Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
Kamu Terlalu Banyak Minum


__ADS_3

Marry tersenyum masam saat matanya mulai memerah. "Aku memiliki hutang yang sangat besar."


....................................................


Bagi beberapa orang, lebih dari 30 ribu dolar mungkin dianggap jumlah yang kecil, tetapi bagi yang lainnya, jumlah itu cukup besar untuk meruntuhkan semangat seseorang sampai hancur berkeping-keping.


Bagi Luis, kalau dia tidak menemukan Shopazon, dia harus menjual rumahnya untuk membayar tagihan sebesar 30 ribu dolar.


Tinggal di Malatam bisa berarti kamu menghasilkan lebih banyak uang dari umumnya, tapi biaya hidup juga jauh lebih tinggi. Jumlah sebesar 30 ribu dolar akan menyusahkan sebagian besar orang.


Kalau Marry rela mengorbankan semua yang ia miliki, mendapatkan 30 ribu dolar dalam waktu satu bulan jelas tidak akan menjadi masalah besar. Tapi dia bukan tipe wanita seperti itu.


"Aku tidak mengira kamu akan mengerti." Marry menggelengkan kepala dan berniat pergi dengan kotak bir yang baru dibelinya.


"Apa kamu perlu aku temani?" Luis berdiri sambil bertanya, "Minum sendirian itu tidak ada artinya."


Marry berbalik dan memberi senyum menawan pada Luis. "Sekarang si cantik itu tidak ada, apa kamu ingin bersenang-senang denganku?"


Si cantik yang dimaksud Marry adalah Lula.


"Yah, kita bisa bersenang-senang. Tapi harga yang kuminta adalah 30 ribu dolar." Marry menatap mata Luis.


Dia mengambil inisiatif dengan menjilat bibirnya. Matanya yang besar dan memikat menyorot penuh makna. "Kamu akan mendapat pengalaman yang menyenangkan denganku."


"Aku hanya butuh teman minum." Luis geli mendengarnya.


Matanya menatap mata Marry dengan lekat, tanpa ada tanda akan mundur. "Aku punya wine yang enak di tokoku. Sepertinya keinginanmu akan cocok dengan wine-ku." "Maafkan aku," kata Marry malu-malu.


"Tak masalah. Lagi pula aku butuh teman minum.


Luis balas tersenyum. Dia kemudian naik ke atas unt mengambil satu tong wine.

__ADS_1


Wine ini dibuat oleh ayah Luis ketika beliau masih hidup. Wine ini sama sekali tidak mahal.


Tapi meskipun tidak mahal, wine ini sangat berharga bagi Luis. Kalaupun wine ini dijual, harganya mungkin tidak akan mencapai 150 dolar untuk satu barel.


Harga anggur wine premium Domaine Leroy di Shopazon bisa mencapai 150 dolar. Tapi di mata Luis, sebotol anggur buatan ayahnya lebih berharga daripada itu.


Dalam sekejap mata, beragam jenis makanan disajikan dalam porsi besar di atas meja. Ada kacang, sayap ayam, mi, dan makanan instan lainnya yang bisa didapatkan di supermarket.


"Ayo, cobalah."


Luis mengangkat tong anggur. Dia menuangkan satu gelas untuk Marry dan satu gelas untuk dirinya sendiri.


Apa... wine apa ini? Marry menatap larutan kuning keruh itu dengan bingung. Dia belum pernah melihat minuman seperti ini sebelumnya.


"Mungkinkah ini anggur kelas atas?" dia bertanya-tanya.


Marry jadi segan meneguk wine itu setelah melihat airnya yang keruh.


Luis sangat senang karenanya. Dia memegangi gelas dan menyesap wine-nya.


Perlahan, Marry ikut menyesap wine-nya sendiri setelah menyaksikan Luis meminumnya. Begitu wine itu menyentuh lidahnya, ekspresi wajahnya berubah dalam sekejap. Dia segera meludah dan berkomentar, "Pahit."


"Bagiku, rasanya enak."


Luis merasa puas dengan dirinya sendiri lalu meneguk wine yang tersisa.


Meskipun dia tidak sering minum alkohol, bukan berarti dia tidak bisa minum sama sekali. Memiliki ayah seorang pemabuk mungkin menyebabkan dia menjadi peminum yang jauh lebih baik daripada yang lain.


Tapi Luis bukan penggemar rasa pedas dari wine itu. Jadi setelah orang tuanya meninggal, meminum wine yang diseduh oleh ayahnya menjadi sebuah kebiasaan untuk mengingat mereka. Seiring waktu berlalu, itu menjadi bagian dari gaya hidupnya.


"Ayahku membuat wine ini sendiri," Luis tersenyum. "Itu untuk menjamu tamu di pernikahanku, tapi mereka..."

__ADS_1


"Orang tuamu..."


"Mereka mengalami kecelakaan dan tak lagi ada di dunia ini."


"Aku turut berduka cita ..." Marry terdiam dan tidak tahu harus berkata apa.


"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan ini. Omong-omong, itu terjadi beberapa tahun yang Lalu." Luis tersenyum dan menyesap minumannya lagi.


Saat Luis meminum wine-nya, Marry mengikuti. Meskipun wine-nya pahit, tapi setelahnya terasa manis.


"Jadi apa rencanamu?" Luis menyesap lagi dan memusatkan pandangannya pada Marry. Uang 30.000 dolar bukanlah jumlah yang sedikit.


Bahkan untuk seseorang secakap Lula yang merupakan profesional dalam bidangnya, dia akan membutuhkan setengah tahun untuk mengumpulkan uang sejumlah 30.000 dolar. Selain itu, uang sebanyak itu juga akan bisa didapat setelah melakukan penghematan yang ekstrem.


Solusi apa lagi yang kumiliki? Aku hanya bisa menggunakan tubuhku sebagai alat untuk mengumpulkan uang."


Marry sudah minum alkohol sebelum dia datang. Dia hampir saja siuman, tetapi setelah beberapa gelas wine, kepalanya mulai pusing lagi.


"Marry meminum segelas wine lagi dan berkomentar, Aku orang yang praktis. Selama ada uang yang terlibat, aku siap melakukan apa Saja. Mari kita bersenang-senang?"


Marry menatap Luis dengan gairah. Matanya tajam seperti succubus yang memikat. Jika kamu mau, aku bisa melakukannya secara gratis.


"Kamu terlalu banyak minum." Luis tidak memedulikan godaan Marry dan tersenyum.


"Apakah aku hanya lelucon di matamu?"


Marry tertawa terbahak-bahak. Tapi setelah dia menghabiskan beberapa waktu untuk tertawa, air mata mengalir di pipinya. "Bagaimana mungkin orang kaya sepertimu memahami rasa sakitku?"


"Biarkan aku bercerita."


Luis menuangkan segelas untuk dirinya sendiri dan meneguknya. "Dulu aku punya pacar. Dia bersamaku selama empat tahun di universitas dan satu tahun di tempat kerja. Aku tidak punya banyak uang saat itu, tetapi dia terus menemani dan mendukungku. Aku sangat mencintainya. Jika aku hanya punya uang 15 dolar, aku akan dengan senang hati memberikan semua untuknya. Tapi suatu pagi, dia meneleponku jam 3 pagi dan meminta untuk menemuiku di lantai bawah. Dia turun dari BMW yang mewah dan mengenalkan pacar barunya padaku. Dia mengumumkan bahwa hubungan kami telah berakhir dan dia pergi, bahagia dengan pilihannya. Hatiku hancur berkeping-keping saat itu. Rasa sakit yang aku alami adalah sesuatu yang kurasa tidak akan pernah kamu mengerti."

__ADS_1


__ADS_2