
Di warung ini, sepiring kecil udang karang yang dijual seharga lebih dari 20 dolar saja bisa menghasilkan banyak uang.
"Duduklah," kata Luis pada Marry, sambil menunjuk bangku di depannya.
....................
Marry melirik bangku yang berlumuran minyak. Dia terpikir untuk mengelapnya dengan serbet. Namun, pada akhirnya, dia duduk tanpa melakukan apa-apa.
"Kamu sangat berbeda dari para elite yang pernah kutemui," ujar Marry jujur.
"Oh, bagaimana bisa?" Luis tergelak. "Aku tidak cukup kaya?"
Di masa lalu, sebagai orang miskin, dia tahu Apple itu mahal. Dia juga tahu merek mewah seperti Gucci dan Louis Vuitton. Dia naik Maserati beberapa kali, tapi tidak terlalu menyukainya.
Sekarang dia sangat kaya, tetapi tidak banyak yang berubah dari gaya hidupnya yang dulu.
Dengan kekayaan bersihnya yang sekarang, dia bisa pergi ke mall mana pun dan menghabiskan banyak uang. Dia bisa membeli mobil bermerek, tinggal di villa mewah, dan bahkan memacari model muda yang cantik, tetapi dia tidak melakukan itu semua.
Dia hanya ingin bermalas-malasan. Tampaknya ia jauh lebih tertarik untuk bermain game, tidur, dan makan sepanjang hari.
Marry tersenyum, tetapi tidak banyak bicara. Kendati tidak tahu banyak tentang latar belakang Luis, Marry tahu dia sangat kaya. Setidaknya lelaki itu tidak sebanding dengan orang kaya lokal yang dia kenal.
"Marry, kamu di sini juga?" terdengar suara seseorang terkejut.
Seorang pria dan wanita muncul dari tepi jalan.
Pria itu berpakaian santai, dia tinggi dan tampan. Sedangkan wanita itu berpakaian biasa. Dia tidak terlalu cantik, tetapi dia punya aura gadis menawan. Saat melihatnya sekali, orang pasti akan menoleh lagi.
"Angie?"
Marry bangkit keheranan. Angie Moran adalah teman yang datang ke Malatam bersamanya. Namun, mereka hilang kontak saat mulai menjalani hidup mereka masing-masing. Meski demikian, mereka masih merasa akrab saat dipertemukan kembali seperti sekarang.
"Ini kamu sungguhan."
Angie tersenyum dan menunjuk pria di sampingnya.
"Kenalkan, pacarku, Aldo Sanjaya."
"Senang bertemu denganmu, Aldo."
Marry mengulurkan tangan dan menjabat Aldo. Dia menunjuk Luis dan berujar, "Kenalkan, temanku, Luis Nardo."
"Teman? Pasti dia bukan sekadar teman. Dia pacarmu, 'kan?" Angie menggodanya.
__ADS_1
"Tidak, tidak. Dia cuma teman biasa." Marry melambaikan tangan pada Angie dan berkata, "Maukah kalian bergabung dengan kami?"
"Aku khawatir tidak bisa dapat meja di sini. Apa tidak masalah?" Angie memandang Aldo dan bertanya padanya.
"Kalau begitu, ayo kita duduk di sini." Aldo mengangguk dan berkata kepada pelayan, "Tolong antarkan makanan kami ke sini."
"Baik."
Pelayan itu tidak keberatan. Selain itu, dengan mereka berbagi meja artinya akan ada meja kosong yang tersedia untuk calon pelanggan lain. Dia tidak akan rugi apa pun.
Satai daging dan bir segera disajikan. Mereka bahkan mendapatkan semangkuk udang karang gratis yang terlihat lumayan menggugah selera.
"Bukankah aku sudah pernah bilang satai daging di sini enak? Aku tidak bohong," ujar Aldo kepada Angie sambil melahap satai daging domba.
"Ini enak sekali. Ini pertama kalinya aku makan satai daging yang sangat lezat." Angie mengangguk setuju sambil menyuapi mulutnya dengan makanan.
"Warung ini sudah buka selama sepuluh tahun. Mereka benar-benar hebat dalam memasak makanan enak,"
Luis setuju dengan sepenuh hati.
Tidak mudah bagi sebuah restoran untuk bertahan selama satu dekade. Mereka pasti punya sesuatu yang istimewa. Kalau tidak, mereka pasti sudah tutup dari awal.
"Luis, apa kamu sering datang ke sini?" Aldo memandangi Luis. Dia tidak pernah menduga Luis akan sangat terbiasa dengan hal-hal di sini.
"Oh, jadi kamu juga dari Malatam." Aldo merasa agak heran. "Mengapa aku tidak pernah melihatnya sebelumnya?" batinnya.
"Luis, kamu pria yang beruntung karena berhasil mendapatkan Marry. Kamu tahu tidak, berapa banyak pria yang mengejar Marry? Sampai-sampai aku tidak bisa menghitung berapa banyak yang sudah dia tolak," kata Angie sambil tersenyum.
Seketika Marry menghentikannya. "Angie, apa yang kamu bicarakan? Kami ini hanya teman."
"Benar, hanya teman. Kamu akan jadi lebih dari sekadar teman setelah lebih sering jalan bersama. Bahkan mungkin teman tapi mesra?" Angie tidak bisa menahan gelak tawanya.
Wajah Marry memerah, tapi tidak tahu bagaimana harus membalas. Hubungannya dengan Luis tidak ada kemajuan. Tetap saja, dia merasa sangat malu saat Angie membicarakannya.
"Kami ini benar-benar hanya teman. Aku ini masih perjaka selama bertahun-tahun," Luis langsung mengklarifikasi karena merasa Angie menodai reputasinya dengan omongan seperti itu.
Dia tidak akan mengatakan sepatah kata pun jika benar-benar ada sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Marry, tetapi kenyataannya tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kamu masih perjaka?"
Angie tersenyum manis dan menambahkan, "Memangnya kamu ini orang kasim?"
"Hei, Angie. Perhatikan ucapanmu." Raut wajah Aldo berubah. Bagaimanapun, Angie adalah pacarnya.
__ADS_1
Aldo lumayan senang saat Angie bercanda seperti itu dengannya, tetapi cukup dengannya saja. Dia tidak terima jika Angie bercanda dengan pria lain seperti itu.
Aldo mulai merasa cemburu.
"Iya,iya." Angie tergelak. "Marry, bagaimana kemampuannya di kamar? Apa dia ahli di ranjang?"
Luis bingung. "Wanita ini aneh sekali. Aku tidak masalah dengan obrolan mesum. Tapi sekarang ada pacarnya di sampingnya. Akan jadi masalah kalau aku mengatakan sesuatu yang tidak pantas. Segalanya akan jadi buruk jika terjadi perkelahian," batinnya.
"Angie, aku ini lelaki yang polos." Luis mengangkat tangan tanda menyerah.
Semuanya akan kacau jika Angie terus memaksakan topik itu.
"Kami benar-benar tidak melakukan apa-apa. Aku bersumpah ... kami ini hanya teman." Marry mengibaskan tangan sambil menatap Luis. Jelas sekali dia ingin Luis membantunya.
Namun, Luis tidak berniat menjelaskan apa pun lebih lanjut. Dia mengambil setusuk satai daging dan menikmatinya.
"Jangan bohong. Bahkan tidak ada sedikit pun godaan setelah jalan bersama begitu lama?" Angie terus memaksa.
"Aku sudah selesai." Marry melemparkan tusuk satai ke atas meja dan menenggak birnya. "Luis, kamu sudah selesai?"
Akan menjadi lebih aneh kalau obrolannya diteruskan.
"Aku akan mengambil tagihannya." Luis mengangguk dan berdiri. Tidak mungkin mereka bisa duduk lebih lama lagi dengan mereka.
Lagi pula, makanannya tidak mahal. Totalnya hanya 75 dolar, jauh lebih murah dibanding sebotol wine di restoran kelas atas.
"Aku tidak percaya Marry punya pacar seperti itu. Hidupnya tidak akan mudah." Angie menghela napas saat melihat Marry pergi.
Bahkan Aldo pun setuju. Angie tidak berharap banyak kepada pasangan itu. Dia tidak menyangka pria semacam Luis bisa menangani gadis seperti Marry.
Dia bisa tahu hanya dengan melihat pakaian Luis, yang harganya jelas-jelas tidak lebih dari 30 dolar.
"Punya pacar kaya itu tidak bagus. Pasti ada banyak gadis di sekitarnya," ujar Aldo.
"Kaya? Bagaimana kamu bisa menyebut dia kaya?" Angie tercengang. Dia merasa seperti tidak sefrekuensi dengan Aldo. "Kamu tidak lihat pakaiannya? Seluruh pakaiannya kalau digabungkan harganya kurang dari 30 dolar."
"Kamu tidak lihat jam tangannya?" tanya Aldo.
Angie berpikir kembali dan sepertinya ingat kalau Luis memakai jam tangan. Akan tetapi, dia tidak terlalu memerhatikannya.
"Memangnya jam tangannya mahal?"
"Cukup untuk membeli Ferrari."
__ADS_1
"Kamu masih lapar, 'kan?"