
Lia meliriknya sambil berbicara kepada Luis, "Aku masih bisa menawarkan 7,5 juta dolar. Beri aku nomor rekeningmu dan aku akan mengirimkan uangnya kepadamu."
****************
"Manajer Wijaya, kalau terjadi apa-apa, tanpa 7,5 juta dolar itu perusahaan kita akan ..." Claire mengernyitkan dahi.
Sebagai kepala Departemen Akuntansi, Claire sangat sensitif untuk masalah angka, jadi dia tahu persis apa arti 7,5 juta dolar bagi perusahaan. Dulu, tidak sulit untuk menawarkan uang sejumlah itu.
Namun, sekarang adalah saat-saat penting untuk proyek tersebut. Begitu 7,5 juta dolar ini ditarik, kemungkinan akan menyebabkan pemutusan rantai modal nantinya, kemudian akan timbul masalah.
Memikirkan hal ini, Claire menatap Luis dengan sinis.
"Tidak, tidak masalah. Uang 7,5 juta dolar tidak berpengaruh apa-apa." Luis menggelengkan kepala dan terus memandangi ponselnya.
"Lalu, apa rencanamu? Membiarkan Perusahaan Taring Singa bangkrut? Dengan akumulasi asetnya, kalau perusahaan itu bangkrut, kamu mungkin harus membaginya jadi dua." Claire mengernyit.
Sejujurnya, itu bukan kerugian yang besar, tetapi kalau begitu, apa gunanya Luis mengeluarkan 135 juta dolar untuk membeli Perusahaan Taring Singa?
"Perusahaan Taring Singa?" Claire terpaku sesaat. Dia tentu saja tahu Perusahaan Taring Singa, salah satu raksasa siaran langsung teratas di negeri ini.
Namun, dia tidak tahu apa hubungan Perusahaan Taring Singa dengan Luis.
"Apa kita ada hubungannya dengan Perusahaan Taring Singa?" Claire bertanya dengan hati-hati.
"Sebelumnya tidak, tetapi sekarang Luis sudah membeli Perusahaan Taring Singa." Lia menghela napas.
"Kamu membelinya?!" Claire hampir saja melompat. Taring Singa Livestreaming, yang merupakan raksasa di seluruh industri live stream, memiliki pendapatan tahunan setidaknya 15 juta dolar. Sekarang, Lia memberitahunya kalau Luis membeli perusahaan itu. Bagaimana mungkin dia tidak kaget?
Baginya, Luis adalah gigolo yang selalu mengandalkan Lia, tetapi sekarang dia diberi tahu kalau Luis sebenarnya orang penting. Bagaimana ini tak membuatnya terkejut?
"Berapa banyak saham yang kamu beli?" Claire menarik napas dalam-dalam.
"Semuanya."
__ADS_1
Luis mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. Dia tidak merasakan apa-apa mengenai akuisisi Perusahaan Taring Singa. Toh, dia hanya menghabiskan 1.350 dolar, bukan masalah besar kalau uangnya tidak kembali.
"Kalau begitu, aku harus memanggilmu Manajer Luis atau Bos Luis mulai sekarang?" Claire melirik Luis dan menggodanya.
Caranya memandang Luis langsung berubah.
"Jangan, jangan, jangan. Aku bukan siapa-siapa." Luis sontak melambaikan tangannya seolah-olah dia memang bukan siapa-siapa.
"Kamu bercanda, ah. Halo, Bos Luis." Claire tersenyum manis.
"Halo, Menteri Wilde." Luis melambaikan tangannya.
Lia melirik Claire yang tersenyum, lalu berkata sambil mengernyit, "Claire, kamu yang bertanggung jawab atas jadwal proyek perusahaan."
"Baiklah. Tidak masalah."
Claire mengangguk, membalikkan badan, lalu berjalan menuju pintu. Dia bergumam, "Tidak usah bermain rahasia."
"Kamu benar-benar tidak memerlukan uangku?"
"Aku serius, Lia. Aku pasti akan minta bantuanmu kalau memang perlu. Kamu tahu betul kalau aku orang yang tidak takut kehilangan muka." Luis melambaikan tangannya dengan tersenyum.
Dia berpikir, "Aku punya hubungan yang baik dengan Lia, tapi aku tidak mau rantai keuangannya terganggu karena membantuku. Kalau ada apa-apa dengan perusahaan Lia, aku akan merasa bersalah seumur hidup."
"Baiklah, kalau begitu," kata Lia.
Lia berhenti membujuknya. Dia pikir Luis mungkin sudah mendapatkan uangnya. "Menurutku, tidak akan ada yang terjadi dalam waktu dekat, jadi kamu masih bisa bertahan untuk sementara waktu. Tapi, kalau kamu tetap tidak menyuntikkan dana, mungkin akan jadi masalah nantinya."
"Tak usah khawatir. Aku tahu, kok." Luis mengangguk. Sebenarnya, dia tahu apa yang dia lakukan. Bagaimanapun, Luis juga lulusan Universitas Keuangan dan Ekonomi Malatam, serta teman sekelas Lia.
"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Kamu pastinya punya banyak hal yang harus ditangani," kata Luis sambil menunjuk ke pintu. Dia tahu, masih banyak orang yang menunggu Lia di luar.
Lia mengusap kepalanya dan mengangguk pasrah. "Baiklah."
__ADS_1
Lia ingin makan malam dengan Luis. Namun, sekarang sepertinya dia tidak punya waktu untuk itu.
Luis membuka pintu dan berjalan keluar. Lalu, dia mengucapkan beberapa kata kepada Sabina, yang sedang menunggu di pintu. Sabina mengangguk kepadanya, kemudian mempersilakan Sawyer, yang berdiri di samping sambil sedikit terengah-engah, masuk ke kantor.
"Tuan Nardo, Anda ingat saya?" Saat Luis hendak pergi, seseorang tiba-tiba menghampirinya dan mengulurkan tangan ingin menjabat tangannya.
Itu Tomy, suami Larra.
Melihat Tomy mendekat, Luis hanya bisa mengernyitkan dahi. Sebenarnya, dia tidak terlalu menyukai Tomy, dia bahkan merasa jijik dengan Tomy.
Alasannya karena Tomy menikahi Larra. Luis bukanlah orang suci dan mungkin tak akan pernah menjadi orang suci dalam hidupnya karena dia tidak bisa melupakan apa yang telah terjadi dan melepaskannya dengan mudah.
Bagaimanapun juga, hidup bukanlah drama. Luis bukan pria yang bisa cepat pulih dari putus cinta, lalu mendoakan yang terbaik untuk mantan pacar dan sahabat prianya di pernikahan mereka.
Tentu saja, Luis melihat Tomy saat masuk ke kantor Lia tadi. Dia sengaja mengabaikan Tomy. Namun, Luis tak menyangka Tomy akan menghentikannya.
"Tuan Nardo, Anda sepertinya sangat akrab dengan Nona Wijaya," kata Tomy malu.
Melihat Luis tidak berniat untuk menjabat tangannya, Tomy menarik tangannya dengan canggung.
Tomy ingin mengunjungi Lia menggunakan nama Larra, tetapi dia tidak menyangka Lia bersedia bertemu dengannya.
Setelah bertemu Luis di sini, Tomy akhirnya ingat bahwa di reuni teman sekelas, Lia sepertinya paling dekat dengan Luis.
Karena itu, Tomy yakin kalau Luis bisa menyanjungnya di depan Lia, dia mungkin akan berhasil memperoleh kontrak, bahkan mendapat promosi nantinya.
"Bisa dibilang begitu. Anda perlu apa dari saya?" Raut wajah Luis tampak arogan.
Sebenarnya, dia tidak ingin bicara dengan Tomy. Dia bahkan tidak ingin Tomy muncul di hadapannya sama sekali.
"Bolehkah saya bicara dengan Anda di tempat lain, Tuan Nardo?" Tomy menunjuk koridor yang tidak jauh dari situ. Dia ingin bicara dengan Luis di tempat yang lebih sepi.
Biasanya, kalau seseorang bicara kepadanya seperti itu, Tomy sudah pergi dengan marah dari tadi. Namun, dia tidak bisa berbuat seperti itu kepada Luis karena dia masih berharap Luis memujinya di depan Lia.
__ADS_1
Tomy tahu Luis adalah mantan pacar Larra, tetapi dia tidak keberatan sama sekali. Sebenarnya, dia juga tidak keberatan meski Luis berselingkuh dengan Larra. Bagaimanapun juga, dia sangat membutuhkan bantuan Luis sekarang.