Kau Pemiliknya

Kau Pemiliknya
Chapter 48


__ADS_3

Selepas shalat Isya, Laura merasa bayangan dua lelaki di Mall beberapa hari yang lalu. Sering kali berdatangan di fikirannya.


Apalagi lelaki yang duduk melihat salah satu wanita cantik, sedang melayani costumer.


Apa mungkin dirinya pernah bertemu, selama ini, tapi dimana dan kapan? Selain di Mall itu.


Gelengnya kepala dan tersenyum, mungkin teman lama sebelum lupa ingatan.


Melipat alat sholat dan meletakkan di atas lemari meja kayu, mengambil handphone melihat beberapa kali panggilan masuk.


Membuka pesan yang muncul di aplikasi, ternyata Amel dari perusahaan produksi ke cantikan. Mengundangnya dalam acara tahunan perusahaan mereka.


Senyum Laura"Aku temui Abang dulu, mau apa enggak dia ikut?"mematikan handphone, meletakkannya kembali. mengambil hijab sebelum keluar kamar.


Berjalan pelan, melihat Aditya duduk membaca koran. Memakain pakaian putih berlengan panjang, rambut yang berponi belah pinggir, memakai celana panjang santai.


Melihat Aditya dengan suasana itu, membuat hati Laura senang. Duduk mendekati Aditya.


Lirik Aditya yang tersenyum"Gimana harimu?"tanyanya yang kembali santai melihat koran.


Angguk Laura"Eeemmm, Cukup baik, Bang."melihat Aditya"Bang!"


"Eeemmm,"fokusnya membaca koran.


Menjilati kedua bibir yang berwarna pink"Besok mau ikut ke acara perusahaan tahunan klien nggak?"cobanya mengajak.


"Siapa?"tanyanya.


Menyender santai di kursi"Perusahaan ROOT."


Termenung sebentar melihat koran namun fikiran ke arah lain. Perusahaan ROOT milik Renggra, salah satu cabangnya memproduksi berbagai jenis produk kecantikan yang di pegang oleh Amel.


Menyepihkan koran, melihat ke Laura"Ey, kamu sudah bertemu belum dengan pemilik perusahaan itu?"menyelediki apa Laura sudah bertemu Renggra dan lainnya.


Fikir Laura hanya mengingat Amel"Eemmm, kalau pemiliknya kayaknya belum. Kemarin itu wakilnya aja. Kenapa Bang?"penasaran Laura.


"Siapa namanya?"makin menyelidiki, tak menghiraukan pertanyaan Laura yang penasaran.

__ADS_1


"Amel,"ingat nama wanita yang di jumpai saat bertemu di Mall.


Renyit kening Aditya, mengapa mereka tak langsung menemui dirinya saat tau Laura masih hidup? Atau jangan-jangan mereka lagi menyusun strategi demi mendapatkan Laura fikir kembali Aditya.


"Bang, kenapa diam aja? Mau nggak ikut?"tanyanya yang melihat Aditya hanya diam saja.


Sadar Aditya mendengar suara Laura"Eemmm, kamu aja, Ey. Aku banyak kerjaan di ruangan, biasanya juga kamu sendirian."tak mau Aditya berjumpa dengan Renggra lagi, rasa hati yang ingin menangis saat yang di takutkan dahulu terjadi juga.


Takut tak akan bertemu dengan Laura lagi, dan takut menghadapi Renggra yang mungkin akan balas dendam dengan tragedi enam tahun silam. Menyebabkan banyak kebohongan dan kesalahan yang fatal, memisahkan suami istri yang mungkin sedang bahagia atau sebaliknya.


Kedip mata Laura dengan tersenyum manis"Aku hanya ingin mempunyai pasangan saat pergi ke pesta Bang,"merapatkan jari-jari tangan, malu menyatakan terang-terangan bahwa dirinya ingin pergi bersama Aditya.


Senyum Aditya, yang nggak peka bahwa Laura menyukainya"Maaf ya Ey. Nanti kapan-kapan."tolaknya.


Senyum Laura, merasa bimbang. Sudah lama bertemu, menetap di satu atap rumah, status bertunangan. Namun tak sedikitpun Aditya membahas kapan pernikahan mereka akan di lakukan.


Rasa yang jelas di antara mereka seperti adik dan kakak kandung yang hidup berdua tanpa kedua orang tua. Ingin sekali menanyakan kapan mereka bisa ke jenjang yang lebih serius, menghidupkan suasana dengan memiliki beberapa anak di rumah yang sepi itu.


Terikat dengan usia yang memasuki anak satu, melihat anak-anak di luar yang sedang berpergian ke sekolah, di antarakan oleh orang tua. Membuat Laura ingin memiliki anak dan merasakan menjadi Ibu. Bagaimana rasanya menjadi seorang wanita yang sempurna, bisa melahirkan dari rahim sendiri. Memberikan Asi pada bayi yang mungil, bergadang menemani sang kecil bermain, melihatnya hingga dewasa.


Tak di pungkiri rasa itu hadir.


Sadar dari lamunan"Eemmm,"


Senyum Aditya"Kamu kenapa Ey, ngelamun?"tanyanya kembali, melihat Laura kebingungan.


"Eemmm,"melirik ke arah lain"Aku, kayaknya ngantuk Bang. Kecapean."tepisnya merasa malu jika menyatakan bahwa Ia ingin serius bersama Aditya.


Melipat koran yang masih di tangan"Iya sudah tidur sana,"berdiri setelah meletakkan koran di atas meja"Aku juga mau tidur,"jalannya santai masuk ke bilik kamar.


Mengedipkan mata, melihat Aditya yang tak peka. Sebenarnya masih adakah perasaan cinta padanya? Kenapa di perhatikan, dirinya tak memiliki hubungan apapun.


***


Mengelus-elus kepala Yusuf yang sedang membaca buku cerita sebelum tidur.


"Ayah,"panggil pelan Renggra lihatnya ke buku yang bergambar kedua orang tua yang memegangi tangan anaknya.

__ADS_1


"Eeemmm,"jawabnya yang melihat handphone membuka situs Web, keluar berbagai foto Laura.


"Ayah, kapan aku mempunyai Ibu?"lirihnya.


Berhentinya scroll layar Handphone mendengar Yusuf menanyakan sesosok Ibu, cobanya tarik nafas panjang meletakkan handphone.


"Yusuf!"memegang tangan tangan anaknya yang semakin hari makin besar"Ibumu masih hidup."cobanya menjelaskan, Yusuf harus tahu fikir Renggra.


Senyum terukir di wajah Yusuf yang langsung menoleh Renggra"Benar ayah. Mana Ibu?"suara bahagia terdengar dari mulutnya.


"Sssuuutt, jangan kuat-kuat biacaranya."meletakkan jari di bibir Yusuf, ajaknya berbisik.


Yusuf langsung menutup mulut, mengikuti anjuran sang ayah.


"Nanti kita ketemu Ibu, tapi Yusuf harus janji."ancungnya jari kelingking"Mau bantu ayah, dapetin Ibu kembali."meminta bantuan anak yang di anggap sudah pintar saat di suruh, entah nurut dirinya atau Laura.


Menganggukkan kepala"Eemmm, tapi di mana Ibu yah? Kemarin Ayah bilang Ibu sudah di surga bersama kakek dan nenek, kenapa sekarang ayah bilang Ibu masih hidup?"inginnya tahu penjelasan sang Ayah yang tak berkomitmen.


Senyum Renggra"Ayah tak bisa menjelaskan pada Yusuf, intinya sekarang kita harus berjuang mendapatkan Ibu."ambilnya handphone melihat foto Laura"Sama nggak foto ini,"ambilnya bingkai foto di atas lemari kecil"dengan foto yang ini."usaha Renggra menjelaskan secara pelan pada Yusuf.


Mata yang memperlihatkan secara seksama,"Benar Ayah, ini Ibu Yusuf."pegang handphone Renggra melihat banyak foto Laura yang berbeda dengan foto yang dulu. Lihatnya dari segi berpakaian.


"Ayah yakin ini Ibu."melihat ke Renggra.


mengeruti kening"Yakin."


"Nggak mikir gitu, kalau ini kembaran Ibu."jelasnya siapa tahu itu wajah orang lain.


Senyum Renggra yang tahu benar bahwa Laura tak mempunyai kembaran.


"Ibumu tak mempunyai kembaran Nak, Ayah yakin itu Ibumu. Hanya saja Ia lupa ingatan."jelas kembali dengan sabar.


"Kenapa Ayah, Ibu tak mengingat kita?"ingin tahu semakin memuncak.


Senyum Renggra kembali mengusap kepala Yusuf"Ibu masih sakit, nanti kalau udah sembuh pasti ingat lagi sama kita. Sekarang kita berdua harus berjuang, biar Ibu cepat sembuh."menyemangati anaknya agar bisa membantu.


Angguk Yusuf, setuju melakukan apapun. Semangat dari dalam diri yang ingin berjumpa dengan sang Ibu.

__ADS_1


Selanjutnya~>49


__ADS_2