
Saat itu juga, Anna sudah tidak kuat mendengar gurauannya. Dia berteriak dengan kesal. "Diam! Kalau kau terus begini, aku akan merobek mulutmu!" Sejak usia muda, tidak ada yang berani berbicara seperti itu padanya. Luis adalah orang pertama yang berani melakukan itu.
.......................................................
Sayangnya, Anna bukan tandingan Luis, karena pria itu adalah petarung ahli. Dalam hitungan detik saja, Luis berhasil menghentikannya.
"Lepaskan aku sekarang! Lepaskan!" Anna berusaha keras untuk melepaskan diri. Sayang sekali, walaupun dia telah berusaha, Anna tidak bisa melakukan apa-apa.
"Ha! Apa yang membuatmu berpikir kau bisa mengalahkanku, Anna? Beraninya kau menyerangku?"
"Kalau kau memang berani, lepaskan aku sekarang. Ayo kita bertarung satu lawan satu dan lihat siapa yang akan menang!" Anna berseru dengan kesal.
"Bahkan kalau aku mengikat kedua tanganku di belakang, aku masih bisa menang melawanmu," Luis menjawab dengan penuh percaya diri.
"Asal kau tahu saja, aku punya sabuk hitam di MMA," Anna berkata dengan wajah memerah karena amarah. Dia merasa seakan-akan Luis sedang berusaha mempermalukannya. "Kalau kau tak curang, aku yakin aku bisa menang melawanmu."
"Dari apa yang kulihat, sepertinya siapa pun bisa menjadi sabuk hitam asal berani membayar. Keponakanku, yang berusia enam belas tahun, telah meraih sabuk hitam tingkat pertama dalam olahraga yang sama," jawab Luis. "D-dasar kamu baji ..."
"Baji apa? Kau mau bilang apa?" Luis mengangkat Anna.
"Aduh! Sakit! Hentikan! Lepaskan!" teriak Anna tak berdaya.
"Minta maaf sekarang juga."
"Aku lebih baik mati daripada menyerah padamu!"
"Apakah kamu ingin aku membantingmu ke tanah sekarang?" Luis tertawa terbahak-bahak saat dia melihat kerumunan di sekitar mereka.
__ADS_1
Karena Anna adalah seorang wanita dengan harga diri, dia akan merasa terhina jika Luis mengalahkannya di depan semua orang.
"Kau ini!" Anna berteriak. Dalam hati, Anna bersumpah pada dirinya sendiri. Dia akan membuat Luis sengsara saat pria itu jatuh di hadapannya.
"Aku akan melepaskanmu jika kau memohon padaku," kata Luis sambil meletakkan tangannya di pantat Anna.
"Aku menyesal! Aku menyesal!" Anna langsung berseru.
Dia takut Luis akan menyentuhnya tanpa malu di depan orang banyak.
"Mudah, 'kan?" Luis melepaskannya dan mendorongnya keluar.
"Awas kau!"
Anna memicingkan matanya dengan marah kepada Luis yang telah melarikan diri. Pria itu meninggalkannya di tengah keramaian.
"Ha-ha. Anna, kamu sangat lemah. Aku yakin kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku," kata Luis dengan nada meremehkan.
Tak lama setelah itu, Luis tiba di salah satu kamar rumah sakit. Di dalam, dia melihat Vina sedang mengupas apel untuk Alea. Dia kemudian bertanya, "Bagaimana kabarnya, Vina?"
"Luis!" Alea memanggil dengan manis saat dia melihat pria itu masuk.
Semenjak dia tahu bahwa Luis adalah orang yang menyelamatkannya, dia memiliki perasaan berbeda terhadap pria itu.
"Kata dokter, dia akan segera pulih." Senyuman menghiasi wajah Vina.
Setelah Vina mengupas apel untuk Alea, dia menarik Luis keluar dari kamar. "Untuk masalah uangnya ..."
__ADS_1
"Kau sedang bicara apa?" Luis pura-pura terlihat bingung.
"Soal masalah 15.000 dolar yang kau pinjamkan padaku sebelumnya dan ginsengnya ..." jawab Vina.
"Oh." Luis mengangguk santai. "Jadi, apakah kamu punya uang tambahan sekarang?"
"Beruntung aku punya. Putusan pengadilan sudah keluar. Pelaku memberiku kompensasi 30.000 dolar. Karena itu, aku dapat membayar kembali 15.000 dolar itu," kata Vina sambil mengeluarkan kartu bank.
"Tuan Nardo, aku tahu kau tidak kekurangan uang. Namun, aku punya prinsip hidup. Aku akan mengembalikan 15.000 dolar dulu. Untuk ginsengnya, aku akan segera mencari cara untuk membayarmu."
"Baiklah." Luis mengangguk setuju. Setelah Luis mengambil kartu bank dari Vina, dia berkata, "Sebenarnya, ginseng itu harganya hanya 45 dolar. Sudah kubilang, ginseng itu adalah hasil budidaya. Jika kau tetap ingin membayarku, bayar saja 45 dolar."
"Tuan Nardo, jangan bercanda," jawab Vina dengan senyum pahit. "Aku tidak bodoh. Ginseng yang kau bicarakan adalah ginseng liar dari Gunung Falkariye. Harganya pasti setidaknya beberapa ratus ribu dolar!"
"Ha-ha." Luis menyeringai seolah tidak ada masalah. Dia kemudian melanjutkan, "Aku tidak peduli apa kata orang lain. Sudah kuberitahu, ginseng yang kuberikan adalah ginseng hasil budidaya, dan harganya hanya 45 dolar. Aku tidak ingin kau membayarku lebih dari itu."
"Tuan Nardo ..." Vina menatapnya. Sekarang, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah mendengar kata-kata Luis.
Sebelum Vina bisa menjawab, Luis berjalan kembali ke kamar. Dia mengacak-acak rambut Alea dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau mengikuti instruksi dokter?"
"Tentu saja," jawab Alea sambil menggigit apel. "Kata dokter, sebentar lagi aku bisa pulang."
"Benarkah?" Luis berpura-pura terkejut. Kemudian, dia memberikan kartu bank ke Alea dan berkata, "Ini hadiah untukmu. Kamu bisa beli permen dengan ini!"
Vina, yang baru saja berjalan masuk, melihat kebaikan Luis. Tanpa sadar, dia bergumam, "Tuan Nardo ..."
"Anggap saja ini oleh-oleh." Luis tersenyum sambil meletakkan kartu bank di atas meja.
__ADS_1
"Maaf aku tidak membawa buah-buahan saat aku berkunjung kemari. Bagaimana kalau kalian gunakan uang ini untuk membelikan Alea buah-buahan?" Luis mengusulkan.
"Alea, cepat, ucapkan terima kasih," kata Vina dengan ekspresi yang sulit dibaca.