
"Iya, aku mengerti," jawab Tomy sambil mengangguk, seolah-olah takut akan membuat Luis kesal jika dia tidak langsung menjawab.
****************
"Sedang apa kalian di sini?"
Dua anggota staf yang mengenakan seragam keamanan menghampiri mereka dengan memegang tongkat. Ini adalah wilayah yang menjadi tanggung jawab mereka. Jadi, jika terjadi sesuatu, mereka akan bermasalah.
"Tidak melakukan apa-apa. Kami hanya sedang bercanda." Luis melambaikan tangannya dengan santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Benarkah?" Melihat hidung Tomy yang berdarah, satpam yang sedikit lebih muda tampak curiga.
"Iya, kami hanya main-main di sini. Saya tidak sengaja membentur dinding, jadi hidung saya berdarah," kata Tomy sambil memaksakan senyuman.
Tomy tidak ingin mengatakan itu, tetapi dia tidak punya pilihan Jain karena Luis berdiri di sampingnya.
"Baiklah, kalau begitu. Lain kali hati-hati,” kata satpam muda itu.
Sebelum satpam muda itu sempat mengatakan apa-apa lagi, satpam yang satunya menyela dan menariknya pergi sambil berbicara.
"Saat lain kali kamu melihatku, sebaiknya kamu sembunyi. Wajahmu benar-benar membuatku marah." Setelah mengatakan itu dengan santai, Luis berbalik dan pergi.
"Apa menurutmu aku ingin bicara denganmu?" Tomy bergumam pelan. Dia bahkan tidak ingin bicara dengan Luis jika bukan karena kontrak dengan Lia.
Sayangnya, Tomy tidak mendapat kontrak itu. Lebih parahnya lagi, dia bahkan dihajar oleh Luis. Tomy merasa rugi besar.
"Luis, kenapa kamu di sini?"
Pintu lift terbuka dan Luis melihat orang yang dia kenal berdiri di dalam. Orang itu adiknya, Frey.
"Aku di sini untuk bertemu Lia. Kalau kamu?" Luis mengulurkan tangannya dan berjalan masuk, lalu berkata,
"Di mana sahabatmu? Bukannya dia bersamamu?"
__ADS_1
Frey menggoda, "Ada hal lain yang harus dia lakukan, jadi dia kembali. Kenapa kamu peduli padanya? Apa kamu jatuh cinta dengannya? Kalau iya, bilang saja, aku akan membantumu."
"Lupakan saja." Luis mengerutkan bibirnya dan bersikap seolah-olah dia tidak peduli tentang itu. "Apa kamu akan pulang? Ayo, kuantar."
"Bagaimana caranya? Kamu ke sini untuk meminjam mobil Lia, ya? Atau kamu sudah beli sendiri?" tanya Frey penasaran.
"Tentu saja aku beli sendiri. Memalukan kalau meminjam mobilnya setiap hari. Cepat, tinggal jawab, mau diberi tumpangan atau tidak," kata Luis dengan rasa bersalah sambil mengusap hidungnya. Sebenarnya, kalau Carlos tidak memberinya mobil, Luis tidak berencana membeli mobil baru akhir-aklir ini.
"Oke. Aku ikut denganmu, dan kamu seharusnya berterima kasih." Frey mengangkat kepalanya dengan bangga, menunjukkan bahwa mengantarnya pulang adalah kehormatan bagi Luis.
"Lihat dirimu. Kalau kamu bukan adikku, aku akan menampar wajahmu," kata Luis.
"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu kepadaku? Kalau kamu bukan kakakku, aku bahkan tidak sudi bicara denganmu, dasar orang aneh.” Frey langsung kesal setelah mendengar ucapan Luis.
Frey selalu berpikir bahwa dia adalah gadis muda yang cantik dan disukai semua orang.
Frey melanjutkan, "Biar kuberi tahu, aku bahkan tidak ingat berapa banyak pria kaya yang mengejarku, memohon kepadaku supaya dapat mengantarku naik mobil mewah dan memberi bunga mawar yang indah. Namun, aku memperhatikan mereka saja tidak. Jadi, anggaplah suatu berkat kalau aku naik mobilmu, oke?"
"Ini mobilmu?"
Mulut Frey ternganga dan matanya terbelalak. Awalnya, dia mengira Luis hanya mampu membeli mobil buatan dalam negeri seharga tidak lebih dari 40.000 dolar. Namun, Frey tidak menyangka dia membeli mobil mewah seperti ini.
Mobil itu terlihat sangat berlebihan dengan bumper depan yang terlalu besar, spoiler yang lebar, dan bodi yang ramping. Dalam sekali pandang, bahkan orang yang tidak mengerti banyak tentang mobil tahu bahwa ini adalah mobil sport dan termasuk mobil super.
"Tentu saja." Luis mengangkat bahu dan berjalan maju.
"Apa kamu meminjam mobil ini? Kelihatannya mahal," gumam Frey.
Meski dia tidak bisa mengenali merek mobil tersebut, Frey tahu kalau semua mobil sport super itu mahal. Apalagi, mobil Luis mempunyai tampilan yang sangat mewah.
"Mau pinjam dari siapa? Cuma ada satu di Malatam." Luis menyeringai bangga. Bahkan sebenarnya, mobil itu satu-satunya yang ada di dunia dari jenis ini.
Mobil sport super ini diproduksi oleh Industri Hennerik dan merupakan edisi terbatas di seluruh dunia. Meski perusahaan itu memiliki teknologi untuk memproduksinya, mereka tidak akan membuat model yang sama lagi.
__ADS_1
Kalau tidak begitu, sama saja mempermalukan gengsi perusahaan. Saat ini, setiap mobil sport super yang diproduksi oleh Industri Hennerik telah dijual dengan harga yang sangat tinggi. Alasannya karena mobil-mobil itu terbatas di dunia.
Kalau Industri Hennerik melanggar aturan ini, mobil yang diproduksinya tidak akan bisa dijual dengan harga setinggi itu lagi, walaupun mobilnya mencolok dan canggih.
Untungnya, Carlos tidak bodoh, dan tidak ada orang bodoh di dewan direksi Industri Hennerik. Karenanya, hal seperti itu tidak akan mungkin terjadi.
"Kalau begitu, aku akan mencobanya."
Frey tersenyum gembira. Meskipun sudah pernah naik banyak mobil mewah sejak masih kecil, ini pertama kalinya dia naik mobil sport super, khususnya mobil Luis yang penampilannya sangat menarik ini.
"Dekorasi interiornya bagus."
Begitu dia duduk di dalam mobil, Frey dikejutkan dengan interior yang mewah. Dia bisa tahu hanya dari interiornya kalau mobil ini mahal. "Apa sekarang kamu kaya betulan?"
"Apa maksudmu? Aku selalu kaya, tahu?" Luis mengerlingkan matanya dan memasukkan kunci mobil. Kemudian, Hennerik Jesko berwarna merah ceri itu meraung dengan keras seperti binatang buas.
"Kalau kamu memang kaya, pinjami aku uang." Mata Frey berbinar.
"Kenapa? Kamu pasti punya cukup uang." Luis tertegun sesaat. Dia selalu mengira Frey tidak kekurangan uang. Bagaimanapun juga, dia berasal dari keluarga kaya.
Frey melipat tangannya dan berkata dengan wajah menyanjung, "Ini bukan masalah aku kekurangan uang atau tidak. Ayolah, pinjami aku, ya."
"Berapa?" tanya Luis.
"Pinjami aku 790 ribu dolar." Frey berkata dengan ragu-ragu. Kemudian, dia berpikir sebentar dan berkata, "Kurang dari itu juga tidak apa-apa. Omong-omong, berapa banyak yang kamu punya sekarang?"
"Beri aku alasan," kata Luis.
"Sebenarnya, aku ..." kata Frey.
Frey hendak mengatakan sesuatu yang lain untuk memohon kepada Luis. Namun, ekspresinya tiba-tiba berubah setelah mendengar itu. "Kamu bilang apa tadi?"
"Aku bilang, beri aku alasan." Luis dan Frey saling berpandangan sekejap. Kemudian, Luis menoleh dan melihat ke depan.
__ADS_1