
Zizi mulai merasa cemas. Kakeknya jatuh sakit, dan menurut Anna, seseorang memiliki sebuah barang yang bisa menyelamatkan nyawanya.
...............................
Anna cemberut dan menunjuk Luis, yang masih meneguk minumannya dengan hati riang sambil bersandar di rak. "Iya. Dia orang yang aku bicarakan."
"Kamu yakin dia orang yang memiliki ginseng berusia ratusan tahun itu?" tanya Zizi, dia masih terkejut dengan perkataan Anna.
Ginseng berusia ratusan tahun adalah komoditas langka dan tak ternilai harganya. Meskipun seseorang memiliki uang untuk membelinya, namun sangatlah sulit untuk menemukannya.
Selain itu, tidak semua ginseng memberikan efek yang sama, sehingga mencari ginseng yang tepat sangatlah sulit.
Anna mengangguk, ekspresi wajahnya tampak serius. "Iya, aku yakin. Dia bahkan berkata bahwa ginseng berusia ratusan tahun itu seperti wortel baginya."
"Benarkah dia berkata begitu?" Zizi memastikan sekali lagi dan saat itu juga dia merasakan sudut bibirnya berkedut.
"Ya ampun! Bagaimana dia bisa mempercayai kata-kata pria itu begitu saja? Aku juga bisa berkeliling dan memberi tahu orang-orang bahwa kami memiliki ginseng berusia 1.000 tahun yang tumbuh seperti rumput liar di halaman rumah, tetapi siapa yang akan mempercayaiku? Aku bahkan tidak akan sanggup mengatakannya'" pikirnya dalam hati.
Anna menyadari bahwa alasannya tidak kuat sehingga dengan cepat ia menjelaskan, "Aku sudah meminta seseorang untuk memeriksanya! Aku yakin dia punya banyak ginseng. Jika tidak, bagaimana mungkin dia akan memberikannya begitu saja kepada orang lain."
"Ha-ha! Itu artinya saya baik hati," ucap Luis dengan ketus. "Apakah Anda pikir semua orang tidak tahu cara berterima kasih? Anda makan dan minum dengan uang saya, tapi ini balasannya?"
"Hei! Maksud Anda apa?" Anna berteriak dan wajahnya tampak memerah.
Kata-kata Luis membuatnya terdengar seolah-olah dia sedang memanfaatkan pria itu, dan itu membuatnya kesal.
"Kapan saya pernah meminta dibelikan makanan?" "Apakah Anda tahu berapa banyak orang yang ingin mengajak saya makan malam? Kenapa saya harus meminta hal seperti itu pada Anda?"
Luis mengerucutkan bibirnya. "Apakah Anda lupa hari di mana saya pergi keluar dengan Vina? Saya ingat ada seseorang yang tidak tahu malu sangat bersikeras untuk ikut."
__ADS_1
"A-anda ..."
"Hmm? Tidak bisa membantah? Saya yakin saya benar-benar tidak ingin mentraktir Anda saat itu," balasnya sambil meraih ponselnya dan mulai bermain game "Aliansi Hero". "Jadi, kapan kalian berdua akan pergi? Saya tidak suka diganggu saat sedang bermain game."
"Tuan Nardo, jika benar Anda memiliki ginseng berusia ratusan tahun, tolong pertimbangkan untuk menjualnya kepada saya. Saya bersedia membayar berapa pun harganya," pinta Zizi.
Dia rela melakukan apa saja untuk kakeknya, bahkan jika itu berarti dia harus tunduk kepada orang lain.
Saat beranjak dewasa, dia jarang bertemu orang tuanya karena kesibukan mereka. Karena itulah, kakeknya yang membesarkannya seorang diri. Tidak peduli seberapa sakitnya beliau, dia tidak bisa, dan tidak akan menelantarkannya.
Luis menyeringai dan melemparkan tatapan usil padanya. "Tapi saya tidak kekurangan uang."
Anna mencondongkan tubuhnya ke arah Zizi dan berbisik, "Benar sekali. Orang ini sangat kaya. Aku bahkan tidak akan terkejut jika dia adalah salah satu orang yang sangat kaya di negeri ini."
Ketika sebelumnya Anna makan dengan Luis, wanita itu telah melihat betapa kayanya dia, hingga bisa membeli restoran Firian terbaik di Malatam tanpa mengedipkan mata.
Zizi menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri meskipun banyak hal yang membebani pikirannya. Bagi sebagian orang, uang tidaklah lebih dari sekumpulan angka. Lagi pula, tidak mungkin menilai ginseng berusia ratusan tahun itu dengan sejumlah angka, Zizi sangat memahaminya.
Mengonsumsi ginseng bisa menyelamatkan hidup seseorang, tapi sayangnya, menyelamatkan keuangan orang itu.
"Kalau begitu, apa yang Anda inginkan, Tuan Nardo? Barang antik? Batu mulia?" dia bertanya dengan sangat muram. "Selama itu sesuai dengan kemampuan saya, saya akan mendapatkannya untuk Anda."
Luis merasakan kesabarannya mulai habis. "Sekali lagi saya tegaskan, apa pun yang bisa Anda dapatkan, saya juga bisa. Jadi, nona-nona, saya pikir kalian harus pergi sekarang. Kehadiran kalian hanya akan mempengaruhi game saya."
Babak kualifikasi dalam game adalah yang paling penting baginya, dan dia tidak akan membiarkan siapa pun mengalihkan perhatiannya dari kemenangan.
"Luis Nardo! Apa sebenarnya yang Anda inginkan?" bentak Anna, dia mulai merasa marah karena Luis tidak menghormatinya.
Dia tidak mengerti mengapa seseorang seperti Luis mengusir Zizi dan dirinya pergi. Mereka tidak kekurangan apa pun dalam hal penampilan dan mereka bahkan sudah mengesampingkan harga diri mereka untuk memohon kepadanya. Mengapa dia masih bersikap dingin?
__ADS_1
"Ayo pergi, Zizi. Jarvis baru saja mendapatkan ginseng liar yang cukup bagus dari Gunung Falkariye. Kita akan terbang ke Manmarnia untuk bertemu dengannya," kata Anna sambil mencoba menarik Zizi agar pergi bersamanya.
"Luis Nardo, sebaiknya Anda jangan terlalu sombong! Dunia tidak akan berhenti berputar tanpa Anda!"
"Saya tidak peduli soal itu, tetapi saya tahu bahwa ginseng dari Gunung Falkariye milik Jarvis kurang bagus untuk digunakan," ungkap Luis.
Anna yang hendak melangkah keluar dari rumah, tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Bagaimana Anda bisa tahu tentang itu?"
"Karena sayalah yang menjual ginseng itu padanya."
Dia melirik Anna dan menyeringai. "Saat itu, saya ingin memberi imbalan kepada Jarvis, pada awalnya saya ingin memberinya sebuah apartemen. Namun, seseorang mengatakan kepada saya bahwa dia lebih suka mengumpulkan barang-barang langka, jadi saya menyiapkan beberapa ginseng sebagai gantinya. Pada akhirnya, dia membeli salah satunya, dan saya memberikan yang lainnya kepada Vina."
Setelah berpikir sejenak, dia menambahkan, "Ginseng yang dia beli seharusnya hanya berusia sedikit di atas 50 tahun. Jadi, ginseng itu tidak akan banyak berguna untuk Anda." Luis mengangkat bahunya.
"Tuan Nardo, tolong, saya butuh bantuan Anda," Zizi memohon. "Anda bisa mendapatkan ginseng berusia ratusan tahun kapan pun Anda mau, tetapi ini adalah masalah hidup dan mati bagi kakek saya. Maukah Anda membantu saya menyelamatkannya? Jika Anda mau memberikan ginsengnya, saya bersedia melakukan apa pun yang Anda minta."
Setelah mendengar hal itu, perhatian Luis langsung tertuju pada Zizi. Dia mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Yah, baiklah ... harus kuakui bahwa dia sangat menggairahkan," pikirnya dalam hati.
Zizi bisa merasakan tatapan Luis yang arogan dan nakal menjelajahi tubuhnya. Dengan refleks, dia mengepalkan tangannya.
"Anda harus datang sendiri malam ini," ucap Luis dan seringai yang memuakkan terukir di bibirnya.
Anna sudah tidak tahan lagi, ia sudah sangat ingin mencabik-cabik pria itu. "Luis Nardo, apa maksudnya?"
"Oh, apakah Anda juga ingin ikut, Nona Carter?" Luis menggodanya. "Kita bertiga bisa menghabiskan malam bersama. Pasti akan sangat menyenangkan."
"Saya akan menghajar Anda!" Anna berteriak dan berusaha menerjangnya, namun Zizi menarik wanita itu tepat pada waktunya.
Zizi menatap mata Luis dan berdehem pelan. "Baiklah, Tuan Nardo. Saya akan mempertimbangkannya."
__ADS_1