Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 56


__ADS_3

Membereskan berbagai peralatan di dalam kamar dan menyusun berbagai macam fasilitas di ruang tengah, membuat ruangan itu sedikit tak berantakan.


Laura mendapatkan tempat di sebuah apartemen tak jauh dari rumah Aditya. Senangnya mempunyai fasilitas sendiri, bebas dari rasa bersalah. Mengambil cuti dua hari, untuk belanja keperluan di rumah dan sekaligus merapikannya.


Deringan suara pintu, menandakan ada orang yang datang. Wajah Laura yang penuh dengan keringat, mendengus-dengus tubuh yang sedikit bau asam. Segera mengambil hijab langsungan dan menyemprotkan sedikit parfum. Mungkin itu Aditya yang datang ingin membantu.


Senyumnya membuka pintu, mata Laura membulat melihat Renggra datang di waktu yang kurang tepat. Tutupnya kembali pintu itu.


Tangan Renggra langsung menahan,"Kenapa di tutup lagi, Ay? Kamu ingin melarikan diri sampai mana?"sabar menghadapi Laura yang berwajah ketakutan.


Meneguk Saliva, dengan detakan jantung yang memompa begitu cepat menahan pintu masuk.


Renggra mendorong pintu, Laura tak bisa menahan begitu kuat tenaga Renggra. Akhirnya Laura mengalah"Kamu tahu dari mana rumahku?"berdiri di belakang pintu.


"Boleh, aku masuk dulu?"melihat ruangan yang masih berantakan. Menandakan Ia baru saja pindah. Mengerutkan alis, ada apa dengan Laura dan Aditya yang sudah pisah rumah itu?


Renggra tahu Laura selama ini serumah dengan Aditya, karena Ia menyuruh Angga menyelidiki tentang keadaan Laura selama ini. Angga pun menyuruh pengawal mencari informasi yang di butuhkan Renggra.


Melihat ruangan yang di bilang tak luas itu, berisi dua kamar dan ruang tengah menyatu dengan dapur minimalis. Membuat rumah itu cukup nyaman.


"Tempatku masih berantakan,"cengir Laura merasa tak enakkan.


"Assalamualaikum."jalannya langsung masuk.


Mata Laura terbelalak"Waalaikumussalam."melihat laki-laki itu main masuk"Ka.Kamu main masuk ke rumah orang yang bukan mahrammu. Bu.Bukannya tak baik."rasa ragu-ragu bingung harus gimana mau mengusirnya?


Senyum Renggra, melepaskan sepatunya melipatkan baju kemeja lengan panjang"Bukan makharam apanya, jelas kau istriku, Ay. Apa saja bisa kulakukan padamu."ucap batin yang tak menghiraukan perkataan Laura"Mari ku bantu, merapikan rumahmu dulu, Ay. Sebelum berbicara."masuknya Renggra ke dalam rumah.


"Ta.pikan!"melihat Renggra main masuk saja.


Menoleh ke arah Laura"Pilih mau berdamai denganku, atau berbicara pada pengacaraku."mencoba mengancamnya, apa benar Laura sudah lupa dengan kejadian kemarin atau puranya lupa?

__ADS_1


Laura tak berkutik, mendengar perkataan Renggra yang mengeluarkan kata-kata pamungkas itu.


Menghebuskan nafas, menutup pintu. Jika lelaki itu melakukan sesuatu, Ia yang akan berbalik melaporkannya secepat mungkin. Agar terbebas dari suami orang yang bermata keranjang.


Laura menyuruhnya merapikan barang-barang yang berat agar laki-laki itu kapok, tapi melihat semua barang yang di bereskannya dengan sangat rapi. Laura hanya bisa tercengang, melihat keringat yang bercucuran di wajah laki-laki itu dengan kepiawaiannya dalam menyusun ruangan membuat hati Laura berdegup dengan kencang, tampak jelas Renggra laki-laki yang sempurna. Cepatnya mengedipkan mata"Sadar Eyrin, dia sudah beristri."ucap batin mengalihkan pandangan.


Tampa sadar hati Laura tibanya terbuka,"Duh, kenapa sekarang aku berpindah arah begini? Suami orang pula. Masa secepat itu, perasaanku berpindah arah. Hanya gara-gara pindah rumah."Batinnya kembali berucap.


Renggra menyapu wajah yang mengalir keringat dengan lengannya. Melirik sebentar ke arah Laura yang melamun melihat ke arah lain. Renggra tersenyum-senyum, mungkin Laura masih bingung dengan kondisinya yang tiba-tiba di bantu laki-laki tampan.


Laura sadar di perhatikan oleh Renggra"Eemmm, kenapa melihatku begitu?"mengerutkan kening dengan wajah yang tak senang. Padahal dirinya merasa malu.


Senyumnya"Semua sudah selesai, Ay. Aku mau memanggilmu, menanyakan mana lagi yang harus di bereskan?"


Wajah Laura memerah, merasa malu alihnya melihat ruangan yang sudah rapi. Bingungnya sejak kapan laki-laki itu menata ruangan dengan begitu cepat?


Sebenarnya laki-laki seperti apa dirinya itu, yang mampu melakukan ini semua? Bukankah dirinya itu pemimpin perusahaan, pasti di mana-mana di layani oleh para pekerja. Seperti Aditya di rumahnya dan di kantor. Masa sesempurna itu jadi manusia, apa sih yang nggak bisa dia lakukan? fikir Laura yang kembali melamun.


"Hah, Iya."sadarnya langsung melihat Renggra.


Mengerutkan alis, mendekati Laura"Kenapa kamu sering melamun, Ay. Ada apa?"


Melihat sisi ruangan"Eemmm, aku hanya memikirkan apalagi yang di butuhkan."salah tingkah.


Renggra berhenti di depan Laura dengan tersenyum"Menurutku."memegangi dagu dengan satu tangan melihat sisi ruangan"Beri lampu hias, di sudut sana."tunjuknya dengan mengarah ke ujung ruangan dekat jendela yang dapat melihat dunia luar saat duduk, dan kembali melihat Laura"Agar kamu bisa melakukan aktivitas dengan nyaman, Ay. Dan, kamu bisa santai saat ingin sendiri."mengularkan pendapatnya.


Senyum tipis, ternyata laki-laki di sampingnya itu banyak kelebihan. Beruntung wanita yang bisa mendapatkannya. Secara tak langsung hati Laura mulai menunjukkan rasa nyaman.


"Apa pendapat laki-laki ini benar."ucap batin. Nyambilnya membayangkan jika ada lampu hias di ujuk ruangan dekat kaca jendela.


Menganggukkan kepala,"Eemmm, baiklah nanti ku beli."mengikuti arahan.

__ADS_1


Renggra mengambil handphone di dalam saku celana, menelepon Angga.


Laura terdiam sejenak melihat laki-laki di sampingnya menelepon seseorang.


"Ga, pesankan lampu hias untuk ruangan pojok berukuran semeter."


Mata Laura terbelalak, mendengar Renggra membelikannya langsung"Udah aku aja."bisiknya.


Angkatnya jari telunjuk ke mulutnya"Sssuuutt, diam dulu, Ay."menyambung perkataannya lagi"Iya Ga, nanti ku kirim alamatnya lewat via SMS."mematikan telepon, mengirim alamat pada Angga dan meletakkan kembali di saku celana.


"Kamu, kenapa tibanya langsung membeli? Aku, kan bisa nanti."lirihnya.


Renggra tersenyum"Ay, hanya lampu kok. Bukan apa-apa."


Melirik ke arah lain"Berapa harganya? Nanti ku bayar."


"Bayar pakek cinta aja, Ay."memasukkan tangan di saku celana.


Hembuskan nafas, bakal nggak selesai-selesai berbicara padanya, setelah lampunya datang langsung di bayar saja fikir Laura.


"Duduklah dulu, aku bikini minum. Anggap ini ucapan terimakasih telah membantuku."berjalan pelan ke arah dapur, tak menghiraukan perkataan Renggra.


Renggra duduk di sofa minimalis yang cukup di duduki tiga orang itu, dengan pajangan telivisi yang ukuran 43 inch.


Tarik nafas lega melirik sesekali ke arah Laura"Alhamdulillah, istriku baik-baik saja. Tempat ini lebih baik dari pada istriku tinggal serumah dengan laki-laki lain. Andai anak kita Yusuf berada di sini, alangkah senang dirinya melihat Ibunya masih hidup"ucap batin.


Laura datang membawah dua gelas Jus jeruk dingin, menggunakan nampan. Meletakkannya di atas meja kecil depan kursi sofa"Minumlah, aman."jelasnya yang duduk di lantai.


Mengambil gelas Jus, dengan tersenyum melihat Laura main duduk di lantai membuat Renggra juga ikut duduk di sampingnya.


Selanjutnya~>Chapter 57

__ADS_1


__ADS_2