
"Nona? Siapa yang kau panggil nona?" pekik wanita itu ketika dia melihat Porsche Lula. Lalu, dia menambahkan, "Bagaimana kau mau bertanggung jawab soal ini?"
..........................
"Anda ingin saya melakukan apa?" Lula menghela nafas, karena dia tahu biaya perbaikan sebuah Porsche akan menghabiskan uangnya.
Warren Watson melirik Lula dan berkata, "Kau harus bertanggung jawab penuh. Ada urusan yang lebih penting untuk kukerjakan, jadi aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu. Kau bisa membayarku 30.000 dolar, atau memberiku mobil baru sebagai ganti rugi."
"Itu namanya perampokan! Bagaimana bisa jadi 30.000 dolar? Mobil kami hanya menyenggol pelan mobil Anda."
Ekspresi Silvi berubah drastis ketika mendengar ucapan Warren, karena 30.000 dolar bukanlah jumlah yang terjangkau untuk orang seperti mereka.
Di samping itu, walau Lula yang mengemudi, kecelakaan itu tidak akan terjadi seandainya Silvi tidak memeluk lengannya.
Dampak tabrakannya pada Porsche itu tidak begitu parah. Hanya ada penyok kecil, dan sedikit cat yang terkelupas.
"Wanita tua, kau tahu mobil apa ini?" ejek Warren sambil menunjuk ke mobilnya. "Ini adalah Porsche 911 kelas atas! Bahkan jika aku mau memperbaikinya, aku tidak bisa melakukannya di sini! Menurutmu meminta 30.000 dolar itu berlebihan?"
"Tapi 30.000 dolar memang bukan jumlah yang kecil. Bisakah Anda mempertimbangkannya lagi?" Lula tahu harga yang diminta sebenarnya bisa dianggap murah untuk mobil sebagus itu. Tetap saja, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengertakkan giginya.
"Kenapa? Kau tidak bisa membayarnya? Baiklah kalau begitu." Warren mengeluarkan ponselnya dengan maksud untuk menelepon polisi karena mereka tidak bisa menyelesaikan masalah ini secara pribadi. "Tunggu saja. Saat polisi datang dan mengevaluasi, harganya akan lebih dari 30.000 dolar!"
Dua orang muncul dari trotoar tepat saat Warren hendak menelepon.
"Ada apa? Apakah kamu menabrak belakang mobilnya?" Luis memperhatikan tempat tabrakannya, dan tatapannya mendarat pada Porsche itu. "Hanya orang kaya yang mengendarai mobil ini. Jarang ada mobil ini di Malatam," pikirnya.
"Lula hanya sedikit ceroboh saat mengemudi tadi, dan dia tidak sengaja ..." Silvi mendekati Luis sambil menjelaskan.
Silvi tidak tahu latar belakang Luis, tetapi dia tahu bahwa pria itu kaya. Biaya ganti rugi sebesar 30.000 dolar mungkin merupakan jumlah yang sangat besar untuk Lula dan dirinya, tapi itu hanya masalah kecil untuk Luis.
"Silvi!" Ekspresi Lula menjadi suram mendengar Silvi menuduhnya ceroboh.
"Tabrakan ini tidak akan terjadi kalau tadi Silvi tidak memeluk lenganku!" Lula menggerutu dalam hati.
Silvi buru-buru melanjutkan karena tidak ingin membiarkan Lula menjelaskan, "Lula pasti kelelahan setelah mengunjungi pameran mobil dari pagi. Saya yang salah. Tidak semestinya saya memintanya menemani saya begitu lama."
__ADS_1
"Yah, kelihatannya Lula benar-benar lelah." Luis tertawa kecil. Meskipun kehidupannya biasa saja, dia tetap terampil membaca suasana.
Tin!
Dua mobil sport lain berhenti di dekat mereka, dan dua lelaki muda berpakaian mahal keluar dari mobil dengan wajah tidak ramah.
Salah satu dari mereka bersiap-siap untuk mengambil senjata dari bagasi, tetapi dihentikan oleh yang lainnya.
"Ada masalah apa, Nona Watson?" tanya salah satu dari mereka sambil berjalan menghampiri Warren.
"Persis seperti yang terlihat,” jawab Warren sambil merentangkan tangannya tak peduli.
Sebenarnya, 30.000 dolar bukan apa-apa bagi Warren, tetapi dia tidak sudi membiarkan masalah ini lewat begitu saja.
"Kenapa? Kalian tak mau bertanggung jawab atas tindakan kalian?" Pemuda berponi itu mencibir sambil menatap Luis dan yang lainnya.
Lula buru-buru melambaikan tangannya dan menjawab, "Tidak, kami tidak bilang begitu. Kami hanya butuh sedikit waktu."
"Hentikan omong kosongmu. Jika kau mau membayar, lakukan sekarang. Kalau tidak, kami akan memanggil polisi," ujar Warren tidak sabar.
"Kami pasti akan membayar ..." kata Luis.
"Urus saja urusanmu sendiri! Kau tidak punya hak untuk bicara!" Sebelum Luis selesai berbicara, Davis Shaw, pria yang tadi ingin mengeluarkan senjata dari bagasi, menyela ucapannya dan mencoba meraih kerah Luis.
"Tidak baik berbicara menggunakan tinjumu." Luis mengerutkan kening saat dia mencengkeram pergelangan tangan orang itu.
"K-kau!" Mata Davis terbelalak kaget.
Meskipun tidak terlatih secara profesional, dia memiliki pengalaman berkelahi saat masih sekolah. Suka atau tidak, dia memiliki sedikit kemampuan bertarung dalam dirinya.
Tapi pada saat itu, dia merasa seolah-olah pergelangan tangannya melekat di tangan Luis. Tak peduli sekeras apa dia mencoba, dia tidak bisa melepaskan tangannya.
"Bocah, jangan terlalu emosi. Tidak baik untuk tubuhmu." Luis tersenyum sembari mendorong Davis ke samping. "Anggap dirimu beruntung karena akulah yang kau temui hari ini. Kalau tidak, aku khawatir kau akan kehilangan satu tangan."
"Hebat juga kau."
__ADS_1
Warren menatap Luis penuh minat dan bertanya, "Apa kau seorang petarung?"
Luis mengangkat bahu. "Tidak juga, tapi kemampuan bertarungku seharusnya lebih dari cukup untuk menghadapi begundal kecil seperti dia."
Wajah Davis menjadi kelam. "K-kau!"
Tepat saat dia hendak menyerang Luis, Warren menghardiknya, "Kembali ke sini!"
"Nona Watson, bajingan ini ..." Mata Davis dipenuhi amarah.
Tak seorang pun berani berbicara seperti itu pada Davis sebelumnya.
"Kenapa? Kau tidak mau mematuhi perintahku?" Warren berkata dengan dingin.
"T-tidak. Jelas tidak." Davis buru-buru melambaikan tangannya.
Mereka sama-sama muda dan kaya, tapi jelas status Davis tidak sebanding dengan Warren.
"Menarik. Kau tidak keberatan menunjukkan kemampuanmu, 'kan?" Warren tersenyum saat bertanya pada Luis.
"Katakan saja harga yang Anda inginkan." Luis mengerutkan kening karena tak tahan berurusan lebih lama dengan Warren.
Tiba-tiba, sebuah Ferrari merah berhenti tak jauh dari mereka, dan seorang pria keluar membawa tongkat di tangannya. Setelah menghampiri Warren, dia bertanya dengan khawatir, "Warren, kamu tak apa-apa?"
Pria muda yang mengenakan Armani dari ujung kepala hingga ujung kaki itu memasang ekspresi serius di wajahnya. Dengan tongkat di tangan, dia terlihat mengintimidasi.
"Samuel, akhirnya kamu datang." Davis berlari menghampiri Samuel dengan gembira dan menceritakan apa yang telah terjadi.
Meskipun Davis juga lahir dalam keluarga kaya, dia hanya anak ingusan jika dibandingkan dengan Samuel.
"Astaga! Aku tidak pernah mengira akan ada orang di Malatam yang berani bertindak kurang ajar begitu. Jangan khawatir, Warren. Aku akan mengurus orang ini!" Samuel Wijaya tertawa lepas dan mengayunkan tongkatnya di udara.
"Luis ..." Lisandra menatap Luis dengan cemas. Orang-orang di hadapannya ini sama sekali tidak terlihat bersahabat.
"Kami akan bayar, oke?" Lula buru-buru berkata.
__ADS_1
"Ha! Sudah terlambat sekarang!"