
"Lisandra Nardo!" Wajah Larry berubah marah ketika dia melihat apa yang dilakukan Lisandra. "Dasar ******! Aku akan menemukan seseorang untuk membunuhmu!"
................................
"Diamlah!" Dengan marah, Luis mendorong pemuda di hadapannya, hingga mendarat di sofa dengan keras.
Dalam sekejap mata, dia muncul di depan Larry.
Bugh!
Luis menghancurkan botol yang didapatnya dari Frank tepat di samping Larry dan memegang kerah bajunya hingga tubuhnya terangkat.
Dia melempar botol yang pecah ke lantai dan memperingatkan Larry, "Kamu beruntung karena kamu masih seorang siswa. Jika saja kamu lebih tua, aku tidak akan mengampunimu. Lisandra adalah sepupuku. Namaku Luis Nardo. Jika kamu menolak untuk menerima kekalahanmu, kamu selalu bisa melawanku. Bagaimanapun, jangan berani-beraninya kamu mengganggu Lisandra!"
"Kamu bekerja untuk geng apa?" Larry bertanya dengan suara gemetar.
Sementara itu, para pemuda yang maju sekarang mulai mundur secara perlahan. Meskipun mereka terbiasa terlibat dalam perkelahian, mereka belum pernah bertemu lawan seperti Luis.
"Aku bekerja untuk keadilan." Luis mendengus. Setelah melepaskan Larry, dia berjongkok dan mengambil pisau lipat dari sakunya. "Kamu berencana untuk menikamku dengan ini, 'kan? Kamu seharusnya merasa beruntung tidak mengeluarkannya, kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Pak, aku minta maaf. Aku menyerah ..." Larry memohon karena merasa terintimidasi oleh Luis.
"Jadi sekarang kamu takut padaku?" Luis memutar-mutar pisau lipat di tangannya, pisau perak itu berkilauan di bawah cahaya.
"Aku tahu kesalahanku sekarang. Aku seharusnya tidak asal bicara," kata Larry hati-hati.
"Sebaiknya aku tidak memancingnya karena dia masih memegang pisau lipatku. Aku ragu dia akan punya nyali untuk menusukku, tapi aku tidak mau mengambil risiko," pikirnya.
"Kenapa? Apa kalian masih ingin melawanku?" Luis mengalihkan pandangannya ke para pemuda yang masih memegang botol bir di tangan mereka. Sambil mengayunkan pisau lipat, dia bertanya, "Mau mencoba melawanku?"
"Buang botol kalian!" Larry meneriakkan perintah.
Anak-anak itu melihat botol bir di tangan mereka, lalu ke arah pisau lipat. Setelah merenung sejenak, mereka meletakkan botol itu.
Tidak peduli bagaimana mereka melihatnya, botol bir tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pisau. Meskipun senjata di tangan Luis hanyalah sebuah pisau lipat, itu tetap saja senjata.
"Luis ..." Lisandra memanggil dengan suara gemetar saat dia berjalan ke arah Luis dengan pecahan botol di tangannya.
__ADS_1
Meskipun Luis adalah sepupunya, dia takut padanya. Karena jauhnya perbedaan usia, mereka jarang berinteraksi satu sama lain. Alhasil, hubungan mereka tidak terlalu dekat.
"Apa? Apa kamu ingin menjadi gangster?" Luis melirik rambutnya.
Dibandingkan dengan Lisandra, Luis lebih mengenal ayahnya dengan baik. Pamannya itu adalah pria yang tidak bertanggung jawab, Karena itulah istrinya meninggalkan dia.
"Tidak ..." Lisandra menggelengkan kepalanya ketakutan. Sebelum ini, dia pikir para guru di sekolahnya sangat menakutkan, tetapi mereka bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Luis.
"Tagihan." Luis memberi isyarat kepada bartender di dekatnya untuk maju. Kemudian datanglah seorang pria yang mengenakan setelan jas, dia tampak tidak terpengaruh oleh keributan itu seolah-olah sudah terbiasa.
Dia melangkah mendekati Luis dan menyerahkan tagihan.
"Tuan, ini tagihan mereka," kata bartender dengan hormat saat melihat pria yang duduk dengan bos mereka di bar tadi.
"Totalnya 350 dolar. Kalian kuat minum rupanya." Luis melirik kertas tagihan. Dilihat dari minuman yang mereka pesan, dia bisa tahu bahwa para pemuda itu berasal dari keluarga kaya.
"Luis, biar aku yang bayar," kata Larry sambil berjalan maju.
"Kenapa? Apa kamu pikir aku kekurangan uang?"
Segera setelah itu, Luis melemparkan tagihan dan kartu ke bartender dan berkata, "Gesek ini."
"Pergilah. Kalau aku melihat kalian melakukan ini lagi, aku akan memberimu pelajaran," ucap Luis memperingatkan. Tidak ada yang berani meragukan karena beberapa pemuda itu bahkan masih berbaring di samping.
"Terima kasih, Luis," jawab Larry dan memberi isyarat kepada teman-temannya untuk membawa dua orang lainnya. Dalam waktu kurang dari 1 menit, mereka meninggalkan tempat itu.
"Kenapa kamu berpakaian seperti ini?" Luis mengusap rambut Lisandra. Dia melakukannya dengan pelan, namun rambut Lisandra rontok hingga membuatnya terkejut.
Dengan malu-malu, Lisandra berkata, "Ini wig."
Sebenarnya Lisandra sempat berpikir untuk mengecat rambutnya, tapi tidak dilakukannya karena biayanya sangat mahal.
"Baiklah. Pergi dan bersihkan mukamu. Kamu terlihat berantakan," desak Luis dan menghela napas, tetapi dia tidak mengatakan apa pun.
Melihat Lisandra berjalan menuju kamar kecil, dia meregangkan tubuhnya dan kembali ke kursinya di bar.
"Jika ada yang berani macam-macam dengan sepupuku, aku mungkin sudah menenggelamkan orang itu di Sungai Rawana." Keysia mengambil segelas minuman keras dari bar dan meneguknya.
__ADS_1
"Wow, luar biasa." Luis mengacungkan jempolnya dengan kagum. "Biarpun begitu, karena mereka hanyalah anak-anak nakal, saya pikir akan lebih tepat jika saya memberi mereka sedikit pelajaran."
Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi situasi yang berbeda. Karena itu, dia tidak pernah banyak berkomentar tentang perilaku dan kepercayaan orang lain.
Tak lama kemudian, Lisandra keluar dari kamar kecil. Menyadari bahwa Lisandra sedang berjinjit untuk mencarinya, Luis melambaikan tangan untuk menarik perhatian Lisandra.
Setelah menghapus makeup tebalnya, Lisandra terlihat jauh lebih cantik, meskipun dia tampak pucat karena ketakutan.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat sangat gugup?" Luis mengusap rambutnya sambil tersenyum.
Meski tidak terlalu dekat, mereka tetaplah keluarga.
"Aku baik-baik saja." Lisandra menggelengkan kepalanya dan duduk di samping Luis.
"Ambilkan dia segelas jus semangka," kata Luis kepada Yuki sambil menunjuk Lisandra.
Sebelum Yuki bisa menjawab, Keysia mencegahnya dan membalas, "Apakah Anda pikir sedang berada di restoran? Ini adalah sebuah bar."
"Jadi, kalian tidak punya jus semangka?" Luis tercengang.
"Aku bisa minum alkohol," kata Lisandra lembut.
Meskipun dia belum dewasa, tidak aneh baginya untuk memiliki toleransi terhadap alkohol di usia muda apalagi di era sekarang ini.
"Tidak, kamu masih di bawah umur." Luis memutar matanya dan berkata kepada Yuki, "Beri dia segelas air dan sepiring buah."
"Apakah ini perlu? Dia bukan anak kecil lagi," kata Keysia dengan menggelengkan kepala, seolah tidak mengerti tindakan Luis.
"Dia seorang gadis, jadi saya pikir dia harus bersikap seperti layaknya seorang gadis," jawabnya.
"Mendengarmu mengatakan itu, apakah maksudmu aku tidak bertingkah seperti seorang gadis?" Keysia meminum segelas minuman keras yang baru diisinya dalam satu tegukan.
"Kamu yakin kamu masih gadis?" Luis membalas.
Karena Keysia tidak muda, tentu saja, dia bukan seorang gadis. Dia adalah seorang wanita.
Karena Lisandra duduk bersama mereka, Luis dan Keysia tidak berani saling menggoda. Karenanya, mereka hanya mengobrol tentang hal-hal yang terjadi di Malatam baru-baru ini.
__ADS_1
Adapun Lisandra, dia duduk di sana dengan tenang, menikmati piring buahnya.