
Perempuan berbaju putih itu mengangguk. "Dia mengalami cedera kepala yang parah, tapi jika kita membawanya ke rumah sakit saat ini juga, kupikir dia masih bisa tertolong. Tapi kalau kita tidak memanggilkan ambulans sekarang ..."
.........................................................
Lalu apa yang kita tunggu?
Luis hendak mengangkat gadis itu. Bagaimanapun juga, waktu adalah kunci keselamatannya. Apa jadinya nanti kalau mereka menunda pertolongan lebih lama? Gadis itu pasti akan tewas.
"Kamu sudah gila?!"
Bahkan sebelum Luis menyentuh gadis itu, si perempuan berbaju putih mendorongnya sambil melanjutkan perkataannya, "Dia dalam kondisi separah ini, dan kamu masih berani mengangkatnya? Kamu bisa masuk penjara kalau kondisinya semakin parah! Biarkan aku memeriksanya dulu."
Dia kemudian berlutut di samping gadis itu dan melanjutkan pemeriksaannya. "Namaku Eli, Eli Yasmin. Siapa namamu?"
"Aku Luis Nardo."
Setelah berkata begitu, Luis mengeluarkan rokok dari sakunya dan menyalakan satu batang, merasa frustrasi.
"Nyalimu besar juga, mau membantu seseorang yang tertabrak. Orang-orang bisa saja menuduhmu sebagai pelakunya."
Tuduhan palsu dalam situasi seperti ini adalah hal yang biasa. Itu sebabnya kebanyakan orang akan memilih untuk mengabaikan hal ini, tapi tentu saja, tetap ada beberapa orang yang akan memanggil ambulans atau polisi.
"Mereka tidak bisa menuduhku. Apa yang akan mereka katakan? Bahwa aku menabraknya sampai separah ini dengan badanku?" Luis mengembuskan asap seiring dengan napasnya.
"Baiklah. Buka bajumu," ujar Eli sambil menatapnya.
__ADS_1
"Apa? Hei, apa sekarang waktu yang tepat untuk hal itu?"
"Aku mau menggunakan jaketmu untuk menghentikan pendarahan gadis ini agar tak meninggal di tempat." Eli memutar mata.
"Aku tidak bilang kalau aku salah paham." Luis tersenyum dan melepas jaketnya.
Jaket itu sama sekali tidak mahal, jadi dia tidak terlalu peduli.
Dengan hati-hati Luis meletakkan jaket itu di atas luka si gadis dan menekannya. Melihat itu, Stella berkata, "Hati-hati. Kita bisa celaka kalau terjadi sesuatu padanya."
Luis mengangguk serius. Kemudian dengan hati-hati dia menggendong gadis itu.
"Ya Tuhan, tolong jangan lakukan ini pada saya. Saya memiliki seorang ibu tua berusia 80 tahun dan seorang bayi untuk dinafkahi. Saya benar-benar tidak bisa ..." Sopir taksi hampir menangis ketika mereka memasuki mobilnya dengan gadis itu.
"Sungguh? Kalian akan melakukannya?"
"Apa? Kamu tidak memercayai kami? Ada kamera pengawas juga, jadi tenanglah." Luis menunjuk ke kamera pengawas tidak jauh dari tempat mereka sekarang. Mereka juga berada di lokasi yang strategis.
Kecelakaan itu terjadi di dekat rumah Luis, jadi dia mengenal betul daerah itu. Kalau tidak, dia bahkan tidak akan punya nyali untuk membantu gadis itu, dan uang tidak bisa menyelesaikan masalah jika si gadis benar-benar tewas.
Di dalam mobil, Eli duduk di kursi belakang dengan gadis itu di pelukannya, memberi tekanan pada luka si gadis dengan tangannya.
Luis baru saja memberikan sebatang rokok kepada sopir taksi. "Tidak apa-apa. Aku sendiri yang akan mendapat masalah paling besar jika terjadi sesuatu, jadi apa yang kamu takutkan?"
Ha-ha-ha ... wow, nyalimu besar juga. Pengemudi itu tertawa, akalnya pulih kembali. Menenangkan diri, dia pun mengemudi ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Luis hendak menyalakan rokok, tapi dia memasukkan rokoknya lagi ke dalam bungkusnya ketika melihat si gadis di kursi belakang. Luis bilang dia tidak khawatir ataupun takut, tapi siapa yang bisa tetap tenang dalam situasi seperti ini?
Namun, yang dia takutkan bukanlah soal mendapat tuduhan palsu dari orang lain. Dia mengkhawatirkan nyawa gadis muda itu.
Sopir taksi melaju secepat mungkin. Dia bahkan menerobos beberapa lampu merah karena lebih baik melakukan itu daripada membiarkan si gadis mati di mobilnya.
Ketika mereka akhirnya sampai di rumah sakit, Luis menggendong gadis itu dan berlari ke ruang gawat darurat untuk mencari dokter.
Tidak ada yang mengetahui nama gadis itu. Gadis itu juga tidak membawa ponsel, jadi tidak ada yang bisa menghubungi keluarganya. Jadi, Luis mau tak mau membayar tagihan medis gadis itu dengan uangnya sendiri.
Kemudian, dia menelepon polisi untuk melaporkan kejadian tabrakan tadi. Tempat kejadian itu bukanlah daerah pedesaan, dan ada kamera pengintai juga. Sadi polisi bisa dengan mudah mencarisi pelaku jika mereka mau.
Keluarga gadis itu perlu dihubungi juga, tapi Luis tidak bisa membantu karena gadis itu tidak memiliki penanda identitas apa pun. Tapi mungkin polisi bisa membantu tentang hal itu.
Gadis itu masih dalam perawatan darurat setelah Luis selesai mengurus semua hal yang perlu dilakukannya. Dia kemudian duduk di lantai, bersandar pada dinding yang dingin dan mengeluarkan rokok dari sakunya. Tapi dia tidak menyalakan rokok karena melihat ada tanda dilarang merokok.
"Ini."
Eli mengembalikan jaket Luis yang berlumuran darah dan berdiri di sampingnya.
"Terima kasih." Luis mengambil jaketnya. Jaketnya sudah berlumuran darah dan tidak bisa dipakai lagi. Tapi dia tetap ingin menyimpannya, karena jaket ini adalah pemberian ibunya saat beliau masih hidup.
"Apa kamu ingin istirahat?" Luis memperhatikan bahwa Stella terlihat sangat lelah dan lanjut berkata, "Rumahku ada di dekat sini. Kamu bisa beristirahat di sana kalau kamu kelelahan. Aku akan menghubungimu kalau gadis itu sudah keluar ruang operasi."
Menara Adipati terletak di dekat rumah sakit ini, dan di sana Luis masih punya rumah yang belum disewakan.
__ADS_1