Kaya Dalam Sekejap

Kaya Dalam Sekejap
Kunjungan Keluarga


__ADS_3

Pertanyaan Keysia yang tiba-tiba, disertai dengan alisnya yang terangkat, entah bagaimana memantik rasa ingin tahu Hazel.


..........................................


Hazel mengingat semua yang dia ketahui tentang Luis. "Fisik yang kuat dan pemahaman yang baik tentang teknik bertarung, tekanan luar biasa menakutkan yang bahkan bisa membuat Martin mau melompat, tinggal di bangunan yang sebagian besar bobrok, direktur Industri Hennerik ..."


"Aku sebenarnya juga tidak terlalu yakin," jawab Hazel, sambil menggelengkan kepalanya. Semua yang dia ketahui tentang Luis hanyalah sebatas informasi yang pernah diberi oleh kantor pusat sebelumnya.


Hazel menambahkan, "Namun, aku tahu bahwa Industri Koch adalah salah satu pihak yang memperebutkan sepersepuluh saham perusahaan kami saat itu."


Industri Koch? Robin Borton?" tanya Keysia.


Ini mungkin tampak seperti nama yang asing bagi kebanyakan orang, tetapi Keysia mengenalinya dan tahu bahwa Industri Koch adalah perusahaan besar. Sebagian besar perusahaan yang menjadi kaya dari bisnis minyak mentah dan minyak bumi memiliki latar belakang yang kompleks, dan nama Industri Koch tidak diragukan lagi bahkan di antara semua itu.


"Ya, Industri Koch yang itu," jawab Hazel dengan anggukan sebelum melanjutkan, "Tapi penawarannya gagal."


"Itu menarik," renung Keysia keras-keras.


"Mbek-mbek, kambing hitam ..."


Nada dering yang keras menembus kesunyian ruangan. Menekan ikon jawab dengan keadaan masih mengantuk, Luis bertanya dengan suara serak, "Siapa ini? Mengapa kau meneleponku sepagi ini? Apakah kau tidak tahu kalau aku masih tidur?"


"Luis, apa kau masih tidur?"

__ADS_1


"Frey? Kenapa kamu tiba-tiba meneleponku?" Dia tertegun sejenak dan akhirnya berhasil bangun dari tempat tidur.


Itu adalah Frey Nardo. Dia adalah sepupu Luis, putri dari paman ketiganya.


Mereka adalah teman masa kecil yang sudah lama saling kenal. Setelah keduanya lulus dari universitas, mereka berpisah. Mereka perlahan menjauh, tetapi masih mempertahankan hubungan yang baik.


Perlu diingat bahwa hubungan yang mereka miliki adalah hubungan keluarga yang mirip dengan saudara kandung. Tidak ada perasaan lain yang muncul, karena Luis tidak ingin mengambil risiko dipukuli hingga babak belur oleh kerabatnya.


"Aku sedang dalam perjalanan ke Malatam. Jadi, aku berpikir untuk memintamu menjemputku," kata Frey.


"Kenapa kamu berencana untuk datang ke sini?" Setelah Frey lulus dari universitas, dia bekerja di sebuah perusahaan besar. Karenanya, dia tidak pernah benar-benar punya waktu untuk datang ke Malatam.


"Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan di situ. Jemput aku jam 10 di stasiun kereta. Jika kamu tidak ada saat aku tiba, aku tidak akan memaafkanmu," dia merengek dengan nada manja.


Luis terus mengobrol dengannya sebentar sebelum menutup telepon.


Jika dia pergi ke stasiun kereta untuk menjemputnya, akan lebih nyaman menggunakan mobil. Namun, dia tidak memilikinya, dan karena itu, dia harus menghubungi Lia untuk meminjam mobil.


Kemudian pada hari itu, Luis menemukan tempat kosong untuk memarkir mobilnya dan pergi ke gerbang kedatangan untuk menunggu Frey. Sekarang masih Juni, dan orang-orang di sekitarnya mengeluh tentang panas yang menyengat. Namun, tidak seperti orang pada umumnya, Luis tidak terganggu oleh cuaca. Berdiri di sudut dengan sebotol Coke di sisinya, dia mulai memainkan game di ponselnya.


Kemudian, sebuah suara bisa terdengar dari sampingnya. "Hai! Kamu beruntung penglihatanku tajam. Kalau tidak, aku tidak akan bisa menemukanmu di sini."


Luis mengangkat kepalanya dan melihat Frey berdiri dengan ekspresi riang di depannya. Ada wanita lain yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Dibandingkan dengan Frey yang energik dan lincah, wanita itu memiliki sosok yang lebih tinggi dan lebih ramping. Dia mengenakan celanajins tirus biru muda dipadukan dengan kemeja putih lengan pendek. Ada aura keanggunan yang terpancar darinya.


"Itu karena aku percaya pada mata tajammu." Luis mengangkat botolnya dan meneguknya. Kemudian, dengan suara acuh tak acuh, dia berkata, "Tunggu aku. Aku akan menyelesaikan ronde ini."


Siena mengangguk. Sementara itu, wanita di sebelahnya mengerutkan kening tetapi menahan diri untuk tidak mengatakan apa-apa.


Memang benar, Luis hanya butuh waktu singkat untuk mengakhiri pertarungan itu. Kemudian, setelah melirik sebentar ke Frey dan rekannya, dia akhirnya mengarahkan pandangannya pada wanita itu. Dia menyapanya dengan hangat dengan mengatakan, "Halo, aku sepupu Frey, Luis."


Dia memandang Frey dan kemudian, berbalik untuk menatapnya. Dengan sopan, dia menjawab, "Halo. Aku CatrineJasmin."


Ada nada dingin dalam suaranya. Meskipun dia telah menyapanya, tidak ada kesan hangat dalam sapaan itu. Rasanya sangat dingin dan jauh.


Luis mengangkat bahu, dia tidak terlalu peduli tentang itu. Kemudian, dia langsung mengambil koper di tangan Frey dan menyeretnya ke tempat parkir di sebelah stasiun kereta.


Bip! Bip!


Setelah mereka tiba di tempat parkir, Luis mengeluarkan kuncinya dan mengeklik sebuah SUV biru. Mobil berbunyi bip dan bagasinya terangkat secara otomatis.


Melihat mobil itu, Frey tercengang. "Apa-apaan! Apa kamu habis merampok bank? Ini Porsche!" serunya dengan riang.


Namun, Frey mengenal Luis dengan baik, terutama fakta bahwa Luis sebenarnya penakut. Dia juga tahu bahwa dia tidak akan berani untuk berpikir tentang merampok bank, apalagi benar-benar merampok.


"Apa yang kau pikirkan? Apa aku terlihat berani melakukan hal seperti itu?" Luis memutar matanya. Dia kemudian mengangkat tangannya dan mengambil barang bawaan Frey dari tangannya. Setelah memasukkannya ke dalam bagasi, dia mengambil koper dari tangan Catrine dan memasukkannya ke dalam juga. "Aku meminjamnya dari Lia."

__ADS_1


__ADS_2