
Saat Marry masih tenggelam dalam bingung, seseorang membawa tandu ke depannya. Bersamaan dengan itu, terdengar langkah kaki tergesa-gesa yang menggema ke seluruh ruangan.
......................................................
"Tolong beri jalan. Ini darurat. Pasien harus segera dirawat," teriak seorang perawat.
Di atas tandu ada seorang pria yang merintih dengan pilu. Raut wajahnya seakan-akan menyuarakan rasa sakit yang tak tertahankan. Lebih parahnya lagi, darah metumuri seluruh wajahnya.
“Bukankah itu Tuan Roy?” Marry bertanya dengan ragu-ragu, sembari berbalik dan memandang Luis.
Dia hanya bisa melihat sekilas pasien tadi, namun dia yakin dengan tebakannya.
"Siapa?" Luis menggaruk kepalanya dan berpura-pura bingung. "Maksudmu orang yang memukulmu itu?”
Melihat ekspresi Luis, Marry tahu bahwa dia tidak ingin membahas situasi ini lagi. Karena itu, dia memutuskan untuk menelan pertanyaannya.
"Marry, apa kamu baik-baik saja?" Sebuah suara manis terdengar di belakang mereka. Beberapa detik kemudian, mereka melihat seorang gadis dengan gaun hitam berjalan ke arah mereka.
"Jasmine, kamu sudah datang!"
"Tuan Moore, ini sahabat saya, Jasmine York."
Kemudian, Marry berdiri, menunjuk Luis, dan mempekenalkannya. "Jasmine, ini Luis Moore. Dia temanku."
__ADS_1
"Senang bertemu denganmu." Luis mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Jasmine. Dia kemudian berkata kepada Marry, “Karena temanmu sudah ada di sini, aku pergi dulu.”
"Baiklah." Marry mengangguk dan melihatnya pergi.
"Martin itu benar-benar berengsek!" Jasmine terus mengoceh di dekat telinga Marry.
"Tapi, tadi kudengar ada yang bilang dia melompat dari lantai tiga sebuah gedung. Jika dia tidak sampai ke rumah sakit tepat waktu, dia mungkin akan cacat seumur hidup.”
"Sebelum kamu datang, aku melihat seseorang di atas tandu berteriak-teriak histeris. Aku tidak percaya orang itu adalah Martin," kata Marry dengan terkejut.
"Memangnya siapa lagi?" Jasmine memutar matanya. “Mungkin ini alasan orang-orang selalu bilang apa yang ditabur akan dituai."
Karena penasaran, Marry bertanya, "Apakah Nona Daphne melihatnya melompat dari jendela?"”
"Tidak." Jasmine menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak mungkin..." Marry tidak tahu bagaimana harus bereaksi dengan cerita itu.
Tentu saja, Marry tahu orang yang dibicarakan Jasmine adalah Luis. Namun, dia merasa aneh karena Luis tampak baik.
"Kenapa tidak?" Jasmine mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak tahu apa salah Martin ke pria itu, tapi sepertinya kau beruntung ada orang yang mau membalaskan dendammu. Menurut gosip, persetujuan itu nilainya sampai puluhan juta."
"Hai, kenapa kau kembali?" Sebuah suara terdengar dari belakang Luis. Ketika Luis mendengar pertanyaan itu, dia berbalik dan melihat Anna yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Apakah keluargamu investor rumah sakit ini? Kenapa aku tidak boleh masuk?" Luis dengan sinis bertanya balik.
"Bagaimana kau tahu? Keluargaku memang berinvestasi di rumah sakit ini." Anna pura-pura terlihat terkejut.
Mendengar jawabannya, jantung Luis berdegup kencang. Dia tidak percaya bahwa Anna benar-benar menjawab pertanyaan tidak penting itu.
"Wah, keluargamu kaya! Mengapa keluargamu yang bermandikan uang dan berkuasa ini tidak dapat membeli sepotong ginseng berusia seratus tahun? Apakah aku harus memberimu beberapa kantong ginseng itu?"
"Kau kira ginseng berusia seratus tahun itu seperti wortel?" Anna memutar matanya dengan kesal.
Dalam hati, dia berpikir, "Ginseng berusia seratus tahun adalah barang yang tak ternilai harganya. Kalau saja aku bisa mendapatkannya dengan mudah, aku tidak perlu datang ke Luis."
"Yah, kebetulan sekali keluargaku menyimpan ginseng seperti menyimpan wortel," jawab Luis santai.
Sementara dia menjawab Anna, dia merenungkan dalam hati, "Dengan uang 45 dolar, aku bisa membeli dua akar ginseng di Shopazon. Ditambah lagi, aku akan mendapatkan liontin gratis dari si penjual. Dari perhitunganku, ginseng lebih murah dari wortel. Ditambah lagi, satu liontin itu akan cukup untuk mengganti uang yang kubayar.
Perilaku Luis benar-benar membuat Anna kesal. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengingatkan dirinya sendiri dalam hati, "Anna, kamu harus tenang. Jangan marah. Kamu sangat jelek saat marah."
Dalam situasi lain, dia akan melawan Luis karena dia tidak bisa menerima bahwa pria itu akan berani mengganggu gadis cantik sepertinya. Namun, dia membutuhkan bantuan pria itu. Karena itu, dia berusaha untuk tetap tenang.
"Mari kita berhenti berbicara omong kosong," kata Anna. Kemudian, dia bertanya, "Apakah kamu bersedia memberikannya kepadaku?"
"Apa yang kamu ingin aku berikan padamu? Sampah?" Luis berakting seolah-olah dia terkejut.
__ADS_1
Entah mengapa, Luis sangat suka mengganggu Anna setiap kali mereka bertemu. Mungkin karena amarah Anna sangat mudah tersulut, dan itu sangat menarik baginya.
Saat itu juga, Anna sudah tidak kuat mendengar gurauannya. Dia berteriak dengan kesal. "Diam! Kalau kau terus begini, aku akan merobek mulutmu!" Sejak usia muda, tidak ada yang berani berbicara seperti itu padanya. Luis adalah orang pertama yang berani melakukan itu.