
Seorang pria paruh baya yang memakai setelan Armani berkata kepada sekretaris itu.
****************
Damon Webster mulai agak marah. Sebagai miliarder terkemuka di Malatam, dia tidak menyangka Lia akan memperlakukannya seperti itu.
Selama bertahun-tahun, tidak ada yang berani membuatnya menunggu lama. Dia akan langsung kehilangan kesabaran jika orang yang mempermalukannya bukan Lia.
"Nona Laras, apa yang terjadi di dalam?"
Luis maju dua langkah seraya melirik orang-orang itu. Dia mengenali beberapa orang itu, dan dia mengenal Damon hanya karena dia pernah mendengarkan pidatonya semasa kuliah dahulu.
Luis tidak terlalu memperhatikan pidato Damon saat itu, tetapi dia terkesan padanya. Luis bukan terkesan oleh kompetensinya, tetapi oleh sekretaris wanita cantik yang menemani Damon.
"Tuan Luis, Manajer Wijaya sedang menunggu Anda." Saat melihat Luis berjalan mendekat, Laras langsung tersenyum.
Sebagai sekretaris, Laras tahu betapa pentingnya Luis bagi Manajer Wijaya. Manajer Wijaya sedang menunggu Luis, jadi orang-orang itu harus menunggu lama di luar.
"Oke." Luis mengangguk dan langsung masuk.
"Nona Laras, apa maksudnya itu? Saya benar-benar kehilangan kesabaran."
Damon menarik napas dalam-dalam dan berpikir untuk menampar Laras jika dia bukan seorang wanita.
Kenapa mereka harus menunggu lama di luar? Luis bahkan tidak perlu menunggu sedetik pun sebelum masuk.
"Itu perintah Manajer Wijaya. Jika Anda punya pertanyaan, silakan ajukan langsung kepadanya nanti." jawab Laras tanpa rasa takut.
Dia telah belajar banyak dari Manajer Wijaya, terutama cara menghadapi arogansi orang lain. Laras sama sekali tidak takut pada Damon dan dia akan tetap tenang meskipun orang yang lebih berkuasa berdiri di hadapannya.
"Ada apa dengan orang-orang di luar itu? Apakah mereka sedang menunggumu?"
Begitu masuk ke dalam kantor, Luis melihat Lia sedang membaca setumpuk dokumen dengan wajah serius. Meja besar itu dipenuhi dokumen.
"Biarkan saja. Aku tidak ingin berbicara dengan mereka." Lia menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen yang sedang dibacanya.
Luis melangkah maju dan menyadari bahwa semua dokumen di atas meja itu berkenaan dengan Taring Singa Informasi dan Teknologi Itd.
__ADS_1
Beberapa dokumennya dapat ditemukan di internet, sedangkan sisanya tidak.
Dalam waktu sesingkat itu, Lia bisa mengumpulkan begitu banyak informasi. Jelas sekali dia punya koneksi.
"Kamu sudah mendapat informasi sebanyak ini?" Luis kagum karena dia tidak menyangka Lia bisa mengumpulkan informasi secepat itu.
"Ayahku punya teman di Cania Timur, jadi aku bisa meminta bantuannya."
Akhirnya Lia mengangkat kepalanya dan melirik Luis. "Kesimpulannya, Taring Singa masih bisa diselamatkan."
"Aku juga punya beberapa informasi." Luis mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan file yang ia dapat dari marketplace ke Lia.
Lia memeriksa tabletnya dan menemukan dokumen berukuran besar yang dikirim Luis.
Setelah melihat sekilas, Lia mengerutkan keningnya karena informasi yang dikirim Luis terlihat lebih detail daripada informasi yang ia punya.
Teman ayahnya adalah kepala Cania Timur, tetapi informasi yang ia berikan bahkan tidak selengkap milik Luis. Lia bertanya-tanya kekuatan macam apa yang ada di belakang Luis.
"Utang mereka berjumlah lebih dari 300 juta dolar. Bisakah kamu menyediakan uang sebanyak itu untuk Perusahaan Taring Singa?" tanya Lia.
Faktanya, situasi Perusahaan Taring Singa tidak seburuk itu. Aset perusahaan yang telah dihimpun selama tiga atau empat tahun masih ada, tetapi sekarang keuanganlah yang menjadi batu sandungannya.
Dahulu, Lia tidak akan mengajukan pertanyaan ini kepada Luis. Namun, sekarang dia bertanya-tanya apakah Luis mampu melakukannya.
"Aku tak punya uang sebanyak itu."
Luis tersenyum dingin. Meski dia memiliki aset lebih dari 45 juta dolar, bukan berarti dia bisa seenaknya menggunakan uang sebanyak itu.
Bahkan, untuk perusahaan besar yang memiliki nilai pasar sedikitnya 1,5 miliar dolar, 45 juta dolar tetap merupakan jumlah yang besar. Jika tidak, Perusahaan Taring Singa, yang nilai pasarnya lebih dari 600 juta dolar, tidak akan ada di ambang kebangkrutan karena utang 45 juta dolar.
Tentu saja, situasi Taring Singa saat ini juga disebabkan oleh beberapa raksasa internet. Jika tidak, perusahaan itu tidak akan mengalami kebangkrutan.
Alasan mereka menekan Taring Singa pun sederhana.
Mereka ingin mengambil pangsa pasar Taring Singa.
Jika Taring Singa bangkrut, mereka bisa memanen pangsa pasar yang telah dikuasai Taring Singa selama bertahun-tahun dan mendapat keuntungan besar.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa melakukannya?" Lia mengernyitkan dahi.
"Aku punya beberapa aset yang bisa kubagi." Luis menghela napas. Namun, dia tidak mau melakukannya kalau masih ada jalan keluar lain.
Uang sebanyak 45 juta dolar adalah jumlah yang mencengangkan bagi kebanyakan orang, tetapi jika Luis mau, dia bisa membagi sebagian asetnya dan mendapatkan uang itu. Faktanya, bangunan di Menara Adipati setidaknya bernilai 15 juta dolar.
Selain itu, dia masih memegang saham Industri Hennerik, dan satu persennya cukup untuk ditukar dengan 45 juta dolar Caniah.
"Aku masih mengerjakan proyek, jadi tidak bisa mendapatkan banyak uang dalam waktu sesingkat itu," kata Lia. Dia tidak akan ragu untuk mengambil uangnya, tetapi sebagian besar uangnya digunakan untuk mengerjakan proyek.
Jadi, untuk mendapatkan 5 juta dolar pun tidak mudah, apalagi 45 juta.
"Kalau investasi ini terbukti salah, maka ..." Luis menghela napas. Tampaknya dia akan gagal kali ini.
"Uangnya sudah diinvestasikan. Jangan disia-siakan."
Lia mengambil beberapa laporan, menyerahkannya kepada Luis, dan berkata, "Perusahaan Taring Singa memiliki potensi. Jika perusahaan bisa keluar dari situasi saat ini, nilai pasarnya bisa mencapai setidaknya 1,5 miliar dolar dalam beberapa tahun."
"Berapa yang kamu investasikan kali ini?" Lia bertanya, lalu menyesap kopinya. Luis memberitahunya dengan gestur tangan. "135 juta dolar?"
Lia bahkan tidak terpikir 1.350 dolar. Dalam benaknya, meskipun Perusahaan Taring Singa berada di ambang kebangkrutan, perusahaan itu masih merupakan salah satu raksasa industri video dalam negeri.
Jadi, dia pikir 13,5 juta dolar saja tidak cukup untuk membelinya, apalagi 1.350 dolar.
"Kurang lebih," ujar Luis, dia tidak mengaku kalau membeli Perusahaan Taring Singa hanya dengan 13.500 dolar. Jika dia mengaku, Lia akan menganggapnya gila.
"Itu harga yang masuk akal," ujar Lia sambil mengangguk. Meskipun harganya mengejutkan, itu masih kesepakatan yang bagus untuk mendapatkan raksasa industri video dalam negeri.
Bagaimanapun juga, pendapatan tahunan Perusahaan Taring Singa setidaknya 15 juta dolar.
Tok, tok, tok.
Tiba-tiba, pintu diketuk. Lia mengernyit dan berkata, "Masuk."
"Kret, kret, kret."
Pintu kayu berderit, lalu Claire masuk dengan memegang dokumen di tangannya.
__ADS_1
"Manajer Wijaya, itu data yang kamu inginkan." Claire melirik tumpukan dokumen di atas meja dan merasa sedikit terkejut. Dia menyerahkan dokumen itu kepada Lia dengan sopan.
Lia meliriknya sambil berbicara kepada Luis, "Aku masih bisa menawarkan 7,5 juta dolar. Beri aku nomor rekeningmu dan aku akan mengirimkan uangnya kepadamu."