Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
Gurami Goreng


__ADS_3

Melihat ke lantai, Marry menyadari seseorang pasti telah membersihkannya sebelum dia bangun. Dia buru-buru meminta maaf, "Maaf sudah merepotkanmu."


..................................................


Luis cekikikan. "Jangan khawatir. Normal bagi siapa pun untuk mengalami hari yang buruk sesekali. Mengapa kamu tidak pergi mandi dan membersihkan diri? Aku akan menyiapkan makanan untukmu."


Terima kasih. ucap Marry lagi secara naluriah. Ketika Luis sudah pergi, dia menghela napas lega. Marry turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


Marry melihat sebuah kemeja dengan noda muntahan di sudut kamar mandi. Dia tersipu malu ketika mengingatnya, "Aku mabuk tadi malam, yang berarti... "


Setelah selesai mandi, Marry menuju ke dapur. "Luis sedang memasak. Maaf ..." ucapnya.


Tidak apa-apa, sungguh, jawab Luis sembari tersenyum ramah pada Marry.


"Maksudku, aku minta maaf karena muntah di bajumu."


Tangan Luis membeku sesaat. Lalu dia berkata, Itu bisa dimengerti.


"Kamu bisa memasak?"


Ketika Marry melihat bagaimana hebatnya Luis dapur, Dia tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Saat ini, tidak banyak orang yang tahu cara memasak, apalagi pria.


Sejujurnya, dari semua pria yang pernah dia temui sebelumnya, hanya beberapa dari mereka yang bisa memasak.


Aku hanya tahu cara membuat spaghetti, dan gurami goreng tepung. Luis menggelengkan kepalanya. Dia tahu cara membuat hidangan lain, tetapi dia tidak terlalu pandai untuk memasaknya.


Tak lama, dua piring gurami goreng tepung pun disajikan.


Makanan itu dimasak sampai cokelat keemasan sempurna.


Luis mengambil nampan dan meletakkannya di meja makan. "Ini hanyalah salah satu dari keahlianku, kecualijika kamu lebih suka spaghetti. Silakan. Makanlah," pinta Luis.

__ADS_1


"Sepertinya enak," komentar Marry. Kenikmatan tampak di wajahnya saat dia menghirup aroma makanan yang menggoda.


Aroma dan teksturnya, sangat berbeda dengan gurami yang disajikan di restoran.


Potongan ikan yang berair terlihat begitu menggiurkan. Tepung krispinya yang renyah memberikan sensasi yang sempurna antara kelembutan dan kerenyahan.


"Aku tidak tahu kamu pandai memasak," komentar Marry. Dengan penuh semangat, dia mengambil potongan ikan dengan garpunya dan mengunyahnya. Dagingnya yang renyah dan lezat meninggalkan rasa yang enak di lidahnya. Itu tidak bisa dibandingkan dengan makanan yang dibeli di toko.


"Aku sudah berulang kali membuat itu, jadi tentu saja rasanya jadi lebih baik dari waktu ke waktu." Luis tertawa.


"Dengan keahlian memasakmu, kamu bisa menjadi kepala koki di restoran bintang lima, bukan begitu?" Marry berkomentar sambil makan.


Dulu, Marry terbiasa mengikuti orang-orang di sekitarnya dan mencicipi segala macam makanan lezat. Gurami goreng tepung buatan Luis benar-benar luar biasa.


"Ini adalah satu-satunya hidangan yang kutahu cara membuatnya," kata Luis sambil tersenyum masam.


"Mengapa?" Tanya Marry penasaran.


Luis berhenti sejenak. Dia kemudian melanjutkan, "kami akhirnya putus. Untuk beberapa kali, kupikir dia akan kembali padaku. Jadi, setiap hari aku membuat gurami goreng tepung. Setiap hari, aku menyimpannya di kulkas. Setelah kulkasnya penuh, aku akan membuang yang paling depan, dan menggantinya dengan yang baru. Pada akhirnya, dia tidak kembali, tetapi aku menjadi ahli dalam membuat gurami tepung goreng. Kurasa semuanya berakhir baik-baik saja."


Ingin merespons, Marry membuka mulutnya, dan menutupnya lagi karena dia tidak dapat menemukan kata yang tepat. Jika ada orang yang berusaha keras untuknya, dia pasti tidak akan mungkin meninggalkan sisinya.


Sayangnya, Marry tidak pernah bertemu orang seperti itu sepanjang hidupnya.


Gurami goreng tepung dihabiskan dalam sekejap mata.


Marry berdiri. "Aku benar-benar berterima kasih atas apa yang telah kamu lakukan untukku tadi malam," katanya.


"Tidak masalah."


Luis tersenyum ramah. Dia juga bangkit dan mulai merapikan meja. "Normal bagi siapa pun kadang-kadang merasa sedih. Jangan lupa untuk membawa birmu saat pergi," Luis mengingatkan.


"Aku tahu," jawab Marry. Dia mengangkat karton bir yang telah disisihkan, dia berbalik dan keluar.

__ADS_1


Marry masih memiliki hutang sebesar 30.000 dolar untuk dilunasi. Dia tidak punya waktu untuk bermalas-malasan.


Setelah mendengar suara pintu tertutup, Luis menghela napas. Meskipun 30.000 dolar bukan masalah besar baginya, jika membantu Marry membayar hutangnya, kemungkinan dia hanya akan beralih ke pemberi pinjaman yang berbeda.


Dalam kasus Marry, membantunya mungkin tidak akan mengubah apa pun.


Di rumah sakit, Vina merawat putrinya, Alea.


Setelah istirahat beberapa waktu, tubuh Alea pulih dengan sangat cepat. Dia bahkan bisa berjalan sekarang, meskipun masih sedikit terhuyung.


"Alea, kemari dan lihat apa yang sudah Ibu buatkan untukmu."


Vina meletakkan termos yang dibawanya dari rumah di samping tempat tidur. Dia dengan hati-hati membuka tutupnya membuat aromanya tercium hingga keluar.


"Ini sup jamur!" Alea berkata sambil tersenyum. Ibu membuat sup jamur untukku, kan?"


"Ini bukan sembarang sup jamur. Ibu memasukkan beberapa ginseng."


Vina tertawa kecil. Vina kemudian menuangkan sup ke dalam mangkuk untuk putrinya.


"Ini dia. Cobalah," pintanya.


"Ini enak!"


Alea mencicipi supnya selagi berbaring di tempat tidur. Kemudian, dia bersuara, "Bu, kurasa hidungku berdarah."


"Apa?"


Vina mendongakkan kepala Alea. Dia melihat darah yang mengalir dari lubang hidung putrinya. "Apa yang terjadi? Apakah kamu merasa panas?"


Vina meraih tisu saat Alea bergumam pada dirinya sendiri. Berkali-kali Vina menyekanya, tapi darahnya masih tetap mengalir.


"Iya, Bu. Aku merasa panas, seperti ada api yang menyala di dalam tubuhku. Apakah aku akan..." Alea terdiam.

__ADS_1


__ADS_2