
Membentangkan sajadah, lepasnya melaksanakan shalat malam menadahkan tangan"Ya Allah, engkau yang maha kuasa. Dapat memutar balikkan isi hati ciptaanmu, maka berikan jalan pada istriku Laura, agar kembali ke kami lagi. Aamiin."ucap batin.
Berharap Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik dari sisinya. Manusia hanya meminta, tapi keputusan ada di tangan Tuhan, ialah sang pemilik, sebaik-baik pilihan adalah pilihan Tuhan yaitu Allah SWT.
Jam bergulir beranjaknya pergi ke tempat kerja, setiap saat Renggra melihat handphonenya berharap Laura segera menghubungi.
Bu Ani datang menemui Renggra di ruangan kerja"Assalamualaikum. Gimana lancar Reng?"usai duduk di kursi.
"Waalaikumussalam."jawab serentak Angga dan Renggra.
Renggra berdiri dan berjalan duduk di hadapan Bu Ani, sedangkan Angga masih berada di posisi semula mengurus berkas yang menumpuk.
Wajah yang tersenyum"Eemmm, lancar apanya Bu?"tak nyambung dengan perkataan Bu Ani.
Memuncungkan bibir, menaiki alis"Tuh kemarin malam, kamu aja tak pulang ke rumah."lirik ke Angga"Samalah yang duduk di sana."
Renggra menaiki alis"Loh kamu juga nggak pulang, Ga?"mereka berdua yang pergi tak serempak, kira Renggra Angga dan Amel pulang ke rumah.
Hembuskan nafas panjang, melihat Renggra dan Bu Ani"Aku nggak pulang, Reng. Gara-gara di beri minum sama Ibu."kodenya yang ikut menginap di hotel bersama Amel.
Fikir Renggra berarti malam itu, melirik ke Bu Ani"Ibu melakukannya?"mengedipkan mata, kiranya hanya Renggra yang masuk perangkap.
Terkekeh Bu Ani melihat ke arah Angga"Kan, kamu sendiri Ga yang menyuruhku waktu itu, merayu Amel nambah pasukan."menahan tawa, menoleh ke arah Renggra"Sebenarnya, kami semua yang atur, berhubung Yusuf dan Musa bersamaku. Sekali aja."wajah yang tersenyum-senyum terlihat bahagia.
Renggra dan Angga hanya menarik nafas panjang pasrahnya dengan kelakuan Bu Ani. Orang tua yang selalu bertindak sebelum berdiskusi, paling tidak, berikan kode sebelum melakukan instruksi, ini main kilat aja.
"Reng! Sebenarnya malam itu, Ibu ingin bertemu Laura. Melihatnya masih hidup, sungguh membuatku bahagia. Ingin sekali memeluknya."air mata mulai membendung menahan haru"Melihat situasi yang belum pas, aku belum sempat bertemu."menyapu ujung kelopak matanya.
"Sabar ya Bu, jangan sedih."senyum Renggra.
Menganggukkan kepala"Iya Nak. Tapi gimana kelanjutannya, setelah bertemu Laura. Apa Ia mengingat sesuatu tentang kita semua."rasa penasaran.
Angga menyimak ingin mendengar penjelasan Renggra.
Menggelengkan kepala"Belum, Bu. Tapi untuk sementara aku sudah mempunyai nomor handphone yang bisa ku hubungi secara langsung."jelasnya.
Hembuskan nafas"Alhamdulillah! Kita semua hanya bisa berdoa, semoga Laura kembali."senyumnya.
"Eemmm, Ibu benar."
__ADS_1
***
Dua hari Laura berada di bilik kamar, izin pada Aditya untuk ambil cuti dan menyelesaikan pekerjaan di rumah.
Selama itu Laura tak makan bersama seperti biasa, dengan alasan menyelesaikan perkerjaan. Lauk pauk yang di sediakan oleh Aditya setiap haripun terkadang masih tersisa banyak.
Aditya bingung ada apa dengan Laura, tak seperti dirinya yang biasa? Apa Laura telah mengingat sesuatu atau ada yang terjadi padanya?
Mengambil smartphone di saku celana, memberikan pesan singkat. Agar Laura menemui dirinya di ruang tengah.
Laura masih merasa tertekan akibat ke jadian dua hari yang lewat, membuatnya malu bertemu Aditya apalagi sudah bertanya hal yang sensitif.
Rasa malu sampai ke ubun-ubun, pasti Aditya memikirkan hal yang aneh pula.
Menghebuskan nafas menyendiri untuk sesaat agar dirinya bisa melupakan semuanya secara perlahan menyibukkan diri dengan berbagai perkerjaan.
Dentingan pesan masuk, membaca pesan. Tarik nafas, mungkin hal ini harus di hadapi bukan melarikan diri.
Berdiri mengambil hijab, meninggalkan leptop dan tumpukan dokumen di atas ranjang. Segerahnya menemui Aditya.
Duduk Aditya membaca majalah trending, mendengar suara pintu Laura dengan cepatnya menutupi dan meletakkan di atas meja.
Senyum Aditya"Kamu ada waktu?"tanyanya.
Menganggukkan kepala"Ada Bang, kenapa?"kembali bertanya.
"Mau keluar nggak jalan-jalan."ajaknya agar Laura tak mengalami depresi saat menghadapi sesuatu yang tak ingin Ia ceritakan.
"Eemmm, boleh. Aku siap-siap dulu Bang."senyumnya seperti biasa. Namun dengan wajah yang sedikit lesu.
Menganggukkan kepala"Iya, Ey. Aku juga mau siap-siap."mereka berdiri masuk ke bilik kamar kembali.
Memasang sabuk pengaman"Kita nggak di anter supir, Bang?"melihat Aditya duduk memegang setir.
Senyumnya"Aku pengen berdua aja, Ey. Jalan sama kamu. Sudah lama kita nggak jalan. Kamu udah makan belum?"
Menggelengkan kepala"Belum, Bang?"
"Iya udah, kita makan dulu lepasnya jalan-jalan."menghidupkan mesin menjalani mobil pelan"Ada tempat makan yang ingin kamu datangi nggak, Ey?"
__ADS_1
"Eemmm, nurut aja Bang."lihatnya ke arah depan, namun sedikit melirik ke arah Aditya.
Senyumnya yang paham Laura tak nafsu makan.
Dalam perjalanan Laura hanya diam, rasa canggung dan bersalah telah membuat hubungannya berjarak dan bersekat. Rasa diri yang tak suci dan kotor membuatnya merasa malu.
Mobil berhenti, di depan tenda di pinggir jalan. Menjual makanan ke sukaan Laura, pecel lele.
Wajahnya tersenyum, melihat Aditya taunya jika galau tempat itu adalah pelampiasan rasa kesal. Dengan sambal pedas dan gorengan ikan lele yang gurih serta sayur lalap yang mendukung. Membuat sisi makanan itu dapat meluapkan emosi dalam fikiran Laura.
Aditya tersenyum-seyum, melihat wajah Laura yang kembali ceria.
"Bu pesan lele goreng dan ayam panggang,"ucap Aditya usai di dalam tenda.
"Makan sini apa bungkus, Nak?"tanya wanita paruh baya yang melayani Aditya.
Senyumnya"Makan sini, Bu."
"Baiklah,"mengambil piring menyiapkan pesanan.
Aditya mendekati Laura yang telah duduk di kursi plastik.
"Tumben agak sepi ya, Bang?"melihat suasana.
"Eemmm, mungkin sudah agak malam. Biasakan mereka makan sesudah magrib, Ey. Kita datangkan udah jam delapan."melihat jam di tangannya.
Menompang dagu"Eemmm, pantesan agak sepi."
Makanan telah datang, mereka berdua menyantapnya dengan langsung menggunakan tangan.
Usai makan merasa perut juga kenyang, rasa hati yang kembali riang membuat mereka berdua segera beranjak dari tempat duduk membayar makanan dan kembali menaiki mobil, pergi meninggalkan tempat itu.
"Mau ke taman atau ke tempat lain, Ey."menyetir mobil.
"Eeemmm, taman aja Bang. Sekalian duduk nuruni nasi."rasa perut yang kurang nyaman jika berjalan kemana-mana.
Tak lama mobil berhenti, udara yang sejuk dengan pemandangan lampu malam. Duduk di kursi besi di bawah sorotan lampu. Melihat asyiknya muda-mudi berpacaran, ada juga yang berkumpul bersama teman memainkan sebuah gitar, dan lainnya.
Senyum Laura rasa damai menghampiri, teringat sesuatu melihat posisi mereka yang bisa di bilang bertunangan itu. Apa ini bisa di sebut sedang berkencan? Membuatnya enggan berkomentar melirik sana sini.
__ADS_1
Selanjutnya~> Chapter 55