
Mungkin seseorang akan selalu terlihat menarik kalau mereka kaya-raya. Bahkan walaupun mereka menggerogoti buah sambil berlari, mereka akan tetap menarik kalau saku mereka dipenuhi uang.
............................................
Langit sudah berubah gelap setelah mereka selesai makan.
"Jadi, bagaimana perasaanmu?" Lia mendadak bertanya saat dia mengantar Luis pulang.
"Hah? Maksudmu menjadi direktur Industri Hennerik?" Tanya Luis bingung.
"Bukan, bodoh. Maksudku terhadap Larra Rosse." Lia memutar mata dan berkata dengan jengkel.
"Oh, dia. Aku tidak merasa apa-apa." Luis mengangkat bahu.
"Kamu tidak merasakan apa-apa setelah pamer hari ini? Apa kamu tidak merasakan manisnya balas dendam?" Lia menatapnya dengan serius.
"Kenapa aku harus merasa seperti itu? Sejujurnya, menurutku dia tidak melakukan kesalahan. Dia hanya menjaga dirinya sendiri dan masa depannya." Luis menghela napas dan menatap pemandangan melalui jendela mobil.
"Aku tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan, dan dia tidak menginginkan apa yang aku berikan. Jadi meninggalkanku adalah pilihan yang jelas untuknya, dan aku tidak membencinya karena itu.
Terkadang, cinta hanyalah hal yang lemah dan menyedihkan di hadapan realitas.
"Wah, kamu itu murah hati, ya?" Lia menggelengkan kepala. Terkadang dia masih tidak bisa memahami Luis, atau mungkin dia memang tidak pernah memahami pria ini sejak awal, bahkan sejak mereka pertama kali bertemu.
__ADS_1
Setelah mengantarkan Luis, Lia langsung pulang ke rumahnya sendiri. Luis baru saja kembali dari luar negeri, jadi dia masih perlu membereskan barang-barangnya. Kalau bukan karena persahabatan karib mereka, Lia bahkan tidak akan repot-repot membantunya hari ini.
Begitu Luis sampai di rumah, dia beristirahat sejenak sebelum keluar lagi. Lalu dia duduk di pinggir jalan dan mulai merokok. Rokoknya ini bukan rokok berkualitas tinggi, hanya yang murah. Tapi kenikmatannya sungguh tidak tertandingi.
Dia bukan pecandu rokok ataupun alkohol, walau dulu ayahnya adalah pecandu keduanya. Tidak hanya itu, dia juga tidak mewarisi kebiasaan-kebiasaan ayahnya. Ya, dia bisa minum-minum dan merokok, tapi dia jarang melakukannya.
Itu karena ayah Luis selalu mabuk-mabukan saat Luis masih kecil. Dan kalau ayahnya itu mabuk, dia akan meneriaki almarhumah ibu Luis sampai ibunya menangis. Mungkin itulah sebabnya Luis tidak pernah memiliki kesan yang baik soal minum alkohol.
Tadi di mobil, dia berkata pada Lia bahwa dia tidak merasakan apa-apa setelah mengambil tindakan. Tapi bagaimana mungkin dia tidak merasakan apa-apa, padahal Larra dan dirinya sudah bersama begitu lama.
Pada akhirnya, Larra menikahi seorang pria yang dua kali lebih tua darinya, pria yang bisa saja menjadi ayahnya. Tentu saja Luis merasa frustrasi.
Mendadak terdengar suara klakson mobil, dan detik berikutnya, mobil itu melesat melewati Luis, nyaris saja menabraknya. Luis memandangi BMW itu sambil mengutuk dalam hati, "Apa-apaan? Apa orang itu tidak sabar ingin bertemu malaikat maut?"
"Oh tidak! Celaka!"
Luis seketika melompat, menjejalkan bungkus rokok ke dalam saku dan berlari ke lokasi tabrakan itu. Tapi sebelum dia sampai di sana, Luis melihat si pengemudi BMW sudah menyalakan mesin mobilnya lagi. Sepertinya orang itu bersiap metarikan diri.
"Apa-apaan kau? Kau gila, ya?! Kalau gadis ini sampai mati, aku bersumpah akan kucari dan kubunuh kau!" Luis meraung.
Si pemilik mobil seolah-olah tidak mendengar perkataan Luis, karena setelah itu mereka menyalakan mesin mobil dan melesat lenyap dari pandangan.
Jarak dari tempat Luis ke tempat kejadian tidak terlalu jauh, dengan mudah siapa pun bisa sampai di sana dalam sekejap. Tapi makhluk pemalas seperti Luis sudah terengah-engah, nyaris tak mampu bernapas.
__ADS_1
Tanpa terpikir untuk beristirahat dulu, dia langsung berlari ke arah gadis itu. Dari penampilannya, gadis itu tampaknya masih muda, bahkan mungkin belum masuk pubertas.
Darah mengalir deras dari kepalanya dan dia sudah tak sadarkan diri.
"Oh tidak, ini buruk sekali."
Luis menempatkan satu jari di bawah hidung gadis itu dan menyadari bahwa ia masih bernapas, tapi dia tidak berani membantu karena tak punya pengalaman melakukan pertolongan pertama. Kalau sampai terjadi sesuatu saat dia mencoba menolong gadis itu, dia akan dihantui rasa bersalah seumur hidupnya.
Tepat ketika dia akan menelepon ambulans, sebuah taksi tiba-tiba berhenti di pinggir jalan, dan keluarlah seorang perempuan yang mengenakan blus putih dan celana jeans.
Perempuan itu sepertinya tahu metode pertolongan pertama saat dia memeriksa sebentar kondisi si pasien.
"Apakah kamu yang menabraknya?" perempuan itu bertanya sambil lalu.
"Memangnya aku ini apa? Tank? Bagaimana mungkin dia sampai terpental hanya karena aku berlari menabraknya?" Luis menyanggah.
Hal-hal seperti itu hanya bisa terjadi di film, dan Luis, sebagai yang termalas di antara semua makhluk pemalas, tidak akan mungkin bisa melakukan itu.
"Begitu, ya." Perempuan itu mengangguk. Dia hanya bertanya karena penasaran.
"Jadi? Apa gadis ini bisa diselamatkan?" Luis bertanya sambil berjongkok.
Dia tahu gadis itu masih bernapas, tapi dia tidak yakin apakah gadis itu masih bisa diselamatkan atau tidak.
__ADS_1
Perempuan berbaju putih itu mengangguk. "Dia mengalami cedera kepala yang parah, tapi jika kita membawanya ke rumah sakit saat ini juga, kupikir dia masih bisa tertolong. Tapi kalau kita tidak memanggilkan ambulans sekarang ..."