Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
71


__ADS_3

Dia sudah pernah beberapa kali bertemu ibu Lia tetapi dia masih merasa asing dengannya.


Bahkan, dia bertanya-tanya apakah ibu Lia mengenalinya.


...................................


"Apakah kamu tahu koki yang bagus? Aku tidak ingin membawa mereka ke restoran. Identitas teman ibuku ini agak unik." Lia menatap Luis.


Dia hanya bisa memasak makanan sederhana seperti spaghetti, tetapi itu tidak cukup untuk menjamu tamu.


"Kebetulan sekali! Aku tahu seseorang yang bisa membantu." Luis mengangguk kecil.


Lia langsung membalas, "Benarkah? Siapa dia? Berikan nomor orang itu."


Jadwal mereka padat, jika ada yang tidak sesuai, semuanya akan berantakan.


"Dia berada tepat di hadapanmu." Luis menunjuk dirinya.


"Kamu? Jangan bercanda'" Lia tergelak.


Dia pernah melihat ilmu kulinernya dulu, Luis hanya bisa memasak makanan dasar seperti mi instan dengan telur.


Selain itu tidak mungkin.


"Aku tidak punya waktu untuk bercanda. Berikan ponselnya," kata Lia.


"Aku koki. Kenapa kamu tidak memercayaiku?" Luis memutar matanya. Menurutnya, koki dengan pengalaman selama satu dekade mungkin saja tidak sampai memiliki seperempat dari keahliannya.


"Jika kamu koki, maka aku adalah raja koki." Lia tertawa kecil. "Kamu pikir aku tidak tahu kemampuanmu? Kamu bahkan tidak tahu cara memasak telur dulu. Aku yang mengajarimu cara melakukannya, ingat?"


"Lia, sudah lama kita tidak bertemu. Apakah kamu pikir aku masih tidak bisa memasak? Aku di sini, tepat di hadapanmu. Apakah aku masih terlihat sama seperti dulu?" Luis menggoda Lia.


"Tamu itu ... bukan orang biasa," balas Lia tersedak.


Lia tidak akan sekhawatir ini jika teman ibunya adalah orang biasa. Namun, teman ibunya ini memiliki identitas yang unik. Dia tidak bisa membiarkan Luis mempermalukan dirinya sendiri maupun membuat masalah untuknya.


"Ya, aku tahu."


Luis menggulung lengan bajunya dan berkata, "Mari, kutunjukkan kemampuanku."


Setelah mengakhiri pernyataannya, dia langsung berjalan menuju dapur. Dia yakin tidak ada yang bisa menang dengan mudah melawannya kecuali jika lawannya adalah seorang yang jenius atau telah mempelajari seni kuliner sejak usia muda.


Dalam waktu singkat, Luis keluar dengan sepiring pasta panas.


Setiap pasta rata dilapisi dengan saus tomat dar daging sapi cincang yang tercampur rata ke dalam hidangan.

__ADS_1


Lia berpikir bahwa hidangan itu terlihat berbeda dari pasta buatannya, tampak lebih seperti karya seni.


"Ini ... kamu yang membuatnya?" Jika mereka tidak berada di rumahnya, Lia akan mengira ada orang lain di dapur.


"Dia yang dulu tidak bisa masak, bisa membuat ini? Sepertinya dia telah berubah menjadi seseorang yang berbeda," pikir Lia.


"Siapa lagi? Apakah menurutmu hidangan itu muncul begitu saja?" Luis menjawab sambil tergelak, dan memberinya garpu. "Cepat, cicipilah."


"Kamu yakin?" Lia bertanya waswas.


Dia berpikir, "Apakah ini termasuk hidangan yang penampilannya tidak sesuai dengan rasanya?"


Dia pernah mengalami itu sebelumnya dan dia tidak menaruh harapan tinggi pada ilmu kuliner Luis.


"Tidak usah khawatir. Kamu tidak akan mati karena makanan ini." Luis memutar matanya.


"Kalau tidak enak, akan ku potong telingamu untuk kudapan wine-ku," ancam Lia.


Meskipun dia tidak percaya padanya, dia menyuapnya, dan ekspresinya langsung cerah.


Hidangan itu tidak seberminyak yang dia pikir. Malahan, ada sedikit rasa bawang putih dan bawang bombai, pastanya al dente, menciptakan perpaduan yang harmonis antara pasta, daging cincang, dan sausnya.


"Bagaimana menurutmu?" Luis bertanya, dia menyeringai lebar.


Dia percaya diri dengan ilmu kulinernya.


"Aku tidak suka membuang-buang makanan," balas Lia.


Bahan-bahan memainkan peran penting dalam menyiapkan makanan. Walaupun ada beberapa bahan di kulkasnya, Lia bukan tipe yang biasa memasak di rumah.


Mereka pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bahan-bahan pokok seperti sayuran dan daging.


Karena sudah siang, sebagian besar bahan berkualitas sudah habis. Namun, mereka berhasil memilah sisa stok dan menemukan bahan yang bagus.


"Aku kaget. Kamu ternyata punya bakat terpendam dalam memasak," komentar Lia.


Luis tertawa kecil. "Aku ini tinggal sendirian. Bisa mati kelaparan aku jika tidak bisa memasak."


Meskipun begitu, dia hanya memasak hidangan sederhana seperti spaghetti ketika sendiri.


"Lobsternya bagus. Bagaimana kalau kita beli dua?" Lia menunjuk seekor lobster besar.


"Anda memiliki penglihatan yang tajam, Nona."


Penjaga toko mengeluarkan seekor lobster dari tangki, dan lobster itu bergerak dengan penuh semangat. "Ini dari Auguria. Jarang ada di sekitar sini."

__ADS_1


"Benarkah? Berikan padaku ..." Lobster dari Auguria memang terkenal, Lia pernah mencicipinya dulu.


"Ha-ha. Apakah ini lobster ternakan? Terlihat cukup gemuk, tetapi berbeda dengan yang dari laut. Apakah Anda menggunakan air laut? Lobster Auguria hidup di air tawar," singkap Luis.


"Rupanya Anda seorang ahli, ya." Penjaga toko tetap terlihat tenang. Dia tahu bahwa dia tidak akan bisa membohongi seorang ahli.


Jika dia cekcok dan keadaan jadi tidak terkendali, dia mungkin tidak bisa tetap membuka tokonya di sini.


"Tidak juga. Hanya kebetulan." Luis terkekeh lalu melanjutkan, "Kepitingnya terlihat bagus."


"Mata Anda tajam, Tuan. Akan saya pilihkan yang besar untuk Anda." Penjaga toko mengacungkan jempol pada Luis.


"Yang benar saja?" Terdapat kilatan jail di mata Luis. "Semakin besar ukuran kepiting, akan semakin kasar dagingnya. Begitu juga untuk kepiting raja Remdikan dan sebagian besar bahan lainnya."


"Anda mengerti banyak, ya," sahut penjaga toko berkicau.


Dia mengambil beberapa kepiting yang lebih kecil dan menimbangnya. "Semuanya 500 dolar."


Luis mengeluarkan kartunya dan membayarnya.


Harganya cukup masuk akal.


"Apa lagi yang kita butuhkan?" Lia menanyakan Luis.


"Kita ke rumahku. Aku punya beberapa seafood dan bahan-bahan lain," jawabnya.


Kualitas bahan-bahan yang ada di rumahnya lebih bagus daripada yang ada di supermarket.


"Baiklah." Tanpa ragu, Lia berkendara ke rumah Luis.


Luis pulang sendirian dan membeli beberapa lobster asli Auguria dengan ponselnya. Sebenarnya, lobster Auguria bisa saja berasal dari lokasi yang berbeda. Namun, Auguria adalah daerah asal lobster yang terkenal itu, karenanya, nama itu dijadikan label untuk lobster berkualitas baik.


Lobster merah dengan cakar besar muncul di atas meja, masing-masing memiliki berat mencapai 2 pon.


"Red wine berusia tua ..."


Luis mencari di marketplace dan menemukan sebotol red wine yang dia inginkan.


Dalam sekejap, sebotol wine tua muncul di atas meja dalam keadaan tersegel.


"Ayo kembali untuk menyiapkan makan malam," kata Luis kepada Lia ketika membawa semua bahan-bahan tersebut ke mobil.


"Dari mana kamu dapatkan wine itu? Winenya terlihat murahan," komentar Lia saat melihat botol yang dibawa Luis.


Kaca botol itu sangat kasar, tidak mungkin menemukan kaca seperti itu saat ini.

__ADS_1


"Percayakah kamu kalau wine ini bisa ditukar dengan sebuah rumah?" Luis tergelak.


"Baiklah. Terserah kamu saja." Lia terkekeh dan tidak memikirkannya lagi.


__ADS_2