Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
98


__ADS_3

Taring Singa Livestreaming yang merupakan sumber pendapatan utama bagi perusahaan tersebut telah mengumpulkan lebih dari 30 juta pengguna terdaftar.


****************


Tahun lalu, Solomon sang pendiri Taring Singa Livestreaming, tiba-tiba meninggal karena sakit. Kedua putranya memperebutkan hak waris perusahaan. Sekarang, perusahaan sudah berada di ambang kebangkrutan.


Karena salah satu putranya mendapatkan uang dalam jumlah besar dari perusahaan, jumlah utangnya kini mencapai 45 juta dolar.


"Pantas saja harganya murah sekali. Penawaran yang buruk." Luis menggerutu. Dibandingkan dengan Industri Hennerik yang sedang melambung, Perusahaan Taring Singa sedang berada dalam keterpurukan.


Meskipun masih memiliki potensi besar sebagai salah satu raksasa livestreaming domestik, jelas sulit untuk mengembalikan perusahaan itu ke masa kejayaannya tanpa modal yang cukup.


Pilihan Jain adalah dengan menunggu perusahaan itu bangkrut, lalu mendapatkan suntikan dana dari yayasan perusahaan.


Bagaimanapun caranya, Luis tidak mau kalah.


"Tidak terlalu buruk," gumam Luis. Sepertinya dia tidak pernah rugi ketika membeli sesuatu di Shopazon, tetapi terkadang dia tidak mendapatkan banyak keuntungan.


"Tuan, kita sudah sampai." Timothy menghentikan mobil seraya menghela napas dalam-dalam. Untungnya, tidak ada hal buruk yang terjadi. Kalau sampai terjadi sesuatu, dia tidak akan mampu mengganti biaya perbaikan.


"Oke." Luis melirik ke luar jendela, lalu ia memperlihatkan antarmuka pembayaran di ponselnya kepada Timothy seraya berujar, "Aku sudah mentransfer uangnya. Silakan periksa."


"Tidak masalah, Tuan." Timothy mengangguk dan memercayai Luis begitu saja.


Setidaknya dia bisa mendapatkan 100 dolar dari perjalanan ini, walaupun sebenarnya tidak cukup untuk membeli bensin. Luis, seorang pria kaya, tidak peduli dengan uang 100 dolar.


"Periksa saja, untuk jaga-jaga." Luis menggosok kepalanya dan mencabut kunci mobilnya.


"Baiklah, akan saya periksa." Timothy menganggukkan kepalanya dan memastikan bahwa dia telah mendapatkan uangnya. Dia juga menunjukkan ponselnya kepada Luis dan berkata, "Sudah masuk."


Setelah mengunci mobil, Luis menggelengkan kepalanya dan berjalan masuk ke rumahnya. Dia bisa mendengar samar-samar suara game sedang dimainkan dari kamar Lisandra.


Konon susu bisa membuatnya sadar dari mabuk. Luis mengeluarkan sekotak susu dari kulkas dan langsung meminumnya. Efeknya tidak terasa, tetapi dia berbaring di tempat tidur dengan linglung.


Pukul lima sore bukanlah waktu tidur yang tepat, tetapi Luis tidak peduli. Yang dia inginkan sekarang hanyalah tidur nyenyak.


Luis terbangun keesokan paginya dan ia mendengar suara berisik dari dapur.


Dia bangkit dari tempat tidur dan cepat-cepat berlari ke dapur. Di dapur, Lisandra yang tampak kebingungan sedang memegang pisau dan kepiting berukuran besar.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah makan tadi malam?" Luis berjalan ke dapur sambil mengusap kepalanya sendiri.


"Aku membuat mi sendiri. Rasanya cukup enak." Lisandra mengangguk sembari memegang pisau, tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Byur! "


Botol Cola yang baru saja diambil Luis dari kulkas tiba-tiba menyembur.


"Ada apa?" Lisandra buru-buru mengambilkan tisu untuk Luis.


"Tidak apa-apa. Semua baik-baik saja."


Luis mengibaskan tangannya, mengambil tisu dari tangan Lisandra, menyeka mulutnya, lalu mengambil pisau dapur. "Biarkan aku yang melakukannya, atau kita akan makan kepiting mentah untuk makan malam."


“Itu tak mungkin terjadi." kata Lisandra menutupi hidungnya karena malu. Dia tidak mengira bahwa memasak itu sulit ketika dia melihat Gavin memasak.


Namun, entah kenapa dia tidak bisa melakukannya dengan benar meskipun kelihatannya mudah.


"Lama-lama kamu akan pandai memasak kalau banyak latihan." kata Luis pelan Seperti kata pepatah, alah bisa karena biasa.


Namun, Luis adalah pengecualian. Dia tidak perlu berlatih apa pun sama sekali. Dia hanya perlu mengeluarkan uang.


"Kenapa perempuan harus bisa memasak? Kelak aku pasti akan mencari suami yang bisa memasak." dengus Lisandra. Dia lebih suka mencari suami yang bisa memasak daripada mempelajarinya sendiri.


"Mungkin calon suamimu juga berpikir begitu." sindir Luis.


Luis dengan tangkas mencabut dua kaki kepiting besar itu hingga daging putih dan empuk terlihat di dalamnya.


"Kamu minum-minum dengan siapa kemarin? Jelas sekali kamu mabuk," tanya Lisandra dengan nada santai sambil menyikat panci di samping Luis.


"Menurutmu dengan siapa? Tentu saja dengan ayahmu," kata Luis dengan acuh tak acuh.


Bagaimanapun, Lisandra akan tahu tentang itu, jadi Luis tidak keberatan memberitahunya.


"Ayah ... ayahku?" tangan Lisandra menegang dan panci di tangannya hampir jatuh ke lantai.


"Apakah kamu memberi tahu masalahku?"


"Tentu saja. Dia itu ayahmu," kata Luis.

__ADS_1


"Kalaupun dia tahu, aku tidak berniat untuk kembali ke sekolah. Ayahku hampir tidak sanggup membiayai hidup kami berdua dengan uang yang dia hasilkan setiap bulan."


"Ayahmu baru menang lotre." sela Luis tiba-tiba.


"Menang lotre? Benarkah?" Lisandra terkejut sesaat, tetapi dia tidak mau terlalu gembira. Dia tahu Gavin akan sangat gembira walaupun hanya memenangkan beberapa dolar.


"Ayahmu memenangkan 3 juta dolar."


" Brak! "


Tangan Lisandra gemetar hingga panci yang dipegangnya jatuh ke bak cuci dan memercikinya dengan air.


"Hei, hei, hei, panciku." Luis serta-merta berlari dan mengeluarkan pancinya dari bak cuci. "Lihat ini. Lihat akibat perbuatanmu. Kamu tidak tahu bagaimana cara memasak kepiting, dan sekarang kamu hampir memecahkan panci."


"Bisa ulangi jumlah uang yang dimenangkan ayahku?" tanya Lisandra dengan suara bergetar.


"Jumlahnya 3 juta dolar." Luis mendesah dan mengambil spons kawat dari tangan Lisandra, lalu menggosok panci seraya bertanya, "apakah menurutmu aku membutuhkan spons kawat baru? Kurasa yang ini sudah aus."


"Astaga, 3 juta dolar!" Lisandra melambaikan tangannya di depan Luis sambil berkata, "Setelah pajak ..."


Tentu saja Lisandra tahu bahwa Luis kaya, tetapi 3 juta bukanlah jumlah yang sedikit, bahkan bagi seorang miliarder.


Luis bukanlah miliarder.


"Sisa 2 juta, 'kan? Ada yang salah, gadis kecil kaya?" Luis meliriknya dengan tatapan iseng sambil menyikat panci.


"Sekarang aku kaya ..." Lisandra terpaku sejenak.


"Ya." Luis mengangguk seraya menimpali, "ayahmu memenangkan 2 juta dolar, dan kamu adalah putri satu-satunya. Itu berarti kamu kemungkinan besar akan mewarisi uangnya ..."


"Apakah aku benar-benar kaya?" Lisandra masih belum bisa berpikir jernih. Bagi keluarga biasa di Malatam, 2 juta dolar adalah jumlah uang yang besar.


Kemarin, Lisandra bahkan menimbang-nimbang apakah dia butuh bantuan Luis untuk mencari pekerjaan setelah putus sekolah agar bisa menghasilkan lebih banyak uang. Namun, hanya selang satu malam, dia mendadak kaya.


"Ya. Bukankah semestinya kamu kembali bersekolah?" Luis mengangguk lalu meletakkan panci di atas kompor.


Lisandra mencerna kembali perkataan Luis sebelum berseru, "Hah?"


Sebelumnya, Lisandra putus sekolah karena dia ingin menghasilkan uang agar kehidupan Gavin menjadi lebih baik. Akan tetapi, sepertinya dia tidak perlu putus sekolah karena sekarang dia sudah punya banyak uang.

__ADS_1


__ADS_2