
Meskipun dia adalah pakar dalam bidang ini, dia masih berada di rumah sakit orang lain. Karena itu, dia perlu berdiskusi dengan dokter-dokter di sini sebelum mengambil keputusan.
.....................................................
Setelah itu, Jarvis mengajukan beberapa pertanyaan lagi kepada anggota tim yang lain. Dia melihat laporan medis lagi sebelum berkata, "Baiklah. Mari kita ke kantor untuk melanjutkan diskusinya."
Tim dokter pun segera keluar setelah itu.
Vina bersandar ke dinding, kekhawatiran terlihat di matanya.
"Jangan khawatir. Masih ada aku," Luis menghiburnya sedikit sebelum dia meninggalkan bangsal.
"Kalau aku ingin memberi hadiah kepada Tuan Andra, apa hadiah yang bagus?" Luis bertanya pada Lia yang menunggu di luar.
"Apa? Aku sudah membayarnya. Kalau kamu tidak tahu harus menggunakan kelebihan uangmu untuk apa, kamu bisa memberikannya padaku. Perusahaanku tidak akan rugi dengan tambahan investasi," kata Lia.
"Yang penting itu niat. Apa kamu tidak tahu itu?" Luis memutar matanya kepada Lia. "Karena beliau datang jauh-jauh ke sini, aku tidak ingin beliau pergi dengan tangan kosong."
"Bagaimana kalau rumah? Ada di dekat sini. Luasnya sekitar 104 meter persegi. Ada garasinya juga."
"Ada sesuatu yang salah denganmu." Lia menatap Luis dengan pandangan aneh. "Aku merasa kamu diam-diam mencoba mendorongnya ke dalam rencanamu. Lagi pula, dia itu dokter spesialis terkenal di dunia. Kurasa dia tidak kekurangan uang ataupun properti. Kalau kamu mau membelikan rumah untuknya, itu hanya akan menjadi rumah cadangan. Kamu harus mencarikan sesuatu yang lebih langka dan lebih berharga daripada itu."
"Oh."
Luis mengangguk. la berlari menuju kamar kecil dan mengeluarkan ponsel. Dia membuka aplikasi Shopazon dan mencari ginseng.
"Benda apa yang langka dan berharga?" Luis bertanya-tanya.
Dia berpikir, karena Jarvis adalah seorang dokter, dia akan menghargai hal seperti itu.
"Ginseng berusia ratusan tahun ... Beli satu gratis dua... Kalau aku membeli ini, aku juga akan mendapat ginseng liar berusia 50 tahun dan liontin giok gratis ... Semua ini hanya seharga 45 dolar ..." Dia membaca dalam diam. "Kelihatannya seperti iklan di televisi...
Semakin jauh dia membaca, Luis mengakui bahwa keterangan akan barang itu sedikit berlebihan. Meskipun begitu, dia yakin bahwa ini adalah barang asli.
__ADS_1
Dengan cepat dia melakukan pembayaran.
Seberkas cahaya biru berkilat, dan tiba-tiba sebuah kotak muncul di tangan Luis. Dia membuka kotak itu dan menemukan dua akar ginseng. Kedua ginseng itu berbeda ukurannya. Terlihat jelas mana yang berusia ratusan tahun dan mana yang berusia 50 tahun.
Tepat di sebelahnya tergelatak liontin batu giok mengkilap. Wow. Justru ginsengnya yang kelihatan seperti hadiah gratis ... Luis tertawa ringan. Liontin giok ini mungkin bisa menghasilkan cukup uang untuk membeli lebih banyak ginseng.
"Apa Tuan Andra masih ada?" Luis bertanya ketika dia akhirnya menemui Lua.
"Ada apa? Apa kamu serius tentang hadiah itu? Kepalamu baru saja terbentur, atau apa?"
"Astaga! Ayolah. Katakan saja dia ada di mana."
"Oke, oke. Ikuti aku."
Lia menghela napas pasrah seraya memberi isyarat agar Luis mengikutinya.
Mereka pun tiba di kantor sementara yang disediakan untuk Jarvis. Jarvis sedang menulis di kertas sambil sesekali membalik-balik laporan.
"Tuan Andra, ini temanku, Luis."
Lia memperkenalkan mereka. "Luis, ini Jarvis, yang biasa dipanggil Tuan Andra."
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Andra." Luis memasang senyum.
"Senang bertemu dengan Anda juga."
Jarvis mengamati Luis sekilas, tapi dia tidak terlalu terkesan.
Seseorang bisa dinilai hanya dari cara mereka berpakaian. Kalau Luis bukan teman Lia, Jarvis bahkan tidak akan memperhatikannya.
"Tuan Andra, ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan kepada Anda."
Sambil berkata begitu, Luis meletakkan kotak hadiah di atas meja.
__ADS_1
Jarvis mengerutkan dahinya. Tapi tetap saja, demi Lia, dia pun membuka kotak itu. "Coba saya lihat apa isinya ..."
Seketika itu juga, dia lupa apa yang ingin dikatakannya begitu menyadari apa yang ada di dalam kotak. Dia langsung bangkit dari tempat duduknya.
Jarvis mengangkat kotak itu dari meja dan melihat barang-barang di dalamnya.
Detik demi detik berlalu. Jarvis terus saja menatap barang-barang di dalam kotak.
"Tuan Andra, apa Anda baik-baik saja?" Luis bertanya ragu.
"Kerasukan apa dia?" Tanya Luis dalam hati.
"Dari mana Anda mendapatkan ini?" Suara Jarvis agak bergetar saat dia berbicara. "Ini adalah ginseng premium dari Gunung Falkariye. Yang kecil ini sekarang pasti sudah berumur lebih dari lima puluh tahun. Saya belum pernah melihat ginseng dengan kualitas seperti ini."
"Tuan Andra, saya bisa menjual ginseng ini kepada Anda," kata Luis.
"Menjualnya kepada saya?"
Sejenak Ryan mengalihkan pandangan dari penemuan yang luar biasa itu. "Berapa harganya?" dia bertanya.
"45 dolar," begitu jawab Luis.
"Apa kata Anda?" Jarvis berseru dengan suara pecah.
"Sejujurnya, tidak akan ada yang bisa membeli ginseng berusia 50 tahun dengan harga 45 dolar."
Jarvis langsung memahami situasinya. "Maksud Anda, ini hadiah?"
"Saya ingin menjualnya pada Anda." Luis menyeringai. "Saya tidak yakin apa ginseng-ginseng ini sungguhan. Saya ingin menjualnya seharga 45 dolar. Walaupun Anda pikir saya menderita kerugian, saya tidak keberatan.
"Ha-ha!"
Jarvis tertawa sambil meletakkan kotak itu di atas meja. "Saya mendengar dari Lia bahwa keadaan finansial keluarga pasien sedang tidak baik. Sedari tadi saya memikirkan cara untuk mengurangi tagihan medisnya. Tapi kalau dilihat sekarang, sepertinya saya tidak perlu repot-repot."
__ADS_1