Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
99


__ADS_3

Sebelumnya, Lisandra putus sekolah karena dia ingin menghasilkan uang agar kehidupan Gavin menjadi lebih baik. Akan tetapi, sepertinya dia tidak perlu putus sekolah karena sekarang dia sudah punya banyak uang.


****************


"Apakah kamu membantunya?" Setelah berpikir masak-masak, Lisandra berbicara dengan perlahan.


Gavin tidak pernah memenangkan hadiah besar sejak lebih dari sepuluh tahun terakhir, tetapi kehadiran Luis memberinya keberuntungan. Lisandra merasa curiga.


"Kamu pikir aku bisa memanipulasi hasil lotre?" Luis berujar, "jika aku punya kemampuan seperti itu, aku pasti sudah kaya sejak lama."


"Begitu, ya?"


Lisandra tidak mengatakan apa-apa lagi. Perkataan Luis masuk akal.


Dengan acuh tak acuh, Luis mulai menuangkan ninyak ke dalam panci panas. Dia memang tidak memiliki kemampuan untuk memanipulasi hasil lotre, tetapi dia membeli nomor lotre untuk membuat pamannya menang.


Harganya mahal, tetapi hasilnya sepadan.


"Sebaiknya kamu bersiap-siap. Aku sudah berjanji pada ayahmu bahwa aku akan menjamu gurumu." Semua bahan langsung dituangkan ke dalam panci. Semerbak aroma makanan lezat langsung menggelitik hidung mereka.


Walaupun hanya menggunakan minyak dan kepiting tanpa bumbu apa pun, rasanya sungguh luar biasa.


"Kenapa?" Lisandra terdiam sejenak.


Luis mendesah lalu berkata, "Memangnya bisa semudah itu bagimu untuk kembali bersekolah setelah lama membolos?"


Kalaupun uang sekolahnya sudah dibayar, dia masih bisa dikeluarkan dari sekolah. Oleh sebab itu, kebanyakan siswa SMA berperilaku cukup baik.


Jika yang melakukan kesalahan adalah mahasiswa, urusannya bisa sampai ke polisi.


"Kupikir aku sudah ada dalam masa percobaan disipliner dan pemeriksaan diri ... " Lisandra menggosok hidungnya karena malu. Sebelumnya, dia pernah melakukan beberapa hal ekstrem di sekolah.


"Benarkah?"


Luis mengangguk lalu mengambil sendok sembari memasukkan sejumput garam ke dalam panci. "Bukan masalah besar. Ini tidak akan dimasukkan ke dalam file pribadi di sekolahmu."


Siswa SMA membuat kesalahan dari waktu ke waktu. Mereka akan diperingatkan, didisiplinkan, atau dimasukkan ke dalam masa percobaan disipliner dan pemeriksaan diri atas kesalahan yang mereka buat. Namun, sebagian besar catatan selama masa SMA akan dihapus dari file pribadi mereka saat mereka lulus.


Luis tahu betul tentang hal itu. Di masa sekolah dulu, dia membuat banyak kesalahan dan hampir dikeluarkan.


Namun tetap saja, dia berhasil lulus dari perguruan tinggi.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Sudah, sudah. Jangan terlalu dipikirkan," hibur Luis sambil mengusap kepala Lisandra. "Aku sudah membicarakannya dengan ayahmu. Biarkan aku yang mengatur semuanya untukmu, yang penting kamu kembali bersekolah."


"Tetapi aku takut sudah tertinggal jauh dan tidak bisa memahami penjelasan guru di kelas."


Awalnya, dia hanya sedikit tertinggal, tetapi sekarang sepertinya cukup sulit untuk mengejar ketertinggalan karena dia sudah lama membolos.


"Kenapa harus takut?"


Luis meletakkan piring lalu menyajikan daging kepiting yang berwarna keemasan dan tampak menggoda ke atasnya. "Selama kamu mau belajar lebih giat, semuanya akan baik-baik saja."


"Aku bisa mencarikan guru yang lebih baik untukmu."


"Benarkah?" mata Lisandra berbinar.


"Asalkan kamu rajin belajar."


Setelah mereka berdua selesai makan malam, Lisandra kembali ke kamarnya, mengunduh beberapa video, dan bersiap-siap belajar. Di saat yang sama, Luis pergi ke luar.


Kemarin, dia memberi tahu Lia untuk menemuinya hari ini.


Gedung Pusat Malatam, simbol kota Malatam, sering dikunjungi oleh orang-orang penting.


Meskipun begitu, ketika mobil Luis tiba di gedung itu, banyak mata tertuju padanya.


"Luis?"


Begitu Luis mengunci mobilnya dan hendak melangkah pergi, sebuah suara tiba-tiba memanggilnya.


Luis menoleh ke arah suara itu dan melihat Claire yang berpakaian profesional sedang berdiri di sana sambil memegang dokumen.


"Nona Wilde." Luis mengangguk pada Claire. Luis hanya pernah melihatnya beberapa kali, jadi dia tidak terlalu mengenal Claire.


"Kamu membuatku terkesan." Dengan memakai sepatu hak tinggi, Claire menghampiri Luis dan melirik mobilnya.


"Seorang teman membelikan mobil ini untukmu? Siapa orangnya? Baik sekali dia."


Mata Claire berkilat. Dia langsung menyadari bahwa Luis tampaknya memiliki banyak teman kaya.


Lia, seorang gadis berkulit putih, kaya, dan cantik adalah salah satunya. Sekarang dia bahkan punya teman yang rela membelikannya mobil.


Apakah pria berpenampilan biasa ini sungguh memiliki semacam pesona tersembunyi?


Meskipun Claire tidak tahu persis model mobil sport itu, tidak diragukan lagi bahwa setiap mobil produksi Industri Hennerik mahal harganya.

__ADS_1


"Bukan teman lama," jawab Luis seraya menggosok hidungnya. Rupanya dia tidak mau memberikan penjelasan lebih lanjut.


"Baiklah." Claire mengangguk tanpa bertanya lagi. Claire adalah wanita cerdas, sehingga dia bisa menjadi Menteri Departemen Keuangan. Dia tidak akan memaksa orang untuk menjawab pertanyaannya.


“Ayo naik ke lantai atas."


"Wanita terlebih dahulu." Luis memberi isyarat agar Claire berjalan di depannya.


"Kamu sedang mencari Lia?" tanya Claire.


Kemudian dia menuruti permintaan Luis dan berjalan di depan. Luis menyusulnya dan berjalan di sampingnya.


"Tentu saja," jawab Luis. "Dia mungkin satu-satunya orang yang aku kenal di sini."


Luis tidak pandai bersosialisasi, jadi dia tidak punya banyak teman. Lia mungkin satu-satunya kenalan Luis yang bekerja di pusat kota Malatam.


"Kamu benar."


Claire tersenyum tanpa banyak bicara. Saat terakhir kali mengobrol dengan Lia, Claire berkata bahwa dia ingin mengejar Luis, tetapi sebenarnya dia hanya bercanda.


Luis tidak jelek, tetapi dia bukan tipe pria yang menarik bagi Claire. Dia hanya tipikal pria yang lebih suka tinggal di rumah. Claire bahkan tidak mengerti mengapa orang seperti Luis bisa berteman dengan Lia.


Ada banyak pria hebat di sekitar Lia yang menarik perhatian Claire, tetapi Lia selalu mengabaikan mereka.


"Kalau begitu, aku akan pergi mencari Lia."


Luis memberi tahu Claire sembari menunjuk ke arah kantor Lia.


"Oke, aku juga masih ada pekerjaan," timpal Claire.


"Saya sudah menunggu selama setengah jam. Anda sudah membuang-buang waktu saya."


"Betul sekali. Kapan Manajer Wijaya akan menemui saya?"


"Saya masih ada rapat."


Ada banyak orang yang menunggu di Luar kantor Lia. Kebanyakan dari mereka mengenakan jas dan dasi. Mereka semua tampak cemas dan beberapa dari mereka terus-terusan menengok jam tangan, seolah-olah sedang dikejar waktu.


Namun, apa pun yang mereka katakan, sekretaris yang menjaga pintu tetap bersikap dingin serta profesional sepanjang waktu dan menolak untuk membiarkan mereka masuk.


"Tolong beri tahu Manajer Wijaya bahwa kesepakatan ini nilainya beberapa ratus ribu dolar ..."


Seorang pria paruh baya yang memakai setelan Armani berkata kepada sekretaris itu.

__ADS_1


__ADS_2