Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 25


__ADS_3

Renggra telah siap duduk di atas motor, memegang helm ingin memasangkan di kepala Laura"Sini, Ay. Pasang ini dulu."suruhnya mendekat.


Tangan Laura menada, ingin mengambil helm di Renggra"Biar aku, aja yang pakek, Mas."malunya di lihat pengawal.


Mengambil tangan Laura, menarik dekatnya"Udah jangan malu, Ay."pasangnya di kepala.


Rengut Laura merasa kurang nyaman.


"Dah, naiklah di belakang."tepuk pelan jok motor.


Amel dan Bu Ani keluar bersama, inginya pergi"Loh, kakak ipar sama kak Renggra, mau kemana naik motor?"mendekati.


Naik Laura di atas motor"Keluar pacaran."jawab Renggra dengan tersenyum.


Bu Ani juga mendekat"Kenapa naik motor, Reng?"penasaran Bu Ani melihat Renggra yang biasa jalan naik mobil.


Senyum Renggra,"Laura pengen jalan, pakek motor Bu. Bosen naik mobil. Lagian kalau kayak ginikan nyaman bisa di peluk terus."guraunya.


Cubit pinggang Renggra"Aww, Sakit, Ay."refleks ucapnya merasa geli.


Bu Ani dan Amel terkekeh"Ya udah kami mau pergi juga, dada."ngehnya melihat Laura yang merasa malu.


Pegang setir motor,"Peluk, Ay."belum berangkat, istrinya masih santai pegang tempat duduk.


Mendekati telinga Renggra"Malu, Mas."bisiknya.


Tolehnya ke arah Laura dengan menyerong"Nggak berangkat, Nih."memaksa agar Laura mau memeluknya.


Hembusnya nafas,"Ya, udah nggak usah jalan."turun dari motor.


Meraih tangan Laura, yang hendak pergi ke bilik rumah"Ay, kenapa marah? Ay, kan istri Mas."sabar mengahadapi istri yang lagi ngambek.


Toleh Laura,"Malu, Mas. Di lihat orang."kekeh tak mau memeluk Renggra.


Senyum Renggra"Iya, udah. Terserah Ay maunya, gimana? Sekarang kita berangkat."melihat Laura yang cemberut.


Angguk Laura, menaiki sepeda motor dan kembali memegang jok motor.


Renggra hanya bisa pasrah melihat kelakuan istrinya yang malu tak bisa di hilangkan, pada suami saja begitu apalagi pada orang lain.

__ADS_1


Stopnya di lampu merah, banyak wanita cantik menoleh ke arah Laura dan Renggra.


"Mas, ojek online ya? Boleh dong, anteri aku lain kali."gurau wanita di sebelah Renggra, yang melihat ke tampanannya walau memakai helm.


Renggra hanya tersenyum, sedangkan Laura merasa ilfil melihat kelakuan wanita yang menggoda suami orang.


Sesampainya di supermarket, mereka berdua turun.


"Kak Renggra."pekik wanita cantik berhijab pasmina, sedang membawah belanjaan keluar ruangan mendekati Renggra.


Senyum Renggra"Hai, Aisyah. Apa kabar?"akrabnya bertemu teman kuliyah.


Laura hanya diam melihat suami yang terus-terusan di dekati wanita.


Senyum ramah"Alhamdulillah, baik kak. Kakak apa kabar?"tak menghiraukan Laura yang berada di samping Renggra.


"Baik juga, kamu belanja ama siapa di sini?"tanyanya balik karena sudah lama tak berjumpa.


Mengangkat belanjaan"Nih bawah sendiri, tandanya masih seperti yang dulu."sindirnya halus, masih mengharapkan Renggra.


Aisyah yang sejak dulu memang menyukai Renggra, tapi Renggra tak tertarik dengannya. Aisyah memang anak yang baik, dan rajin. Namun Renggra tak menyukai perilakunya yang basing pegang lelaki sana sini.


Lirik Laura yang merasa kesal, melihat suami yang mulai main mata"Aku, duluan ke sana."pergi yang tak menghiraukan Renggra.


Wajah Aisyah hanya bisa tersenyum paksa, melihat reaksi Renggra yang pamer.


Melepasi tangan Renggra,"Ngapain sih, Mas."kerutnya alis merasa kurang nyaman di pegang.


Renggra berhenti di depan Laura,"Ay, cemburu ya sama, Mas?"inginnya Laura terbuka.


"Mas, tau udah punya istri masih aja deketi wanita lain."tuduhnya.


Raih tangan Laura,"Mangkanya pegang tangan Mas saat jalan, orang nggak akan ganggu kalau Ay istri Mas. Coba Ay perhatikan orang yang di sebelah sana."tunjuknya pasutri dan bukan pasutri yang sedang belanja"Apa fikiran, Ay?"tolehya lagi ke arah Laura.


Diam tanpa ekspresi memang ini salahnya, yang memberi ruang untuk orang lain.


"Maaf, Mas. Aku salah."


Rekatnya jari-jari mereka,"ini jangan di lepas, sampai membawah barang."ancungnya tangan ke arah mereka berdua.

__ADS_1


Angguk Laura, lebih baik merasa malu depan banyak orang dari pada suami di garap wanita lain.


Berbelanja sesuai ke butuhan, inginnya jalan-jalan ke taman dan tempat lainnya. Agar di sana tak lagi berbelanja hanya fokus pada tempat yang di kunjungi.


***


Semua telah siap berpakaian rapi, menghadiri resepsi pernikahan Merisa dan Nova.


Sesampainya banyak wartawan yang hadir ingin mengambil foto Renggra dan Laura dan para undangan lainnya.


Banyak orang-orang terkenal yang sempat hadir, mata Laura fokus pada pelaminan yang megah melihat Merisa dan Nova tersenyum-senyum menyapa para tamu.


Raih tangan Laura"Ay, mau nggak pernikahan kita di buat kayak gini."merasa bersalah tak membuat acara yang megah untuk sang istri yang di nikahinya sekali seumur hidup.


Gelengnya kepala"Enggak, Mas. Cukup yang kemarin aja. Lagian bagiku itu sudah mewah dari apapun."senyumnnya merasa pernikahan tak perlu megah asal sakral dan di hadiri para saksi yang menyaksikan.


Usap kepala Laura,"Eemmm istri ku nih, gemesin."rasa senang campur haru Laura benar-benar wanita yang tak memandang pernikahan sebagai hal yang di haruskan bersifat mewah"Makasih, ya Ay."nafasnya legah.


Senyum Laura,"Eemmm, iya Mas."baginya Renggra sudah cukup menjadi imam serta suaminya.


Bersalaman dengan kedua mempelai membuat tangis Merisa pecah di pelukkan Laura, tepuk pelan pundaknya,"Kenapa nangis, Mer?"tanyanya yang pernasaran.


Lepasnya pelukan,"Makasih udah, memberiku kesempatan menemui Mas Nova."usapnya air mata.


Senyum Laura,"Iya, Mer. Itu sudah jodohmu."raihnya tangan Merisa"Selamat ya, Mer. Semoga keluargamu selalu di beri keberkahan, ke bahagia dunia maupun akhirat."doanya pada kedua mempelai.


Angguk Merisa,"Aamiin ya robbalalamin."


Renggra tersenyum-senyum,"Diam-diam ngater undangan,"sindir yang tak pernah cerita"Selamat atas pernikahannya."peluk dan tepuk pelan pundak sahabatnya itu.


Senyum Nova merasa malu tak terbuka pada Angga dan Renggra,"Aku tak mau, nanti tak jadi. Sudah heboh-heboh cerita ujung-ujungnya bukan jodoh."toleh ke Angga"Enak langsung undangan."naiknya alis"Cepat nyusul, Ga?"sindir ke arah Angga agar cepat menyusul.


Angga hanya diam tersenyum, tak dapat berkata apa-apa. Saat dirinya di sindir kapan menikah?"Selamat ya, Nov. Semoga langgeng terus sampai maut memisahkan."merasa sedih di tinggal nikah, oleh kedua sahabatnya itu.


"Di kasih jodoh, nggak mau"sindir Renggra pula.


Menyungak sedikit"Siapa?"penasaran Nova.


Senyum Renggra"Nanti kita bahas di lain waktu, aja."lepasnya salaman"Kami semua pulang dulu."lambaikan tangan.

__ADS_1


Angguk Nova dan Merisa, semoga Angga cepat menyusul.


Selanjutnya~>Chapter 26.


__ADS_2