Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 32


__ADS_3

Bu Ani, Amel, dan Bu Aminah datang berkunjung ke rumah sakit saat tahu kondisi Laura telah membaik.


Masuk ke dalam ruangan membawah buah-buahan.


"Assalamualaikum."serentak di ucapkan.


"Waalaikumussalam."jawab Renggra dan Laura yang menunggu ke datangan mereka.


Bu Aminah mendekati Laura,"Gimana, kondisimu, Nak?"hati dan pikirannya merasa resah mendengar kabar tentang Laura dari Bu Ani.


Senyum Laura,"Baik Bu."memeluk Bu Aminah.


Melepaskan pelukan"Tengah hamil, banyak-banyak istirahat, ya Nak. Apalagi kondisinya lagi hamil muda."jelas Bu Aminah yang merasa khawatir melihat Laura masih berwajah pucat.


Angguk Laura yang menahan mual. Kondisinya memang sudah membaik, namun bawaan hamil mudah Laura masih merasakan mual dan muntah.


Kupas buah apel, dan memberikan pada Laura"Makan nih dulu, biar mualnya teralihkan."suruh Bu Ani.


Laura menjilati bibir, melihat buah apel yang rasa manis-manis asam itu. Ambil buah di tangan Bu Ani dan langsung melahapnya, rasa segar di mulut membuat mual itu memang teralihkan.


Senyum mereka melihat reaksi Laura yang sedang hamil, bak anak kecil yang ingin di beri perhatian penuh.


***


Lima bulan berjalan, usia kandungan Laura sudah semakin besar.


Perut yang mulai menojol itu, membuat tubuh Laura makin membuntal. Belum sembilan bulan nanti, tambah bulat.


Lihatnya ke arah kaca, wajah yang kusam tak di rawat, pipi yang gembul, badan yang seperti gajah berjalan, membuatnya kefikiran. Apa mungkin, suaminya itu akan melirik wanita lain? Melihat kondisi yang di pandang kurang menarik.


Renggra yang lepas mandi, sehabis pulang kerja. Akhir-akhir ini terlihat lebih cuek di mata Laura, entah banyaknya pekerjaan atau ada wanita lain yang sedang di incarnya tuduhan itu terus melayang-layang di benak Laura.


Curiga yang muncul, membuat perasaan Laura kembali galau. Duduk di tempat tidur memegangi handphone.


Renggra yang usai memakai pakaian langsung menghapiri Laura, mencium dan mengelus-elus perut seperti biasa.


Melihat perut yang sudah bergoyang, akibat gerakan si untun. Membuat lelahnya hilang seketika"Mana anak ayah?"panggilan kecil di atas perut Laura.


Tendangan pelan, menandakan untun menyahut.


Senyum-senyum Renggra, anaknya sudah mulai bisa di ajak berinteraksi"Pinter anak, Ayah."cium kembali dan mengelus perut.


Melihat wajah Laura yang cemberut ke arah handphone, membuat Renggra bertanya-tanya, ada apa di hendpone itu? Liriknya sebentar, melihat akun online belanjaan pakaian bayi.


"Ay, mau baju itu?"lirik ke arah handphone yang di pegang Laura.


Toleh dengan wajah yang cemberut,"Nggak."balik lagi ke arah layar handphone.

__ADS_1


Mencium kening, agar tersenyum"Kenapa, Ay?"menarik kepala Laura agar menyender di bahunya.


Hembus nafas"Mas, tuh makin hari makin cuek. Ada yang di lirik ya sekarang?"tuduh langsung.


Mengerutkan alis, merasa ada yang mengganggu fikiran Laura"Eemmm, ada Ay."ajaknya bergurau.


Tolehnya kembali"Kan bener, apa aku sekarang kurang enak di pandang ya Mas?"tambah cemberut.


Mengelus perut "Nih, lirikan Mas sekarang?"senyumnya paham maksud dari Laura"Ay, kayaknya si untun, pengen di lihat ayahnya deh."mengedipkan mata memberi kode. Mengalihkan pembicaraan agar tak mudah stres memikirkan hal lain.


Wajah Laura makin cemberut"Mas, jangan alihkan pembicaraan, ya?"sensitifnya.


Memegangi tangan,"Ay, maafin, Mas. Bikin kamu nggak nyaman. Tapi, Ay. Kamu harus ingat, hanya kamu dan anak kita di fikiran, Mas. Kalian harta yang paling berharga. Apa pun kondisi kamu sekarang bagi, Mas. Kamulah wanita yang paling cantik sedunia."sadarnya memberikan penjelasan pada Laura"Mungkin, Mas. Terlihat cuek, lagi bawaan capek kerja. Kamu, kan tau. Numpuknya pekerjaan, Mas. Kalau nggak selesai."


Laura terdiam mendengar perkataan Renggra, rasa ego yang tinggi mementingkan diri sendiri. Membuatnya tak sadar, pada tanggung jawab sebagai kepala keluarga.


"Maaf, ya Mas."menahan air mata, rasa bersalah telah berfikir yang tidak-tidak.


Menganggukkan kepala"Eeemmm, iya Ay. Jangan di fikirin, kamu nggak boleh stress. Mending lihat untun sebelum tidur."ajaknya lagi.


Mengeruti alis,"Udah lama ya, Mas. Di tahan?"


Kembali menganggukkan kepala"Eemmmm, udah empat bulan, Ay. Lama, kan?"demi menjaga kandungan Laura yang awalnya lemah membuat Renggra takut menyetuh istrinya itu, secara usia kandungan Laura semakin besar semakin kuat. Dokter tak melarang kapan mereka akan melakukan penyatuan.


Apalagi usia kandungan semakin besar, malah di anjurkan bagi mereka sering-sering melihat si untun, agar mudah melahirkan secara normal. Jika tak ada indikasi yang berbahaya bagi si Ibu dan janin.


Mencium kening,"Ay, ayo shalat dulu."manjanya.


Angguk Laura,


Setelah lama mereka berpisah ranjang, dan mengetahui Laura hamil. Renggra merasa bersalah melakukan tindakan berbahaya dalam kehidupan bahtera rumah tangganya. Hampir kehilangan barang yang berharga yang di miliki satu kali dalam seumur hidup.


Mengikuti kehendak orang lain yang hanya merusak, membuat Renggra tersadar hal itu tak seharusnya di ikuti.


Jika suatu hari nanti ada hal yang sama terjadi, Renggra tak mau ambil resiko keromantisan dalam rumah tangga harus tetap di jalankan. Urusan cobaan semua ada jalan, selagi sabar menjalani.


"Ay, nyaman nggak?"bisik di telinga Laura.


"Mas, sedikit nyeri."menahan perih di area sensitif.


"Mungkin udah lama, nggak main. Jadi ngerapet lagi, Ay."usahanya pelan"Mas, aja ngerasain gitu."


"Mas, yang salah bukan aku."


"Namanya juga musibah, Ay."perut Laura bergerak"Lucu, ya Ay. Untun ikut main bola."celotehnya agar Laura lebih rileks.


"Eeemmm, iya. Mas."merasa kurang nyaman.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama Renggra menghembuskan nafas,"Capek, nggak Ay?"berguling di samping Laura.


Angguk Laura, yang berasa cepat lelah bawaan dalam perut ada debay. Rasanya sedikit berbeda, begitulah seorang istri melayani suami dengan segala kondisi apapun, kecuali sedang haid atau nifas haram bagi suami mendatangi istrinya.


Tak terasa hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan. Perut yang makin membesar membuatnya susah berjalan.


Menunggu datangnya gelombang cinta, Laura setiap hari jalan pagi dengan Renggra.


Bu Ani dan Amel yang duduk di taman, melihat Laura susanya berjalan merasa kasian. Tiba Angga datang menyapa, duduk dengan mereka.


Senyumnya melihat kedua pasutri itu bergandengan tangan, berjalan di terik mentari pagi"Bu kalau aku, juga kayak gitu lucu kali ya?"pancing Angga yang telah menetapkan hati.


Curiga Bu Ani melirik ke Amel"Ekhem, emang kamu udah punya calon?"toleh lagi ke Angga.


Senyumnya kembali masih melihat ke arah Renggra dan Laura,"Eemmm. Udah Bu."jawabnya lantang.


Amel hanya diam, entah kenapa hatinya merasa sakit mendengar Angga sudah mempunyai calon istri.


Terkejut Bu Ani, memegang lengan Angga,"Siapa, Ga?"melirik ke Amel yang berwajah datar, merasa kurang nyaman berbicara di depannya.


Amel tak menghiraukan pembicaraan Bu Ani dan Angga, alihnya fokus ke arah Renggra yang menggandeng tangan Laura"Semoga kelak, aku seperti mereka."ucap batin.


Ragu-ragu dan malu ingin mengatakannya,"Tuh di sebelah Ibu."melihat ke arah lain tak sanggup melihat reaksi Amel.


Mata Bu Ani membulat, menoleh ke Amel yang biasa-biasa saja fokus ke arah lain.


Renyitnya kening, menyenggol bahu Amel"Mel!"panggilnya pelan.


Segerahnya menoleh,"Eeemmm. Apa Bu?"tersadar.


Angga langsung melihat ke arah Amel dan Bu Ani, melihat reaksi Amel yang biasa-biasa saja.


"Kamu nggak denger, Angga bilang apa?"sedikit marah.


Kedip mata Amel, menggelengkan kepala"Enggak, emang kakak ngomongi apa?"toleh ke arah Angga.


Angga menepuk jidad, jantung rasanya ingin copot ternyata tak di dengar. Hembusnya nafas panjang.


Menaikkan alis, melihat Angga hanya diam saja"Iya maaf, aku nggak denger. Habisnya pokus ama kakakku."sahut kembali.


Bu Ani yang menyipitkan mata melirik kedua sejoli itu merasa geram"Angga mau ngelamar kamu, Mel?"sekaknya langsung.


Amel mengedipkan mata, mendengar perkataan Bu Ani. Merasa seperti mimpi, berdiri dengan tergesa-gesa"Bu, Kak. Aku masuk dulu, lupa ada kerjaan."cengirnya berlarian kecil masuk ke dalam rumah.


Toleh Bu Ani ke arah Angga, mereka berdua terkekeh bersama. Melihat reaksi Amel yang salah tingkah.


Selanjutnya~>Chapter 33

__ADS_1


__ADS_2