
"Mari kita lihat bagaimana keluarga dan teman-teman Anda menanggapi masalah ini."
..........................
Dalam ruang kerjanya, Lia mengenakan gaun bermotif bunga putih-biru. Dia sedang memeriksa sebuah dokumen di mejanya. Wanita itu terlihat sangat sibuk, sementara Luis biasanya menghabiskan sebagian besar waktunya bermain game di rumah.
Beberapa saat kemudian, ponsel Lia berdering. Lia mengerutkan keningnya dan meraih ponselnya untuk melihat identitas si penelepon. Namun ternyata, dia mendapat telepon dari nomor tidak dikenal.
Tapi ini adalah ponsel pribadinya, hanya beberapa orang yang tahu.
Setelah menimbang beberapa saat, dia akhirnya mengangkat panggilan telepon itu. "Siapa ini?"
Suara Zizi Vose terdengar dari ujung telepon. "Halo. Apakah ini Lia Wijaya? Teman Anda, Luis Nardo, ditangkap karena terkait kasus prostitusi. Diperlukan uang jaminan sejumlah 750 dolar untuk membebaskan dia dari penjara."
Mendengar itu, wajah Lia menjadi muram. "Prostitusi? Rasanya tidak mungkin Luis menjadi PSK kecuali jika dia memiliki hobi yang aneh. Sudah pasti dia adalah kliennya."
Wajah Lia berubah dingin. "Kita baru bertemu dua hari yang lalu, dan dia sudah membuat masalah," pikirnya.
"Bisakah saya menyewa pengacara untuk menuntutnya?" Dia mengambil napas dalam-dalam. "Menurut saya, tindakannya melanggar peraturan dan memberikan dampak negatif pada reputasi kota," tambahnya.
"Hah?" Zizi yang mendengar ucapannya pun terkejut.
"Luis Nardo akan ditahan selama 15 hari jika tidak ada yang membebaskannya dengan uang jaminan," ucap polisi itu.
Namun, Lia tetap pada pendiriannya dan menjawab dengan dingin, "Saya akan menyewa pengacara untuk menuntutnya besok."
"Lia! Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini!" Luis dengan cepat meraih ponsel dari tangan Zizi. Jika percakapan mereka terus berlanjut, pria itu bisa beraklir di penjara selama bertahun-tahun.
Lia membalas dengan dingin, "Apakah nafsumu sangat besar? Tidak bisakah kamu mengendalikan dirimu sendiri?"
"Dengarkan aku, Lia. Ini hanyalah kesalahpahaman. Aku tadi hanya berjalan-jalan di luar. Aku benar-benar tidak ..." Luis hampir menangis karena dia tidak pernah mengira akan seperti ini jadinya.
"Ha! Hanya berjalan-jalan? Lalu kenapa polisi menangkapmu?"
"Sudah kubilang ini hanya kesalahpahaman! Aku tadi makan malam dan ..."
Sebelum dia bisa menyelesaikan perkataannya, Lia menyelanya, "Dan kamu menjadi bernafsu? Lucu sekali, Luis. Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja."
__ADS_1
Setelah mendengarkan perkataannya, rasa takut merasuki diri Luis. Dia mulai tergagap, "L-Lia! Percayalah! Aku..."
Lia berkata tanpa ampun, "Bersikap baiklah di dalam penjara. Aku akan menghajarmu kalau kamu mencoba kabur!" Setelah mengatakan itu, dia menutup teleponnya.
Lia terdiam sejenak. Dia mencoba untuk fokus kembali pada dokumen di hadapannya tetapi gagal.
Biasanya, dia tidak akan peduli karena itu bukan urusannya. Tapi, kali ini, dia tidak bisa berhenti memikirkannya. Perasaan marah muncul di dalam dirinya.
"Ah! “
Semakin waktu berlalu, semakin ia merasa marah. Lia meraih boneka beruang di sampingnya dan meninjunya.
Sementara itu, di kantor polisi, Zizi melirik Luis dan mencibirnya.
"Sepertinya Anda kurang beruntung. Saran saya, mulailah memikirkan apa yang akan terjadi setelah Anda keluar. Reputasi Anda sudah hancur," ucapnya.
Dengan penuh kesedihan, Luis berkata, "Saya hanya kebetulan lewat ..."
Zizi membalasnya dengan nada mencemooh, "Ha! Jadi anda menyesal sekarang?"
"Saya sangat menyesal. Seharusnya saya tidak keluar jalan-jalan di malam hari," tuturnya pelan.
Zizi memukul meja dan mendengus kesal. "Anda seharusnya memikirkan konsekuensinya sebelum memutuskan untuk menjual diri."
"Saya benar-benar tidak ..."
"Lalu, bagaimana Anda bisa berakhir di sini?" balas Zizi. Dia melambaikan ponsel di tangannya dan menambahkan, "Apakah Anda ingin mencobanya lagi? Jika tidak ada yang membayar jaminan, Anda akan ditahan selama 15 hari di penjara."
"Rasanya penjara lebih aman untuk saya." Luis mengangguk sembari meyakinkan dirinya. Dia tidak ingin membuat Lia semakin kesal.
"Anda yakin?" Zizi terkejut dengan perkataannya. Biasanya, orang tidak akan menyerah sampai ada yang mau membebaskan mereka dari penjara.
"Ya."
Tanpa sepatah kata pun, Zizi melambaikan tangannya kepada seorang polisi, Joe Owen, dan memanggilnya.
"Joe, bawa Tuan Nardo ke ruang tahanan."
__ADS_1
Dia berpikir sejenak sebelum menambahkan, "Carikan ruang tahanan yang kosong. Biarkan dia sendiri."
"Jangan bilang saya tidak memedulikan Anda, Tuan Nardo." Setelah menepuk bahu Luis, Zizi meninggalkannya.
"Anda tidak tahu kapan harus menutup mulut, ya?" Zizi mencibir dan menyerahkan selimut tipis kepadanya. "Ini untuk membalas kebaikan Anda karena telah menyelamatkan seorang anak," tambahnya.
"Terima kasih!"
Luis tersenyum dan mengambil selimut itu. Dia bisa mencium samar aroma parfum saat menyelimuti tubuhnya dengan selimut itu.
Saat itu, sebuah pertanyaan muncul di benak Zizi. "Bagaimana keadaan anak itu?" tanya Zizi.
"Dia baik-baik saja. Seorang spesialis sudah disewa untuk melakukan perawatan lanjutan. Dia mungkin sudah pulih sekarang," jawab Luis.
"Bisakah Anda menemani saya mengunjunginya suatu hari nanti?"
"Apa?"
"Ayo! Sudah saatnya Anda masuk penjara."
Keesokan paginya, Zizi tiba di ruang tahanan untuk membawa Luis pergi. Suara dentuman hak sepatunya terdengar di sepanjang koridor.
"Nona Vose? Nona Vose!"
Seorang petugas polisi, Maxie Brown, mendekati Zizi dan menariknya ke samping.
Zizi mengerutkan keringnya dan bertanya, "Ada apa? Semuanya baik-baik saja, 'kan?" Dia menduga seseorang mungkin telah membayar uang jaminan untuk membebaskan Luis.
Maxie menggosok hidungnya karena malu dan berbisik, "Kita salah tangkap ..."
Wajah Zizi terlihat jengkel. "Salah tangkap? Bukankah kau bilang ada bukti kuat? Kau bercanda, 'kan?"
Ini bukan sesuatu yang bisa digunakan sebagai bahan lelucon. Mereka semua akan dihukum jika melakukan kesalahan. Dengan canggung, Maxie berusaha menjelaskan, "Pagi ini, Ketua memeriksa kamera tubuh dan mewawancarai wanita itu lagi. Kesimpulannya, kita menangkap orang yang salah."
Perasaan marah langsung merasuki Zizi dan dia mengutuk, "Sial! Ini tidak masuk akal!"
"Seharusnya mereka memeriksanya lebih awal. Apa saja yang mereka lakukan kemarin?" renungnya.
__ADS_1
"Kita harus segera membebaskannya ..." gumam Maxie.