
Dokumen itu tentang akuisisi sebuah restoran bernama Bistro Jag.
......................................................
Martin pernah mendengar nama itu sebelumnya. Itu adalah restoran khas Firian yang paling terkenal di Malatam. Laba bersihnya bisa mencapai puluhan juta.
"Apa maksudmu?" Martin bertanya dengan suara gemetar. Dia tahu, orang yang bisa mendapatkan restoran itu sudah pasti berkuasa dan sangat kaya.
Dengan kata lain, sudah jelas pria di depannya itu punya pendukung yang kuat.
Luis berbisik, "Aku akan memberimu dua pilihan. Satu, aku akan membiarkan orang lain melihat kontrak ini. Atau aku bisa membiarkanmu memilikinya, dan melihat apa yang bisa kau lakukan."
Saat itu, ekspresi Martin berubah. Dia tahu bahwa kontrak itu bernilai jutaan. Bahkan jika dia menjual semua asetnya, dia tidak akan pernah bisa membayar harga itu.
Situasi ini rasanya seperti dipaksa makan buah simalakama. "Kalau tidak salah, sekarang kita di lantai tiga. Kalau kau memilih untuk lompat dari jendela, sepertinya kau akan selamat," Luis berkata, seraya menunjuk salah satu jendela.
Martin menarik napas dalam-dalam dan membuka jendela itu. Beberapa detik kemudian, terdengar suara jeritan-jeritan keras dari luar.
"Kalian mungkin ingin melihat bos kalian kecelakaan terjatuh dari balkon." Luis melirik pria berotot yang sedang berpura-pura tidak sadarkan diri itu.
Setelah berurusan dengan Martin, Luis memberi Keysia senyum lebar. "Sepertinya, alat negosiasi yang kubawa sangat berguna."
Keysia berjalan menuju jendela dan mengambil dokumen yang diletakkan Martin di jendela. Beberapa saat setelah dia membaca isi dokumen itu, secercah tatapan terkejut terlintas di matanya. Seolah-olah dia bisa mengerti mengapa Martin mengambil keputusan itu.
__ADS_1
Karena Martin tidak akan bisa melawan si pria muda di depannya, dia memilih untuk melompat dari lantai tiga. Selama dia beruntung, dia masih bisa hidup.
Beberapa saat setelah mendengar teriakan-teriakan histeris dari luar jendela, wajah Luis berubah masam. "Panggil ambulans untuknya. Suara teriakannya sangat mengganggu."
Tanpa sadar, Keysia mengangkat alisnya saat dia melihat Luis berjalan meninggalkan tempat itu dengan santai.
Diam-diam, dia berpikir, "Luis terlihat seperti pria biasa. Aku tidak menyangka dia akan menyelesaikan situasi ini dengan sekejam itu. Jika aku ada di posisinya, mungkin hal terburuk yang kulakukan adalah mencari seseorang untuk mematahkan kaki Martin. Kalau aku tidak melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya dia akan memaksa Martin untuk melompat dari jendela lantai tiga."
Beberapa saat kemudian, ketika Keysia sadar kembali, dia menatap seorang pria paruh baya yang tergeletak di lantai dan bertanya, "Jensen, apa pendapatmu tentang kemampuan pria itu?"
"Jauh melampaui dugaan," jawab Jensen sambil menggelengkan kepalanya. Dengan senyum pahit, dia melanjutkan, Aku telah berlatih selama bertahun-tahun. Aku tidak menyangka, aku bahkan tidak punya kesempatan mengalahkannya. Dia jauh lebih kuat baik dalam hal keterampilan maupun kekuatan.
"Gaya bertarung seperti apa yang dia gunakan?" Keysia bertanya karena penasaran. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Jensen berbicara tentang seseorang dengan begitu hormat.
"Selama dua pertempuran di antara mereka, Luis menggunakan perpaduan banyak teknik yang berbeda. Berdasarkan pengamatanku, dia menggunakan MMA dan beberapa bentuk kickboxing untuk menyesuaikan diri dengan situasi selama dia bertarung denganku. Sepertinya dia adalah petarung yang berlatih secara otodidak. "
"Menarik." Keysia mengangguk saat matanya berkilat dengan tatapan penuh arti.
"Selain itu, sepertinya dia juga berlatih dengan teknik lain yang meningkatkan kecepatan dan kekuatannya."
Sekali lagi, Keysia mengangguk setuju. Dia kemudian berbalik ke arah seseorang di sampingnya dan berkata, "Gadis itu berkolaborasi dengan bar kita, kan? Jika begitu, setorkan 30.000 dolar ke rekeningnya."
Bagi Marry, 30.000 dolar cukup untuk membuatnya bangkrut. Namun di mata Keysia, jumlah itu tidak lebih dari sekedar rangkaian angka.
__ADS_1
Sementara itu, Luis tidak langsung pulang. Dia memutuskan untuk memanggil taksi dan pergi ke rumah sakit. Saat dia tiba, luka Marry sudah dirawat. Karena tubuhnya kotor dan rambutnya berantakan, kondisinya terlihat sangat parah. Memar-memar ada di sudut bibir hingga wajahnya. Selain itu, riasan wajahnya juga telah hilang tanpa jejak.
Setelah melihat Luis, Marry dengan cepat berdiri dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Terima kasih."
Jika Luis tidak datang untuk menyelamatkannya, sekarang dia akan berada dalam masalah besar.
"Tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya kebetulan lewat." Luis memberi isyarat padanya untuk duduk kembali. Kemudian, dia duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu tidak setuju dengan tawaran pria itu?" Luis tiba-tiba bertanya.
Mendengar itu, Marry mematung. "Aku hanya tidak mau. Itu saja, tidak ada alasan lain."
Dulu, Marry akan menyetujui tawaran itu Bagaimanapun sifatnya, Martin adalah pria kaya, dan dia telah menawarkan harga yang sepadan.
"Apakah kamu pernah berpikir untuk bekerja di bidang lain?" Luis mengubah topik karena dia tidak ingin mencari tahu lebih jauh. Jika kamu ingin mencari pekerjaan lain, aku bisa membantumu."
Mendengar tawarannya, Marry tertequn sejenak. Karena dia tidak tahu bagaimana harus menjawab, dia hanya menunduk diam. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Marry menatap ponselnya dengan tatapan kosong. Dia terkejut ketika mengetahui seseorang telah menyetor 30.000 dolar ke rekeningnya.
"Sepertinya itu dari Keysia," kata Luis datar.
Meskipun Luis tidak tahu pasti latar belakang Keysia, dia tahu 30.000 dolar bukanlah jumlah yang signifikan bagi wanita itu.
Saat Marry masih tenggelam dalam bingung, seseorang membawa tandu ke depannya. Bersamaan dengan itu, terdengar langkah kaki tergesa-gesa yang menggema ke seluruh ruangan.
__ADS_1