
"Percayakah kamu kalau wine ini bisa ditukar dengan sebuah rumah?" Luis tergelak.
"Baiklah. Terserah kamu saja." Lia terkekeh dan tidak memikirkannya lagi.
................................
Sebuah rumah di Malatam yang paling murah saja harganya bisa mencapai 150 ribu dolar ke atas. Hanya beberapa red wine yang memiliki harga setinggi itu.
Selain itu, wine dihargai tinggi bukan hanya karena teksturnya saja tetapi dari kelangkaannya juga. Wine seperti itu hanya untuk koleksi, tidak ada yang benar-benar mengonsumsinya.
Mempersiapkan hidangan bukanlah tugas yang mudah. Meski Lia mencoba membantu, dia malah menimbulkan lebih banyak masalah.
Persiapannya memakan waktu selama hampir dua jam.
Ting-tong!
Tepat pukul lima sore, bel pintu rumah besar berbunyi. Lia pergi untuk menyambut tamu sementara Luis mulai memasak.
"Oh, itu Luis, ya." Seorang wanita elegan mengenakan gaun berkualitas dengan warna biru pucat muncul di pintu dapur.
Meskipun kulitnya terawat dengan baik, dapat terlihat bahwa umur wanita itu di atas 35 tahun.
Wanita itu adalah ibu Lia, Melia Wijaya.
Luis tersenyum pada Melia dan menyapanya dengan hormat, "Hai, Nyonya Wijaya."
Dia pernah bertemu dengannya beberapa kali di masa lalu, karena itu dia tahu bagaimana cara memanggilnya.
"Kamu memiliki ilmu kuliner yang baik, Luis." Melia terkejut melihat bahan-bahan di atas meja.
Terdapat banyak aspek ilmu kuliner seperti teknik memotong dan yang lainnya.
Pahatan makanan yang ada di atas meja menunjukkan standar teknik memotong dan ilmu kuliner Luis.
Melia tidak familier dengannya dan hanya tahu bahwa dia adalah salah satu dari beberapa teman Lia.
Tidak banyak pria dan wanita bisa memasak sekarang ini. Namun, keahlian Luis telah melampaui level dasar memasak.
"Lumayan untuk masakan rumahan. Saya harap itu cukup," jawab Luis tersenyum masam.
__ADS_1
Selagi dia berbicara, Luis mengambil wortel dan mengayunkan pisaunya. Dalam sekejap mata, wortel itu berubah menjadi pahatan bunga yang halus.
"Dengan teknik seperti itu, kamu bisa dengan mudah mengalahkan koki restoran," ujar Melia kaget.
"Bu, apa yang Ibu lakukan di sini?" Lia datang untuk mendorong Melia ke luar dapur. "Pergilah temani Nona Cahya. Biar aku saja yang membantu Luis."
"Ha-ha. Kamu hanya akan membuat masalah di dapur." Melia menyentil dahi Lia dengan sayang. "Pergi temani Dwi. Biar Ibu yang membantu Luis."
Selagi dia berbicara, Melia menggulung lengan bajunya.
Ketika memasak, dua kepala lebih baik daripada satu kepala. Melia adalah seorang ahli dalam urusan dapur, tidak seperti Lia yang cenderung menambahkan beban kerja.
Ketika Melia melihat makanan yang telah disiapkan Luis, dia berkata dengan riang, "Lia tidak pernah memberitahuku kalau kamu pandai memasak."
"Sebenarnya saya meningkatkan kemampuan saya akhir-akhir ini. Lagi pula, kami sudah lama tidak bertemu." Luis mengangkat bahu acuh tak acuh.
Melia tidak menggali lebih jauh. "Apakah kamu sudah punya pacar, Luis? Kamu mau aku kenalkan dengan seseorang?" tanyanya.
Luis melambaikan kedua tangannya kuat-kuat. "Nyonya Wijaya, tolong jangan bercanda. Anda kenal semua wanita dengan derajat tinggi di masyarakat. Saya tidak cocok untuk mereka," balasnya. Tidak mungkin dia bisa tahan berada dekat wanita dengan status sosial setinggi itu.
"Oh, jangan begitu!" Tidak terganggu dengan keberatannya, Melia melanjutkan, "Kamu sendiri tidak terlalu buruk, kok. Jangan terlalu cepat menyerah. Aku pasti akan mendukungmu."
Luis menggeleng. "Saya serahkan saja pada takdir. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, mungkin saja suatu hari nanti saya bisa bertemu dengan wanita yang baik."
"Ya ampun, sayang." Melia mencolok sisi tubuh Luis dengan jari. Dia tidak bisa memikirkan tanggapan yang baik. "Kalau begitu, apa pendapatmu tentang Lia?"
"Nyonya Wijaya, saya tidak mungkin berani." Tubuh Luis tegang. Dia tahu apa yang akan dikatakan Melia selanjutnya ketika dia melanjutkan, "Anda pasti tahu apa yang terjadi pada para pria yang mendekatinya. Saya masih ingin hidup lebih lama."
"Jangan begitu. Menurutku, kamu dan Lia terlihat rukun. Kamu mungkin akan memanggilku dengan panggilan lain tanpa kamu sadari." Melia terkekeh.
"Jika itu dapat membuat Anda menghentikan pembicaraan ini, maka saya bersedia," balas Luis muram.
Namun, dia takut diancam Lia jika dia benar-benar melakukannya.
"Semenakutkan itukah, dia??" Melia tergelak. Alih-alih membesarkan seorang putri, dia sepertinya telah membesarkan iblis.
"Sulit untuk menjawabnya." Luis melambaikan tangan pasrah.
“Baiklah kalau begitu. Mari kembali bekerja," desak Melia sambil tersenyum. Dia tidak membahas topik itu lebih lanjut.
__ADS_1
“Makanannya hampir selesai," kata Luis.
Dia mengambil lobak. Baru saja Melia melihat kilatan pisau, lobak tersebut telah terpotong menjadi kubus kecil. Luis tidak hanya menunjukkan ilmu kuliner yang hebat, tetapi dia juga menunjukkan bahwa dia juga bisa melakukan teknik memotong yang rumit.
Setelah mencuci iga babi yang dibeli dari pasar, dia memasukkan daging dan potongan lobak ke dalam panci presto. Kemudian, dia menambahkan bumbu. Setelah itu, dia membiarkan alat tersebut melakukan pekerjaanya.
Rawon sudah siap. Dia mengeluarkan wajan, dan menuangkan minyak ke dalamnya, kemudian menyalakan api kecil.
Setelahnya, Luis memasukkan irisan ayam, sejumput bawang bombai dan jahe, serta bumbu lainnya. Aroma yang menggugah selera segera tercium dari ayam sangrai yang baru matang.
"Berapa lama lagi kita harus menunggu? Nona Cahya kelaparan," tanya Lia saat memasuki dapur.
Melia memeriksa beberapa hidangan yang sudah siap.
"Yang ini sudah siap. Bisakah kamu sajikan, tolong?"
"Baiklah." Lia menganggukkan kepala. Dia mengambil ayam sangrai serta rawon dari dapur.
Di meja makan duduk seorang wanita paruh baya berbalut pakaian berkelas, meskipun tidak terlalu formal. Warita itu terlihat menawan untuk usianya. Dapat terlihat bahwa dia cantik ketika masih muda.
"Aromanya nikmat sekali," komentar Dwi. Matanya berbinar dan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis. "Ibumu tidak cukup terampil untuk membuat ini."
Sebagai sahabat Melia, Dwi sadar akan kepiawaian wanita itu dalam seni kuliner. Betapa pun terampilnya dia, makanan yang tersaji di atas meja ini bukan buatannya.
"Temanku yang membuatnya. Dia cukup terampil." Lia terkikik. "Ibuku yang membantunya."
"Menurutku, keterampilannya sangat hebat."
Dwi menggeleng. Matanya dipenuhi kelakar ketika dia bertanya, "Apakah ini resep keluarga? Jika dia temanmu, berarti umurnya tidak jauh darimu. Kalau ini bukan resep keluarga, maka dia pasti memang berbakat."
Dia telah bepergian ke banyak tempat dan mencicipi segala macam makanan lezat sepanjang hidupnya. Dia bisa dengan mudah menilai hidangan hanya dari penampilan dan aromanya.
Dia juga pernah mencicipi beberapa hidangan dari restoran pribadi. Makanan di hadapannya sepertinya tidak berbeda jauh dari makanan di restoran pribadi yang pernah dia kunjungi.
"Begitu, ya?" Lia bertanya, dia tercengang. Ilmu kuliner Luis memang mengesankan, tapi dia tidak menyangka Dwi memujinya setinggi itu.
"Kepiting raja siap dihidangkan."
Melia mengenakan sepasang sarung tangan saat menyajikan kepiting raja. "Nah. Semua hidangannya hampir lengkap. Luis sedang menyiapkan hidangan terakhir."
__ADS_1