
Beberapa saat kemudian, terdengar suara dengan nada kaget. Kemudian, terlihat beberapa sosok mendekat ke arah Luis dan Gita.
.......................
"Lula? Kenapa kamu di sini?"
Ketika Luis melihat Lula, dia kaget karena dia tidak menyangka akan bertemu dengan Lula di pameran mobil.
Lula ditemani sepasang pria dan wanita. Si wanita tampak memikat, sementara si pria jelas-jelas berumur lebih tua meskipun berpenampilan menarik.
"Aku menemani teman-temanku melihat-lihat mobil." Lula memberi isyarat pada pria dan wanita di sebelahnya dan melanjutkan, "Mereka adalah temanku, Silvi dan Ade. Ini Luis, orang yang aku ceritakan kepada kalian sebelumnya."
"Halo, Luis." Silvi melihat Luis dari ujung kaki sampai ujung kepala sebelum mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Halo." Luis menjabat tangan Silvi. Kemudian, Luis menunjuk Lisandra dan berkata, "Ini sepupu saya, Lisandra."
"Halo." Lisandra menyapa mereka. Namun, Lisandra mengarahkan pandangannya pada Lula dan membatin, "Apakah wanita cantik di depanku ini adalah calon istri Luis? Dibandingkan dengan yang kulihat kemarin, Lula jauh lebih muda."
"Silvi ingin membeli mobil, jadi kami datang ke sini untuk melihat-lihat. Apa kamu di sini untuk membeli mobil juga?" Lula bertanya pada Luis.
"Aku di sini untuk melihat gadis-gadis cantik." Luis menunjuk ke arah gadis seksi yang berdiri di samping Hummer yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Apa kamu tahu banyak tentang mobil? Temanku ingin membeli mobil yang kualitasnya sepadan dengan harganya," kata Lula.
Mereka sudah berkeliling cukup lama. Namun, tidak satu pun dari mereka yang tahu banyak tentang mobil, sehingga mereka kesulitan mengambil keputusan.
"Selama rodanya ada empat, bagiku semua mobil sama saja." Luis dia lebih senang ditanyai tentang wanita daripada ditanyai tentang mobil.
Luis menoleh ke arah Gita. "Apa Anda punya rekomendasi?"
__ADS_1
"Tergantung pada kisaran harga dan jenis mobil yang Anda cari." Gita tersenyum dengan percaya diri. Meskipun Gita tidak sepenuhnya familier dengan semua mobil yang dipamerkan, dia tahu informasi dasar setidaknya 80 persen tentang mobil-mobil itu.
"Selama mobilnya keren, uang tidak menjadi sebuah masalah." Ade menyentuh Rolex di pergelangan tangannya, dia tampak seperti tidak peduli dengan harganya sama sekali.
Gita mengangkat alisnya, kegembiraan sedikit terlintas di matanya. "Benar. Kalau begitu ikuti saya."
Setelahnya, terdengar suara hak sepatu begitu Gita melangkah. Silvi dan Ade segera mengikuti Gita, sementara Luis, Lisandra, dan Lula berjalan di belakang.
"Di mana kamu kenal teman-temanmu? Kelihatannya mereka orang kaya," gumam Luis kepada Lula di belakang.
"Kamu memperhatikan?" tanya Lula sambil tersenyum.
Luis memutar matanya. "Aku tidak buta. Jam tangan Rolex harganya sangat mahal." Ade sengaja menunjukkan jam tangannya untuk memamerkan kekayaannya.
"Ade adalah pacar Silvi. Aku tidak terlalu dekat dengannya. Kudengar dia berkecimpung di industri real estate dan dia cukup kaya," kata Lula santai.
"Dunia orang kaya." Luis menggelengkan kepalanya seolah dia merasa tidak ada apa-apanya.
Lula berpikir, "Meskipun Ade kaya, Luis juga tidak terlalu buruk. Dia bahkan mampu membeli gedung di Malatam. Bagaimana mungkin dia tidak punya uang? Terlebih lagi Luis lebih menarik dibandingkan Ade yang sedikit lebih tua."
"Mobil yang bagus." Silvi terlihat kaget. Luis mengangkat kepalanya dan melihat Silvi berdiri di depan mobil sport berwarna merah ceri.
Warna mobil itu menjadikannya pilihan yang paling keren saat pertama kali melihatnya. Namun, setelah diamati lebih dekat, mobil itu sangat indah seperti sebuah karya seni.
Tatapan Gita tertuju pada mobil itu, dan sorot matanya menyiratkan rasa bangga. "Perusahaan kami mulai membuat mobil ini sejak tahun 2019. Sekarang, kami akhirnya bisa menunjukkan mobil ini kepada dunia."
"Hennerik Jesko kami memiliki mesin twin-turbocharged V8 5.0 liter. Dengan bahan bakar E85, mobil ini mampu menghasilkan tenaga hingga 1.600 tenaga kuda dan torsi 1.500 Nm. Jika Anda menggunakan bensin biasa, output maksimumnya adalah 1.280 tenaga kuda. Hanya ada 125 unit mobil yang akan dipasarkan di seluruh dunia. Jadi, mobil itu termasuk model edisi terbatas yang menunjukkan status prestise pemiliknya. Yang ada di depan kita adalah edisi khusus, Jesko Red Cherry Edition 10. Warnanya membuat mobil itu unik. Faktanya, mobil itu tersedia hanya satu unit di dunia."
Seketika, wajah Ade berubah menjadi pucat. Meskipun dia tidak begitu paham apa yang baru saja dikatakan Gita tentang mobil itu, dia setidaknya paham bahwa mobil itu sangat langka. Jelas, harganya juga tidak akan murah.
__ADS_1
"Mobil seperti ini hanya untuk pajangan, 'kan?" Ade bertanya sambil menyeka keringat dingin di dahinya.
"Ya. Mobil ini cukup unik, jadi hanya untuk pajangan saja. Jika Anda ingin membelinya, kami dapat menghubungi kantor pusat untuk Anda. Satu-satunya perbedaan antara Jesko dan mobil ini adalah warnanya," jawab Gita seolah-olah dia mengharapkan agar Ade membeli mobil itu.
Gita kemudian mengangguk pada Luis dan melanjutkan, "Tentu saja, kami dapat memberi Anda diskon demi Tuan Nardo."
"Hm ... kami perlu mempertimbangkannya." Suara Ade sedikit bergetar. Meskipun dia ingin membelikan mobil untuk Silvi, dia tidak menyangka Silvi menginginkan mobil seperti itu.
Sejujurnya, dia enggan membelikan Silvi mobil sport biasa, apalagi yang edisi terbatas.
Ade tidak bisa membayangkan berapa harga Jesko edisi terbatas itu.
Sementara itu, mata Silvi berbinar karena merasa senang. "Sayang, aku sangat menyukai mobil ini. Bagaimana kalau kita membelinya?"
Produk edisi terbatas melambangkan identitas prestisius seseorang. Di dalam benak Silvi, seberapa cintanya seorang pria kepada seorang wanita ditunjukkan dengan uang yang bersedia dia keluarkan untuk wanitanya.
Jika Ade membelikan mobil itu untuk Silvi, itu akan membuktikan bahwa Ade mencintai Silvi.
Bahkan jika Ade ingin putus suatu saat nanti, dia harus mempertimbangkan uang yang telah dia keluarkan untuk mobil itu dan memikirkan kembali keputusannya.
"Begini ... likuiditas di perusahaanku sedang bermasalah baru-baru ini ..." Ade semakin berkeringat.
Dia merasa harus mengeluarkan uang setidaknya lebih dari satu juta dolar untuk mobil itu.
Melihat reaksi Ade, Silvi mengentakkan kakinya sambil merasa kesal. "Bukannya kamu bilang kalau mau membelikan apa pun yang aku suka? Apa kamu cuma berbohong?"
"Tidak, tidak. Hanya saja mobil ini terlalu mahal," jelas Ade dengan wajah pucat.
Saat Ade panik, tiba-tiba ponsel di sakunya berdering. Dia segera mengangkat telepon itu. "Halo, Tuan Watson. Ya? Oh, ada masalah dengan peralatan dari batch terakhir? Tentu! Saya akan menemui Anda sekarang."
__ADS_1
Dia berjalan menjauh sambil terus menelepon. "Menghabiskan uang lebih dari 2 juta untuk membelikan mobil seorang wanita? Aku tidak akan membuang-buang uang seperti itu, meskipun aku sangat kaya," pikirnya.