
"Aku bilang, beri aku alasan." Luis dan Frey saling berpandangan sekejap. Kemudian, Luis menoleh dan melihat ke depan.
****************
"Apa kamu serius?"
Frey sedikit kaget. Sebenarnya, dia hanya bercanda barusan. Dia tidak menyangka Luis akan setuju.
"Aku bisa meminjamimu uang sebanyak itu, tetapi kamu harus memberiku alasan," kata Luis dengan ekspresi serius.
Uang 700 ribu dolar tidak terlalu banyak untuk Luis sekarang, dan Frey adalah adiknya. Jadi, wajar saja kalau Luis memberikan uang itu kepada Frey. Toh, belum lama ini dia memberikan 3 juta dolar kepada Tommy.
Namun, dia masih ingin mendengar alasannya.
"Aku ingin beli beberapa barang mewah," kata Frey.
Frey masih bingung. Frey bisa merasakan kalau Luis berbeda dari sebelumnya, dia hanya bisa berkata dengan santai, "Aku tertarik dengan barang-barang dari Bulgari, Louis Vuitton, dan merek mewah lainnya. Aku juga ingin beli sepatu Valentino akhir-akhir ini ..."
"Beri aku alasan yang layak," kata Luis.
Frey menggelengkan kepalanya dan tidak berkata apa-apa lagi.
Luis tahu, Frey tidak akan meminjam uang darinya hanya untuk membeli barang mewah, apalagi uang sebesar itu.
Oleh karena itu, dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan Frey.
"Memang itu alasannya, aku ..." Frey panik.
"Kurasa sebaiknya kamu memikirkannya lagi," kata Luis.
Luis menggelengkan kepala dan memperlambat kecepatan mengemudinya. Sesaat kemudian, dia menghentikan mobilnya di depan Menara Adipati.
"Senang bertemu Anda, Tuan Nardo. Apakah Anda ingin rokok?" kata Marlon dengan senyum lebar saat dia mendekat dan melihat Luis duduk di dalam mobil.
Meskipun Menara Adipati penuh dengan orang kaya, Luis tetap salah satu yang terkaya di antara mereka.
"Terima kasih," jawab Luis.
Luis dengan santai mengambil rokoknya. "Bisakah kamu membukakan pintu untukku? Aku harus masuk."
__ADS_1
Sebenarnya, Luis tidak merokok, tetapi dia menerimanya sebagai bentuk sopan santun.
"Tidak masalah," kata Marlon dengan tersenyum saat melihat Luis mengambil rokoknya. Dia juga membagikan rokok kepada orang lain yang tinggal di sini, tetapi hanya sedikit yang menerima kebaikannya.
Palang pintu langsung terangkat. Lalu, Luis menyalakan mobilnya lagi dan melaju ke tempat parkirnya. Meskipun banyak spot parkir yang sudah disewakan kepada orang lain, Luis masih memiliki empat spot, jadi dia tidak perlu pusing tentang masalah parkir.
"Satpam itu sangat baik kepadamu," kata Frey dengan ekspresi penasaran.
Frey sudah tinggal di sini selama beberapa hari, jadi wajar kalau dia tahu bahwa Marlon adalah wakil kepala satpam di sini. Dia juga tahu kalau Marlon sering bersikap tegas dan blak-blakan kepada orang lain.
"Kami saling kenal. Aku pernah bertemu dengannya sekali," kata Luis santai.
Dia pernah bertemu Marlon sekali. Walau tidak terlalu dekat, keduanya memang saling mengenal.
"Luis?"
Luis baru saja turun dari mobil saat mendengar seseorang memanggil namanya. Dia menoleh dan melihat kenalannya, Petter.
Keduanya hanya pernah bertemu sekali. Rumah yang disewa Petter berhadapan dengan rumah Luis. Namun, Luis tidak sering tinggal di situ, jadi wajar saja mereka tidak sering bertemu.
Bahkan, Frey lebih mengingat Petter daripada dia.
"Aku tidak tinggal di sini, jadi tentu saja kamu tidak pernah melihatku." Luis melambaikan tangannya dan bertanya, "Ada apa? Apa kamu hanya ingin menyapaku?"
"Yah, aku menyewa rumah untuk setahun, tetapi sekarang aku ingin membatalkan sewa ..." Petter sedikit malu. Dia tidak akan menemui Luis kalau tidak ada keperluan.
"Kalau begitu, bicaralah dengan perusahaan manajemen properti atau Lula." Luis mengangkat alisnya lantaran terkejut karena biasanya dia tidak mau terlibat dalam masalah seperti ini.
"Aku sudah pergi ke perusahaan manajemen properti dan ditunjukkan kontrak yang kami tanda tangani waktu itu. Dikatakan di kontraknya kalau aku membatalkan sewa sebelum waktunya, depositnya akan ..."
Frey mengerlingkan matanya dan menyela, "Kalau begitu, tidak ada gunanya menemui kakakku. Lagi pula, rumah yang kamu sewa itu bukan miliknya. Temui saja orang yang menyewakannya kepadamu."
"Namun, rumah yang kusewa adalah milik kakakmu."
Petter Hardy melirik Frey Nardo, dengan ekspresi tak percaya.
Dia masih bertanya-tanya kenapa dua wanita itu tiba-tiba tinggal berseberangan. Awalnya, dia mengira mereka wanita simpanan Luis Nardo, lalu dia menghilangkan pikiran itu karena tidak melihat Luis di sini.
Sekarang dia tahu bahwa Frey adalah saudara perempuan Luis.
__ADS_1
"Maksudmu, kakakku punya dua rumah di sini?!" kata Frey tak percaya.
Frey tahu bahwa kisaran harga Menara Adipati lebih dari 15.000 dolar per meter persegi. Sementara harga rumahnya lebih dari 1,5 juta dolar. Jika rumah seberangnya juga milik Luis ...
"Tidak."
Petter menggelengkan kepala, yang membuat Frey sedikit lega. Namun, Frey hampir melonjak saat mendengar ucapan Petter setelahnya.
"Gedung kita ini milik kakakmu," ujar Petter.
"Gedung kita?!" Frey merasa kebingungan. Dia tidak tahu ada berapa banyak rumah di Gedung No. 5, tetapi dia tahunilai gabungan dari Gedung No. 5 pasti setidaknya sebesar 15 juta dolar.
Apalagi, harganya diperkirakan lebih dari 15 juta dolar.
"Kapan kakakku menjadi orang yang begitu kaya?" pikir Frey.
Mobil sport super dan gedung ini semuanya milik Luis. "Aku akan menelepon Lula Veyron nanti. Dia akan menunjukkan rasa hormat padaku." Luis mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh.
Orang-orang dari perusahaan real estate bisa mengabaikan Petter, tetapi mereka akan menghormati Luis.
Bagi mereka, Petter bukanlah pemilik rumah, melainkan hanya penyewa yang ingin mengakhiri kontrak sewa. Pada dasarnya, mereka tak akan berurusan dengan Petter nantinya. Itu hanya urusan bisnis satu waktu, dan mereka tak perlu menunjukkan rasa hormat pada Petter.
Tidak seperti Petter, Luis memiliki satu gedung di Menara Adipati. Orang-orang dari perusahaan real estate tidak berani menyinggung Luis dengan mudah. Tidak perlu melakukan ini demi uang.
"Terima kasih, Luis," kata Petter dengan tergesa-gesa.
Sebenarnya, Petter tidak kekurangan uang jaminan, karena dia mampu menyewa rumah di Menara Adipati. Namun, dia merasa sedikit tidak nyaman saat kehilangan uang secara misterius.
Setelah melambaikan tangannya pada Petter, Luis naik ke atas bersama Frey. Melihat Frey di sampingnya, Luis merasa adiknya itu ingin mengatakan sesuatu. Luis tidak bisa menahan tawa dan berkata, "Ada apa? Apa yang ingin kamu ketahui?"
"Apakah gedung ini benar-benar milik Kakak?" Mendengar perkataan Luis tadi, Frey sontak berbalik, meletakkan satu tangan di bahu Luis, dan berkata dengan tatapan tajam.
Meski Petter telah mengatakannya, Frey masih ingin memastikannya.
“Betul sekali."
Luis mengangguk dan melepaskan lengan Frey dari bahunya, lalu dia melanjutkan, "Gedung No. 5 di Menara Adipati. Total ada 64 rumah, semuanya milikku."
"Jadi, Kakak seorang miliarder?" tanya Frey dengan wajah terkejut.
__ADS_1