Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 55


__ADS_3

Berjalan usai perut merasa nyaman untuk di gerakkan"Bang!"lirik ke arah Aditya.


"Eemmm, napa, Ey?"senyumnya melirik ke arah Laura.


Melangkahkan kaki secara perlahan, melihat kembali ke arah depan"Setelah ku fikir-fikir, boleh nggak aku pisah rumah sama kamu?"melirik sesekali ke Aditya.


DEG!


Menghentikan langkah kaki, mengerutkan alis"Kenapa, Ey. Kamu mau pisah rumah denganku? Cerita, Ey. Jika ada masalah?"


Menghentikan langkah kaki menunduk sejenak, menarik nafas panjang, menoleh ke arah Aditya dengan senyuman"Nggak ada masalah apa-apa Bang. Aku hanya berfikir, serumah denganmu bukanlah pilihan yang tepat."mengancungkan jari yang di lingkari cincin permata"Tak layak bagi kita yang bukan mahram serumah Bang. Walaupun status kita sudah bertunangan."senyumnya mencari cara agar terlepas dari Aditya.


Memejamkan mata sebentar, selama ini mereka berdua serumah tak ada masalah. Kenapa baru sekarang Laura membahas?"Kamu benar, Ey."menyikapi dengan positif"Apa, sekarang kamu mau jika kita menikah?"pancingnya.


DEG!


Mengedipkan mata rasa yang senang akhirnya Aditya mengajaknya menikah, namun semua itu sudah terlambat"Maaf Bang! Bukan aku tak mau. Tapi, aku masih belum siap."tolaknya.


Senyum Aditya paham maksud Laura"Nggak papa, Ey. Aku akan menunggumu."tersenyum"Tapi, Ey. Beri aku alasan yang lebih, kenapa baru sekarang kamu ingin pisah rumah denganku?"tanyanya yang ingin tahu, kenapa Laura bersikap tak seperti biasanya?


Menghembuskan nafas"Terimakasih kamu sudah mengertiku, Bang. Aku tak ada alasan lain Bang, hanya itu yang ku fikirkan selama ini. Tapi baru sekarang, aku baru bisa berbicara denganmu. Karena, dengan keadaanku yang insyaallah sudah bisa mandiri."


Melangkahkan kaki kembali upayanya tersenyum"Iya, Ey sama-sama."Laura mengikuti jalan Aditya"Eemmmm, jika itu sudah lama kamu inginkan. Aku tak masalah."mungkin Laura benar tak baik mereka berdua serumah. Apalagi status mereka berbeda, jika media tau dan menebarkan gosip murahan. Renggra pasti tak akan tinggal diam begitu saja.


Tambah rumit jika semua itu terjadi, fikirnya.


Senyum Laura"Terimakasih kamu sudah mengerti aku, Bang. Entah apa yang harus ku balas untukmu, kecuali pernikahan."


DEG! hati yang tak mampu berkutik lagi, saat Laura telah menyatakan bahwa dirinya tak memberi ruang untuk mereka berdua.


Tariknya nafas panjang, menahan hati yang terkikis oleh waktu"Iya Ey, Sama-sama. Jangan berfikir kamu, banyak hutang budi padaku. Melihat kamu sukses saja aku sudah terbalaskan."meletakkan tangan kedalam saku jaket, karena udara yang semakin dingin"Oh ya."melihat ke Laura"Kapan rencanamu, mau pindah, Ey?"


Bernafas lega, Aditya yang selalu mengerti dengan keputusannya"Untuk saat ini, aku masih mencari, Bang."


"Mau ku bantu, Ey? Kemarin banyak klien yang menawarkan rumah, saat kita pindah ke tempat sekarang."usulnya agar Aditya bisa selalu memantau Laura dari ke jauhan.


Sesekali menganggukkan kepala"Eemmm, boleh Bang! Sekali lagi terimakasih kamu sudah membantuku."

__ADS_1


Senyumnya melihat Laura"Sama-sama, Ey."


Rasa hati yang terpikat, harus segera di lepaskan Aditya. Sudah waktu dirinya melepaskan Laura secara perlahan. Mencoba mengulur ke adaan agar semua berjalan dengan baik.


***


Satu Minggu telah berlalu, setiap hari Renggra selalu melihat ke arah handphone yang ingin sekali Laura memberi kabar. Namun sampai sekarang dirinya tak memberikan berita apapun, takut Renggra semakin menjadi. Apa Aditya sudah tau dengan kejadian waktu itu, dan melakukan sesuatu pada Laura?


Menompang dagu dengan kepalan dua tangan, duduk di ruang kerja menatap sesuatu yang tak fokus ke arahnya.


Angga mengerutkan alis, Ada apa dengan Renggra, akhir-akhir ini? Dirinya suka sekali melamun.


"Reng!"pekik Angga.


Renggra masih saja tak menyahut.


Melambaikan tangan"Hello Renggra?"cobanya memanggil lagi.


Masih saja melamun, berdiri Angga penuh gelisah dan tanda tanya menghampiri Renggra.


"Reng!"usai berdiri di hadapannya.


Sedikit membungkuk, memegang kaca meja"Ada apa Reng? Tiga kali aku memanggilmu. Masih saja kamu melamun." rasa penasaran meningkat.


"Ekhem,"melepaskan tompangan dagu, bersikap santai"Aku, sedikit ke fikiran Laura yang tak memberi kabar."merenyitkan alis.


Terkekeh"Renggra! Renggra! Di mana-mana yang menghubungi duluan laki-laki Reng. Mungkin dirinya malu atau sibuk."berdiri tegak dan duduk di hadapan Renggra.


"Tapi waktu itu, dia sendiri Ga yang bilang."mengingat ke jadian seminggu yang lalu.


Menyungakkan kepala"Terus kamu diam saja? Reng, kondisinya sekarang bukan sedang sendirian. Siapa tau Aditya telah mencuci otaknya kembali. Melupakan ke jadian waktu itu."membagikan pendapat siapa tahu yang di fikirkannya benar.


Memainkan jari-jari tangan, memberadukan kedua rahang"Kamu benar, aku harus ke sana menemui Laura atau Aditya."bergerak duluan itu hal yang baik, demi mendapatkan sang istri.


Tunjuk Angga"Nah itu baru benar. Aku siapkan mobilmu dulu. Berangkatlah sekarang."berdiri menelepon supir.


Senyum Renggra"Terimakasih Ga."

__ADS_1


"Sama-sama"menjawab usai memegang handphone.


Renggra pergi keluar ruangan, turun ke bawah menaiki mobil yang telah menunggunya di depan perusahaan.


Deringan telepon memanggil Aditya, Ia pun segera mengangkatnya.


"Permisi Pak! Tuang Renggra dari perusahaan Root ingin bertemu dengan bapak. Bapak ada waktu sekarang?"tanya sekretaris wanita cantik di luar ruangan.


Akhirnya Renggra bergerak juga fikirnya"Silahkan dia masuk."menutup telepon.


Pintu ruangan terbuka, dengan gagahnya Renggra masuk menggunakan pakaian kantor. Wajah yang datar, melihat Aditya.


"Duduklah, tuan Renggra."berdiri dengan santai mendekati kursi sofa di tengah ruangan.


Renggra duduk di kursi sofa, berhadapan dengan Aditya.


Rasa marah yang meluap di atas ubun-ubun ternyata Aditya masih hidup. Namun dengan penampilan yang sedikit berbeda jauh dengannya dulu pertama kali bertemu, membuat Renggra penasaran apa yang telah terjadi?


"Mana Laura?"tanyanya.


Mengerutkan alis"Tak masuk kerja hari ini."menjawab dengan santai"Kesini hanya itu saja, tuan Renggra?"menyikapi dengan ramah.


Menelan Saliva, namun rasa ingin menelan orang yang duduk santai di hadapannya"Permainmu telah usai, mana Laura?"usahanya sabar agar tak menimbulkan keributan.


Senyumnya"Tak ada permainan di sini tuan Renggra. Sudah ku katakan Laura tak masuk hari ini."menyikapi dengan positif.


Hembusnya nafas panjang"Sudah cukup, kamu menjauhiku dengannya. Beri tahuku di mana dia sekarang? Atau kamu ku jebloskan ke jeruji besi"Ancamnya.


Terkekeh"Begitulah rasanya aku dulu menjauh darinya."menyender di kursi"Silahkan kamu mau menjebloskanku ke penjara, tapi ingat Laura tak akan tinggal diam."menguji sampai mana Renggra mencintai Laura dan mendapatkannya lagi.


Melihat dengan wajah sinis"Kamu, berani, melawanku?"tantangnya merasa kesal. Dirinya tak akan tinggal diam lagi, saat perlakuan Aditya selama ini.


Senyum Aditya"Tuan Renggra!"menghembuskan nafas"Kamu dulu menikahi Laura secara paksa bukan, lalu aku mengambil Laura dirimu juga secara paksa. Kita imbas sekarang."duduk tegak, merapatkan dua tangan"Mari kita bersaing mendapatkan Laura, biarkan dirinya memilih sendiri antau Kamu atau Aku."menantang kembali.


Berdiri"Baiklah, ku terima tantanganmu. Sekarang mana dia?"


Mengikuti berdiri, mengambil kartu alamat di dalam saku celananya"Di sini rumah barunya, dia baru saja pindah."menyerahkan kartu"Ku harap kita bersaing kali ini, jangan ada kata paksaan. Maka semua akan berbeda hasilnya nanti."camnya.

__ADS_1


Mengikuti arahan"Eemmm, baiklah. Aku permisi."mengambil kartu alamat dan pergi meninggalkan Aditya. Tak ingin berlama-lama dengan orang yang licik, takutnya masuk dalam jabakannya lagi.


Selanjutnya~>Chapter 56


__ADS_2