Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
85


__ADS_3

Luis mengambil kunci berwarna merah ceri dari tangan Hazel. Dia menekan tombolnya dengan pelan, lalu pintu gunting mobil terbuka perlahan, memperlihatkan sentuhan akhir yang mewah dari interiornya.


........................


"Memang benar-benar mobil sport terbaik di dunia." Lula tak tahan berkomentar saat melihat interior mobil itu.


Harga setiap barang di dalam mobil itu bisa sama mahalnya dengan mobil biasa.


"Tentu saja." Hazel mengangguk bangga dan melanjutkan, "Tuan Smith menginstruksikan kami agar menggunakan teknologi terbaru untuk memodifikasi mobil ini. Bisa dibilang ini adalah hasil dari teknologi tercanggih kami."


Jesko Red Cherry Edition 10 yang asli saja sudah luar biasa. Saat Carlos memutuskan untuk menjadikannya sebagai hadiah untuk Luis, dia menginstruksikan anak buahnya untuk memodifikasi mobil itu.


Tidak mudah untuk mendapatkan mobil itu di hari yang sama, karena ada banyak sekali dokumen yang harus diurus dan prosesnya bisa jadi membosankan. Namun, Hazel sudah lebih dahulu melengkapi sebagian besar dokumennya, jadi dia bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat.


Luis kembali setelah berjalan-jalan dan menunggu Hazel menuntaskan prosedur yang tersisa.


Luis tidak mengerti prosedur pembelian mobil karena dia jarang keluar rumah. Namun, dengan adanya Hazel, semuanya menjadi mudah.


"Siapa kamu sebenarnya? Mengapa CEO Industri Hennerik memberimu hadiah?" Lula bertanya karena penasaran.


Sementara itu, tatapan Silvi terpaku pada Luis. Daripada Ade yang lebih tua, tampaknya Luis adalah pilihan yang lebih baik.


"Aku pemegang saham perusahaannya." Luis mengangkat bahu dan memandang mereka seakan-akan Lula menanyakan sesuatu yang sudah jelas.


"Kamu pemegang saham Industri Hennerik?" Lula terkejut.


Meskipun sudah menduga kemungkinan Luis adalah orang kaya, dia tidak menyangka ternyata sekaya itu. Dia baru mengetahui bahwa Industri Hennerik merupakan produsen mobil sport yang terkenal di dunia setelah mencari tahu secara online.


Dia tidak percaya seseorang dari Cania bisa menjadi pemegang saham dari produsen mobil sport asal Sianta yang terkenal.


Hazel menghampiri dan mengatakan, "Tuan Nardo memang pemegang saham perusahaan kami, dan dia merupakan salah satu dari sepuluh pemegang saham terbesar."


Kemudian dia menyerahkan beberapa dokumen kepada Luis dan berkata, "Mobilnya sudah siap digunakan. Namun, Anda harus menyelesaikan prosedurnya lebih dahulu di kantor administrasi, Tuan Nardo."


Luis mengambil dokumen-dokumen itu dan menatap Silvi. "Nona, sudahkah Anda memutuskan?"


"Pacar saya sedang tidak di sini. Mungkin lain kali," kata Silvi dengan wajah muram.

__ADS_1


Dia hanya mampu membeli mobil biasa dengan harga maksimal 30.000 dolar. Dibandingkan dengan mobil edisi terbatas milik Luis, mobilnya bukan apa-apa. Dia malu.


"Baiklah kalau begitu. Apakah dua nona cantik ini bersedia saya ajak makan bersama?" Luis bertanya dengan santai.


"Tentu saja!" Silvi mengangkat sebelah alisnya. Dia sedang mencari kesempatan untuk mengenal Luis lebih baik, dan kesempatan itu datang dengan sendirinya.


Luis menggosok hidung dengan canggung. Dia tidak mengira Silvi akan menanggap serius kata-katanya dan menerima undangannya.


Namun, tidak ada yang bisa Luis lakukan untuk menolak mereka.


"Baik. Saya akan tentukan tempatnya. Ikuti saya." Luis membawa Lisandra bersamanya, dan mereka menaiki Hennerik Jesko yang diparkir di dekat sana.


Banyak pejalan kaki yang lewat mengagumi mobil sport berwarna merah ceri itu. Walaupun pamerannya sangat besar, mobil itu mencolok dan menarik banyak perhatian.


Beberapa penggemar mobil sport mengetahui mobil tersebut adalah keluaran terbaru dari Industri Hennerik, dan versi merah ceri ini adalah satu-satunya di seluruh dunia.


Brum! Brum!


Luis duduk di jok pengemudi dan menyalakan mesinnya. Deru mesin yang keras memenuhi udara.


Bahkan tanpa bahan bakar khusus, mobil sport kelas atas itu tetap bertenaga.


Dia hanya pernah mengendarai mobil usang di sekolah mengemudi dalam kecepatan lambat. Karena itulah, dia tidak terbiasa mengendarai mobil sport kelas atas.


Namun, dia tidak perlu mengemudi dengan kecepatan tinggi karena mustahil melakukannya di tengah lalu lintas Malatam yang padat.


Oleh karena itu, mobil sport itu lebih terkesan seperti hiasan saja di Malatam, karena tidak bisa dipacu dengan maksimal.


Lula mengemudikan Porsche merahnya perlahan sambil mengikuti Luis tanpa merasa tertekan.


"Hei, aku punya pertanyaan. Sekaya apakah Luis?" Silvi, yang duduk di jok penumpang, bertanya dengan penuh semangat.


Menurutnya, pemegang saham Industri Hennerik jauh lebih mengesankan daripada presiden perusahaan real estate. Selain itu, perusahaan real estate Ade adalah salah satu yang terkecil di sini.


"Mana aku tahu?" Lula memutar matanya.


"Silvi baik dalam banyak aspek, tapi dia terlalu mata duitan," kata Lula dalam hati.

__ADS_1


"Bukankah kamu dekat dengannya?" Silvi bertanya.


"Kapan aku bilang begitu? Kami hanya pernah minum sesekali, dan dia tidak pernah membicarakan soal itu," jawab Lula.


"Sangat rendah hati dan dewasa. Dia seorang pria yang baik." Sepasang mata Silvi berbinar-binar.


Lula menggelengkan kepalanya. "Menurut pendapatku, dia tidak ada bagus-bagusnya."


Lula sudah mengenal Luis lumayan lama, jadi dia cukup mengenal pribadi pria itu. Kalau orang lain yang memiliki sikap cuek seperti Luis, orang itu bisa-bisa dianggap tidak becus mengatur hidupnya.


Namun, jika itu Luis, perilaku dan kepribadian seperti itu dianggap berjiwa bebas.


"Kurasa itu tidak apa-apa." Silvi tertawa kecil. "Apalagi, dia begitu kaya di usia yang sangat muda. Dia punya uang untuk menyia-nyiakan hidupnya."


"Apa yang mau kamu rencanakan? Kamu mau mencoba merayunya?" Lula akhirnya tahu apa yang diinginkan Silvi. "Jangan lupa! Kamu sudah punya Ade!"


"Dia bahkan tidak bisa membelikanku mobil. Apa gunanya?" Saat menyebut nama Ade, Silvi mengertakkan giginya. Dia dipermalukan gara-gara Ade.


"Jangan melakukan hal bodoh. Ade sudah baik padamu." Lula mencoba membujuk Silvi.


Silvi melambaikan tangannya dan tidak ingin membicarakan Ade. "Tak usah membahas dia. Apa menurutmu Luis punya pacar?"


"Kurasa tidak. Dia bilang dia masih melajang," jawab Lula. "Hore!" Kegembiraan memenuhi wajah Silvi, dan dia memeluk lengan Lula.


"Kamu mau mati? Lepaskan aku!" Lula berteriak.


Silvi membalas, "Tidak apa-apa ..."


Brak!


"Apa kamu buta? Kenapa kamu bisa menabraknya?"


Seorang wanita yang memakai kaus putih keluar dari Porsche di depan mereka. Dia mengenakan celana pendek denim yang menonjolkan kaki rampingnya.


Namun, emosinya jelek. Dia langsung mengomel begitu dia keluar dari mobilnya.


"Nona, saya benar-benar minta maaf." Lula buru-buru meminta maaf begitu melangkah keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Lula mengerti dia sebaiknya tidak meninggikan suaranya dan memprovokasi seorang wanita muda yang mampu membeli Porsche.


"Nona? Siapa yang kau panggil nona?" pekik wanita itu ketika dia melihat Porsche Lula. Lalu, dia menambahkan, "Bagaimana kau mau bertanggung jawab soal ini?"


__ADS_2