Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
96


__ADS_3

"Industri Hennerik, perusahaan mobil sport super teratas di dunia, berdedikasi untuk mengembangkan teknologi energi terbarukan. Sebagian besar mobil sport super diproduksi terbatas di seluruh dunia. Nilai rata-rata setiap mobil lebih dari 1,5 juta dolar Caniah ... "


****************


"Kamu kaya!"


Gavin meletakkan kunci mobil Luis di atas meja dengan hati-hati agar tidak jatuh.


Mobil sport super bernilai setidaknya jutaan dolar dan masih langka di Malatam. Selain itu, mobil jenis ini kebanyakan dijadikan koleksi, bukan untuk dikendarai. Para miliarder saja enggan mengendarai mobil jenis ini.


Kalau sampai tergores, biaya perbaikannya pasti mahal sekali.


"Tidak juga, tetapi aku memang tidak kekurangan uang."


kata Luis dengan sorot mata kemenangan.


"Berapa harga mobilmu?" Gavin bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.


Hennerik, merek mobil sport super teratas di dunia, memiliki banyak model, dan yang paling mahal harganya bisa mencapai 15 juta dolar. Kalaupun ada model yang tidak begitu mahal, harganya pasti melebihi bayangan orang biasa.


"Aku tidak tahu. Sebenarnya, harga mobilku tidak bisa diperkirakan." Luis menggelengkan kepalanya. Meskipun harga pasaran mobil Hennerik berada di sekitar 280 ribu dolar, mobil milik Luis benar-benar berbeda.


Hennerik Jesko dengan warna merah ceri adalah edisi terbatas di seluruh dunia, sehingga nilainya pun semakin tak terkira.


"Kenapa kamu tidak tahu harga mobil yang kamu beli?" Luis mendadak linglung karena tidak menyangka Gavin akan mengajukan pertanyaan itu.


"Karena mobil ini hadiah dari seseorang," jawab Luis seraya menggelengkan kepalanya tak berdaya. Hadiah pemberian Carlos yang sangat berharga ini tentu memiliki arti yang sangat penting.


Masalahnya, akan sulit bagi Luis untuk memilih hadiah balasan. Jika Luis tidak memberikan hadiah yang sepadan, dia akan sangat berutang budi pada Carlos.


Jika Carlos meminta bantuannya suatu hari nanti, Luis mungkin tidak sanggup untuk menolak.


"Benarkah? Kamu punya teman sekaya itu?" tanya Gavin dengan kaget.


Dia tahu Luis itu orang seperti apa. Luis adalah tipikal pecandu game yang tidak pernah keluar rumah. Bagaimana dia bisa mendapatkan teman yang begitu kaya?


Bahkan seorang miliarder tidak akan semudah itu membeli mobil senilai 2 juta dolar untuk hadiah.


"Kenapa kamu tidak mengenalkan temanmu yang kaya itu padaku? Siapa tahu aku bisa mendapatkan hadiah seperti itu," canda Gavin.

__ADS_1


"Segala sesuatu di dunia ini adalah tentang keuntungan." Dengan wajah serius, Luis berkata, "Paman, apakah menurutmu temanku akan memberiku mobil semahal itu secara cuma-cuma?"


"Tidak," jawab Gavin spontan. Tidak ada yang gratis di dunia ini.


"Aku punya hadiah untukmu." Luis mengeluarkan tiket lotre dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.


"Kamu tahu aku membeli tiket lotre?" Gavin tersenyum dan mengambil tiket lotre itu tanpa banyak berpikir.


Gavin sudah sering membeli tiket lotre. Banyak orang yang berharap bisa mendadak kaya dalam semalam. Meskipun tidak realistis, harga tiket lotre tidaklah mahal, sehingga banyak orang membeli beberapa tiket lotre untuk mencoba peruntungan mereka.


Namun, setelah bertahun-tahun, hadiah terbesar yang pernah dimenangkan Gavin hanya 1 dolar.


Sambil menatap pamannya dengan ramah, Luis tersenyum dan berkata, "Tentu saja aku ingat. Aku ingat Paman adalah ahli tiket lotre, tetapi tampaknya Paman bukan orang yang beruntung."


"Lotre bukan hanya tentang keberuntungan." Gavin mengerutkan bibirnya dan melirik angka yang tertera di tiket lotre pemberian Luis: [ 01, 02, 03, 04. ]


"Angka yang bagus. Kamu pikir lotre itu permainan yang mudah?" Gavin mencibir saat melihat deretan angka itu.


Bagi pemula, deretan angka seperti itu tampak tidak menjanjikan. Orang yang memilihnya pasti bodoh atau gila.


"Kurasa aku selalu beruntung." Luis mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. Dia punya alasan tersendiri.


"Ini bukan hanya masalah keberuntungan." Gavin membuang tiket lotre itu, jelas berpikir bahwa tiket itu tidak berguna.


"Iya, sudah waktunya."


Gavin mengangguk. Dia membeli satu tiket lotre setiap hari, jadi dia tahu kapan dan di saluran mana nomor pemenang akan diumumkan.


Sembari mengatakan itu, Gavin berjalan terhuyung untuk mengambil remote control dan menyalakan TV. Dahulu, TV berukuran 32 inci tentu saja mahal harganya. Namun, berkat teknologi yang berkembang pesat saat ini, TV seperti itu sudah tidak terlalu mahal.


"Kamu tidak sungguh-sungguh berpikir bisa menang dengan angka itu, 'kan? Kalau aku menang, aku akan menelan botol ini," janji Gavin sambil menunjuk botol di atas meja.


Mungkinkah nomor Luis menjadi nomor pemenang? Kombinasi angka apa pun sebenarnya punya peluang untuk menang, tetapi kemungkinannya berbeda, terutama nomor yang dipilih Luis.


"Kurasa aku sangat beruntung. Bersiaplah untuk menelan botolnya," balas Luis sambil tersenyum geli.


"o1," seru sebuah suara.


Selagi mereka berdua berbicara, nomor pertama mulai muncul di TV.

__ADS_1


"Sepertinya kamu memang beruntung." kata Gavin terkejut.


"02," lanjut suara itu.


Begitu bola kedua keluar dengan cepat dari mesin, angka-angka muncul di layar.


"Sialan, kamu memang beruntung!" Dengan munculnya angka kedua, Gavin sedikit tersadar dari mabuknya.


"Rangkaian angka ketiga adalah 03."


"Apakah kamu memang orang yang terpilih?!" Mata Gavin melebar karena terkejut.


"Sepertinya Paman harus makan botol," kata Luis sambil tersenyum senang.


"Yah, mana mungkin aku percaya ada kebetulan seperti itu di dunia ini?" Gavin mencibir.


"Aku benar-benar terkejut. Kira-kira apa pasangan angka terakhir? Mungkinkah 04? Kalau iya, aku yakin acara ini akan tercatat dalam sejarah." Si pembawa acara terlihat bersemangat.


"Yah, pasangan angka terakhir ... "


Mesin besar yang ditempatkan di tengah mulai berputar perlahan.


Mungkinkah pasangan angkanya benar-benar 04?


Sebuah gagasan muncul di benak Gavin saat dia menatap bola yang berputar di mesin. Namun, ia menggelengkan kepalanya dan menyingkirkan gagasan itu.


Tiga angka pertama yang berurutan sangat jarang terjadi. Jika yang keempat adalah angka yang dia bayangkan, seluruh industri lotre pasti akan terguncang.


Saat sepasang angka tiba-tiba memenuhi layar TV, Gavin gemetar dan hampir tak sadarkan diri.


"04, pasangan angkanya memang O4."


Dengan mata berkaca-kaca, Gavin meneguk wine di hadapannya.


Luis duduk dengan tenang seolah-olah dia yang mengendalikan situasi. Dia mengambil kaki babi dan mengunyahnya pelan-pelan.


Semua ada di bawah kendalinya karena dia yang memilih nomor itu.


Antarmuka ponselnya menampilkan respons positif, dan catatan barang yang terpampang di layar adalah serangkaian angka, yaitu 01, 02, 03, 04.

__ADS_1


"Ambil ini." Setelah masa senangnya lewat, Gavin menggertakkan giginya dan menyerahkan tiket lotre itu kepada Luis.


Hadiahnya kira-kira beberapa ratus ribu dolar. Meski tersentuh, ada sebuah suara di benak Gavin yang membuatnya tersadar. Dia tahu tiket lotre itu bukan miliknya.


__ADS_2