Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
Kamu Rasa?


__ADS_3

Sejujurnya, dia merasa sangat bangga pada dirinya sendiri saat melihat tatapan iri teman-teman sekolah lamanya, terutama Tomy, yang terlihat seolah baru saja ditampar. Namun, dia mencoba sebisa mungkin menyembunyikan perasaannya.


............................................


"Tidak, aku tidak boleh tertawa. Itu bukan tindakan yang pantas bagi warga kelas atas pemilik satu bangunan di Jamarta," dia mengingatkan dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, hidangan disajikan. Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi, bahkan Tomy pun berhati-hati. Dibandingkan dengan anak-anak muda di sekitarnya, Tomy lebih mengerti arti jam tangan itu dibanding siapa pun. Singkat kata, bahkan pemilik perusahaan seperti dirinya tidak memiliki jam tangan semahal itu. Bukan karena dia tidak mampu membelinya sama sekali, tapi karena tidak ada gunanya berlebihan seperti itu.


Luis tengah melahap paha ayam di tangannya dengan rakus saat ponselnya tiba-tiba berdering. Dia menggunakan jari yang bersih untuk menjawab panggilan dan menyetel ponselnya ke mode speaker, sehingga semua orang bisa ikut mendengar panggilan itu.


"Halo. Apakah saya berbicara dengan Tuan Nardo? Saya asisten CEO dari Industri Hennerik, dan saya bermaksud-" Mereka semua mendengar bahasa Birton yang fasih mengalun dari telepon. Namun, bahkan sebelum peneleponnya selesai berbicara, Luis menutup telepon.


Dia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan orang itu.


"Apa kamu tahu siapa itu?" Lia menatapnya seolah dia sudah gila. Bukan hanya Lia. Semua orang di ruangan itu memandanginya.


"Bagaimana aku tahu? Yang kudengar hanyalah omong kosong." Luis memutar mata.


Saat masih sekolah dulu, dia tidak terlalu peduli soal belajar. Mata pelajaran yang paling tidak dikuasainya adalah Bahasa Birton. Dia benar-benar payah dalam pelajaran Bahasa Birton sehingga dia tidak pernah lulus barang satu kuis pun sepanjang masa SMA-nya.


"Orang itu bilang dia adalah asisten CEO Industri Hennerik," Lia menjelaskan sambil balik memutar mata. Dia tahu Luis tidak pandai Bahasa Birton, tapi dia tidak mengira Luis tidak mengerti sepatah kata pun.

__ADS_1


"Industri Hennerik? Industri apa itu? Apa mereka di bidang real estate atau pakaian?" Luis terheran-heran.


"Mereka produsen mobil. Mobil sport, malah," Andrew angkat bicara.


"Apa yang kamu lakukan sampai asisten CEO Industri Hennerik menghubungimu?" Lia bertanya.


Lia tiba-tiba merasa bahwa Luis sungguh penuh teka-teki.


"Kurasa aku membeli sepuluh persen saham mereka atau semacam itu," gumam Luis Hanya itu yang terpikirkan olehnya.


"Uhuk!" Minuman yang baru diteguk Tomy langsung menyembur keluar dari mulutnya. Matanya terpancang pada Luis.


Belum lagi, mendapatkan sepuluh persen saham perusahaan mereka tidak bisa diperoleh hanya dengan mengeluarkan uang. Seseorang harus memanfaatkan kekuasaan dan status mereka untuk merebut saham itu dari para pemegang saham utama.


"Kamu rasa?!" Rony memutar mata. "Sebaiknya kamu tidak berbohong tentang hal ini."


"Kurasa akhir-akhir ini aku hanya membeli saham satu perusahaan Saja," ungkap Luis dengan nada tak terkesan.


Waktu itu dia pernah memutuskan untuk tidak membeli tiga puluh persen saham Valentino, dan dia sangat menyesalinya. Saat mendapat kesempatan lagi, dia langsung membeli saham, tapi tidak yakin saham yang dibelinya itu milik perusahaan mana. Lagi pula itu tidak terlalu penting, karena tidak mungkin dia akan mengalami kerugian apa pun.


Semua orang menatap Luis dengan kaget. Mereka tidak percaya apa yang baru saja dikatakannya.

__ADS_1


"Mbek-mbek, kambing hitam ..." Meskipun nada dering Luis aneh, tidak ada yang memperhatikannya pada saat itu. Semua mata terpaku pada ponselnya.


"Halo. Saya jamin saya bukan penipu. Saya asisten CEO Industri Hennerik, Claudia Cole. Kami memerlukan kehadiran Anda untuk menandatangani kontrak mengenai Anda menjadi pemegang saham Industri Hennerik, Tuan Nardo..." Claudia menjelaskan tanpa kenal lelah.


Luis memandang berkeliling pada orang-orang yang ikut mendengarkan dan bertanya, Apa ada yang tahu apa yang dia katakan?


"Bagaimana bisa kamu membeli saham mereka padahal kamu tidak tahu apa-apa? Kamu bahkan baru mengetahui bidang Industri Hennerik beberapa menit yang lalu!" Lia benar-benar keheranan.


"Memangnya aku harus tahu? Dan lagi, kenapa harus berpikir panjang sebelum membeli sesuatu? Kamu tahu, ayahku pernah berkata bahwa tidak ada pembelian yang percuma. Apa pun yang sudah dibeli bisa dimanfaatkan untuk hal tertentu atau yang lainnya juga," protes Luis. Lia tidak bisa membantah itu.


"Wanita itu bilang dia ingin membicarakan sesuatu denganmu secara langsung. Selain itu, ada beberapa kontrak yang perlu kamu tandatangani. Ada rencana pengembangan perusahaan yang perlu diurus juga," Lia menjelaskan.


"Baiklah. Kurasa aku tidak bisa menghabiskan makananku karena aku harus pergi menemuinya." Luis mengangguk.


"Jangan khawatir. Aku akan membantumu menyiapkan tempat untuk pertemuannya." Lia pun mengangguk.


Sudah 60 tahun, dan Hotel Bulevar adalah satu-satunya gedung baru yang dibangun di Jamarta. Hotel ini memiliki pemandangan yang menakjubkan, termasuk pemandangan tepi Sungai Rawana dan bekas taman delegasi Birton. Hotel ini juga memiliki berbagai suite, semuanya di dekorasi dengan indah.


Lia mengantar Luis dengan mobilnya, dan dalam waktu singkat mereka berdua tiba di Hotel Bulevar yang terletak di Distrik Rawana.


Jelas Lia sudah mengatur semuanya, karena dia langsung mendatangi meja resepsionis dan mengambil kunci kamar. Luis kemudian mengikuti Lia ke lantai atas hotel, di mana terletak deluxe suite yang menghadap ke arah sungai.

__ADS_1


__ADS_2