. Berhubung sedang libur di hari minggu, sabtu pulang kerumah untuk melepas rindu pada ayah dan bundanya.
Ternyata tuhan berkehendak lain, memberikan cobaan begitu berat baginya.
Mati dan hidup manusia sudah di tentukan oleh Allah SWT. Mati itu pasti, jangan lupa atas hal ini. Semuanya telah di takdirkan masing-masing, dunia hanya sementara dan akhiratlah selama-lamanya.
Terdiam merasa kasihan terhadap Renggra, mungkin saat ini Ia sedang terpukul atas meninggal kedua orangtuanya. Tak mau, apa yang di rasakan olehnya, terjadi pada Renggra. Sulit untuk menerima kenyataan, butuh waktu untuk menghilangkan rasa pedih itu. Namun, terlupakan begitu cepat saat ada orang lain yang mampu membuatnya tenang.
"Eemmm, baiklah aku ikut. Tapi, aku nggak mau ikut kalau nggak kerja atau membantumu dan, Kamukan kabur, gimana mau pulang?"
Mendengar persetujuan Angga, hatinya merasa senang"Baiklah, kamu mulai sekarang aku jadikan sekretarisku, serta sahabat baikku. Nih ku aktifkan sinyal di sepatuku."menekan tobol di sepatu, agar para pengawal dapat menemukannya.
Saat Renggra hendak kabur, Ia sengaja mematikan sinyal tersebut. Alat itu sengaja di pasang agar bisa di temukan saat menghilang, karena banyak di luar sana orang yang berniat jahat dengan alih menculik menjadikannya tawanan dan meminta uang tebusan sebagai penawaran"Kita tunggu saja mereka menjemput. Setelah mereka menemukanku dan mengajakku pulang, kamu ikut bersamaku."
Kembali terkekeh, mendengar sesuatu yang tak masuk di akal baginya"Apa kamu anak orang kaya atau kamu sedang mempermainkanku? Wihh, canggihnya sapatumu, aku baru lihat ada alat seperti itu."
Mengeruti alis"Aku tak berbohong padamu."meyakinkan bahwa dirinya tak berbohong kali ini.
Melihat wajah Renggra tak begitu senang dan mencoba meyakinkan, dirinya menganggukkan pelan kepala"Iya. Iya, aku percaya saja padamu. Tapi, gimana dengan keluargamu yang di ceritakan tadi? Apa mereka menerimaku? Jika tak, biarlah aku tinggal di sini."tanyanya sebelum semua terjadi. Dirinya tak mau menambah sulit anak laki-laki di sampingnya.
Dengan tegas"Aku yakin mereka akan setuju. Jika tak, biarlah aku di sini bersamamu."memaksakan hati yang ingin sekali Angga ikut dengannya.
"Haahhh, kamu ini."merasa paksaan dari Renggra.
selanjutnya~>Chapter 5
__ADS_1